NovelToon NovelToon
Jaka Srenggi

Jaka Srenggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: MartimbulSiregar

kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.

Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Jaka Srenggi kembali pulang dengan memanggul seikat kayu bakar dipundaknya, pekerjaan biasa yang dilakukan oleh Jaka Srenggi, semua dilakukan demi membantu orang tuanya.

"Hey ... bukankah itu Jaka Srenggi, Ayo kita kerjain!"

Surya, salah satu orang yang selalu mengerjai Jaka Srenggi, membully karena Jaka Srenggi orang miskin.

Surya cs mendekati Jaka Srenggi, Jaka Srenggi memandang, bukan takut tapi merasa malas meladeni Surya dan kawan-kawannya.

Surya langsung menendang Jaka Srenggi hingga terjerembab, kayu yang dibawanya jatuh berantakan.

"hahahahah!!"

 "Lihatlah si bodoh ini? Jatuh seperti kuda pesakitan," ejek Surya membuat panas telinga Jaka Srenggi.

Jaka Srenggi menahan diri karena dia sadar melawan Surya hanya akan memberikan masalah untuk dia dan hidup keluarganya.

Jaka mengumpulkan kembali kayu bakarnya yang berserakan, dan berjalan meninggalkan gerombolan Surya cs.

"Lihatlah lelaki yang tak punya harga diri itu. Sana kembali menyusu pada ibumu." kembali Surya mengejek Jaka Srenggi.

Langkah Jaka Srenggi terhenti mendengar ejekan yang sudah keterlaluan dari Surya. baginya separah apapun ejekan dari Surya masih bisa diterimanya, tapi jika sudah menyangkut ibunya, itu tak bisa lagi Jaka biarkan.

Jaka Srenggi berbalik dan berjalan mendekat ke arah Surya.

"Apa???" Bentak Surya.

"Kau boleh menghinaku sesuka hatimu Surya, tapi jangan coba merendahkan orang tua ku," Jaka menghentikan sejenak ucapannya.

"Kalau tidak aku akan ...!!"

"Akan apa??" Surya memotong perkataan Jaka dengan suara yang semakin keras. Tak hanya itu tangan Surya juga sudah terayun menempeleng kepala Jaka.

"Plakkkk!!"

Pukulan keras di kepala Jaka Srenggi, membuat anak yang hampir tumbuh dewasa itu pusing.

"Aduh!!" Teriak Jaka memegang kepalanya yang sakit.

"Beri dia pelajaran, jangan kasih ampun," perintah Surya pada tiga kawan-kawannya.

Tanpa meminta komando dua kali tiga kawan Surya mengeroyok Jaka, memberikan bogeman mentah ditubuh Jaka.

Jaka Srenggi yang tidak tahu sedikit pun apa-apa soal ilmu silat tak menghindar sehingga tubuhnya bagaikan samsak untuk tiga kawan Surya.

Jaka terjatuh dan tangannya memegang sepotong kayu, dalam emosi yang sudah meninggi Jaka Srenggi mengayunkan kayu di tangannya.

"Bukkk ... Bukkk ...!!"

Tiga kawan Surya yang mengeroyoknya menjadi makanan bagi kayu ditangan Jaka Srenggi. Ketiganya menghindar ketakutan karena tenaga Jaka Srenggi yang lebih kuat dari mereka.

Jaka Srenggi menatap Surya dengan tatapan nanar.

"Apa kau akan lari juga??" desis Jaka Srenggi.

"Apa kau pikir aku takut padamu? sedikitpun tidak!" kembali Surya membentak, dia mencoba mengintimidasi Jaka Srenggi, padahal ketakutan jelas terlihat dimatanya.

"Benarkah begitu??" tanya Jaka Srenggi dan berjalan semakin dekat kearah Surya.

Surya mengambil posisi silat yang di pelajari nya. Jaka Srenggi mengayunkan kayu di kayu ditangannya, Surya yang merasa kalau pukulan itu hanya pukulan pelan menahan dengan lengannya.

"Bukkk!!"

"Aaawwwww.!!" jerit Surya menahan sakit dilengannya yang terkena hantaman kayu dari Jaka Srenggi.

"Kenapa? Sakit??" ledek Jaka Srenggi.

Selesai ucapan itu Jaka Srenggi kembali mengayunkan kayunya.

"Plakkkk!"

Kayu itu menghantam kepala Surya tanpa ada yang menghalangi pukulan itu.

"Aawwwwww!!" Surya menjerit sekeras mungkin

"Ssssstttt!!" Surya juga meringis menahan sakit dikepalanya.

Luka di kepala Surya menganga dengan cairan berwarna merah mulai mengucur membasahi wajah dan bajunya.

"Kau akan menyesali ini! Aku akan laporkan pada ayahku," ancam Surya dan menatap Jaka dengan tatapan penuh dendam.

Saat itulah Jaka sadar jika dia sudah memberikan masalah untuk ayah dan ibunya, Jaka Srenggi tahu siapa orang tua dari Surya, orang terkaya di kota Bangau, orang yang memiliki pengaruh lebih dari pengaruh walikota dari kota Bangau.

Jaka hanya terdiam lemas dan menatap perginya Surya dan kawan-kawannya.

"Maafkan aku Bu!" gumam Jaka Srenggi.

Di tengah kota Bangau, dalam sebuah rumah yang paling besar dan paling mewah di kota itu. Ditengah ruangan duduk dua orang sedang berbincang begitu serius, itulah kediaman juragan Husin. 

"Kami akan melaksanakan dengan baik semua pekerjaan yang kau berikan juragan, percayalah, aku dan akan buah ku tak akan mengecewakanmu" kata lelaki bertopeng cadar hitam.

"Aku menyewamu memang karena percaya dengan reputasimu di dunia persilatan cadar hitam, Aku yakin hanya kau yang mampu melaksanakan tugas yang aku berikan ini," kata juragan Husin.

"Terima kasih kepercayaanmu juragan. Dengan bayaran sebesar itu nyawapun akan aku pertaruhkan, aku pastikan barang itu akan sampai ke tangan juragan Hafsah." kata cadar hitam.

"Hahahaha!!"

"Aku juga akan memberikan bonus jika barang itu telah sampai ke tangan juragan Hafsah, Jadi sebaiknya kalian bergerak cepat. Aku tahu banyak yang mengincar benda itu. Itu benda berharga untuk keluarga kami." ucap juragan Husin.

"Baik juragan! Jangan ragukan kemampuan aku dan anak buahku juragan. Kami memang kelompok hitam, tapi kami juga memiliki sesuatu yang harus kami percayai, kami masih memiliki rasa untuk dipercayai," ucap cadar hitam.

"Hahahaha!"

"Baiklah! Aku yakinkan kepadamu, besok pagi kalian berangkat, Malam ini kalian akan aku jamu," ucap juragan Husin.

"Tak perlu repot-repot juragan. Terima kasih." ucap cadar hitam dengan mata berbinar.

Saat keduanya berbincang tertawa seorang anak berusia belasan masuk dengan luka di kepala, cairan merah di kepalanya masih terlihat walaupun sudah mulai mengering.

"Surya, ada apa denganmu? Siapa yang berani melukaimu??" bentak juragan Husin.

"Jaka Srenggi ayah, dia mencari masalah, tanpa sebab yang jelas dia memukuli aku dengan kayu." jawab Surya berbohong.

"Kurang ajar, orang miskin itu tak tahu diri, Aku akan memberikan dia pelajaran" 

Amarah juragan Husin memenuhi seisi kepalanya.

"Pengawal..!!!!" Teriak juragan Husin.

Dua pengawal juragan Husin datang tergopoh gopoh.

"Ada apa juragan??"

"Kalian pergi ke rumah miskin Darmo, berikan dia pelajaran, anak nya sudah berani melukai tuan muda kalian." perintah juragan Husin.

Pengawal itu saling pandang, mereka tak berani untuk menolak meskipun hati mereka ingin menolak.

"Juragan! Tak perlu pengawalmu turun tangan. Biarkan saja aku yang memberikan mereka pelajaran."

"Bagaimana? Aku juga ingin menggerakkan otot-ototku juragan."kata cadar hitam.

"Apa kau yakin cadar hitam??"

Juragan Husin sedikit tak percaya dengan ucapan cadar hitam, dia sangat tahu sikap cadar hitam, setiap dia bergerak pasti akan ada korban yang jatuh ditangannya.

"Tunjukkan rumahnya padaku!" kata cadar hitam berteriak dan merasa jumawa.

Pengawal membawa cadar hitam kerumah Jaka Srenggi.

***

Sementara itu dirumah Jaka Srenggi, ibunya heran saat melihat Jaka kembali dengan luka yang banyak ditubuhnya.

"Ada apa denganmu Jaka??" tanya Bu Sarmi.

"Tidak ada apa-apa Bu, hanya jatuh saja saat di hutan." jawab Jaka Srenggi berbohong.

"Kau jang....!!"

Belum selesai ucapan Bu Sarmi teriakan keras sudah membuat mereka kaget dan ketakutan.

"Woy ... Jaka Srenggi, keluar kau! Hari ini kau akan mati," teriak suara keras dari luar rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!