kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Jam pulang kerja, Anna mulai bersiap-siap untuk pulang mungkin Dean sudah menunggunya di luar atau sudah masuk ke dalam, rumah sakit ini kan miliknya jadi dia berhak untuk melakukan apa saja.
Saat ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, lagi-lagi ia mendengar suaminya yang diperbincangkan bahkan sampai dokter seniornya. Anna berhenti dan mendengarkan pembicaraan mereka dibalik pintu.
"Pak Dean tadi kesini loh! Padahal ia jarang banget kesini." Ujar dokter Rani.
"Apa? Calon suami aku tadi kesini?". Tanya dokter Anggi dengan sekencangnya yang membuat Anna sedikit kaget.
"Eitss dokter Anggi gak usah teriak kali, kemarin-kemarin saya lihat tuh pak Dean lagi berduaan sama dokter Anna di taman belakang." Celetuk salah satunya lagi.
"Dokter Anna? dokter yang masih internship itu? Mau apa dia deket-deket sama Dean? emang keganjengan tuh anak bisa-bisanya mau nandingin anak Dirut RS ini" Ucap dokter Anggi yang membuat Anna semakin kesal ingin sekali dia melabrak mulutnya itu apalagi ia memanggil Dean tanpa embel-embel apapun tak seperti dirinya yang memanggil Dean dengan sebutan 'pak' namun ia urungkan tatkala Dean sudah berjalan menghampirinya.
Anna memutuskan untuk pergi dari sana sebelum Dean tau bahwa dia sedang menguping pembicaraan seniornya.
Anna berjalan dengan kesal melewati Dean yang terus memanggilnya dia sudah muak dengan apa yang didengarnya hari ini.
"Kenapa sih dek Anna." Ucap Dean sambil menarik tangan Anna. Namun Anna melepaskannya dengan kasar lalu meninggalkan Dean sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Dean terus mengejarnya hingga banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya bahkan ada yang berbisik-bisik dan sudah pasti akan menjadi gosip.
Awan mendung serta hujan deras mengiringi langkah Anna menyusuri trotoar jalan sambil menangis. Ia merasa tak pantas bersanding dengan seorang Dean Prasetya yang notabenenya adalah seorang pemilik RS tempat ia melaksanakan internship sebelum menjadi dokter sesungguhnya.
Dean mengejar Anna menggunakan payung yang dia ambil di garasi mobilnya.
"Anna tunggu!" Dean berlari lalu dengan cekatan memeluk Anna dengan erat dari belakang.
Anna menangis sesenggukan dibawah guyuran hujan di pinggir jalan.
Dean kemudian memutar badan Anna mengahadapnya lalu memeluknya lagi dengan erat.
"Kamu kenapa? Ada yang gangguin kamu? cerita sama saya."
Ucap Dean yang membuat Anna mendorong dada bidangnya menjauh darinya.
"Bapak ngapain pake datang tadi? Kenapa gak telpon Anna dulu aja? Sengaja mau tebar pesona? Bapak tau gak kalau hampir semua dokter perempuan ngomongin bapak? Bahkan lebih parahnya lagi saya dibilang ganjen sama dokter Anggi gara-gara kejadian bapak nemuin saya di taman itu." Ucap Anna dalam tangisnya.
"Saya gak bermaksud begitu, saya hanya gak mau mengganggu pekerjaanmu." Ucap Dean sambil menggenggam tangan Anna namun segera ditepis oleh Anna.
"Lalu dokter Anggi, mengapa dia menyebut bapak sebagai calon suaminya? Bapak cuma mau main-main sama saya?"
"Anggi itu sahabat kecil saya dan tidak mungkin saya main-main sama kamu, saya cinta sama kamu Anna kamu berbeda dari yang lain saya cinta sama kamu." Ucap Dean dengan lantang.
"Gak, saya rasa saya gak pantes buat bapak! lebih baik bapak ceraiin saya daripada kedepannya bapak nyesel, ceraiin saya pak." Ucap Anna penuh penekanan.
"Sampai kapanpun saya gak akan pernah nyesel nikah sama kamu saya cinta sama saya sayang kamu." Jawab Dean berusaha meyakinkan Anna.
Setelah Dean mengucapkan itu, tiba-tiba Anna ambruk dan dengan sigap Dean menangkapnya, Anna pingsan.
"Anna bangun sayang, kamu kenapa?" Ucap Dean menepuk-nepuk pipi Anna, ia khawatir dengan keadaan Anna.
Dean menggendong Anna berlalu dari sana dan membawa Anna masuk ke dalam mobilnya, ia tak mau membawa Anna masuk ke dalam rumah sakit itu dengan keadaan seperti ini bisa-bisa Anna akan marah lagi padanya, disisi lain Dean merasa senang karena benar Anna cemburu saat ia menjadi bahan perbincangan rekan-rekan kerjanya.
Dean membawa Anna pulang ke rumahnya, padahal rencananya ia tadi akan ke rumah ibunya dulu untuk menemui Nayla tapi melihat keadaan Anna seperti ini ia jadi mengurungkan niatnya.
Di tengah perjalanan, Anna sadar lalu melihat sekelilingnya ia nampak kaget saat ia sudah berada di dalam mobil dan disampingnya ada Dean yang sedang menyetir.
Dean yang menyadari bahwa Anna telah sadar ia kemudian mengecek suhu badan Anna dengan sebelah tangannya dan benar saja Anna demam.
"Ya Allah dek, kamu demam." Ucap Dean sambil menarik kepala Anna untuk bersandar di bahunya, Anna tak menolak karena ia begitu lemas.
Sesekali ia mengecup puncak kepala Anna hingga sampai di perumahan mereka.
"Tunggu disini jangan turun dulu." Ucap Dean lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Anna kemudian menggendongnya ke dalam rumah.
"Kamu masih kuat buat ganti baju kan?" Ucap Dean yang sambil mendudukkan Anna di sofa.
Anna mengangguk lemah lalu berjalan dengan lemas masuk ke dalam kamar sesekali ia hampir terjatuh yang membuat Dean khawatir tapi tidak mungkin kan kalau dia yang harus menggantikan baju Anna.
Sementara Anna berganti pakaian, Dean juga mengganti pakaian yang basah akibat kejadian tadi.
Selesai berganti pakaian, Dean menyuruh Anna untuk beristirahat lalu Dean mengambil obat demam dan juga membuatkan Anna bubur.
Tak lama kemudian, Dean sudah datang dengan membawa obat beserta semangkuk bubur diatas nampan.
Dean menyuapkan bubur yang dibuatnya tadi untuk Anna, baru saja bubur itu sampai di perutnya, tiba-tiba Anna mengangkat badannya dan memuntahkan kembali tepat di baju Dean.
"Maaf saya gak sengaja."
"Gak apa-apa saya rela dimuntahin istri sendiri," Dean tersenyum lalu kembali menyuapi Anna "Makan lagi ya, abis itu minum obat."
Anna menggeleng, "Saya gak mau makan lagi, rasanya pahit."
"Sedikit aja ya, tiga sendok aja." Ucap Dean sambil menyuapi Anna lagi dan untungnya Anna tidak menolak.
Selesai makan, Dean memberikan Anna lalu obat demam untuk diminumnya.
Sore itu Dean terus menemani Anna yang sudah terlelap dalam tidurnya ditemani hujan yang tidak henti-hentinya turun dengan derasnya yang membuat Anna semakin kedinginan entah berapa lapis selimut yang dipakainya. Anna terus meracau karena kedinginan.
Dean masuk ke dalam selimut Anna lalu memeluknya berharap itu akan menyalurkan kehangatan pada Anna.
Menjelang tengah malam, Anna terbangun dan sedikit susah bergerak karena eratnya pelukan dari Dean.
Anna membangunkan Dean di sampingnya.
"Pak, pak bangun."
"Iya kenapa? Apanya yang sakit? kita ke rumah sakit?" Dean terbangun dengan khawatir lalu mengecek kembali suhu tubuh Anna dan panasnya sudah turun.
"Saya udah enakan, gak perlu khawatir! bapak udah makan?"
Dean menggeleng, memang benar sedari tadi ia belum makan sama sekali saking khawatirnya pada kondisi Anna.
"Saya gak lapar."
"Makan dulu pak, entar bapak sakit gimana? saya gak mau bapak sampai sakit gara-gara saya, saya masakin ya." Ucap Anna berusaha bangkit dari tidurnya.
"Gak usah kamu disini saja istirahat, biar saya yang masak sendiri." Cegah Dean pada Anna
"Kamu juga makan ya! dari tadi kamu cuma makan tiga sendok bubur." Ujar Dean lagi lalu Anna mengangguk mengiyakan dan tersenyum padanya.
"Terima kasih." Ucap Anna.
"Untuk apa?"
"Karena sudah merawat saya yang sakit." Ujar Anna masih dengan senyum yang mengembang.
"Kamu istri saya jadi sudah tugas saya untuk menjaga kamu." Jawab Dean sambil mencium tangan Anna.
To Be Continued ...
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗