Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Rindu langsung cemberut, tangannya masih kokoh memegangi tepi kolam, enggan untuk naik. "Cih, Kak... waktu latihan kan masih panjang. Sekali lagi ya? Please... ya, ya, ya?" bujuk Rindu dengan nada yang mendadak manja, lengkap dengan tatapan memohon yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun.
Hasrat bertanding dan belajar di dalam dirinya sedang menggebu-gebu, dan ia masih haus akan bimbingan dari Kenzo. Namun, Kenzo tetap pada pendiriannya. Ia menggelengkan kepala pelan sambil melipat kedua tangan di dada, menatap Rindu dengan senyum kebapakan sekaligus tegas.
"Tidak, Rin. Cukup," potong Kenzo lembut namun tak terbantahkan. "Kamu baru aja pulih dari serangan panik kemarin sore. Memahami dan mengunci teknik yang kakak berikan tadi itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini. Over-training malah bakal ngerusak otot dan mental kamu."
Kenzo kemudian melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Rindu. "Lagian, hari ini kakak ada jadwal latihan bareng tim kakak. Pihak kampus minta kakak mimpin persiapan buat Rektor Cup menuju kancah nasional."
Mendengar kata 'tim kakak' dan 'kancah nasional', Rindu langsung teringat sesuatu. Otaknya berputar cepat. Kenzo adalah mahasiswa sekaligus bagian dari elite olahraga kampus ini bahkan mungkin nasional.
"Tim Kakak?" Rindu mengerjapkan matanya, rasa ingin tahunya langsung memuncak. "Maksudnya... tim utama kampus yang isinya monster-monster renang itu? Kakak masih aktif jadi kapten mereka?"
Kenzo hanya mengangguk pelan, membenarkan tebakan Rindu tanpa perlu memamerkan gelarnya panjang lebar. Karisma seorang kapten sejati langsung memancar dari pembawaannya yang tenang.
"Tuh, mereka sudah pada datang," ujar Kenzo sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu masuk area kolam renang.
Braakk!
Pintu ganda lobi kolam renang terbuka lebar. Suara riuh rendah seketika memecah keheningan pagi yang tadinya tenang. Sekelompok cowok bertubuh tegap, tinggi, dengan jaket olahraga resmi kampus berwarna biru tua berjalan masuk dengan langkah penuh percaya diri. Mereka adalah tim utama renang kampus para "monster lintasan" yang mendominasi podium di berbagai kejuaraan antar-universitas.
"Pagi, Capt!" seru salah satu perenang bertubuh paling bongsor sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi begitu melihat Kenzo.
"Woi, Capt Kenzo udah nyebur duluan ternyata! Gak nungguin kita-kita lo!" sahut yang lain sambil tertawa, berjalan mendekat ke arah tepi kolam tanpa menyadari keberadaan Rindu yang masih mengapung di dalam air.
Melihat aura intimidatif tapi penuh disiplin dari tim utama tersebut, Rindu menyadari bahwa sisi kehidupan Kenzo yang satu ini berada di level yang sangat berbeda. Pria yang baru saja dengan sabar mengajari dan mengacak rambutnya dengan lembut beberapa menit lalu, adalah pusat gravitasi dan sosok yang paling disegani oleh para atlet terbaik di kampus ini.
Kenzo menatap timnya, lalu kembali menunduk menatap Rindu. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh ke depan wajah Rindu. "Yuk, naik. Tempatnya mau dipakai latihan anak-anak. Jangan sampai kamu malah jadi tontonan mereka di dalam air."
Salah satu perenang yang bertubuh jangkung sekaligus sahabat Kenzo, Gani, melangkah lebar memisahkan diri dari rombongan dan berjalan mendekat ke arah Kenzo dan Rindu. Matanya menatap Rindu yang masih berada di dalam air dengan tatapan menyelidik, lalu beralih ke Kenzo sambil menaik-turunkan alisnya jahil.
"Nzooo, baru ya?" tebak Gani dengan cengiran menggoda.
"Cih, sembarang ngomong lo! Dia atlet gue," semprot Kenzo ketus, langsung memasang badan di depan Gani seolah membatasi jarak pandang temannya itu dari Rindu.
Gani tidak menyerah begitu saja. Ia sedikit memiringkan kepalanya dan langsung mengenali wajah Rindu. "Eh? Lo Rindu kan? Yang punya julukan Ratu Lintasan itu? Wah, lo datang pada pelatih yang tepat, De'! Jarang-jarang Coach Ken mau buka kelas privat kayak gini. Biasanya ditawarin anak pejabat aja ditolak mentah-mentah sama dia. Apa jangan-jangan... ada udang di balik batu nih?"
"Berisik lo! Sana latihan!" potong Kenzo tegas. Suaranya naik satu oktav, membuat Gani langsung tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu berjalan mundur menuju blok tumpuan yang lain.
Kenzo kemudian kembali berjongkok di hadapan Rindu. Wajahnya terlihat sedikit protektif dan agak salah tingkah akibat godaan Gani tadi. "Dan kamu... sana buruan naik terus bersih-bersih," perintah Kenzo.
Rindu tidak bisa menahan senyumnya melihat pemandangan itu. Alih-alih kesal karena diusir, ia justru merasa geli sekaligus senang. Tangan Kenzo yang menyentuh pundaknya dan mendorongnya dengan sangat lembut seakan mengonfirmasi tebakannya, pelatihnya ini seperti sengaja tidak ingin Rindu berkenalan atau berinteraksi terlalu dekat dengan Gani dan anak-anak tim utama lainnya.
"Iya, iya, Kak. Ini juga mau naik kok," sahut Rindu dengan nada pelan yang manis, sengaja ingin melihat bagaimana ekspresi Kenzo jika digoda balik.
Dengan satu hentakan anggun, Rindu naik ke permukaan kolam. Ia langsung menyambar handuknya, memberikan lambaian tangan tipis pada Kenzo yang masih memperhatikannya, lalu berjalan menuju ruang ganti dengan hati yang berbunga-bunga. Sisi protektif dari seorang Kenzo Adhyaksa ternyata jauh lebih menggemaskan daripada sikap tengilnya.
Kenzo berdiri diam di tepi kolam, matanya terus mengawal punggung Rindu sampai siluet gadis itu benar-benar menghilang di balik pintu ruang ganti wanita. Setelah memastikan keadaan aman, ia mengembuskan napas panjang dan membalikkan badannya.
Baru saja Kenzo melangkah satu kali menuju area berkumpul, atmosfer kolam langsung berubah riuh. Sinyal bahaya langsung menyala di kepala Kenzo saat melihat seringai kompak dari belasan cowok bertubuh kekar di depannya.
"Ehem! Uhuk! Aduh, mendadak tenggorokan gue seret nih melihat pemandangan asri pagi-pagi," goda Gani, sengaja batuk yang dibuat-buat sambil menyenggol lengan temannya yang lain.
"Asli, Capt! Sejak kapan seorang Kenzo Adhyaksa yang sedingin es kutub utara kalau sama cewek, bisa natap orang selembut itu? Mana pakai acara dorong-dorong manja lagi!" sahut rekrutan baru tim utama, disambut sorakan "Cieee!" yang menggema di seluruh langit-langit lobi kolam renang.
"Gila ya, padahal kemarin medsos kampus gempar gara-gara fitnah murahannya si Tria. Tapi melihat tatapan mata lo ke pawang baru lo tadi, kayaknya gosip itu emang murni sampah. Lo berdua kelihatan ada apa-apa banget, Capt!" tambah yang lain sambil tertawa lepas.
Kenzo langsung memasang wajah datar andalannya, meski telinganya mendadak sedikit memerah. Ia berjalan santai ke arah meja pelatih, mengambil peluitnya, lalu mengalungkannya di leher dengan sentakan tegas.
"Udah puas bercandanya?" tanya Kenzo. Suaranya rendah, berat, dan langsung mengintimidasi, membuat sorakan riuh itu perlahan menyusut menjadi cengiran canggung.
Kenzo melipat kedua tangannya di dada, menatap satu per satu anggota timnya dengan pandangan tajam khas seorang kapten yang disegani. "Rektor Cup tinggal menghitung minggu. Kalau kalian masih punya tenaga buat ngegosip, berarti menu latihan pagi ini bisa gue kali lipat jadi dua. Gimana? Mau lanjut bahas urusan pribadi gue, atau langsung nyebur 10 X 200 meter gaya kupu-kupu?"
Mendengar menu "neraka" gaya kupu-kupu disebut, nyali anak-anak tim utama langsung ciut seketika.
"Ampun, Capt! Siap salah!" seru Gani cepat-cepat memakai kacamata renangnya dan langsung melompat ke dalam air tanpa ba-bi-bu lagi.
"Nyebur, woi, nyebur! Daripada mati berdiri dihukum monster!" sahut yang lain saling dorong untuk segera masuk ke lintasan.
Kenzo yang melihat kepanikan timnya hanya bisa mendengus pelan sambil menahan senyum. Sambil membawa papan klipnya ke tepi lintasan satu, sesekali matanya tetap melirik ke arah lorong ruang ganti, memastikan tidak ada satu pun dari anak-anak timnya yang berani mengganggu Ratu Lintasan-nya saat keluar nanti.
"Oke, sebelum masuk menu utama, semuanya pemanasan dulu! 4 X 100 meter gaya bebas santai. Gue gak mau ada yang kram hari ini," teriak Kenzo tegas, suaranya menggema di sepanjang langit-langit area kolam renang.
"Siap, Coach!" sahut anak-anak tim utama serempak dari dalam air.
Mendengar panggilan 'Coach' dari teman-temannya sendiri, Kenzo hanya tersenyum tipis. Sejak diberi kepercayaan penuh oleh Dekan Fakultas Olahraga untuk memegang peran ganda sebagai head coach sekaligus atlet utama, tanggung jawab di pundak Kenzo memang berlipat ganda. Namun, ia tidak pernah mengeluh.
Sebaliknya, Kenzo selalu membimbing timnya dengan sangat baik. Di bawah arahannya, tim renang kampus tidak hanya disegani karena kekuatan fisik mereka, tetapi juga karena kedisiplinan dan taktik matang yang ia tularkan dari pengalamannya di kancah internasional. Bagi anak-anak tim utama, Kenzo bukan cuma kapten yang hebat di dalam air, tapi juga mentor yang selalu pasang badan untuk mereka di luar kolam.
Sambil memperhatikan timnya mulai melakukan kayuhan pemanasan dengan rapi, Kenzo berjalan menyusuri tepi kolam. Pandangannya bolak-balik antara catatan waktu di papan klip dan gerakan air para atletnya.
Dari kejauhan, pintu ruang ganti wanita perlahan terbuka. Rindu keluar dengan pakaian santainya, rambutnya yang basah kini dicepol rapi. Begitu melihat Kenzo sedang dalam mode "pelatih tegas" yang berwibawa, Rindu menghentikan langkahnya sejenak di koridor, menatap kagum pada sisi lain cowok itu yang begitu penuh karisma saat memimpin timnya.
Rindu melangkah mendekat dengan santai, mengabaikan tatapan mata beberapa anak tim utama yang sesekali mencuri pandang ke arahnya dari dalam air. Ia berhenti tepat di sebelah Kenzo yang masih sibuk mencoret-coret lembar strategi di papan klipnya.
"Coach-nya Kakak belum datang ya?" tanya Rindu celingukan, mencoba mencari sosok pelatih senior yang biasanya mendampingi tim utama kampus.
Kenzo mengalihkan pandangannya dari papan klip, lalu menatap Rindu. Mendapati gadis itu sudah rapi dan segar, guratan tegas di wajah Kenzo otomatis melunak. Ia mengulas senyum tipis yang hangat.
"Kakak rangkap jadi atlet, terus jadi babunya mereka," sahut Kenzo dengan nada santai dan muka lempeng, merujuk pada tugasnya yang harus mengurus semua keperluan program latihan anak-anak timnya sendirian.
Rindu spontan tertawa renyah mendengar ucapan bernada pasrah dari cowok di sebelahnya itu. Suara tawanya yang merdu sempat membuat fokus Gani yang baru saja menyelesaikan satu lap buyar seketika di ujung lintasan.
"Masa atlet legenda serba bisa gini dibilang babu sih, Kak? Gak elit banget bahasanya," goda Rindu sambil ikut melirik ke arah papan klip Kenzo yang penuh dengan coretan taktik rumit.
"Ya emang kenyataannya begitu. Makanya, kamu jangan nambah-nambahin beban pikiran kakak dengan bantah instruksi lagi kayak tadi, paham?" balas Kenzo sambil menaikkan sebelah alisnya, kembali menyelipkan nada otoriter yang seketika membuat Rindu menahan senyum gembiranya. Saling melempar candaan seperti ini entah mengapa terasa begitu alami bagi mereka berdua sekarang.
Rindu mengambil paksa papan clip dari tangan Kenzo, Kenzo sempat tertegun saat tangannya mendadak kosong. Ia menunduk, menatap papan klipnya yang kini sudah berpindah tangan dengan sukses, lalu beralih menatap Rindu yang sedang memamerkan senyum penuh kemenangan.
"Kakak gak latihan?" tanya Rindu sebelum mengambil paksa papan tersebut.
Kenzo mengembuskan napas pelan, menahan senyum geli melihat tingkah nekat atlet privatnya ini. "Bentar, Rin. Kakak harus memastikan mereka dulu biar gak lemas pada saat uji coba nanti. Soalnya nanti siang akan ada simulasi kelompok estafet. Itu krusial banget buat poin Rektor Cup."
"Sini, Kak, Rindu bantu!" potong Rindu cepat, sama sekali tidak menerima penolakan. Ia langsung memosisikan papan klip itu di depan dadanya, siap beraksi.
Kenzo melipat kedua tangan di dada, memandangi Rindu dari atas ke bawah dengan tatapan jenaka. "Oh, sekarang Ratu Lintasan mau alih profesi jadi asisten pelatih, nih? Kamu tahu cara baca interval stopwatch kakak?"
"Jangan sepelekan Rin ya, Kak! Gini-gini Rin tahu mana atlet yang kayuhannya mulai kendor karena malas atau beneran capek," balas Rindu percaya diri, matanya langsung berpindah meneliti catatan angka di kertas tersebut, mencoba mencocokkannya dengan pergerakan Gani dan kawan-kawan di dalam air.
Dari tengah kolam, Gani yang sedang melakukan floating langsung berteriak heboh begitu melihat pemandangan langka itu. "Waduh, Capt! Asisten baru nih? Beruntung banget lo, kita yang latihan malah dapet bonus pemandangan seger di pinggir kolam!"
"Gani! Mau nambah dua lap gaya dada?!" ancam Kenzo ketus tanpa menoleh, yang langsung membuat Gani kembali menyelam ketakutan.
Kenzo lalu kembali menatap Rindu, matanya melembut. "Oke, karena kamu maksa, kakak titip pantau set pemanasan terakhir mereka. Catat kalau ada yang waktunya melorot di bawah satu menit. Kakak mau pemanasan sebentar di lintasan pojok."
Sebelum melangkah pergi, Kenzo mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Rindu, berbisik dengan nada beratnya yang khas, "Makasih ya, Rin. Ternyata kamu berguna juga selain bikin kakak pusing."
Rindu langsung mendelik sebal mendengar kalimat terakhir itu, namun tidak bisa menahan debaran di dadanya saat melihat Kenzo berbalik, lalu meluncur mulus ke dalam air lintasan enam, memamerkan kayuhan gaya bebasnya yang super cepat dan estetis.
"Wah... gila, Kak Ken berenang mirip ikan. Gak ada riak-riak air sama sekali di sekitar tubuhnya..." gumam Rindu pelan, nyaris berbisik.
Matanya melebar tanpa berkedip, mengagumi transisi tubuh Kenzo yang begitu mulus membelah air di lintasan enam. Teknik underwater dolphin kick cowok itu sangat efisien, lalu saat muncul ke permukaan, kayuhan lengannya begitu tenang namun menghasilkan dorongan yang luar biasa cepat. Air di sekitarnya seolah patuh dan tidak bergolak liar sebuah tanda bahwa efisiensi teknik Kenzo sudah mencapai level mutlak seorang maestro.
Plak! Rindu menepuk kedua pipinya pelan dengan tangan kiri yang bebas dari papan klip.
"Astaga, Rindu! Kamu di sini harus bantuin Kak Ken buat ngecek time timnya, bukan malah terpesona sama Kak Ken!" gumam Rindu merutuki dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir bayangan pesona sang pelatih dari otaknya, lalu menarik napas panjang.
Fokus, Rin. Fokus.
Sesuai perintah Kenzo, Rindu langsung mengalihkan pandangannya ke lintasan satu sampai lima, tempat anak-anak tim utama sedang menyelesaikan set pemanasan terakhir mereka. Ia mengangkat stopwatch di tangan kirinya, matanya bergerak lincah memantau setiap sentuhan tangan atlet pada dinding kolam.
"Gani, lintasan dua... 58,2 detik. Bagus," catat Rindu cepat dengan pulpen di papan klip.
"Lintasan empat, kayuhan lo kendor di lima belas meter terakhir! Catatan waktu lo melorot jadi 1 menit 3 detik! Mau ditambah porsi sama Kak Ken, hah?!" teriak Rindu tiba-tiba dengan nada tegas, meniru gaya melatih Kenzo yang berwibawa.
Mendengar teriakan Rindu, atlet di lintasan empat langsung terengah-engah sambil menatapnya horor.
Ternyata, meskipun berstatus sebagai asisten dadakan, insting tajam Rindu sebagai sesama atlet top tidak bisa dibohongi. Dari ujung lintasan enam, Kenzo yang baru saja memunculkan kepalanya ke permukaan air setelah menyelesaikan satu lap cepat, diam-diam tersenyum tipis melihat betapa tegas dan fokusnya Rindu saat membantunya.
—bersambung—