NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14-Kebakaran Perpustakaan Sekolah

Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju santai berwarna biru muda yang nyaman, Elara kembali menuju kamarnya. Pintu otomatis terbuka saat ia mendekatkan kartu akses, lalu tertutup rapat di belakangnya. Ia berjalan pelan menuju meja belajarnya di sudut ruangan, duduk di kursi kayu yang biasa ia gunakan, lalu segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

Layar ponsel itu kembali menyala, menampilkan foto yang baru saja ia ambil di gudang terlarang tadi. Gambar itu memperlihatkan dinding tua dengan ukiran simbol dan tulisan melengkung yang sangat asing, tertata rapi namun penuh misteri. Elara menatap lekat-lekat setiap lekukan garisnya, matanya menyipit berusaha mencari sesuatu yang dikenalnya.

"Apa ya arti tulisan ini..." gumam Elara pelan, jari telunjuknya mengusap layar ponsel seolah bisa menyentuh tulisan itu secara nyata. "Bentuknya aneh banget, nggak kayak huruf abjad biasa. Kayaknya ini tulisan aksara kuno deh... entah aksara dari zaman apa atau daerah mana."

Ia menggeser layar, memperbesar gambar agar tulisan itu terlihat lebih jelas. Rasa penasaran di dalam dadanya makin memuncak. Ia teringat ucapan Bu Pamela yang melarang keras masuk ke ruangan itu, dan hawa dingin yang terasa begitu kuat di sana. Semuanya semakin meyakinkannya bahwa tulisan ini bukan sekadar goresan sembarangan.

"Coba deh aku cari di internet siapa tahu ketemu," ucapnya penuh harap.

Elara segera membuka peramban di ponselnya. Ia mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan aksara kuno, simbol misterius, hingga tulisan kuno yang jarang diketahui. Ia juga mencoba memasukkan deskripsi bentuk-bentuk garis yang ia lihat di foto itu, berharap ada hasil yang cocok. Ia menggulir layar berjam-jam, membuka satu per satu laman informasi yang muncul, membandingkan dengan gambar yang ia miliki.

Namun, usahanya itu sia-sia. Tidak ada satu pun simbol atau tulisan yang mirip. Semua aksara kuno yang ada di internet bentuknya jauh berbeda.

"Gak ada artinya sama sekali..." keluh Elara dengan wajah kecewa, sambil mematikan layar ponselnya sejenak. "Itu artinya ini adalah tulisan rahasia atau khusus yang cuma diketahui sama orang-orang tertentu aja di sekolah ini ya? Kira-kira apa ya artinya?"

Pertanyaan demi pertanyaan kembali berputar di kepalanya, membuatnya makin bingung. Ia menopang dagunya dengan tangan, menatap kosong ke arah jendela sambil memikirkan kemungkinan lain. Benaknya kembali mengingat-ingat kejadian demi kejadian: koridor tua, sosok berwajah pucat, jejak darah, hingga simbol ini. Semuanya seolah tersambung menjadi satu teka-teki besar yang perlahan menjeratnya.

Saat ia masih tenggelam dalam lamunan yang berat itu...

TING... TONG... TING... TONG...

Tiba-tiba bunyi alarm kebakaran berbunyi nyaring dan memekakkan telinga, menggema ke seluruh penjuru gedung asrama bahkan hingga ke luar bangunan. Suaranya keras, berirama, dan sangat menakutkan, langsung memecah keheningan sore itu.

Elara tersentak hebat dari lamunannya. Jantungnya seketika berdegup kencang karena kaget. Belum sempat ia berpikir apa yang terjadi, terdengar suara gaduh, teriakan, dan langkah kaki berlarian dari luar kamar. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi hiruk-pikuk dan kekacauan.

"Ada apa ini?!" seru Elara kaget. Ia segera bangkit berdiri, membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju pintu kamar dan melangkah keluar.

Di lorong depan kamarnya, pemandangan yang dilihatnya sungguh panik. Banyak murid-murid berlarian keluar dari kamar masing-masing, wajah mereka penuh ketakutan dan kebingungan. Ada yang membawa handuk, ada yang memegang buku, ada pula yang hanya berlari dengan tangan kosong, semuanya bergerak serentak menuju pintu keluar utama asrama.

"ada apa?"

"apa yang terjadi?"

"kebakaran di mana?"

Elara ikut berlari mengikuti arus murid-murid itu. Matanya bergerak cepat mencari seseorang yang mungkin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak lama, ia melihat Bimo, teman sekelasnya yang sedang berjalan terhuyung-huyung dengan wajah pucat dan napas terengah-engah tak jauh di depannya.

"Bimo! Bimo tunggu!" panggil Elara sambil mempercepat langkahnya hingga menyamai langkah pemuda itu. Ia memegang lengan Bimo dengan cemas. "Ada apa?! Apa yang kebakaran? Di mana?"

Bimo menunjuk ke arah gedung sekolah utama dengan jari gemetar, napasnya belum teratur. Matanya membelalak penuh ketakutan saat menjawab. "Itu... itu, Perpustakaan Sekolah kebakaran! Asapnya udah tebal banget keluar dari jendela-jendelanya, apinya gede banget!"

Mata Elara seketika membelalak lebar, darahnya serasa berhenti mengalir sejenak. Rasa ngeri dan cemas langsung menyeruak memenuhi dadanya. Ingatannya langsung terlempar ke percakapan terakhirnya di kamar tadi. Dinda... Dinda bilang dia mau ke perpustakaan!.

"Dinda..." bisik Elara lirih, wajahnya seketika berubah sangat pucat. "Ya Tuhan... Dinda masih di sana!"

Tanpa berpikir panjang lagi, tanpa mempedulikan bahaya atau peraturan sekolah, Elara langsung berbalik arah dan berlari sekuat tenaga. Ia menerobos kerumunan murid yang berlarian keluar, berlawanan arah menuju jalan setapak yang menghubungkan asrama dengan gedung sekolah utama.

Elara berlari sekuat tenaga sampai ke halaman depan gedung sekolah. Napasnya tersengal berat, dadanya naik turun hebat, dan jantungnya berpacu nyaris melompat keluar dari dada. Begitu ia menaiki tangga dan masuk ke area lobi utama, pemandangan di hadapannya membuat kakinya seketika terasa lemas dan darahnya serasa berhenti mengalir.

Di ujung lorong besar itu, ruang perpustakaan sekolah yang luas kini telah berubah menjadi lautan api. Kobaran api berwarna merah menyala menjulang tinggi dari balik jendela-jendela besarnya, menjilat-jilat langit-langit bangunan. Asap hitam pekat tebal mengepul keluar, menyebarkan bau kertas terbakar dan bau anyir yang menyengat ke seluruh penjuru gedung. Suara bunyi kertas yang dilalap api, kayu yang retak, dan kaca yang pecah terdengar mengerikan bersahut-sahutan.

Di sana-sini, banyak murid yang sudah berkumpul bergerombol di tempat aman, wajah-wajah mereka penuh ketakutan, kaget, dan panik. Beberapa staf sekolah dan penjaga asrama berlarian membawa alat pemadam api ringan, berusaha sekuat tenaga menahan jalaran api agar tidak merambat ke ruangan lain, meski usaha itu terlihat sangat sulit dilakukan.

Bu Pamela juga ada di sana. Ketua penjaga asrama yang biasanya tegas dan galak itu kini tampak sangat panik. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya, ia berteriak-teriak memberi perintah dengan suara melengking di tengah keributan itu.

"Cepat! Cepat panggil pemadam kebakaran ke sini! Telepon sekarang juga! Apinya makin besar, nanti merembet ke gedung utama!" seru Bu Pamela dengan napas memburu, matanya terus menatap ngeri ke arah kobaran api yang mengamuk itu.

Elara hanya terpaku sejenak melihat pemandangan mengerikan itu, namun ingatan akan Dinda langsung menyadarkannya kembali.

"DINDA!!" teriak Elara histeris, suaranya parau tertahan rasa cemas dan takut.

Tanpa berpikir panjang, didorong rasa khawatir yang meluap-luap, Elara langsung berlari menerobos kerumunan, berniat menerjang masuk ke dalam ruangan itu. Ia harus menyelamatkan Dinda, ia tidak bisa membiarkan sahabatnya terperangkap di dalam sana.

Namun baru saja ia melangkah beberapa langkah mendekat, tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram lengannya dengan sangat kuat, lalu tubuhnya ditarik mundur paksa hingga ia terhuyung ke belakang.

"Lo gila ya?! Mau masuk ke sana?!"

Suara itu dingin, rendah, namun penuh kemarahan yang meledak-ledak. Elara menoleh, dan melihat Arkan berdiri di sampingnya dengan wajah yang jauh lebih gelap dari biasanya. Matanya menatap tajam ke arahnya, bercampur rasa marah dan tidak percaya dengan tindakan gadis itu.

"Lepasin, Arkan! Lepasin aku!" Elara memberontak berusaha melepaskan cengkeraman itu, air mata mulai menetes di pipinya karena ketakutan akan nasib Dinda. "Aku mau nyelamatin Dinda! Dinda ada di dalam sana! Dia tadi bilang mau ke sini, dia mau belajar! Aku harus bawa dia keluar!"

Rafael yang berdiri tak jauh dari situ langsung ikut maju, membantu Arkan menahan Elara agar tidak nekat lagi. Wajahnya pun tampak khawatir namun ia tahu bahaya yang ada di depan mata.

"Iya, Elara! Sadar dong! Bahaya banget kalau lo masuk sekarang! Apinya udah gede banget, ditambah asapnya tebal, lo bakal mati kehabisan napas atau ketimpa puing di dalam sana!" seru Rafael berusaha menyadarkan.

Celio yang baru saja datang dari arah samping sambil mengelap keringat di dahinya ikut angkat bicara. Ia melihat ke arah perpustakaan yang terbakar itu dengan pandangan berpikir, lalu menoleh ke arah Elara.

"Setahu gue... sebelum kebakaran terjadi, ruangan perpustakaan itu kosong deh," ucap Celio pelan namun cukup jelas terdengar oleh mereka bertiga.

Gerakan memberontak Elara seketika berhenti. Ia menatap Celio dengan mata terbelalak lebar, pikirannya berputar kacau mendengar ucapan itu.

"Kamu... kamu serius ngomong gitu?" tanya Elara dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar.

"Serius lah, ngapain gue bohong?" jawab Celio yakin. "Gue kan baru aja selesai latihan ekskul renang di kolam belakang, lewat belakang gedung ini terus lewat dekat jendela perpustakaan. Pas itu belum ada api sama sekali, tapi pintunya udah dikunci dari luar dan ruangannya udah kosong melompong. Gue lihat jelas banget, nggak ada satu orang pun di dalam sana, bahkan Pak Budi penjaganya pun udah nggak ada di posnya."

"Kalau emang Dinda tadi bilang mau ke perpustakaan... terus sekarang dia di mana?" sahut Rafael sambil mengerutkan kening bingung, matanya menatap Arkan seolah mencari jawaban.

Elara tertegun kaku di tempatnya. Cengkeraman Arkan di lengannya perlahan dilepaskan karena gadis itu sudah tidak berusaha lari lagi. Otak Elara bekerja keras, menyusun kembali segala kejadian dari tadi sore. Dinda pamit mau ke sini, Dinda bilang sudah izin dan dikasih waktu satu jam... tapi perpustakaan sudah kosong dan terkunci? Lalu ke mana Dinda pergi?

Di tengah hiruk-pikuk suara sirine pemadam kebakaran yang mulai terdengar mendekat, teriakan para guru dan staf, serta suara kayu dan kertas yang dilalap api, seorang gadis berlari tergesa-gesa menerobos kerumunan. Ia adalah Keisha, napasnya tersengal-sengal, rambutnya sedikit berantakan karena terburu-buru. Baru saja ia tiba kembali di sekolah setelah urusan dengan orang tuanya, namun pemandangan mengerikan inilah yang pertama kali menyambut matanya.

Keisha berhenti mendadak tak jauh dari Elara dan rombongan itu, matanya membelalak tak percaya menatap kobaran api yang masih terus menjilat dinding perpustakaan. Wajahnya seketika pucat pasi, mulutnya terbuka lebar karena keterkejutan.

"Oh my god... apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi kayak gini?!" seru Keisha histeris, tangannya menutup mulutnya sendiri. Ia segera melangkah cepat mendekati Elara yang masih tampak terpaku dengan wajah penuh kecemasan.

"El! Elara! Kamu nggak apa-apa kan?!" tanya Keisha cemas sambil memegang bahu sahabatnya itu, matanya meneliti apakah ada luka atau tidak.

Elara hanya menggeleng lemah, matanya masih menatap kosong ke arah kobaran api itu. Suaranya terdengar parau dan gemetar saat ia menjawab. "Aku nggak apa-apa, Kei... tapi... tapi Dinda..."

Keisha mengerutkan kening, perasaannya mulai tidak enak. "Dinda? Ada apa sama Dinda? Di mana dia?"

Elara menoleh menatap Keisha, air mata mulai menggenang kembali di pelupuk matanya. "Dinda tadi pamit sama aku, Kei. Dia bilang dia mau ke sini, mau ke perpustakaan ini. Katanya dia sudah izin sama Pak Budi dan mau belajar di sini satu jam."

Wajah Keisha seketika berubah ketakutan. "What?! Maksud kamu... Dinda ada di dalam sana pas kebakaran terjadi?!" teriaknya kaget, matanya melotot menatap pintu perpustakaan yang kini tertutup asap dan api.

"Tapi... tapi Celio bilang tadi," Elara menunjuk ke arah Celio yang berdiri di belakang sambil mengamati situasi, "Dia bilang sebelum kebakaran terjadi, dia lewat belakang dan lihat perpustakaan ini sudah kosong, pintunya sudah dikunci, nggak ada siapa-siapa di dalam sama sekali."

Mata Keisha makin membelalak bingung sekaligus panik. Ia menatap Elara tak percaya, lalu menoleh kembali ke arah api yang makin dikendalikan oleh petugas yang baru datang. "Kalau emang gitu... terus Dinda kemana dong? Dia nggak ada di dalam, tapi dia juga nggak ada di mana-mana? Terus dia pergi ke mana?!" Rasa cemas mulai menjalar hebat di hati Keisha, membuatnya mondar-mandir kecil dengan tangan gemetar.

Suasana di antara mereka berdua makin tegang dan penuh kekhawatiran, hingga suara berat dan dingin Arkan memotong kegelisahan itu. Pemuda itu masih berdiri tenang di tempatnya, menatap sekeliling dengan pandangan tajam dan penuh perhitungan, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

"Kalian jangan panik dulu," ucap Arkan datar namun tegas, suaranya terdengar jelas di tengah keributan itu. "Panik nggak bakal bikin ketemu jawaban. Coba kalian telepon dia. Siapa tahu dia cuma ke tempat lain, atau ada urusan mendadak, jadi nggak jadi masuk ke sini."

"Ah, iya! Bener juga!" seru Keisha seketika tersadar. "Bentar... aku punya nomor telepon dia. Kemarin dia baru aja kasih tahu aku."

Dengan tangan yang gemetar hebat karena terburu-buru dan rasa takut, Keisha segera merogoh saku tas selempang yang ia bawa. Ia mengeluarkan ponselnya, jarinya bergerak cepat mencari nama kontak 'Dinda Kusuma' di daftar panggilan. Begitu ketemu, ia langsung menekan tombol panggil, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

Semua orang di sana—Elara, Arkan, Rafael, dan Celio—mendiam sejenak, menahan napas, berharap terdengar suara Dinda menyapa dari seberang sana. Namun harapan itu seketika runtuh.

Keisha menurunkan ponselnya perlahan, wajahnya makin pucat dan putus asa. Ia menatap Elara dengan mata berkaca-kaca. "Nggak aktif... Nomornya nggak aktif, El. Bunyinya langsung masuk pesan suara, berarti mati total baterainya atau memang dimatikan."

Rasa khawatir Elara makin menjadi-jadi. Kakinya terasa lemas, ia hampir tak sanggup berdiri. Pikiran buruk bermunculan satu per satu di kepalanya. Dinda hilang. Kepergiannya ke sini bertepatan persis dengan kebakaran ini. Perpustakaan kosong, tapi dia hilang. Ada apa sebenarnya di balik semua ini?

"Telepon lagi, Kei... coba telepon lagi sekali aja," pinta Elara dengan suara tercekik, masih berharap ada keajaiban.

"Iya, aku telepon lagi... aku telepon terus sampai dia angkat..." gumam Keisha pasrah. Ia kembali menekan nomor yang sama, berkali-kali, berulang-ulang. Namun hasilnya tetap sama. Hanya suara operator yang menjawab, mengatakan nomor yang dituju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Suara sirine pemadam kebakaran menderu semakin nyaring, bersahutan dengan suara semprotan air yang kuat memburu kobaran api yang masih berusaha bertahan. Para petugas bergerak lincah dan sigap, menyemprotkan air ke segala penjuru ruangan perpustakaan yang kini nyaris rata dengan tanah akibat dilalap si jago merah. Asap putih dan hitam masih mengepul tebal, membawa bau kertas gosong dan kayu hangus yang sangat menyengat hingga ke tempat berkumpulnya para murid.

Di tengah kekacauan itu, Pak Herman, Kepala Sekolah yang baru saja tiba dan turun dari mobil dinasnya dengan napas terengah-engah, tampak sangat murka. Wajahnya yang biasanya ramah kini memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Ia berjalan mendekati para staf sekolah dan penjaga asrama yang bertugas, lalu langsung meluapkan kemarahannya tanpa tedeng aling-aling.

"Apa ini?! Apa yang terjadi di sini?!" bentak Pak Herman dengan suara menggelegar, matanya melotot menatap mereka bergantian. "Saya cuma pergi sebentar ada urusan, baru beberapa jam saja saya tinggalkan, tapi sekolah sudah jadi begini?! Perpustakaan, salah satu bangunan paling penting dan bersejarah di sekolah ini, sekarang habis terbakar! Kalian semua kerja apa di sini?! Lalai! Kalian semua lalai menjaga tanggung jawab yang saya berikan!"

Pak Herman berjalan mondar-mandir kecil sambil menunjuk-nunjuk ke arah puing-puing yang masih berasap. "Saya sudah pesan berulang kali, harus ekstra waspada, harus teliti, harus jaga keamanan sebaik mungkin! Tapi lihat hasilnya! Hancur lebur semuanya! Nanti saya akan selidiki semuanya sampai ke akar-akarnya, dan siapa pun yang bersalah atau lengah, saya pastikan akan mendapatkan sanksi berat, sampai dikeluarkan dari sekolah ini!"

Para staf yang dimarahi hanya bisa menunduk diam, tidak berani membantah atau menjawab sepatah kata pun. Mereka tahu kesalahan ada pada pengawasan yang kurang ketat, dan amarah Kepala Sekolah saat ini sangat beralasan. Bu Pamela pun hanya bisa diam sambil menahan rasa bersalah, matanya sesekali melirik ke arah kobaran api yang perlahan mulai berhasil diredam oleh petugas.

Sementara itu, di sisi lain kerumunan murid yang agak menjauh, berdiri Valerie diapit oleh Selena dan Calista. Gadis itu bersandar santai di dinding tembok, kedua tangannya disilangkan di dada, dan sepasang matanya menatap pemandangan mengerikan di depannya—perpustakaan yang tinggal puing itu—namun bukannya ngeri atau sedih, bibirnya justru terukir senyum lebar yang penuh kepuasan. Senyum yang jahat, penuh kemenangan, seolah apa yang terjadi di sana adalah hasil kerja tangan sendiri yang sangat ia banggakan.

Calista yang berdiri di sebelahnya sempat memerhatikan ekspresi wajah sahabatnya itu dengan heran. Ia mengerutkan kening, lalu menyenggol pelan lengan Selena di sampingnya.

"Eh, Sel... lihat deh muka Valerie. Kok dia senyum-senyum sendiri sih lihat perpustakaan kebakaran? Aneh banget," bisik Calista pelan.

Selena mengerlingkan matanya, lalu menoleh ke arah Valerie. Ia melihat jelas senyum puas yang tak bisa disembunyikan itu. Seketika secercah pemahaman melintas di benaknya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Valerie, suaranya sangat pelan namun penuh makna curiga.

"Eh, Val... jujur deh sama kita," bisik Selena sambil menatap tajam ke arah wajah Valerie. "Lo ya yang rencanain semua ini? Kebakaran ini ada hubungannya sama lo, kan? Itu bukan kecelakaan, kan?"

Valerie tetap diam. Ia tidak menoleh sedikit pun ke arah kedua sahabatnya itu. Matanya masih terpaku pada sisa-sisa api yang mulai padam, namun sudut bibirnya makin terangkat naik, membentuk senyum misterius yang sangat menyeramkan. Ia tidak mengaku, tapi juga tidak menyangkal. Diamnya itu sudah menjadi jawaban yang sangat jelas bagi Selena dan Calista.

"Gila lo ya..." gumam Calista dengan mata terbelalak, campuran antara takut dan kagum. "Serius lo ngelakuin ini? Tapi... tapi gimana caranya? Terus kenapa?"

Barulah saat itu Valerie memutar kepalanya perlahan ke arah mereka berdua. Wajahnya tampak tenang dan dingin, namun matanya memancarkan kilatan kebencian yang mengerikan.

"Buat ngelakuin sesuatu yang besar, pasti butuh cara yang besar juga," jawab Valerie pelan, nadanya penuh teka-teki namun sangat meyakinkan. Ia kembali menatap puing-puing perpustakaan itu. "Dan ingat ya... kadang buat ngilangin satu masalah, atau buat ngilangin satu orang pengganggu, kita harus pastikan semuanya jadi abu dan hilang tak berbekas. Biar nggak ada jejak, biar nggak ada saksi, dan biar nggak ada yang bisa halangi jalan kita lagi."

Selena dan Calista saling pandang dengan jantung berdebar. Mereka mulai paham bahwa kebakaran ini bukan sekadar kebakaran biasa, dan Valerie melakukannya bukan tanpa alasan. Gadis itu berani melakukan apa saja demi ambisinya, bahkan menghancurkan bangunan bersejarah sekalipun.

Valerie melangkah pergi diiringi Selena dan Calista yang masih gemetar campur takut dan kagum. Di balik punggungnya yang menjauh, ia sempat melirik sekilas ke arah Elara yang masih tampak cemas dan menangis di tengah kerumunan, lalu senyum miring itu kembali terlukis.

"Lo juga hati-hati ya, Elara... karena lo mulai ikut campur urusan gue juga," batin Valerie penuh ancaman diam-diam.

Asap tebal perlahan mulai menipis, menyisakan bau gosong yang sangat menyengat dan sisa-sisa puing bangunan yang masih mengepulkan uap panas. Api yang tadinya mengamuk dahsyat kini akhirnya berhasil dikuasai dan dipadamkan sepenuhnya oleh para petugas pemadam kebakaran. Keributan perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang berat dan penuh kesedihan di hati seluruh warga sekolah yang menyaksikan perpustakaan bersejarah itu berubah menjadi tumpukan arang dan reruntuhan.

Namun di antara sisa kekalutan itu, Keisha masih berdiri kaku di tempatnya. Tangannya gemetar memegang ponsel, jari-jarinya berulang kali menekan tombol panggil ke nomor yang sama, berharap ada keajaiban yang terjadi. Namun setiap kali panggilan tersambung, suara operator selalu menjadi jawaban yang sama. Akhirnya, dengan wajah putus asa dan mata yang mulai memerah menahan tangis, Keisha menurunkan tangannya perlahan dan menatap Elara dengan pandangan yang penuh kepahitan.

"Tetap nggak bisa juga, El... Masih sama jawabannya, nomornya nggak aktif atau di luar jangkauan," ucap Keisha dengan suara parau, nyaris tak terdengar. "Sudah berkali-kali aku coba, tapi hasilnya tetap nihil."

Elara mengangguk lemah, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes jatuh membasahi pipi pucatnya. Ia menatap puing-puing perpustakaan itu lekat-lekat, seolah berharap sosok kecil Dinda akan muncul dari balik tumpukan itu sambil tersenyum minta maaf karena membuat mereka cemas.

"Itu artinya... Dinda hilang, Kei," gumam Elara lirih, suaranya bergetar hebat. "Dia hilang begitu saja, tanpa jejak, tanpa kabar. Dia pamit mau ke sini, tapi nggak ada di dalam, dan sekarang nggak bisa dihubungi sama sekali. Ada apa sebenarnya yang terjadi sama dia?"

Keisha menghela napas panjang, lalu mengusap kasar air mata di pipinya sendiri. Rasa takut dan bingung mendesak di dadanya, namun ia tahu mereka tidak bisa diam saja. Ia segera menarik lengan Elara pelan.

"Kita nggak bisa diam di sini terus-terusan, El. Ayo, kita laporin soal Dinda ke Pak Herman sekarang juga. Kita harus bilang semuanya, biar Pak Herman yang tangani ini lebih lanjut," ajak Keisha tegas.

Mereka berdua pun segera berjalan bergegas menuju ke arah Kepala Sekolah. Pak Herman sedang berdiri di dekat pintu masuk utama, masih tampak marah dan kecewa sambil memberikan instruksi kepada beberapa staf yang bertugas. Saat melihat Elara dan Keisha menghampirinya dengan wajah yang tampak sangat cemas dan sedih, Pak Herman pun menyela pembicaraannya sejenak dan menatap keduanya.

"Elara, Keisha... Ada apa lagi? Ada hal penting ya?" tanya Pak Herman, nada bicaranya sedikit melunak meski masih terdengar tegas.

"Pak... Pak Herman..." Elara berbicara terbata-bata, ia berusaha menenangkan diri agar bisa menjelaskan dengan jelas. "Pak, kami mau lapor. Ada teman kami, namanya Dinda Kusuma... dia hilang, Pak."

Mata Pak Herman seketika terbelalak kaget. Alisnya yang tebal terangkat tinggi, wajahnya berubah menjadi lebih serius dan waspada.

"Apa?! Dinda hilang? Gimana bisa hilang? Maksud saya, bagaimana ceritanya?" tanya Pak Herman cepat, nada bicaranya meninggi sedikit karena keterkejutan itu.

"Tadi sore, sebelum kejadian ini... Dinda izin sama saya, Pak," jelas Elara dengan rinci. "Dia pamit mau ke perpustakaan ini, katanya mau belajar dan mencari buku referensi buat persiapan Lomba Sains. Dia bilang sudah izin sama Pak Budi penjaga perpustakaan dan dikasih waktu satu jam untuk belajar di sana."

Wajah Pak Herman makin berkerut mendengar penjelasan itu. "Maksud kalian... ada kemungkinan dia terjebak di dalam sana pas kebakaran terjadi?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah puing-puing bangunan yang masih dijaga petugas.

Keisha segera menyahut cepat, berusaha meluruskan hal yang sangat penting itu. "Bukan begitu, Pak. Kami juga dapat informasi dari Celio, teman sekelas kami. Katanya sebelum api muncul dan alarm berbunyi, dia lewat belakang gedung ini dan melihat kondisi perpustakaan sudah kosong melompong, pintunya sudah dikunci dari luar, dan nggak ada seorang pun di dalam sana, Pak. Bahkan Pak Budi pun sudah tidak ada di posnya."

"Dan satu lagi, Pak..." sambung Elara. "Kami sudah berusaha menghubungi Dinda berkali-kali lewat telepon, tapi nomornya sama sekali nggak aktif. Sejak tadi sampai sekarang, nggak ada jawaban sama sekali."

Pak Herman mengangguk pelan sambil mengusap dagunya, berpikir keras mencerna semua informasi itu. Ia menatap kedua gadis itu yang tampak sangat khawatir dan sedih.

"Begini saja, nak... Kalau kondisinya memang begitu, kemungkinan besar dia tidak terjebak dalam api tadi," ucap Pak Herman berusaha menenangkan, meski raut wajahnya sendiri justru tampak makin serius dan khawatir. "Saran saya, kalian cari saja dia dulu di sekitaran sekolah dan asrama. Cek ke tempat-tempat biasa dia pergi, siapa tahu dia ada urusan mendadak atau sakit dan harus istirahat di tempat lain. Kalau sampai malam nanti dia belum juga kembali ke asrama dan belum ada kabar sama sekali, baru kita anggap ini hilang secara resmi dan kita akan lapor serta panggil bantuan polisi."

"Iya, Pak... Kami ngerti dan akan lakuin itu," jawab Keisha sambil mengangguk patuh, meski rasa cemas di hatinya belum sepenuhnya hilang.

"Baiklah. Saya duluan ya, saya harus segera ke lokasi kejadian, perlu memeriksa dan menyelidiki langsung apa penyebab kebakaran ini, apakah ada barang yang hilang, atau ada hal mencurigakan lain yang tersembunyi," ucap Pak Herman. Ia menepuk pelan bahu Elara dan Keisha sebagai tanda dukungan, lalu segera berjalan bergegas diikuti beberapa staf menuju puing-puing perpustakaan.

Setelah sosok Pak Herman menghilang di balik kerumunan, Keisha langsung memegang lengan Elara dan menatapnya dengan pandangan yang berisi ketegasan sekaligus kekhawatiran mendalam.

"Ayo, El. Kita ikuti saran Pak Herman. Kita balik ke asrama aja, tunggu di kamar sambil cek ke teman-teman lain kalau perlu. Siapa tahu Dinda cuma ada urusan mendadak atau merasa nggak enak badan, terus dia balik diam-diam tanpa bilang siapa-siapa," ucap Keisha, meski ia sendiri ragu dengan ucapannya itu.

Elara hanya mengangguk pasrah. Ia tahu tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan saat ini selain menunggu dan berharap. Hatinya terasa berat sekali, penuh pertanyaan yang tak terjawab.

"Iya, ayo kita balik..." jawab Elara pelan.

Mereka berdua pun segera berjalan beriringan meninggalkan lobi sekolah dan lokasi kebakaran itu. Langkah mereka berat, seolah ada beban besar yang dipikul di bahu masing-masing. Di dalam hati Elara, rasa curiga makin menguat: kebakaran ini bukan kecelakaan, dan hilangnya Dinda bukan kebetulan belaka. Ada tangan jahat yang mengatur semuanya, dan entah mengapa, sekolah tua yang penuh sejarah ini seolah menyimpan rahasia kelam yang siap menelan satu per satu penghuninya.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!