Sebuah kejadian membuat Haris yang merupakan seorang pemimpi perusahaan besar langsung hancur.
Dia kehilangan segalanya dalam satu hari dan memilih untuk mengakhiri hidupnya tapi setelah mati, dia justru menemukan kenyataan kalau orang yang selama ini dia sembunyikan mengandung anaknya.
Hamka Haris Stuart, seorang anak buta warna yang lahir dari rahim adik angkat Haris yang terus di sakiti karena hanya seorang anak dari istri kedua.
Bagaimanakah Hamka bisa menemukan warna dalam hidupnya setelah dia tahu kalau ayah yang selama ini dia panggil Daddy bukanlah ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jessi emosi
"Saya ini adalah istri dari mendiang papanya Haris, jadi seharusnya saya dapat bagian dari warisan suami saya kan?" Tanya Jessi yang datang bersama pengacaranya.
"Tapi anda tidak bisa menuntut ke pengadilan seperti ini Bu, surat hibah itu ada dan sah secara hukum" ucap Zaki
"Kamu, bukankah kamu yang kemarin mengatakan kalau kamu membeli rumah suami saya? Jangan jangan kamu yang sudah memanipulasi semua harta Haris" tuduh Jessi
"Jangan menuduh sembarangan Bu, saya sendiri punya banyak harta kenapa saya harus mengambil harta anak ibu, saya hanya di minta Om Haris untuk mendampingi orang yang dia percaya untuk memegang perusahaan ini saat beliau tidak di tempat" jawab Zaki
"Meninggal! Anak saya sudah meninggal, harusnya hak warisnya sudah di urus bertahun tahun yang lalu, tapi pihak pengacara Haris selalu saja mengulur waktu dan mengatakan kalau kami tidak berhak, adik adik Haris berhak atas harta itu!" Ucap Jessi
"Pak Haris masih hidup dan sedang dalam masa pemulihan dari koma bertahun tahun" ungkap Brandon
Deg.
Jessi dan pengacara terkejut, apa yang Brandon katakan barusan sangat sangat membuat mereka tak percaya, bagaimana bisa orang yang di kubur hidup kembali, bahkan Jessi melihat langsung jasad Haris saat di kamar jenazah.
"Anda jangan berbohong! Saya akan tuntut hak waris saya dan juga adik adik Haris dan akan saya laporkan kalian semua karena sudah menguasai harta yang bukan milik kalian!" Ancam Jessi
"Saya tidak berbohong, Haris Memang masih hidup, ini adalah surat kuasa pengalihan semua hartanya" ucap Brandon menyerahkan dokumen hibah semua harta milik Haris kepada Hamka.
"Hamka Haris Stuart? Dan ini di tanda tangani hari ini, tadi pagi?" Tanya pengacara saat melihat nama pemilik baru disana.
"Ya, Hamka Haris Stuart, anak laki laki dari Haris Patrick Stuart yang satu bulan lagi akan berusia delapan belas tahun, dan semua aset itu akan sah dimiliki Hamka saat dia genap berusia delapan belas tahun" jawab Brandon
Brak.
"Apa apaan ini! Anak saya belum menikah bagaimana mungkin dia bisa punya anak! Kenapa anak itu juga bersembunyi kalau dia benar benar anak dari Haris!" Bentak Jessi tak percaya sampai menggebrak meja ruangan Zack.
"Ini hasil tes DNA Haris dan Hamka" ucap Brandon yang sudah menyiapkan semuanya sebelum datang ke perusahaan itu.
"Ini asli Bu bahkan di buat di Smith hospital, jadi tidak mungkin ada kesalahan" ucap pengacara Jessi
"Kalau begitu saya ingin bertemu dengan Haris" ucap Jessi
"Nanti saat dia sudah pulih" Jawab Brandon
"Saya yang akan merawatnya kalau memang benar dia masih hidup, saya yang lebih berhak!" Ucap Jessi
"Haris sudah dewasa dan berhak atas hidupnya sendiri lagipula pengabdian dia pada keluarga Jhonson sudah cukup, sekarang adalah saatnya dia punya hak sendiri sebagai jati dirinya sendiri, setelah lama dia mati" ungkap Brandon menatap tajam Jessi yang sejak tadi menatap tak suka padanya.
"Apa anda yang di pilih pak Haris sebagai pengganti selama dia tidak ada?" Tanya pengacara itu
"Iya"
"Di mana surat kuasanya?" Tanya pengacara itu.
"Sial! Gue lupa bawa suratnya" umpat Brandon dalam hati.
"Apa itu juga di perlukan sekarang? Saya menyimpannya di rumah" ucap Brandon.
"Tentu saja pak Brandon, saya hanya ingin memastikan anda tidak menipu kami saja" jawab pengacara itu
"Biar Zaki telepon Tante Cantika" ucap Zaki
"Anda Zaki Alamsyah Smith kan, pemilik kerajaan bisnis Smith?" Tanya pengacara itu lagi
"Iya, saya kenal Om Haris bahkan istri saya adalah anak angkatnya" jawab Zaki semakin membuat Jessi tidak percaya dan meminta pengacaranya untuk menekan Brandon juga Zaki.
"Haris tidak pernah berteman dengan siapapun kecuali adik adiknya" ungkap Jessi
"Berarti anda tidak mengenal anak anda sendiri Bu" jawab Zaki
Tok. Tok. Tok.
"Silahkan masuk"
"Haris..." Gumam Jessi saat melihat seorang laki laki muda yang wajahnya begitu mirip dengan Haris.
Dia Hamka yang saat pulang kuliah di minta untuk mengantarkan dokumen surat kuasa kepemimpinan sementara perusahaan oleh Langit. Haris masuk dan menatap datar Jessi juga pengacara yang terlihat shok melihat wajah Hamka yang begitu mirip Haris muda bahkan tingginya juga sama.
"Syukurlah, Hamka, ini Hamka putra dari Haris" ucap Brandon
Hamka duduk di samping Zaki setelah menunduk sopan pada semua orang disana dengan wajah datarnya, dia sama sekali tidak mau mencium tangan Jessi karena menurutnya Jessi lah penyebab dari semua penderitaan Haris selama ini.
"Kamu.. kamu benar benar anaknya Haris, kamu begitu mirip dengan Haris" ungkap Jessi mendekat tapi Hamka menaikkan tangannya agar Jessi berhenti mendekat.
"Jangan dekati saya" ucap Hamka tegas
Pengacara langsung memeriksa surat kuasa itu dan ternyata itu juga sah di tanda tangani Haris tepat sehari sebelum dia di nyatakan meninggal. Pengacara itu sudah memperlihatkan semuanya pada Jessi, dan dia mengatakan kalau mereka tidak bisa lagi menuntut apa apa setelah mereka tahu Haris masih hidup dan pewarisnya juga ada.
"Anda tahu kalau Haris belum meninggal tapi anda mengatakan pada Bu Jessi kalau dia meninggal, bukankah itu sebuah tindak kriminal pak Brandon?" Tanya pengacara itu
"Iya jika itu atas kehendak saya dan itu jika saya ingin menipu kalian, tapi ini adalah permintaan Haris sebelum dia di nyatakan koma, saksinya adalah istri dan juga teman sejawat Saya James" Jawab Brandon
"Ada disana dan di tanda tangani langsung oleh Haris, sedangkan saksi dari pihak Haris adalah Icang dan Peter, itu temannya dia bilang" jawabnya lagi membuat Zaki mencubit pahanya karena menahan tawanya agar tidak meledak di sana.
"Siapa Icang dan Peter saya tidak pernah bertemu mereka?" Tanya Jessi
Matanya tidak lepas dari sosok Hamka yang begitu mirip dengan Haris, bahkan Hamka juga tidak memiliki ekspresi seperti Haris.
"Saya tidak tahu tapi saat menandatangani surat ini kedua orang itu bahkan mengobrol dengan Haris" jawab Brandon menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa.
"Anda tahu keberadaan orang orang itu dimana?" Tanya Jessi
"Mereka meninggal dan saya tidak tahu mereka di kuburkan dimana, yang saya dengar mereka meninggal dengan sangat mengenaskan" jawab Brandon
"Bu Jessi hanya ingin menggugat harta bagiannya saja, silahkan Haris mengambil bagiannya dia, tapi sebagai istri pak Patrick dulu, dia tidak di cerai jadi Bu Jessi berhak atas bagian warisan itu" ungkap pengacara
"Harta itu di hibahkan kakek saya pada papa, bukan di wariskan, mungkin Anda tahu kan kalau di hibahkan itu berarti sudah menjadi hak dari papa saya" ucap Hamka