Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Kambuh
Mobil bak terbuka itu melaju perlahan menyusuri jalan perbukitan. Udara pagi yang sejuk menerpa wajah Faris dan Siti, sedikit menghilangkan rasa lelah setelah malam yang penuh kepanikan. Hamparan kebun teh mulai berganti dengan ladang sayur dan rumah-rumah penduduk yang berjajar di sepanjang jalan. Sesekali sopir menyapa warga yang berpapasan, seolah tidak mengetahui bahwa hanya beberapa puluh kilometer dari tempat itu telah terjadi bencana besar.
Faris duduk di samping ibunya sambil sesekali memandang ke arah langit. Untuk sementara mereka memang selamat, tetapi pikirannya masih dipenuhi berbagai persoalan. Rumah mereka mungkin sudah hancur. Seluruh barang berharga bisa saja telah hilang. Belum lagi pekerjaan yang baru saja ia mulai. Ia bahkan belum sempat memberi kabar kepada Pak Bandi maupun Pak Adi bahwa dirinya masih hidup.
Di tengah lamunannya, terdengar suara batuk pelan dari sampingnya.
"Uhuk..."
Faris langsung menoleh. "Ibu?"
Siti hanya menggeleng kecil.
"Tidak apa-apa."
Namun baru beberapa detik berlalu, batuk itu kembali terdengar.
"Uhuk... uhuk..."
Kali ini jauh lebih keras.
Faris langsung mengusap punggung ibunya. "Bu, tarik napas pelan."
Siti berusaha mengangguk, tetapi batuknya justru semakin menjadi-jadi. Tubuhnya membungkuk sambil memegangi dada. Wajahnya perlahan memucat.
"Bu?"
"Uhuk... uhuk..."
Batuk itu tak kunjung berhenti. Mendadak Siti menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Beberapa tetes cairan merah merembes keluar dari sela-sela jarinya.
Mata Faris langsung membelalak. "Darah..."
Siti sendiri ikut terkejut ketika melihat telapak tangannya.
Belum sempat Faris bereaksi, tubuh wanita itu kembali terguncang oleh batuk yang jauh lebih keras.
"Ukhuk...!"
Kali ini darah segar menyembur cukup banyak hingga mengenai lantai bak mobil.
Semua orang yang berada di atas kendaraan langsung panik.
"Ya ampun!"
"Ibu itu muntah darah!"
Sopir segera menginjak rem.
"Ciiit!"
Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan. Faris langsung memeluk tubuh ibunya yang mulai limbung.
"Bu! Bu!"
Siti bernapas tersengal-sengal. Darah masih menetes dari sudut bibirnya.
"Ris..."
"Jangan bicara!"
Faris menoleh kepada sopir dengan wajah penuh kepanikan.
"Pak!"
"Iya!"
"Rumah sakit terdekat di mana?"
Pria itu langsung menjawab tanpa ragu. "Ada rumah sakit kabupaten sekitar sepuluh menit dari sini."
"Tolong antar kami!"
"Tentu!"
Tanpa menunggu lebih lama, sopir langsung memutar balik kendaraannya. Mesin meraung keras ketika mobil dipacu lebih cepat dari sebelumnya.
Sepanjang perjalanan, Faris terus menopang tubuh ibunya.
"Bu... bertahan ya."
Siti mencoba tersenyum, tetapi wajahnya semakin pucat.
"Ibu nggak apa-apa..."
"Jangan bilang begitu."
Faris menggenggam tangan ibunya erat.
"Sebentar lagi sampai."
Dalam hati, ia segera memanggil sistem.
"Sistem!"
[Ya, Host.]
"Apa yang terjadi dengan Ibu?"
[Menganalisis kondisi target...]
Beberapa detik kemudian hasil analisis muncul.
[Kondisi target memburuk.]
[Pendarahan aktif terdeteksi.]
[Risiko tinggi.]
Jantung Faris serasa diremas. "Ada cara menyembuhkannya?"
[Negatif.]
"Kamu punya skill kesehatan, kan?"
[Tidak tersedia.]
Faris menggeleng kuat. "Pasti ada!"
[Host hanya memiliki sistem pengembangan profesi.]
"Beli saja! Berapa pun poinnya!"
[Permintaan ditolak.]
"Kenapa?"
[Sistem tidak memiliki Mode Tingkat Kesehatan.]
Faris terdiam. "Mustahil..."
[Setiap sistem memiliki spesialisasi berbeda.]
[Sistem ini berfokus pada pengembangan kemampuan profesional Host.]
"Kalau begitu beli dari toko sistem!"
[Toko tidak menyediakan kemampuan penyembuhan penyakit.]
Faris mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Berarti kamu tidak bisa menolong Ibu?"
Beberapa detik sistem tidak menjawab. Kemudian suara mekanis itu terdengar kembali, kali ini lebih pelan dari biasanya.
[Maaf.]
[Permintaan tidak dapat dipenuhi.]
Untuk pertama kalinya sejak memperoleh sistem, Faris merasa begitu putus asa.
Selama ini ia menganggap sistem seolah mampu menyelesaikan hampir semua masalah. Namun kini ia sadar, ada batas yang bahkan sistem tidak bisa lewati.
Ia menatap wajah ibunya yang semakin lemah.
"Bu..."
Siti membuka mata perlahan.
"Maaf..."
"Jangan minta maaf."
"Ibu malah merepotkanmu."
Air mata Faris langsung jatuh.
"Ibu jangan bicara begitu."
Beberapa menit kemudian mobil akhirnya memasuki halaman rumah sakit kabupaten.
"Rumah sakit!" teriak sopir.
Faris langsung turun sambil menggendong ibunya.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Ada pasien!"
Beberapa perawat yang berjaga segera mendorong brankar keluar.
"Letakkan di sini!"
Faris membantu memindahkan ibunya.
Seorang dokter jaga langsung melakukan pemeriksaan singkat.
"Tensi turun."
"Nadi lemah."
"Siapkan ruang tindakan!"
Perawat lain segera memasang oksigen.
Dokter menoleh kepada Faris. "Anda keluarga pasien?"
"Iya."
"Kami harus membawa beliau ke ruang operasi sekarang."
Faris membeku. "Operasi?"
"Perdarahannya cukup berat."
"Kami harus menghentikan sumber perdarahannya secepat mungkin."
Tanpa memberi kesempatan berpikir lebih lama, para tenaga medis segera mendorong brankar menuju ruang operasi.
"Bu!" teriak Faris.
Siti menoleh lemah sebelum pintu ruang operasi tertutup.
Lampu merah bertuliskan OPERASI BERLANGSUNG menyala. Koridor rumah sakit mendadak terasa begitu sunyi.
Faris perlahan terduduk di kursi tunggu. Kedua tangannya gemetar. Seluruh tubuhnya terasa lemas.
Baru semalam ia hampir kehilangan ibunya karena tsunami. Kini ia kembali harus menghadapi kemungkinan yang sama. Ia menundukkan kepala sambil menggenggam kedua tangannya erat. Dalam hati dia kembali berbicara kepada sistem.
"Sistem..."
[Ya, Host.]
"Kalau nanti Ibu selamat... Izinkan aku menjadi lebih kuat. Aku tidak ingin lagi berada dalam keadaan tidak bisa melakukan apa-apa seperti ini."
Beberapa detik kemudian sistem menjawab.
[Misi baru terdeteksi.]
[Menjadi Insinyur Terhebat bukanlah tujuan akhir.]
[Host harus menjadi seseorang yang mampu melindungi orang-orang yang berharga.]
[Peringatan.]
[Jalan menuju tujuan tersebut masih sangat panjang.]
Faris mengangkat kepalanya perlahan. Matanya masih merah karena menahan tangis. Namun di balik rasa takut yang memenuhi dadanya, sebuah tekad perlahan tumbuh. Apa pun hasil operasi itu nanti, ia tidak akan berhenti berkembang.
Karena mulai hari ini, dia sadar bahwa kecerdasan, uang, dan kemampuan saja tidak selalu cukup untuk melindungi orang yang paling dirinya cintai.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.