Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Jantung copot
Di akhir bulan Batalyon mengadakan pertandingan bola volly. Rival sudah tau ada pertandingan itu tapi Rival sama sekali tidak berminat dengan acara itu sedikit pun.
Wadanyon ( Kapten Bahrudin ) menghampiri Rival.
"Val.. mana istrimu? Bu Rival harus ikut memeriahkan pertandingan juga donk. Masa ibu Danki nggak ikut?"
"Nggak dah bang. Biar dia lihat saja" jawab Rival malas.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Biar istrimu mencoba semua hal baru dalam hidupnya" bujuk bang Bahrudin yang tau Rival punya rasa takut karena Yara jatuh saat sedang menonton pertandingan volly.
"Ya sudah ayo bang" Rival pun mengikuti langkah bang Bahrudin menuju lapangan.
Banyak keriuhan terdengar di lapangan. Shila melihat pertandingan itu sambil sesekali melihat Arben dan Abrian yang berjalan di sekitar lapangan.
"Kamu bisa volly dek?" tanya Rival.
"Bisa bang" jawabnya singkat.
"Mau main?" tanya Rival.
"Memang boleh bang??" tanya Shila penuh harap.
"Iya boleh. Sana masuk!!" ijin Rival.
"Masukan istri saya" ucap Rival pada panitia.
"Siap Danki" jawab panitia.
---------
Shila pintar sekali olahraga volly dan tidak ada bola yang lolos di tangannya. Rival menonton istrinya tersenyum bangga, istri cantik nya itu ternyata bisa banyak hal.
Tak lama ada seorang anggota memanggil Rival. Nampaknya ada sesuatu yang terjadi.
"Abang tinggal dulu ya dek!!" pamit Rival saat pertandingan berhenti sejenak.
"Iya bang"
Rival pun pergi dari lapangan. Tak lama ada ibu-ibu yang sekelompok dengan Bu Salim membicarakan tentang istri Danki terdahulu, pastilah itu istri Rival.. Yara.
Ibu Salim membicarakan semua kehebatan dan kesabaran Yara bahkan tiada hari tanpa kemesraan Danki dan istrinya dulu. Shila ingin menangis tapi ia menahan dan membuang nafas panjang berulang kali. Shila mengurut dadanya agar air matanya tidak tumpah.
Sebegitu kah cinta Abang untuk mbak Yara, hingga tidak ada tempat di hati Abang untuk Shila.
----------
"Kurang ajar sekali kamu Andika. Istri tempat halal mu malah kamu sia-siakan. Dengan istrimu, sampai kamu muntah itu terserah kamu, tapi kalau kamu susah payah cari uang hanya untuk bisa muntah dengan wanita lain, terlalu kurang ajar kamu jadi laki-laki" Rival mencengkeram kerah baju Praka Andika.
"Siap salah" ucap Praka Andika tanpa rasa menyesal.
"Tidak ada penyesalan sedikit pun padahal kamu sudah menyakiti istrimu sampai seperti itu. Apa alasanmu??" bentak Rival.
"Ijin.. Alasan pertama.. kami menikah dua tahun tapi istri saya belum hamil juga. Kedua.. istri saya selingkuh dengan anggota Batalyon XXX saat saya dinas pengamanan di wilayah timur. Saya membalasnya" kata Praka Andika.
Rival menghempaskan Andika dengan kasar di sofa ruang kerjanya.
"Soal anak itu adalah usaha, doa dan kesabaran. Kalau kamu tidak sabar, kamu akan menghancurkan rumah tangga mu seperti ini. Apa kamu pikir istri mu tidak stress di rumah karena memikirkan anak. Juga mungkin ada sesuatu yang membuat istrimu berpaling. Lebih baik kita cari tau dulu kebenarannya agar tidak jadi fitnah???"
"Siap salah Danki"
"Kamu harus paham. Wanita itu ibarat sembilan perasaan dan satu pikiran. Tapi pria sembilan pikiran dan satu hati. Dalam hal ini gunakan perasaan mu, siapa tau banyak salah paham!!!!!
----------
Rival berjalan pulang ke arah parkiran, tanpa sengaja melihat Shila pulang dan berjalan cepat, ia menangis. Cemas sekali Rival melihatnya apalagi wajah Shila nampak begitu tertekan. Rival melangkah menaiki motornya.
"Pak Rival tunggu!!" sapa seorang wanita. Rival menoleh ke arah suara.
"Ada apa?" tanya Rival datar dan malas.
"Markas meminta anggota dari Batalyon untuk demo Tarung Derajat, Taekwondo, dan Karate. Kata pak Nathan saya harus langsung hubungi bapak" ucap Azizah manja.
"Saya siapkan besok!" kata Rival tanpa menoleh sedikit pun ke arah Azizah. Yang Rival lakukan saat ini hanyalah profesional kerja.
"Setidaknya bapak harus baca dulu proposal ini untuk persiapan demo itu" senyum Azizah tidak tau malu.
"Saya tau apa yang harus saya lakukan. Kembalilah bekerja!!!!!!" usir Rival.
"Sejak Yara tidak ada, apa pak Rival tidak ingin membuka hati dengan wanita lain???" tanya Azizah penuh harap.
"Saya pasti membuka hati, tapi tidak untuk kamu" tegas Rival meninggalkan Azizah sendirian di parkiran.
-------
Rival masuk dalam rumah dan mencari keberadaan istrinya. Di lihatnya Shila sedang menata pakaian. Rival memeluk Shila dari belakang.
"Ada apa sayang? Wajahmu sedih sekali" tanya Rival.
"Nggak ada apa-apa bang" senyumnya nampak di paksakan.
"Jangan bohong sama Abang. Abang lihat kamu pulang tadi sedih sekali. Apa yang ibu-ibu itu bicarakan?"
Shila diam tidak menjawab pertanyaan Rival, hatinya terkadang memang masih terasa sakit mendengar banyak ibu yang masih membicarakan tentang suaminya dengan almarhumah Yara.
"Bilang sayang!! Untuk apa rumah tangga ini kalau masih banyak rahasia di antara kita?"
Shila menarik napas panjang menguatkan untuk mengungkapkan semua kesesakan dalam hatinya. Air mata tidak bisa ia simpan lagi.
"Banyak dari para ibu membicarakan tentang Abang dan mbak Yara. Abang yang terlalu mencintai mbak Yara tidak akan mungkin mencintai Shila. Shila ini apa bang? Abang menikahi Shila hanya untuk menjadi pelipur lara Abang dan ibu sambung untuk Arben dan Abrian" Shila menutup wajahnya tldan menangis disana.
"Siapa yang bilang begitu? Kata siapa kamu hanya pelipur lara Abang?"
"Shila nggak ingin dengar kata orang bang. Tapi setiap ibu-ibu bicara selalu terselip nama Abang dan mbak Yara" Shila berlari masuk dalam kamarnya dan menangis. Rival mengarahkan badan Shila menghadapnya. Rival mengecup kening Shila dan mendekapnya erat.
"Abang akan selesaikan semuanya. Tolong jangan menangis, perih hati Abang melihatnya. Abang tulus cinta kamu dek. Biar Yara terkubur dalam hati Abang. Sekarang kamu jantung hati Abang, nyawa Abang. Pada siapa Abang harus pulang kalau bukan ke kamu, istri Abang. Tidak ada Yara lagi. Yang ada hanya Zalfa Arshila di hati ini"
"Maaf bang, Shila nggak bermaksud membuat Abang melupakan mbak Yara" Rival menutup bibir Yara dengan telunjuknya.
"Abang ngerti. Biar dia akan menjadi masa lalu Abang. Dan kamu masa depan Abang. Kamu surganya Abang juga khan?" Rival mengusap punggung Shila.
Abang janji akan selesaikan semua dan tidak akan membuat mu seperti ini lagi sayang.
Rival mengecup Shila.
***
"Saya mau bicara di luar jalur pekerjaan kita" ucap Rival di depan para anggotanya.
"Saya berbicara sebagai seorang suami. Saya harap bapak-bapak semua disini bisa membimbing istri agar tidak melewati batas dalam berghibah. Terus terang, di rumah saja..saya berusaha keras menjaga perasaan istri saya, tapi kenapa sampai disini istri saya jadi bahan perbandingan dengan istri saya dulu. Istri saya sekarang tidak tau apa-apa. Istri saya juga butuh ketenangan tanpa tersakiti dengan bayangan masa lalu" Para anggota tunduk mengerti dengan perkataan Danki mereka.
"Saat menyandang seragam ini, berdiri di hadapan musuh sebagai prajurit, badan kita mungkin bisa berdiri tegak, bernyali ksatria. Tapi saat kita melepas seragam kita, berhadapan dengan istri.. apalagi melihat kesedihan di wajahnya sebagai seorang suami, nyali saya seakan hilang.. bukan karena takut. Tapi ini tentang bagaimana kita memperlakukan dan membahagiakan istri kita. Saya harap bapak-bapak semua mengerti. Untuk yang bujang tolong di resapi, musuh mungkin mudah untuk ditakluk kan, tapi hati wanita... seribu tantangan untuk menaklukan nya"
.
.