NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Valerius mulai menggoreskan pena bulu basah itu di atas perkamen kasar, menulis dengan gaya kaligrafi keturunan bangsawan yang sangat elegan. Gerakan jemarinya sangat stabil dan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh medium menjijikkan yang sedang ia gunakan.

Setiap kata manipulatif yang ia tulis adalah panah beracun yang dirancang khusus untuk menembus langsung ke dalam jantung kecemasan Aldrich. Valerius mengukir kebohongan dengan sangat indah, menyusun narasi bahwa utusan pembunuh itu telah berkhianat kepada keluarga Draken dan disiksa hingga mati.

"Tulisanku ini dipastikan akan membuat kakakku meragukan kesetiaan setiap bayangan yang ada di dalam rumahnya sendiri," ucap Valerius sambil tersenyum sinis. Ia meniup pelan lembaran perkamen itu, membiarkan darah kental tersebut mengering kemerahan dan meresap ke dalam serat kertas.

Sebagai sentuhan penutup yang mematikan, Valerius merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah cincin perak bermata satu rubi merah. Itu adalah cincin stempel asli milik pemimpin pembunuh semalam, sebuah bukti fisik mengerikan yang tak akan bisa dibantah Aldrich.

Ia melelehkan sedikit batang lilin merah dari meja, meneteskannya secara estetik di bawah deretan tulisan berdarah tersebut. Valerius menekan cincin perak itu ke atas lilin panas, memastikan lambang utusan pembunuh tercetak sempurna sebagai stempel akhir suratnya.

Segel surat ini kini telah bertransformasi menjadi simbol teror mental, sebuah tantangan perang psikologis terbuka dari sang narapidana kejam. "Kirimkan surat balasan ini menggunakan gagang pos tercepatmu sebelum matahari terbenam menyentuh ufuk barat," perintah Valerius seraya menyodorkan gulungan perkamen itu.

Kaelos menerimanya dengan kedua tangan gemetar, sangat takut darah dari surat itu akan menodai sisa kewarasannya yang sudah amat menipis. "S-Segera kulaksanakan tanpa penundaan, Tuan Muda. A-Apakah ada hal lain yang mendesak yang Anda butuhkan saat ini?"

Valerius menatap tajam ke luar jendela kayu, melihat rintik hujan yang makin lebat mengguyur tak kenal ampun di halaman benteng. "Kumpulkan seratus prajurit elit terbaik yang kau miliki di halaman utama besok tepat saat fajar menyingsing."

Mata sipit Kaelos langsung melebar karena terkejut ekstrem, kebingungan menyapu seluruh wajahnya yang sudah penuh kerutan ketakutan. "S-Seratus prajurit terbaik? Untuk tujuan peperangan apa kita mengumpulkan mereka, Tuan Muda?"

"Kita akan segera berangkat meninggalkan perbatasan menuju ibu kota," jawab Valerius dingin, nada suaranya mengisyaratkan badai kehancuran yang tak terhindarkan. "Sudah saat yang paling tepat bagi putra yang terbuang ini untuk pulang ke rumah demi menagih hutang darah keluarganya."

Kaelos sama sekali tidak berani membantah atau bertanya lebih jauh, karena kepatuhan buta telah mengunci pita suaranya rapat-rapat. Ia segera membungkuk memberi hormat canggung dan berjalan mundur keluar ruangan, membawa surat berdarah itu bagaikan memegang sebuah patukan ular kobra.

Setelah Baron tambun itu pergi, Valerius kembali berdiri sendirian di dalam kesunyian kamarnya yang dingin mencekam. Ia bisa merasakan getaran energi gelap bersahutan dari belati penyedot jiwa di balik jubahnya, seolah senjata itu ikut tak sabar menanti pembantaian massal.

Rencana besarnya telah berjalan dengan sangat sempurna, setiap bidak catur yang rapuh bergerak tepat sesuai dengan manipulasi psikologis yang ia rancang. Aldrich dipastikan akan kehilangan akal sehatnya untuk sementara waktu setelah menerima surat berdarah beserta cincin utusannya yang telah tewas mengenaskan.

Kepanikan emosional itu perlahan akan membuat Aldrich merumuskan kesalahan-kesalahan fatal yang bisa dieksploitasi dengan sangat mudah oleh Valerius. Ibu kota yang dikenal selalu damai dan megah itu sebentar lagi akan diubah menjadi arena gladiator yang sangat luas dan membusuk karena darah.

Malam kembali turun perlahan menyelimuti Benteng Besi Hitam, membawa hawa beku menusuk yang mematikan aktivitas para penjaga jaga di luar. Di dalam kamarnya, Valerius tidak tidur sedetik pun untuk memanjakan diri, ia terus menyerap Mana alam untuk memperkuat wadah fisik barunya secara rakus.

Level 6 di sistem barulah sebuah permulaan yang menggelikan, kekuatan ini sama sekali belum cukup untuk membantai para elit ksatria suci di kerajaan pusat. Ia secara obsesif masih membutuhkan lebih banyak poin dosa, lebih banyak tangisan dan keputusasaan musuh untuk memicu evolusi sistem penyulut kiamatnya.

Keesokan paginya yang amat dingin, langit masih berwarna kelabu pucat saat Valerius melangkah keluar menuju halaman utama benteng tanpa keraguan. Seratus prajurit berzirah baja hitam telah bersiap berbaris rapi dalam formasi tempur kotak, napas mereka mengepul putih di udara pagi yang beku.

Baron Kaelos berdiri cemas di depan barisan depan, mengenakan zirah komandan usang yang terlihat terlalu sesak untuk menutupi perut buncitnya. Wajah kasarnya terlihat sangat lelah dan tegang, jelas terlihat bahwa ia tidak berani memejamkan mata sedikit pun semalaman suntuk.

Para prajurit benteng menatap kehadiran Valerius dengan pandangan campuran antara rasa hormat, penasaran liar, dan ketakutan absolut yang tak terucapkan. Rumor mistis tentang pasukan hantu yang membantai belasan pembunuh di ruang kerja Baron dalam diam telah menyebar dengan liar di barak mereka semalaman.

Mereka melihat pemuda tampan berambut perak ini bukan sebagai bangsawan terbuang yang lemah, melainkan sebagai wujud sosok misterius yang mengendalikan kekuatan gelap. Valerius merasakan getaran ketakutan komunal mereka mengalir di udara sekitar, memberikannya eforia mental yang sangat memabukkan kewarasannya.

Valerius berjalan melewati sela-sela barisan prajurit itu dengan langkah pelan yang sangat terukur dan memancarkan aura dominasi mutlak. Matanya yang sedingin bongkahan es memindai satu persatu wajah kasar prajurit perbatasan itu menggunakan skill 'Mata Penilai Iblis'.

Mayoritas dari mereka memancarkan aura abu-abu kebosanan, namun matanya berhasil menangkap belasan prajurit yang memiliki aura merah keganasan terpendam. Mereka adalah sisa-sisa tentara bayaran buangan buas yang dipaksa mengabdi di benteng, calon monster yang paling cocok untuk dieksploitasi dan dilepas oleh Valerius.

"Dengarkan baik-baik kata-kataku ini, para anjing penjaga perbatasan," suara Valerius menggema keras memecah keheningan pagi, nada suaranya penuh dengan arogansi tiran yang menindas. "Mulai detik ini, sisa nyawa dan pedang kalian bukan lagi milik Baron gemuk yang penakut ini, melainkan sepenuhnya milikku."

Pernyataan kurang ajar itu seketika membuat beberapa prajurit saling lirik kebingungan, namun tak ada satu pun yang berani membuka suara protes di hadapannya. Mereka mencoba melirik ke arah Kaelos dengan harapan sang Baron akan membantah, namun pria tambun itu justru diam menunduk penuh kepatuhan memuakkan.

Pemandangan sang komandan tertinggi mereka yang tunduk seperti budak sahaya itu mengkonfirmasi seluruh ketakutan terdalam dari para prajurit tersebut. Pemuda pucat dengan tatapan maut di depan mereka ini adalah pemegang kendali absolut tiran yang sesungguhnya di Benteng Besi Hitam ini.

"Perjalanan jauh menuju ibu kota nanti akan dipenuhi oleh pembunuh bayaran rakus dan ksatria pengkhianat yang menginginkan kepalaku untuk ditukar koin emas," lanjut Valerius dengan senyum asimetrisnya yang merendahkan. "Siapa pun dari kalian yang merasa ragu untuk mengayunkan pedangnya demi melindungiku, lebih baik memotong lehernya sendiri di tanah becek ini sekarang juga."

Keheningan yang sangat mencekam dan menindas mental turun menyelimuti halaman berbatu itu, hanya terdengar suara kepakan angin yang meniup panji-panji benteng. Valerius sengaja menggunakan bentuk tekanan psikologis massal, memaksa seluruh prajurit secara tak sadar menerima realitas bahwa mereka kini berada di bawah komando seorang monster.

Ia sama sekali tidak membutuhkan sepasukan manusia yang berperang demi kehormatan ksatria murahan, ia butuh anjing-anjing yang berperang karena ketakutan buta terhadap majikannya. Valerius tahu persis taktik menjijikkan bagaimana cara mengubah sekumpulan prajurit malas menjadi sekte militer fanatik yang menuhankan tiraninya.

"Tunggu apa lagi, segera buka gerbang utamanya!" teriak Baron Kaelos tiba-tiba untuk memecah kecanggungan, suaranya pecah memecah ketegangan yang menyesakkan dada tersebut.

Rantai besi raksasa berderit sangat keras saat pintu gerbang kayu oak yang tebal itu mulai ditarik terbuka perlahan oleh mekanik benteng. Sebuah kereta kuda lapis baja mewah berwarna hitam legam ternyata telah menanti dengan patuh di tengah jalan tanah yang becek di luar.

Kereta megah itu dihiasi oleh ukiran lambang naga hitam keluarga Draken yang terbuat dari perak, memancarkan aura kebangsawanan yang sangat mencolok dan mengintimidasi. Valerius berjalan angkuh menuju kereta itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, membiarkan jubah hitam barunya berkibar liar tertiup angin perbatasan.

Ia melangkah naik ke dalam kabin kereta yang berlapis beludru merah gelap, lalu duduk bersandar dengan posisi yang sangat arogan dan nyaman. Baron Kaelos dengan susah payah menaiki punggung kudanya sendiri, wajah kasarnya menegang memaksakan diri bersiap memimpin barisan pengawal di baris depan.

"Barisan depan, mulai maju perlahan!" perintah Kaelos dengan suara lantang yang dipaksakan berwibawa menembus deru angin.

Derak roda kereta besi dan ratusan langkah sepatu bot kuda mulai berdentum serempak meninggalkan sisa perlindungan dinding Benteng Besi Hitam. Perjalanan maut tanpa ampun menuju jantung kerajaan Aethelgard akhirnya telah resmi dimulai pada pagi kelabu yang membekukan darah ini.

Di dalam kesendirian kabin kereta, Valerius memejamkan mata kelamnya, membiarkan guncangan stabil dari jalanan berbatu itu meninabobokan pikiran gelapnya sejenak. Ia meraba gagang tulang kasar dari belati iblisnya di balik baju, membayangkan dan merancang ribuan nyawa yang akan segera ia renggut paksa di ibu kota nanti.

Dewa dan iblis di dunia naif ini akan segera menyadari kesalahan fatal absolut mereka karena telah berani memanggil monster terburuk dari alam semesta lain. Sang terpidana mati akhirnya telah bangkit sepenuhnya dari kursi listriknya, dan ia benar-benar siap menjadikan seluruh daratan benua ini sebagai panggung eksekusi masalnya yang baru.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!