NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26.Senangnya.

Suasana di dalam mobil perlahan berubah menjadi lebih tenang seiring roda kendaraan membelah jalan raya yang mulai sepi. Kabut tipis masih menyelimuti pinggiran jalan, namun udara di dalam kabin terasa jauh lebih hangat dan damai dibandingkan suasana tegang yang baru saja mereka tinggalkan. Air mata yang semula membasahi pipi Ivy telah mengering, digantikan oleh pancaran semangat yang kembali menyala terang di matanya. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi, lalu menoleh ke arah Rama yang duduk di sampingnya, memegang kemudi dengan tenang namun tetap memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan.

“Terima kasih banyak, Tuan Rama,” ucap Ivy dengan nada lembut namun penuh ketulusan. “Rasanya beban berat yang selama ini menindih hatiku seolah terangkat begitu saja. Kau benar-benar berhasil melampiaskan segala kekesalan dan rasa tidak adil yang selama bertahun-tahun aku pendam sendirian. Rasanya… sangat lega dan menenangkan.”

Rama tidak segera menjawab. Pandangannya tetap lurus tertuju ke jalanan di depan, namun sudut matanya sekilas melirik ke arah gadis itu. Nada bicaranya tetap datar dan dingin seperti kebiasaannya, tanpa ada perubahan ekspresi yang terlihat jelas.

“Sudah tidak menangis lagi, ya?” gumamnya pelan, namun cukup terdengar jelas oleh Ivy. “Ternyata calon istriku ini juga pandai berakting dengan sangat meyakinkan. Sampai-sampai aku sendiri sempat terperangkap dalam suasana itu.”

Mendengar ucapan itu, Ivy tidak merasa tersinggung sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, mengerti betul sifat pria di sampingnya yang memang sulit menunjukkan perasaan secara terbuka.

“Aku minta maaf kalau terkesan memanfaatkanmu tadi,” ucapnya dengan jujur sambil menundukkan pandangan sejenak. “Tapi sungguh, aku benar-benar berterima kasih. Terima kasih sudah mau mendengarkan penjelasanku, terima kasih sudah mempercayaiku, dan terima kasih sudah melindungiku tanpa ragu sedikit pun.”

Namun ucapan terima kasih itu hanya melayang begitu saja tanpa mendapatkan jawaban. Rama tetap diam, seolah tidak mendengar atau menganggap hal itu sudah seharusnya. Keheningan itu terasa sebentar, hingga akhirnya ia membuka suara lagi dengan nada yang masih terasa dingin namun menyimpan rasa ingin tahu.

“Selama seminggu terakhir ini kau tidak pernah muncul atau mengirim kabar apa pun,” ujarnya perlahan namun tegas. “Ke mana saja kau? Atau mungkin… kau sudah merasa tidak lagi membutuhkanku?”

Pertanyaan itu membuat jantung Ivy berdegup sedikit lebih kencang. Ia segera menggelengkan kepala dengan cepat, tak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.

“Sama sekali bukan karena tidak membutuhkanmu, Tuan Rama,” jelaskannya dengan nada tenang namun tulus. “Sejak Mama pergi ke luar negeri bersama Bibi Nora, aku sengaja membatasi diri dan jarang keluar dari kamar. Aku ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar keras, mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk fakultas kedokteran—impian yang sudah lama aku idamkan. Selain itu, aku juga berharap dengan tetap berdiam diri di kamar, aku bisa menghindari segala kesempatan bagi Oliv untuk mencari alasan dan membuat fitnah baru lagi. Selama aku tidak terlihat, setidaknya ia akan kesulitan mencari celah untuk menjebakku.”

Rama melirik sekilas ke arahnya, tatapannya tetap tajam namun mulai terlihat sedikit melunak. “Kalau begitu, kenapa hari ini kau tetap saja terjebak dan menjadi korban fitnahnya?”

Ivy menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada pasrah namun jujur. “Karena dia sudah mengamati setiap gerak-gerikku dengan cermat. Dia tahu kapan biasanya aku keluar kamar untuk mengambil makanan atau minum ke dapur. Hari ini aku lengah sebentar saja, dan tepat saat itulah dia sudah menyiapkan jebakan yang rapi untuk menjatuhkan nama baikku di depan Ayah dan semua orang.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Rama dengan pandangan yang jernih dan tulus. “Tapi ketahuilah, tangisanku tadi bukanlah sandiwara semata. Aku menangis karena merasa sedih sekaligus bahagia. Selama ini, hanya Mama dan Bibi Nora yang selalu percaya padaku. Namun hari ini, untuk pertama kalinya ada orang lain—yaitu dirimu—yang berani membela kebenaran dan mempercayai kata-kataku tanpa ragu. Itu yang membuat hatiku terasa sangat terharu.”

Rama memalingkan wajahnya kembali ke arah jalan raya, namun garis rahangnya yang semula tegang perlahan melunak tanpa disadari. Beberapa detik kemudian, ia berbicara lagi dengan nada yang lebih tenang namun tetap tegas.

“Membawamu pergi dari rumah itu memang keputusan yang paling tepat,” ujarnya mantap. “Kita akan langsung menuju vila pribadiku yang terletak di pinggiran kota, jauh dari keramaian dan jauh dari jangkauan keluarga Dermawan. Tempat itu sangat tenang dan aman, cocok sekali untukmu berkonsentrasi belajar. Di sana sudah ada Bu Sari, asisten yang sudah bekerja puluhan tahun bersamaku, dia akan melayani segala kebutuhanmu sehari-hari.”

Ia menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada meyakinkan. “Dan jangan khawatir, tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan tempat itu—baik Tuan Tio, Brian, maupun Oliv. Mereka tidak akan bisa melacak atau mengganggumu di sana. Kau akan tinggal di sana sampai Nyonya Lusi pulang ke rumah, baru setelah itu kau bisa kembali ke kediamanmu sendiri.”

Ivy hanya bisa mengangguk setuju dengan perasaan lega yang meluap-luap. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam erat jari-jari Rama yang tergeletak santai di atas paha pria itu. Begitu kulit mereka bersentuhan, sebuah cahaya samar berwarna keemasan muncul tepat di atas kepala Ivy. Angka yang semula terlihat meragukan perlahan berubah dan naik secara stabil, hingga akhirnya menetap dengan jelas pada angka 80. Cahayanya terasa lebih terang, lebih hangat, dan lebih kokoh dari sebelumnya—seolah mengonfirmasi bahwa sumber energi kehidupan itu kembali mengalir deras melalui sentuhan pria di sampingnya.

Hati Ivy terasa berdebar bahagia. Ia semakin yakin bahwa kehadiran Rama bukan sekadar perlindungan fisik, melainkan juga kunci untuk mengubah takdir hidupnya yang semula tertulis singkat dan menyedihkan.

Tak lama kemudian, mobil berbelok masuk ke jalan yang makin sepi dan dikelilingi pepohonan rindang yang menjulang tinggi. Di ujung jalan yang terjaga rapi itu, tampak sebuah bangunan megah namun terlihat tenang dan asri—vila pribadi Rama yang dibangun dengan gaya sederhana namun mewah, dikelilingi taman luas dan kolam air yang jernih. Udara di sini terasa lebih segar dan bersih, jauh dari kebisingan kota maupun suasana penuh intrik yang selama ini mencekik Ivy.

Begitu mobil berhenti di depan halaman, pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya dengan penampilan rapi dan senyum ramah segera menyambut mereka. Itu adalah Bu Sari, asisten kepercayaan Rama.

“Selamat datang, Tuan Rama dan Nona Ivy,” sapa Bu Sari dengan nada sopan. “Segala sesuatunya sudah disiapkan sesuai pesanan,kamar tidur yang luas dan cerah, ruang belajar khusus, serta makanan sehat dan bergizi yang sudah tersedia di dapur.”

Rama mengangguk singkat, lalu membimbing Ivy masuk ke dalam vila. Ruangan-ruangannya luas, pencahayaannya lembut namun cukup terang, dan perabotannya terasa nyaman serta mendukung ketenangan pikiran. Di halaman belakang terdapat jalan setapak teduh dan taman bunga yang indah, tempat Ivy bisa berjalan santai jika merasa lelah belajar.

Setelah memastikan semuanya dalam keadaan baik, Rama berjalan kembali menuju pintu keluar untuk bersiap pergi. Namun sebelum melangkah masuk ke dalam mobil, ia berhenti dan menoleh ke arah Ivy yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lega.

“Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui,” ujarnya dengan nada tenang namun penuh makna, membuat hati Ivy berdebar penasaran. “Aku juga akan tinggal di sini bersamamu mulai hari ini. Agar kau bisa lebih leluasa dan dekat… untuk menambah angka kehidupanmu itu dengan nyaman dan aman.”

Wajah Ivy langsung berseri-seri mendengar pernyataan itu. Rasa bahagia yang luar biasa memenuhi dadanya, membuatnya ingin melompat kegirangan namun ia berusaha menahan diri agar tetap sopan.

“Baiklah, terima kasih banyak, Tuan Rama,” jawabnya dengan suara lembut namun penuh semangat, lalu melambaikan tangan perlahan saat Rama masuk kembali ke dalam mobil. “Hati-hati di jalan dan selamat jalan dan jangan lupa kembali nanti!”

Mobil perlahan melaju menjauh meninggalkan halaman vila, namun Ivy tidak merasa sendirian sedikit pun. Ia menatap ke langit yang mulai gelap, melihat angka 80 masih melayang tenang di atas kepalanya dengan cahaya yang semakin terang. Di tempat yang tenang ini, bersama dengan kehadiran Rama, ia semakin yakin bahwa takdirnya yang semula suram kini mulai berubah arah—menuju kehidupan yang lebih panjang, lebih berwarna, dan penuh harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.​

1
Musdalifa Ifa
sangat mengesankan
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!