Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kelam untuk di rasakan.
Sepanjang hari, pikiran Bang Riegan tak pernah bisa benar-benar tenang. Sejak pertama kali melihat lempengan kalung perak bertuliskan nama itu, serta mendengar cerita bagaimana bayi itu ditemukan, satu kepastian telah tertanam kuat di benaknya. Ia memiliki firasat atas tanda kalung tersebut, bukan hanya dari bentuk kalungnya, tapi dari cerita ibu panti, semua mengalir persis seperti kisah masa lalunya sendiri.
Insting seorang perwira intelijen tidak bisa di sepelekan, Bang Riegan peka, ia tau siapa orang tua bayi tersebut.
Anak itu adalah darah daging Prada Guntara, prajurit yang selama beberapa hari ini menjadi ajudannya. Meskipun Guntara tampak tenang, tak pernah menunjukkan kegelisahan apa pun, seolah tak ada apapun yang hilang dari hidupnya. Sikap dingin dan acuh Prada Guntara justru menjadi bukti yang paling nyata bagi Letnan Riegan.
Naluri Bang Riegan mengatakan, lelaki itu sengaja membuang buah hatinya, membiarkan anaknya tergeletak tak berdaya tanpa mau mengakuinya.
Menyadari hal itu, hati Bang Riegan terasa begitu nyeri sekaligus pedih. Ia tak ingin bayi itu merasakan apa yang ia rasakan selama bertahun-tahun, menjadi anak yang dibuang dan tidak di inginkan. Ia tumbuh tanpa tau mengapa ia tidak diterima, mengapa dunia terasa begitu kejam di awal perjalanan hidunya. Maka.. tanpa ragu lagi, ia mengambil keputusan sendiri.
...
"Lama sekali, Abang darimana?" Tanya Phia saat Bang Riegan baru saja pulang ke rumah.
"Dari kantor saja. Ya namanya anggota baru, Abang butuh tau banyak hal di kantor." Jawab Bang Riegan.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Bang Riegan segera membuka pintu. Melihat sosok di hadapannya itu membuatnya diam mematung.
Belum siap tentang seorang perempuan di hadapannya, perempuan itu sudah setengah melompat memeluk Bang Riegan.
Phia yang melihatnya terhuyung selangkah mundur teratur, ia syok ada wanita lain yang berani memeluk tubuh suaminya.
Sadar akan perubahan raut wajah Phia, Bang Riegan segera melepas pelukan perempuan itu.
"Kenapa tidak boleh peluk Abang sendiri??" Kata Selena.
"Lenaaa.. Jangan macam-macam..!!! Kenalan dulu sama iparmu. Phia ini kakak iparmu, hormati dia." Tegur Pak Putra.
Mama Joana mencubit kuat pinggang putri bungsunya. "Siapa yang mengajarimu tidak sopan..!!!!!" Ujarnya sambil melotot.
Di belakang punggung Mamanya muncul seorang pria. Dia adalah anak pertama resmi dari Pak Putra, Bais.. Letnan Rubais.
"Nggak omong-omong kalau kawin, Bang Rieg." Sapanya pada Bang Riegan yang juga adik Lettingnya.
"You know lah ceritanya." Jawab Bang Riegan.
"Si_lakan masuk dulu, Pak.. Bu.." Phia mempersilakan orang tua dan saudara dari Bang Riegan untuk masuk ke dalam rumah.
Mama Joana langsung menyambutnya. Beliay tersenyum lembut dan mendekap Phia. "Ini Mama, sayang..!!! Bukan Ibu 'ini dan itu', Mama ini orang tuamu juga."
Phia membalas senyumnya, ternyata di dunia ini benar masih ada orang tua yang baik, yang masih mau menerima menantunya apa adanya.
Pak Putra ikut menyambut menantunya, beliau hanya sekedar mengusap puncak kepala menantunya, sedangkan Bang Bais.... Pria itu bersalaman dengan Phia, namun sejenak mereka saling menatap dan saling membuang pandangan.
Siapa sangka, pertemuan pertama itu membuat ekor mata Bang Riegan terus memperhatikan saudaranya.
Berbeda halnya dengan Selena, gadis itu terus bergelayut pada lengan Bang Riegan hingga seorang Rubais harus menarik tangannya.
"Apa sih, Bang." Kata Selena.
Bang Bais hanya melotot saja dan Selena segera menjauh, berjalan tenang di sampingnya, tanpa kata dan perlawanan.
...
"Iya, Bang Reigar masih sangat marah. Phia nggak tau harus bagaimana, Pa."
"Nanti Papa akan coba bicara dengan Abangmu. Soal Papamu, semua sudah clear. Hanya masalah Abangmu saja yang masih mengganjal."
"Abang nggak akan mau dengar apapun, tapi sungguh.. Kehamilan Phia tidak di sengaja." Jawab Phia.
"Papa tau, Nak. Biar nanti Papa coba bicara dengan Abangmu." Kata Pak Putra.
"Bicara apalagi????" Suara itu menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Seketika tubuh Phia serasa gemetar mslihat sosok yang baru saja tiba. "A_bang..!!"
"Kau tidak usah ikut campur. Aku sedang mendidik adik perempuan ku..!!" Nada Bang Reigar terus saja mengisi ruangan.
"Ada batasan untuk Abang mendidik Phia. Phia adalah istri saya, sekarang." Sambar Bang Riegan.
Bang Reigar terhenyak mendengarnya, tapi sikap beliau tetap tenang.
"Silakan duduk, Bang. Masalah ini tidak akan selesai dengan nada tinggi."
:
Bang Reigar meneguk kopi yang sudah Phia buat untuknya. Sesekali ia mengarahkan pandangan matanya pada adik perempuannya itu.
"Saya tau.. Abang cemas memikirkan Phia yang harus bersama saya, pria yang asal usulnya tidak jelas. Abang pasti juga sudah dengar alasan, saya akan mengambil seorang anak laki-laki dari panti." Bang Riegan membuka suaranya.
Phia yang baru saja tau hal ini, jelas kaget mendengarnya.
"Jelaskan..!!!" Pinta Bang Reigar.
Sejenak Bang Riegan menarik nafas panjang. Setelah di rasa siap, ia membuangnya dan menguatkan diri untuk mulai bicara. "Asal usul saya memang 'abu-abu', tapi Abang pasti sudah menyelidiki asal usul saya dengan jelas. Saya.. Roan Riegan Martumoga adalah anak kandung dari seorang kupu-kupu malam yang saat itu tidak jelas menawarkan raga pada setiap pria, meskipun sekarang saya juga sudah tau siapa ayah biologis saya."
Arah mata Bang Reigar terus menatap adik iparnya tanpa beralih, seolah ia sedang mencari kebenaran di dalamnya.
"Apapun yang terjadi dalam hidup saya, saya tidak akan membiarkan Phia merasa salah memilih takdirnya. Begitu pula cara kami bertemu.. saya berserah, ibu dari anak saya adalah wanita terbaik yang saya miliki... Setelah ibu yang berbesar hati menjaga dan merawat saya sejak kecil." Bang Riegan sedikit menunduk menyembunyikan genangan basah yang tertumpuk pada pelupuk mata.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍