NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Try Not To Miss Me

LAS VEGAS 🇺🇸

Mansion Renzo

Mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi yang mengelilingi mansion Renzo, hanya beberapa blok dari Walter's Palace—klub hiburan malam sekaligus kasino terbesar milik sang adik. Begitu kendaraan itu berhenti, salah satu anak buah segera bergegas membukakan pintu.

Raphael turun cepat, jasnya bergoyang mengikuti langkah panjang yang penuh amarah. Sorot matanya tajam, rahangnya mengeras. Tanpa memberi kesempatan pada udara gurun yang panas untuk menyentuhnya lebih lama, ia langsung menyeberangi halaman menuju pintu utama mansion.

"Di mana dia?" tanyanya tegas, cukup membuat pelayan yang baru saja membukakan pintu menelan ludah.

"Tuan Dos ada di kamarnya, Tuan," jawabnya gugup, menunduk takut-takut. Dari semua keturunan Walter, Raphael selalu dianggap yang paling menakutkan. Ada sesuatu pada dirinya seperti tatapan dingin yang menusuk, wibawa yang kejam, mengingatkan siapa pun pada mendiang ayah mereka. Bahkan wajah Raphael, dengan garis rahang tegas dan sorot mata yang tajam, seperti cerminan Rudolf Walter di masa mudanya.

"Reynard sudah tiba?" Raphael menyela, masih menatap lurus ke arah koridor.

"Belum, Tuan. Tuan muda baru berangkat dari San Francisco."

Raphael hanya mengangguk tipis lalu meninggalkan pelayan itu. Langkahnya terdengar berat, juga cepat menapaki anak tangga menuju lantai atas.

Begitu sampai di depan kamar Renzo, ia mendorong daun pintu tanpa mengetuk. Pemandangan yang tersaji membuatnya berhenti sejenak. Renzo terkulai lemas di atas ranjang king size, wajahnya pucat, kemeja setengah terbuka, ada perban dengan bercak darah di dadanya. Di sisinya, Kimberly Steele—sahabat Renzo, atau mungkin mainan baru pria itu? Raphael tak tahu, mereka sering terlihat bersama bahkan beberapa kali memergoki mereka berhubungan—duduk dengan ekspresi cemas, tangannya meremas sprei.

"Raphael..." panggil Kimberly terdengar lirih.

Tatapan Raphael mengintari cepat dari Kimberly ke tubuh Renzo yang masih terkulai, lalu kembali lagi ke wajah perempuan itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ini semua ulah bajingan itu, Moriggan Walter. Anak buahnya menyerangku tiba-tiba ketika aku lengah," desah Renzo, satu tangan menekan perban di dadanya begitu melihat kakaknya berdiri di ambang pintu.

Rahang Raphael seketika mengeras, giginya menggertak geram hingga ototnya tampak menonjo. Nama itu—Moriggan Walter—selalu membuat darahnya mendidih. Anak dari jalang yang dulu membuat ibunya menderita karena perselingkuhan ayah mereka, Rudolf. Tidak ibu, tidak anak, sama-sama pembawa bencana. Sejak kematian Rudolf, Moriggan tak pernah berhenti mengusik hidup mereka, terus menuntut bagian dari harta yang jelas-jelas tak pernah tercantum atas namanya. Bajingan itu berkilah bahwa surat wasiat sudah dimanipulasi tiga bersaudara Walter agar ia tak mendapat sepeser pun. Persetan dengan dalihnya. Moriggan hanya parasit yang hidup dari dendam dan ambisi, dan Raphael sudah muak pada semua omong kosongnya.

Menyeret napas panjang, Raphael menahan bara yang mendesak di dadanya. Dia mengalihkan pandangan tajamnya ke arah pintu. "Simone!" panggilnya keras penuh amarah, membuat Kimberly sontak menegakkan punggung.

Seorang pria berjas hitam muncul di ambang pintu, berdiri tegap dengan ekspresi siap menerima perintah. "Ya, Tuan."

"Lacak keberadaan Moriggan sekarang juga," perintah Raphael tanpa tedeng aling-aling. "Aku ingin tahu di mana dia berada malam ini. Pastikan tidak ada celah bagi bajingan itu untuk menghilang."

Simone mengangguk singkat, lalu segera mengeluarkan ponsel dan keluar dengan langkah cepat.

Renzo berusaha duduk di ranjang, menatap Raphael dengan alis terangkat. "Kau akan menemui bedebah itu sendirian? Tanpa aku, tanpa Reynard?"

Raphael melirik sekilas ke arah adiknya, wajahnya tetap dingin. "Aku bisa sendiri," ujarnya, datar. "Dia harus diberi perhitungan malam ini."

Renzo menggeleng keras, sedikit meringis karena luka di dadanya. Kimberly membantunya untuk duduk. "Kau gila kalau berpikir akan berangkat tanpa pengawalan yang lebih banyak. Jangan bodoh, Raphael. Biarkan anak buahku ikut bersamamu. Urusan yang menyentuh darah adalah urusanku, kau tahu itu. Aku punya lebih banyak orang untuk hal semacam itu. Jangan gegabah."

Namun Raphael hanya memutar cincin di jarinya dengan gerakan lambat, tatapannya kosong ke depan. Tak ada kata keluar selain, "Siapkan sekarang. Aku tunggu di helipad."

Nada suaranya cukup untuk menutup semua argumen. Ia berbalik, pelayan yang menunggu di luar sudah bersiap memasangkan mantel panjang untuk sang tuan.

...•••...

Emily sudah duduk hampir satu jam di ruang kerja itu, dan kesabarannya mulai menipis. Ia mencebik, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan di atas permukaan meja mahoni yang memantulkan semburat keemasan dari cahaya matahari yang menembus kaca tinggi firma Walter. Matanya terus menatap pintu yang tetap tertutup rapat, menunggu sosok pengacara yang belum juga muncul.

Sungguh membuang waktu saja, rutuknya dalam hati. Kalau tidak bisa datang tepat waktu, seharusnya tak usah berjanji. Sama sekali tidak profesional. Raphael Walter mungkin lihai bermain-main sok penuh kuasa, tapi kali ini kesan yang dia tinggalkan justru membuat Emily ingin membalik meja dan pergi begitu saja.

Pintu akhirnya berderit terbuka, membuat kepala Emily otomatis terangkat. Mungkin itu dia, pikirnya. Seketika ia merapikan postur tubuhnya dan memastikan pakaian yang ia kenakan tidak memiliki celah sedikit pun yang bisa memancing pikiran mesum Raphael yang selalu kelewat percaya diri dengan pesonanya.

Namun kekecewaan segera menyeruak begitu yang muncul justru seorang perempuan muda—salah satu asisten Raphael di firma itu.

"Nona Cooper," sapa perempuan itu sopan. "Apakah Anda ingin makan siang di kafetaria kami, atau saya bawakan ke sini saja?"

Emily mendesah, melepas napas jengah. "Tidak usah. Lebih baik suruh tuanmu itu datang sekarang juga. Atau, kalau memang tidak bisa hari ini, jangan membuat janji lalu membuat orang menunggu." Ia melirik jam berlian kecil bercorak emas di lengannya, berujar ketus. "Aku juga tidak punya banyak waktu. Ada meeting di kantorku."

Perempuan muda itu menunduk sedikit. "Maaf, Nona Cooper. Kami juga tidak bisa menghubungi Tuan Walter sejak tadi. Jika ponselnya mati dan Simone tak bisa dihubungi, biasanya itu berarti ada urusan yang tak bisa ditinggalkan... dan tandanya Tuan Walter memang tidak mau diganggu."

Emily kembali mencebik, kedua alisnya terangkat sinis. Memangnya Raphael sesibuk apa? Presiden Amerika saja tidak segitunya merasa sepenting itu.

"Aslinya," lanjut asisten itu dengan hati-hati, "Tuan Walter jarang sekali terlambat kalau sudah membuat janji. Kalau pun ada kendala, biasanya karena masalah di perjalanan atau pertemuan mendadak dengan Tuan Walter yang lainnya."

Emily hanya mendesah pelan, memilih bungkam. Tatapannya tanpa sengaja terpaku, meluncur turun, memperhatikan penampilan perempuan muda itu dari ujung rambut sampai dada, dan langsung berhenti di sana.

"Kalau boleh jujur," ucap Emily akhirnya dengan tatapan nyinyir, "kau sepertinya memakai ukuran dalaman yang salah. Dadamu tampak seperti sedang berjuang keluar dari situ." Tunjuknya pada dada perempuan muda itu yang menggumpal sesak. "Dan... kenapa kau pakai atasan sabrina seketat itu ke kantor? Ini firma hukum, bukan pesta koktail."

Wajah asisten itu kecut, ia mencoba tersenyum ramah. "Tuan Walter yang meminta, Nona. Semua asisten wanita diminta berpakaian seperti ini, karena lebih enak dipandang. Katanya, pekerjaan kami di sini sudah cukup berat dan membuat pusing, jadi setidaknya Tuan Walter membutuhkan sesuatu yang terlihat... segar."

Emily hampir tersedak mendengar kata segar itu. Hah, segar macam apa yang Raphael maksud? Apa mereka ini larutan penyegar yang tugasnya hanya untuk membuat otaknya tetap adem setiap kali ia bosan? Dalam kepala Emily, seribu umpatan langsung berebut keluar. Astaga. pria itu benar-benar mesum kelas kakap. Apa dia kira semua perempuan di sini pajangan dekoratif untuk hiburan pribadinya? Dan mereka... ck, kenapa rela saja diatur begitu? Bukan hanya konyol, ini kebodohan yang hakiki.

Emily memutar bola mata, menahan dorongan untuk tertawa sinis. Raphael Walter, pengacara hebat, tak lebih dari seorang pengacara cabul bagi Emily, yang merasa dirinya raja wanita.

Bangkit dari kursinya, Emily berkata, "Aku tidak akan makan di sini. Lebih baik aku kembali ke kantorku saja, jadi tak usah repot."

Perempuan muda itu mengangguk cepat, kemudian melangkah keluar meninggalkan Emily sendirian di ruangan itu.

Hening.

Terpaku sejenak Emily dalam diamnya, memandang sekeliling perlahan. Ia tak pernah membayangkan pria yang hampir selalu mengarahkan percakapan mereka ke hal yang berbau seks itu punya sisi lain. Tampaknya ia menyukai barang antik yang memiliki nilai sejarah.

Kaki Emily membawanya mengitari ruangan itu sebab penasaran, jemarinya menyusuri permukaan meja yang halus. Di sudut ruangan, sebuah jam perunggu ala Louis XVI berdiri kokoh di atas credenza, ukiran daun anggur dan sulur angin di bagian penyangganya mengingatkan Emily pada kebiasaan para bangsawan Prancis abad ke-18 yang menandai status dengan benda seindah itu.

"Pilihan yang menarik," gumamnya berbicara pada diri sendiri.

Di rak kaca, berjejer pena Montblanc edisi terbatas, disandingkan dengan sebuah pocket knife tua yang gagangnya terukir nama keluarga Walter. Emily mencondongkan tubuh, matanya menyipit memperhatikan. "Huh... yang satu ini, buat apa keluarganya punya seperti ini?"

Melanjutkan, tepat di dekat jendela, Emily melihat patung kecil dari marmer putih, seekor singa bersayap, replika langka dari Lambang San Marco dalam mitologi Venezia, simbol kewibawaan sekaligus naluri predator. Emily mengingat cerita yang pernah ia baca, tentang bagaimana singa itu konon menjaga keseimbangan antara keberanian dan kelicikan.

Emily menyunggingkan senyum tipis. Sebagai perempuan yang gemar membaca—terutama buku sejarah dan mitologi—ia mendapati dirinya tertarik pada pilihan barang antik yang Raphael tata di ruang kerjanya, seolah memanggil sisi intelektual sekaligus rasa ingin tahunya.

Kalau saja ia jujur pada dirinya sendiri, Raphael bisa saja terlihat sangat seksi di matanya—pria dengan selera antik yang selaras dengan kesukaannya. Wajah itu pun tak kalah menarik, rahang tegas dan tatapan dalam yang memikat. Postur tubuh yang sempurna. Kombinasi yang gampang membuat imajinasi Emily merangkak ke arah yang tak pantas.

Seharusnya, itu tidak sulit membuat seorang Emily jatuh hati. Bahkan sekilas, ia bisa membayangkan betapa beruntungnya pria itu jika ia biarkan dirinya tergoda. Tapi bayangan itu langsung ia hempas, mengingat sifat narsis dan congkak Raphael yang bisa merontokkan semua pesona itu dalam seketika, membuatnya kembali sadar kenapa pria seperti dia berbahaya, bukan hanya untuk hati, tapi juga untuk kewarasannya.

Tak mau lama-lama larut dalam bayangan gilanya, Emily melangkah sedikit lebih jauh. Kini matanya terpaku pada sebuah figura foto yang terselip di balik koleksi jam saku. Ia menariknya keluar dari lemari kaca dengan hati-hati. Tiga pria berjas rapi—setelan yang jelas terlihat mahal dengan potongan yang sempurna—berdiri berdampingan tanpa satu pun senyum di wajah mereka. Aura mereka sukses membuat siapa pun untuk memandang lebih lama. Termasuk dirinya.

Raphael berdiri di tengah, tampak seperti pemimpin yang menundukkan hanya dengan sekali lirikan. Rahangnya tegas, sorot matanya menusuk. Di sampingnya, Renzo memancarkan aura pria nakal yang bisa terlihat walau hanya dalam foto. Mata birunya seolah sedang merayu siapa pun yang menatapnya lama. Tapi justru di ujung kanan bingkai, Reynard Walter yang paling membuat Emily terpukau. Ada ketenangan yang berbahaya di balik tatapan pria itu.

Emily mengangkat alis, mengakui dalam hati bahwa pria itu punya daya tarik yang lebih memikat daripada kedua abangnya. Reynard tampak matang meski usianya lebih muda, dan kacamata yang biasanya ia kenakan justru memberi sentuhan wibawa yang merangkai ketampanannya jadi semakin sulit diabaikan.

Seingat Emily, banyak yang bilang dialah otak keluarga Walter, seorang arsitek yang lihai membaca ruang sebaik ia membaca manusia. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya, ingatan tentang pertemuan pertama mereka berkelebat, membuat napasnya sedikit lebih berat.

Ponselnya bergetar di dalam sakunya, membuat Emily hampir menjatuhkan figura yang baru saja ia letakkan kembali ke lemari kaca.

Nama Raphael terpampang di layar.

Ah, this fucking asshole, batinnya. Akhirnya.

"Kau menungguku, hm?" suara pria itu terdengar malas tapi dalam, seolah ia sama sekali tak merasa bersalah karena membiarkannya menunggu berjam-jam.

Cih. Emily memutar bola matanya. "Kalau kau tidak bisa menepati janji, jangan membuat jadwal. Aku juga punya urusan penting selain ini."

Raphael hanya terkekeh rendah. "Kau terdengar tak sabar ingin segera bertemu denganku. Sabarlah, Emily. Serindu itukah kau padaku?"

"Bisa kah kau berhenti jadi narsis? Aku muak mendengarnya. Katakan saja jam berapa kau tiba. Berapa lama lagi aku harus menunggu?"

Raphael tertawa lagi. Tapi kali ini tawanya bak desahan yang sengaja dibuat-buat. "Damn, Emily... bahkan saat kau marah, suaramu tetap terdengar seksi. Kau tahu betapa menyenangkan membuatmu kesal?"

"Fuck you, Raphael."

"Oh, sweetheart. I'd love nothing more than that."

Hanya terdengar decakan sebal Emily.

"Dengar, Emily," suara Raphael menjadi lebih serius. "Kita harus tunda diskusi ini. Aku ada urusan mendadak. Besok aku hubungi lagi."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, masih saja narsis tingkat tinggi, "Try not to miss me too much tonight."

"Hoekk..." Emily hampir muntah mendengar ocehan narsis itu. Untung saja panggilan terputus sebelum ia benar-benar memuntahkan isi perutnya di atas meja mahal Raphael—meski bagian kecil dalam dirinya berharap bisa melakukannya. Meneleponnya hanya untuk memancing keributan, bukan minta maaf karena sudah membuatnya menunggu. Tipikal Raphael. Bajingan.

1
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!