"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32 Rasa bersalah yang dalam
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, suasana di dalam mobil benar-benar mencekam. Nadia memilih duduk di kursi belakang, mengabaikan Daren yang menyetir di depan. Daren berkali-kali melirik dari spion tengah, mencoba meminta maaf, namun Nadia hanya menatap kosong ke luar jendela.
Setiap kali Daren membuka mulut untuk memohon maaf, Nadia memotongnya dengan dingin, "Fokus saja pada jalanan, Tuan Daren. Saya tidak ingin menambah daftar cidera saya hari ini." Kata-kata itu sukses membuat Daren membisu dengan hati yang mencos.
Suasana di dalam mobil mewah milik Daren itu kembali senyap hanya deru napas mereka berdua yang terdengar, Nadia masih terus saja menatap ke arah jalanan dari jendela mobil mewah itu, Suasana jalan yang ramai kendaraan bermotor tidak mempengaruhi sedikit pun hati Nadia yang kembali menjadi dingin.
Sementara Daren berusaha untuk fokus pada jalan yang sedang mereka lalui namun jauh di dalam pikirannya dia sedang tidak baik-baik saja, hatinya bergemuruh menahan semua rasa bersalahnya yang sudah dia perbuat tadi di rumah sakit.
Petugas keamanan yang sedang berjaga di pos depan rumah Daren dengan sigap membukakan pintu pagar yang kokoh dan menjulang tinggi itu untuk mobil Daren yang sudah sampai di kediamannya.
Perlahan mobil mewah Daren masuk ke halaman rumahnya, Nadia segera membuka pintu mobil itu dan langsung bergegas keluar berjalan menuju ke dalam rumah tanpa menghiraukan Daren yang menyusul berjalan di belakangnya.
Nadia tidak naik ke lantai atas ke kamar utama Daren tapi dia berjalan menuju ke kamar tamu yang terletak di lantai bawah dan dia langsung mengunci diri di dalam kamar tamu.
Daren yang berdiri di depan pintu kamar tamu hanya bisa mengetuk pasrah tanpa mendapat sahutan.
Daren menyadari bahwa sifat impulsifnya telah menghancurkan semua kemajuan kecil yang mereka buat kemarin. Dia terduduk di lantai depan pintu kamar Nadia dengan kepala tertumpu pada lututnya, merutuki kebodohannya sendiri yang begitu mudah terpancing umpan murahan.
"Daren...Daren...betapa bodohnya kamu Dan betapa mudahnya kamu percaya dengan berita yang di kirim oleh orang yang tidak kamu kenal itu," gumam Daren merutuk dirinya sendiri dengan kesal.
Daren bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah lunglai menuju kursi sofa yang tak jauh dari kamar tamu.
Daren terduduk lemas di atas kursi sofa itu sambil menatap pintu kamar tamu itu berharap Nadia akan keluar dan menemui dirinya tapi itu hanyalah ilusinya saja.
Menyadari bahwa meratap tidak akan menyelesaikan masalah, Daren bangkit dengan mata merah penuh amarah yang kini dialihkan pada sang dalang. Dia menelepon asisten pribadinya dan tim IT tepercaya di kantornya.
Daren mengirimkan nomor tidak dikenal yang mengiriminya foto tersebut. "Lacak nomor ini sekarang juga. Cari tahu lokasi terakhirnya, pemilik rekening yang terhubung, dan siapa yang membayarnya. Aku butuh data lengkapnya malam ini juga!" perintah Daren dengan suara dingin yang mematikan.
"Siap Tuan," jawab suara orang yang di perintah Daren itu dengan tegas.
Daren merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang itu dan meletakan kepalanya di atas pegangan kursi sofa sambil memejamkan matanya berusaha meredam gejolak pikirannya yang sedang kacau.
Bibik yang sedari tadi melihat Tuannya sedang tidak baik-baik saja perlahan berjalan mendekat ke arah sofa tempat Daren merebahkan tubuhnya itu.
"Tuan, Mau Bibik buatkan teh hangat atau jahe hangat?" tanya Bibik dengan hati-hati setelah berdiri di dekat Daren.
"Buatkan aku jahe hangat saja Bik," ucap Daren yang masih memejamkan matanya itu.
"Baik Tuan," Bibik kembali ke dapur membuatkan jahe hangat untuk Daren dan tak lama kemudian jahe hangat buatan Bibik sudah selesai dan siap di antarkan oleh Bibik kepada Daren.
"Ini jahe hangatnya Tuan," ucap Bibik sambil membungkukkan badannya meletakkan gelas panjang yang berisi penuh jahe hangat buatannya itu.
Daren membuka matanya dan bangun dari tidurnya kemudian dengan perlahan Dia menyesap jahe hangat buatan Bibik itu sedikit demi sedikit.
Mata Daren kembali menatap lurus ke arah pintu kamar Nadia tapi tidak ada tanda-tanda kalau Nadia akan keluar dari kamarnya, Daren menarik napasnya dalam-dalam dan kembali menyesap jahe hangat itu.
Menjelang tengah malam, asisten pribadi Daren mengirimkan laporan. Benar saja, nomor tersebut terdaftar atas nama seorang fotografer amatir, dan ada transaksi masuk dari rekening tersembunyi milik Elsa beberapa jam sebelum foto itu dikirim.
Daren meremas kertas laporan itu hingga hancur. Matanya berkilat penuh dendam. Elsa benar-benar telah menggali kuburannya sendiri. Daren bersumpah tidak hanya akan menghancurkan Elsa secara finansial, tapi kali ini dia sendiri yang akan menyeret wanita itu ke balik jeruji besi. Namun sebelum itu, dia harus menemukan cara untuk menunjukkan bukti ini pada Nadia dan memohon ampunan istrinya besok.
...----------------...
Keesokan paginya saat sarapan pagi di ruang meja makan, Daren sengaja bangun lebih pagi dan sudah duduk rapi di meja makan menunggu Nadia.
Terdengar langkah kaki Nadia yang sedang berjalan ke arah meja makan, Nadia menarik salah satu kursi meja makan yang terletak di hadapan Daren " Selamat pagi Tuan," sapa Nadia dingin tanpa senyum pada Daren, kemudian Nadia duduk di kursinya dan siap untuk sarapan pagi ini.
"Pagi Nadia," sahut Daren yang menatap wajah istrinya itu penuh harap agar hati Nadia kembali membaik seperti kemaren pagi saat dia membuatkan bubur ayam untuk Nadia.
Nadia membalik piring yang sudah siap di hadapannya sejak tadi tapi dengan buru-buru Daren langsung mengambil piring Nadia dengan perlahan "Biar aku yang ambilkan, Kamu mau makan apa?" ucap Daren berusaha mengambil simpati Nadia lagi.
Meski masih kesal dan jengkel tapi Nadia tetap berusaha untuk menghargai niat baik Daren "Saya makan rendang sama sedikit sambal saja," ucap Nadia datar.
Daren langsung mengambil nasi dan meletakkannya ke piring Nadia, lalu dia menyendok beberapa potong daging rendang dan sedikit sambel dan setelah itu Daren meletakkan piring yang sudah berisi makanan itu ke hadapan Nadia. "Kamu makan yang banyak biar kakimu lekas membaik," ucap Daren.
Nadia tidak menyahut, Dia menyibukkan dirinya dengan mulai menyantap makanannya. Daren terdiam melihat sikap Nadia yang acuh padanya, Dia tahu kalau Nadia masih marah padanya.
Dan di sela-sela mereka menyantap sarapan paginya tiba-tiba Daren berbicara serius pada Nadia "Nadia, sebelumnya aku minta maaf atas kecurigaan aku kemarin siang pada kamu dan Dokter Adrian. Aku tidak tahu kalau ternyata orang yang mengirimi aku foto-foto kamu dan Dokter Adrian itu adalah Elsa dan aku baru tahu setelah aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki hal tersebut. A-aku benar-benar minta maaf atas sikap rendahanku kemaren padamu," Daren memohon maaf pada Nadia.
Nadia menghela napas panjang menghentikan makannya dan meletakkan sendok yang penuh dengan nasi itu ke piring "Sebagai seorang CEO yang mempunyai pemikiran cerdas dan dewasa sebaiknya Tuan belajar lebih banyak untuk memahami setiap kasus agar Tuan tidak salah dalam mengambil keputusan," ucap Nadia membuat hati Daren kembali menciut.
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang