"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertamu
Dengan dibantu asisten rumah tangganya, Sita baru saja sampai ruang makan, setelah sekitar satu jam-an ia membawa tubuhnya beristirahat di dalam kamar.
Harusnya dengan kondisinya yang seperti ini, wanita itu harus banyak beristirahat, seperti apa yang disarankan oleh dokter. Namun, kenyataan tak seperti rencana yang telah dibuat.
Sejak semalam hingga pagi tadi, tamu silih berganti datang ke kediamannya untuk menjenguk dirinya. Baik itu pegawainya atau rekan bisnisnya. Sebenarnya bisa saja dia menolak kedatangan mereka, namun itu tak ia lakukan demi menjaga hubungan baik dengan mereka semua.
Baru beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba salah seorang satpam yang menjaga keamanan rumahnya datang menghadap kepadanya.
"Permisi Bu Sita, ada tamu ingin bertemu anda", kata sang satpam, membuat Sita berhenti mengunyah makanannya.
"Siapa?" Tanya Sita.
"Dia bilang teman lama Bu Sita", Jawab satpam itu.
Jawaban satpam itu membuat kening Sita berkerut. "Teman? Teman yang mana?" Batin Sita.
Semenjak remaja hingga kini memang bisa dikatakan Sita tak memiliki teman, kecuali Ratih dan Bayu. Bagaimana mau punya teman, sejak dulu Sita adalah sosok yang agak tertutup. Ia lebih senang menyendiri dan membaca buku.
Semenjak remaja ia harus belajar bisnis. Ia pun kadang harus rela izin berhari-hari dari sekolah, ketika ayahnya dulu mengajak ia keluar kota atau keluar negeri untuk mengurusi bisnis-bisnisnya.
Wajar jika nilai-nilainya waktu sekolah jauh dari kata memuaskan. Bukan karena ia tak pandai, tapi karena ia jarang masuk sekolah. Karena hal itu juga, tidak ada teman di sekolahnya dulu yang mau berteman dengan dirinya.
"Minta tamu itu kesini saja, Di. Biar bisa sekalian ikut makan siang bersamaku", kata Sita pada satpamnya.
"Baik, Bu!" Jawab satpam itu sebelum pergi menemui tamu itu kembali.
Tak berpa lama, tamu yang dimaksud oleh sang satpam itu masuk ke ruang makan. "Selamat siang, Bu Sita", ucap sang tamu yang membawa parcel buah itu dengan senyum yang lebar.
"Kamu! Ngapain kamu kesini?" Tanya Sita dengan raut wajah yang menampakkan ketidaksukaan.
"Boleh saya duduk dulu? Bukankah tadi anda meminta saya untuk ikut makan siang?" Kata Dimas yang kemudian langsung mengambil posisi duduk di dekat Sita, tanpa mendengar dulu jawaban dari si empunya rumah.
"Kenapa kamu duduk disini? Kamu bisa duduk di kursi yang lain bukan!" Kata Sita ketus.
"Biar akrab saja", kata Dimas sambil tersenyum mengejek.
"Omong kosong!" Kata Sita, sambil membuang muka.
"Hahahaha", tawa Dimas pecah melihat tingkah Sita yang baginya sangat lucu.
"Apa maumu sebenarnya datang kesini?" Kata Sita.
"Baiklah, kalau kamu memaksaku untuk mengatakan tujuanku sebenarnya", kata Dimas yang mengambil sesuatu dari balik jasnya, kemudian meletakkanya tepat di dedepan Sita. "Lihatlah itu!" Ucapnya lagi.
Sita pun mengambil beberapa foto yang nampak sudah tua itu dari meja dan mengamatinya. Degggg.....seketika itu, jatungnya hampir saja seperti mau copot.
Dengan tangan yang gemetaran, ia mengambil gelas berisi air putih yang ada di depannya dan meneguknya sampai habis.
"Apa maksudmu, membawa foto-foto itu ke hadapanku?" tanya Sita sambil berusaha menutupi kegugupannya.
"Saat pertemuanku pertama kali dengan bocah itu, orang-orang bilang dia sangat mirip denganku. Akupun merasa begitu. Ada ketertarikan tersendiri pada anak itu yang membuatku hingga tak bisa tidur dibuatnya. Keesokan harinya aku membuka album masa kecilku dan benar saja wajah anak itu sangat mirip dengan wajahku di masa kecil", kata Dimas.
"Lalu kenapa? Wajar jika di dunia ini kita punya kembaran bukan?" Kata Sita.
"Oh ya", Dimas tersenyum kecut. " Apa kamu yakin, ia sama sekali tidak ada hubungannya denganku?" Lanjut Dimas.
"Maksudmu? Hubungan apa?" Kata Sita mencoba bersikap biasa.
"Tidak usah berpura-pura!" Nada suara Dimas sedikit naik. "Bukankah dia anakku?" Kata Dimas lagi.
"Anakmu? Enak saja. Jangan ngaku-ngaku! Dia anakku, anak dari Rosita Salsabila Akbar!" Kata Sita tak klah tinggi.
"Terserah kamu saja, biar waktu yang akan menjawabnya!" Kata Dimas sambil berdiri dari duduknya.
"Jangan__", Sita tak melanjutkan ucapannya tatkala ia melihat sosok Gala masuk ke ruangan itu.
"Bunda", seru Gala.
Suara Gala membuat Dimas menoleh. Dengan cepat pria itu menghampiri Gala yang hanya berdiri mematung melihat ada orang lain di ruangan itu. "Hallo Gala, masih ingat sama omm?" Tanya Dimas sambil mendekat ke arah Gala.
"Hmmmm", Gala berusaha mengingat-ingat. "Ahaa omm yang pernah nabrak Gala ya", kata Gala yang kemudian dengan sekejap mata sudah ada di gendongan Dimas.
"Gala yang nabrak omm, bukan omm yang nabrak Gala", kata Dimas sambil menarik hidung bocah itu dengan gemas.
"Masak si Omm", kata Gala dengan tampang yang lucu sehingga membuat Dimas tersenyum melihatnya.
"Gala sini!" Panggil Sita, namun Gala tak menghiraukannya karena sedang asyik bercanda dengan Dimas.
"Gala!" Suara Sita bertambah keras agak membentak, membuat si empunya nama kaget, karena sebelumnya Bundanya tak pernah memanggil dirinya dengan nada seperti itu.
"Gala Sini!" Teriak Sita lagi, membuat bocah itu berusaha lepas dari gendongan Dimas dan berlari ke arah bundanya ketika berhasil melepaskan diri.
"Bunda kenapa marah", tanya Gala sambil berdiri di depan bundanya yang duduk di atas kursi roda.
"Bunda nggak marah sayang! Maafin Bunda ya? Tadi Bunda manggil keras-keras karena dari tadi Gala dipanggil Bunda nggak denger-denger", kata Sita sambil mengelus pipi putranya yang matanya sudah nampak berkaca-kaca.
"Kemari, sayang!" Kata Sita. Wanita itu begitu erat memeluk putranya tatkala putranya sudah mendekat padanya.
Dimas yang sedari tadi masih berdiri di tempatnya, segera pergi meninggalkan ruangan itu, tatkala melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Gala sayangkan sama Bunda? Gala akan selalu di dekat Bunda kan?" Kata Sita sambil masih memeluk erat tubuh kecil Gala. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga membasahi wajahnya.
_____________
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"