NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Aurora Quinn menatap Sophia Laurent selama beberapa detik dalam keheningan yang mencekam. Atmosfer di dalam kafe mendadak terasa berubah total; menjadi jauh lebih tegang, pekat, dan sedingin es. Beberapa pelanggan yang duduk di dekat konter kasir bahkan mulai diam-diam mencuri pandang, memperhatikan interaksi tegang antara kedua wanita itu.

Sophia tetap berdiri tegak di depan meja kasir. Wajah cantiknya tampak sangat tenang—terlampau tenang, dan ketenangan yang tidak alami itu justru membuat Aurora merasa semakin tidak nyaman di tempatnya berdiri.

"Kita bisa bicara sekarang, Aurora?" tanya Sophia mengulang permintaannya dengan nada suara menuntut yang dibungkus kehalusan.

Aurora melirik sekilas ke arah Mrs. Cooper yang sedang sibuk menata inventaris di area dapur, lalu kembali menatap Sophia dan mengangguk pelan. "Lima menit," jawab Aurora membatasi waktu dengan tegas.

Sophia tersenyum tipis, tampak puas karena permintaannya dituruti. "Cukup," sahut Sophia pendek.

---

Mereka berdua berjalan beriringan keluar menuju area duduk terbuka yang terletak di bagian belakang kafe. Tempat itu merupakan sudut darurat yang jauh lebih sepi dan jarang dilewati oleh mahasiswa pada jam-jam seperti ini.

Begitu mereka sampai dan menghentikan langkah kaki, Sophia tidak membuang waktu lagi dan langsung membuka inti pembicaraan.

"Ini tentang kamu dan Alexander," cetus Sophia tanpa basa-basi.

Aurora terdiam sejenak, memasang posisi defensif untuk melindungi dirinya sendiri. "Ada apa dengan kami?" tanya Aurora balik.

Sophia menyilangkan kedua belah tangannya di dada dengan gestur tubuh yang anggun namun sarat akan keangkuhan. "Aku hanya merasa penasaran saja," kata Sophia sengaja menggantung kalimatnya.

"Penasaran tentang apa?" desak Aurora mencoba untuk tetap bersikap tenang.

Sophia mengulas senyuman kecil yang meremehkan. "Menurut perkiraanmu sendiri, hubungan asmara kalian berdua kira-kira akan mampu bertahan berapa lama?" tanya Sophia frontal.

Aurora mengernyitkan dahinya dalam-dalam karena tersinggung. "Aku tidak mengerti apa maksud dari pertanyaanmu itu, Sophia."

"Tenu saja kamu mengerti apa maksudku, Aurora Quinn," potong Sophia cepat.

Nama dan nada suara Sophia perlahan-lahan mulai berubah drastis. Tidak ada lagi kepura-puraan ramah atau kelembutan seperti di awal tadi. "Aurora," panggil Sophia seraya mengambil satu langkah maju, mengintimidasi jarak di antara mereka. "Kamu tahu dengan jelas siapa sosok Alexander Kingsley yang sebenarnya, kan?"

Aurora menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya tanpa berkedip sedikit pun. "Ya, aku tahu siapa dia," jawab Aurora tegas.

"Benarkah kamu sudah tahu?" Sophia tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang berdenting tidak menyenangkan di telinga Aurora. "Lalu kalau kamu memang sudah tahu, kenapa kamu masih nekat bersikap egois dan tetap bertahan bersamanya sampai sekarang?"

Aurora mulai merasakan batas kesabarannya terkikis oleh keangkuhan wanita di depannya ini. "Aku sama sekali tidak melihat ada masalah dalam hubungan kami," bela Aurora.

Sophia menatapnya dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan menusuk. "Masalahnya sangat besar, Aurora! Karena kamu dan Alexander... kalian berdua berasal dari dunia yang terlampau berbeda jauh!" sentak Sophia penuh penekanan di setiap katanya.

Aurora terbungkam, memilih untuk tetap menyimak dan mengontrol emosinya.

Sophia melanjutkan kalimatnya dengan nada mendikte, seolah-olah ia sedang menjabarkan fakta mutlak di atas kertas yang tidak bisa diganggu gugat.

"Alexander adalah satu-satunya pewaris takhta dari Kingsley Group. Suatu hari nanti, dia yang akan memimpin salah satu dinasti perusahaan raksasa terbesar di New York. Dia terlahir untuk hidup di dalam sebuah lingkaran dunia elit yang bahkan tidak akan pernah bisa kamu bayangkan di dalam kepalamu," urai Sophia tajam.

Setiap untaian kata yang keluar dari bibir Sophia terasa menghantam dada Aurora seperti tamparan yang sangat keras. Namun, Aurora sekuat tenaga tetap mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat goyah di depan musuhnya.

Sophia kembali tersenyum tipis, menatap Aurora dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang merendahkan.

"Dan kamu? Coba lihat dirimu sendiri, Aurora. Kamu hanyalah seorang pelayan yang bekerja paruh waktu di kafe kampus ini. Kamu hidup dan bertahan kuliah dari belas kasihan dana beasiswa. Intinya, kalian berdua sama sekali tidak cocok bersanding," pungkas Sophia telak.

Aurora mengepalkan kedua belah tangannya di balik saku celemek hingga kuku-kukunya memutih. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kampus ini, ia merasa sangat marah.

Namun, rasa marahnya kali ini bukan karena harga dirinya direndahkan sedemikian rupa oleh Sophia, melainkan karena wanita itu berbicara seolah-olah hubungan tulus yang ia jalin bersama Alexander hanyalah sebatas kalkulasi angka, keuntungan bisnis, dan status sosial belaka.

---

"Jadi... apakah hanya karena alasan status itu yang membuatmu repot-repot memanggilku ke mari?" tanya Aurora dengan nada suara yang teramat tenang, membalikkan keadaan.

Sophia terlihat sedikit tersentak kaget mendengarnya. Semburat keterkejutan melintas di wajah cantiknya; ia mungkin sama sekali tidak menyangka bahwa seorang mahasiswi beasiswa seperti Aurora akan mampu tetap berdiri tegak dan setenang ini di bawah intimidasi mentalnya.

"Aku... aku hanya sedang mencoba untuk menyelamatkanmu dari rasa sakit hati yang mendalam, Aurora," jawab Sophia berkilah, mencoba mengontrol kembali suaranya agar tetap terdengar berkuasa.

Aurora tertawa kecil mendengarnya. Namun, tidak ada sedikit pun guratan humor atau keramahan yang tersisa di dalam nada tawanya. "Menyelamatkanku, katamu?" tanya Aurora sangsi.

Sophia mengangguk mantap. "Benar. Kamu hanya akan berakhir terluka parah jika terus memaksakan diri masuk ke dunianya yang kejam."

Aurora melangkah maju satu tapak, menatap langsung ke dalam sepasang mata milik Sophia dengan keberanian penuh. "Lalu kenapa aku justru merasa bahwa kamulah orang yang paling berharap agar hal buruk itu segera terjadi padaku, Sophia?" todong Aurora telak tepat sasaran.

Raut wajah Sophia langsung berubah drastis dalam sekejap mata. Untuk pertama kalinya, topeng ramah yang selama ini Sophia agungkan runtuh total, menampilkan kilat kemarahan yang membakar di balik wajah indahnya.

---

Selama beberapa detik, atmosfer di area belakang kafe itu mendadak menjadi sunyi senyap dan sangat mencekam. Hingga akhirnya, Sophia memutuskan untuk menyingkirkan seluruh topeng kemunafikannya dan berkata dengan sejujurnya.

"Karena aku menyukai Alexander Kingsley!" aku Sophia dengan suara yang terdengar bergetar hebat karena emosi yang meluap.

Deg. Aurora sempat tertegun mendengar pengakuan frontal yang keluar dari bibir saingannya itu.

Sophia memalingkan wajahnya sejenak ke arah lain, dan sorot tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat pahit dan penuh luka yang terpendam lama. "Aku sudah menyukai pria itu selama bertahun-tahun lamanya, Aurora. Jauh sebelum kamu datang ke kampus ini dan merusak semuanya," ungkap Sophia lirih.

Aurora memilih untuk tidak menyela atau mengatakan apa pun untuk membalasnya. Karena untuk sesaat, ia bisa melihat gumpalan kesedihan dan keputusasaan yang nyata di balik mata indah milik Sophia Laurent.

Namun, rasa empati itu seketika sirna saat Sophia kembali menoleh dan melontarkan kalimat berikutnya dengan nada suara yang dipenuhi ancaman berbahaya.

"Dan aku pastikan kepadamu, aku tidak akan pernah menyerah begitu saja untuk mendapatkan Alexander, hanya karena gadis kelas bawah sepertimu tiba-tiba muncul di antara kami," tegas Sophia tanpa ada keraguan sedikit pun.

Aurora menatapnya lurus tanpa ada rasa takut. Sophia pun membalas tatapan itu dengan binar mata menantang yang berapi-api—seolah-olah mereka berdua baru saja resmi menyatakan perang terbuka satu sama lain mulai hari ini.

---

Malam harinya, Aurora berjalan kaki seorang diri menuju ke arah apartemennya dengan isi pikiran yang teramat kacau dan berat. Untaian kalimat intimidasi yang dilontarkan oleh Sophia sore tadi terus-menerus berputar dan terngiang di dalam kepalanya tanpa bisa dihentikan.

"Kalian berdua berasal dari dunia yang berbeda."

"Kalian berdua sama sekali tidak cocok."

"Aku tidak akan pernah menyerah."

Aurora sangat membenci kenyataan bahwa ada sebagian kecil dari dalam lubuk hatinya yang mulai goyah dan mempercayai kebenaran di balik kata-kata kejam Sophia tersebut. Karena jauh di dalam dasarnya... ia juga dilanda ketakutan yang sama besar. Ia takut jika suatu hari nanti, bentangan jurang perbedaan status di antara dirinya dan Alexander akan benar-benar berubah menjadi masalah besar yang menghancurkan mereka berdua.

Tepat di saat ia sedang melamunkan kegelisahannya di trotoar yang sepi, ponsel di dalam saku mantelnya mendadak bergetar hebat.

Alexander Kingsley Calling...

Aurora menarik napas panjang untuk menetralkan suaranya, lalu segera menggeser tombol hijau di layar. "Halo, Alexander?" sapa Aurora mencoba terdengar biasa saja.

Suara bariton milik Alexander terdengar mengalun hangat dan menenangkan di seberang telepon, memecah kesunyian malam.

"Aku merindukanmu, Aurora," ucap Alexander langsung tanpa basa-basi di awal percakapan mereka.

Langkah kaki Aurora seketika terhenti di tempatnya berdiri. "Hah? Apa?" tanya Aurora gagap, mengira ia mungkin salah mendengar ucapan pria itu.

Alexander tertawa renyah di ujung sana, sebuah suara tawa yang terdengar sangat merdu di telinga Aurora.

"Padahal kita baru berpisah selama beberapa jam saja setelah kelas selesai siang tadi, tapi rasanya aku sudah merindukanmu setengah mati," aku Alexander dengan nada manja yang teramat jujur.

Kedua belah pipi Aurora seketika memanas seperti terbakar karena malu. Pria di seberang telepon ini benar-benar tidak pernah tahu bagaimana caranya menjaga ritme detak jantung orang lain agar tetap berdegup dalam batas normal.

"Kamu ini... benar-benar aneh, Alexander," gumam Aurora mencoba menutupi kegugupannya yang membuncah.

"Aku tahu aku memang aneh jika itu menyangkut dirimu," sahut Alexander terkekeh pelan.

Aurora menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang sangat tulus di kegelapan malam. Dan entah mengapa, hanya dengan mendengar suara hangat pria itu saja, semua gumpalan kecemasan dan ketakutan yang sempat menghimpit dadanya sejak sore tadi mendadak menguap hilang tanpa sisa.

---

Namun, di belahan tempat lain yang terpisah, suasana kontras yang mencekam sedang tercipta.

Sophia Laurent sedang berdiri seorang diri di atas balkon penthouse mewahnya yang megah. Sepasang matanya menatap tajam ke arah layar ponsel pintarnya yang sedang menampilkan foto kemesraan antara Aurora dan Alexander di kampus. Sorot tatapan matanya terasa begitu dingin, sedingin angin malam kota New York yang menusuk tulang.

Perlahan-lahan, kedua sudut bibir Sophia terangkat, mengulas sebuah senyuman misterius—sebuah senyuman licik yang sama sekali tidak membawa pertanda baik bagi siapa pun yang melihatnya.

"Kalau ternyata sebuah peringatan halus yang kuberikan tadi sore masih belum cukup berhasil membuatmu mundur..." gumam Sophia berbisik pada kegelapan malam yang sunyi. Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu mempererat genggamannya pada ponsel hingga buku jarinya memutih.

"Maka mungkin, mulai besok aku harus menggunakan cara lain yang jauh lebih ekstrem untuk menyingkirkanmu dari hidup Alexander, Aurora Quinn," lanjut Sophia mendesis penuh dendam yang membara.

Dan di malam yang sunyi itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sophia Laurent resmi mulai merencanakan sebuah konspirasi yang jauh lebih berbahaya dan mematikan untuk menghancurkan kebahagiaan hubungan asmara mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!