Zea telah berjanji pada dirinya untuk menutup hatinya rapat-rapat dan tidak ingin menjalin sebuah hubungan baru, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta karena penghianatan yang pernah di alaminya.
Tapi karena ancaman yang di lakukan seorang pria asing yang tidak dia kenal dan memaksanya untuk menikahi dirinya dan pada akhirnya zea dengan terpaksa menikah.
Namun siapa sangka pernikahan yang di alami zea adalah sebuah neraka baginya, karena pria yang telah me jadi suaminya tersebut memiliki tujuan balas dendam pada keluarga zea hingga zea harus menjalani takdir hidup yang begitu menyakitkan hati dan fisiknya.
Next....
NB: ini cerita menguras air mata gaes siapkan tissue yah, dan menguras emosi dengan kelakuan bejat alvaro
•
•
•
•
Selamat membaca karya pertamaku 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Aku tidak harus menjaga sesuatu yang seharusnya bebas, tidak perlu juga menggantungkan diri kepada seseorang yang harusnya bisa membangun karakternya lebih tegas. pula tidak perlu memohon di cintai yang harusnya bisa lebih sadar untuk menyayangi diri sendiri..
✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰
Di malam hari mama rena tengah bersiap untuk pergi ke rumah sahabatnya, setelah selesai bersiap segera ia menuju kamar putranya mengetuk pintu al berkali kali mungkin saja alvaro sedang sibuk untuk bersiap juga.
"Al ayo berangkat mama sudah selesai bersiap." panggil mama rena sambil mengetuk pintun kamar alvaro.
Beberapa kali di ketuk pintu kamar alvaro sama sekali tidak ada sahutan dari lama, rena mulai tidak dan membuka pintu yang ternyata tidak di kunci oleh pemiliknya, rena di kagetkan dengan sosok alvaro yang sedang tertidur pulas tanpa beban membuat rena sedikit geram, bagaimana bisa dia tertidur pulas sementara dia sudah berjanji untuk menemani ibunya makan malam di luar. pikiran rena dlm hati
"Al banguunn.. kenapa malah tertidur, kita sudah hampir terlambat al." suara rena membangunkan alvaro sedikit menggema di ruangan kamar alvaro.
Seketika alvaro membuka matanya kala mendengar suara ibunya yang nyaring.
"Hmmm.. Mama saja yang pergi, mintalah untuk di antarkan supir. badanku terasa capek butuh istirahat mah." sahut alvaro.
"Tidak ada penolakan alvaro segeralah bersiap mama tunggu di bawah 10 menit mama beri waktu." sarkas rini sambil berlalu meninggalkan kamar putranya.
Dengan malas alvaro beranjak dari tempat tidurnya rasanya malas untuk pergi bersama mamanya apalagi mau bertemu dengan sahabatnya untuk di jodohkannya dengan anaknya.
Alvaro membawa dirinya menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. setelah selesai dengan kegiatan mandinya alvaro menuju ruang walk-in closet segera mengambil baju yang akan di pakai.
Sudah siap untuk berangkat alvaro mengendarai mobilnya dan mama rena sudah berada di kursi penumpang samping alvaro mengemudi, 20 menit mengendarai mobilnya akhirnya sampai di lestoran mewah tempat mereka akan menyantap makan malam.
Keduanya memasuki lestoran disana sudah terlihat merlin bersama seorang gadis yang tidak jauh berbeda usia dengan alvaro. dan keduanya terlihat menghampiri merlin.
"Maaf mer saya terlambat, jalanan agak sedikit macet." ucap rena.
"Tidak masalah ren, oh iya perkenalkan ini anak saya evelin." sahut merlin sambil memperkenalkan anak gadisnya kepada rena dan juga alvaro.
Rena terlihat menyambut dengan raut wajah yabg sumringah dan membalas uluran tangan merlin dan Evelin sementara alvaro hanya tersenyum getir menanggapinya seolah enggan untuk berkenalan.
Terlihat pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa catatan pesanan dan menanyakan menu apa yang ingin di pesan. setelah mencatat menu pesanan dan juga minuman pelayan itu pamit undur diri dengan sopan.
Tidak menunggu lama makan dan minuman yang telah mereka pesan tadi sudah tiba di bawakan oleh dua orang pramusaji, setelah kedua pengantar makanan iti berlalu mereka makan malam menyantapnya sesekali mereka mengobrol.
Alvaro terlihat acuh sama sekali tidak menghiraukan ketiga wanita yang sedang sibuk berbincang dia lebih memilih fokus dengan makanan yang ada di depannya.
"Mah al ke toiket sebentar." ucap alvaro dengan alasan ingin ke toilet.
"Baiklah jangan lama lama ya sayang." sahut rena
Alvaro segera beranjak dan melangkahkan kakinya ke arah toilet. sesampainya di toilet alvaro segera merogoh ponselnya lalu menghubungi seseorang yabg sudah menjadi kepercayaannya siapa lagi kalau bukan roy, hinggah panggilan tersambung.
"Halo roy segera siapkan pernikahanku di sana satu minggu lagi aku akan berada di Indonesia, dan juga atasi wanita itu jangan sampai dia mencoba untuk kabur." ucap alvaro menekankan kata katanya.
"..................."
"Bagus,, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu, atasi perusahaan dengan baik."
"...................."
Setelah selesai melakukan panggilan alvaro segera keluar dari toilet dan kembali bergabung dengan ketiga wanita ribet itu.
Selang beberapa menit zio sedang menikmati minuman yang telah di pesannya, merlin malah melayangkan pertanyaan yang membuat alvaro menjadi geram.
"Nak al kapan rencananya kamu akan menikah, tidak perlu lama lama jika sudah merasa cocok sebaiknya cepatlah menikah." ucap merlin dengan santai dan melemparkan tatapannya ke arah Evelin anaknya.
"Saya belum kepikiran untuk menikah, saya masih fokus dengan perusahaan dulu." jawab alvaro dengan nada datar.
Rena hanya tersenyum getir mendengar jawaban anaknya, dia tau putranya itu merasa bosan dengan situasi ini.
★★★★
Zee yang sejak tadi masih sibuk menyuapi mama rini rutinitas yang di lakukan setiap hari, semakin hari kondisi mama rini semakin membaik jika sampai satu minggu ke depan sudah lebih baik maka dokter mengijinkan mama rini untuk rawat jalan saja dan bisa kembali ke rumah.
"Sayang apa kamu belum mendapat pekerjaan.? " tanya mama rini pada zee di sela sela mengunyah makanannya.
"Belum mah, nanti zee akan mencarinya setelah mama keluar dari rumah sakit, zee akan fokus dulu mengurus mama sampai sembuh total." sahut zee dengan yankin.
Mama rini merasa bahagia bercampur haru tidak di sangkah seorang bayi mungil yang sudah di rawatnya sejak bayi bisa menjadi sosok gadis penyang seperti saat ini. ia sangat ber terimakasih kepada tuhan telah menitipkan seorang malaikan seperti zee.
Tidak terasa kedua matanya mulai menggenang ia kembali mengingat sosok suami yang sangat di cintainya yang telah berjuang menjalani hidup meskipun tidak ada seorang anak darah dagingnya sendiri tapi keduanya telah berhasil merawat dan membesarkan seorang bayi perempuan yang mungil.
Zee melihat raut wajah mama rini menyendu ia tau ibunya sedang sedih pasti dia teringat akan sosok ayah, pikirnya dalam hati.
"Mama, mamah tidak boleh sedih disini ada zee yang selalu ada buat mama, kita akan hadapi kehidupan ini sama sama." Zee berkata seraya memberi semangat untuk mereka berdua karena tidak ada lagi sosok ayah yang akan terus mendukung dan menjadi tulang punggungnya saat ini.
Mama rini semakin terharu mendengar penuturan zee yang begitu dewasa.
"Maaf ya nak mama sudah sangat merepotkanmu, dan terimakasih sudah mau merawat mama."
Zee menggeleng tidak terima dengan perkataan ibunya, harusnya dia yang harus bertemikasih karena mama rini sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Tidak mah, zee yang harus berterimakasih karena sudah memberikan zee sepenuhnya kasih sayang yang melimpah meski zee bukan darah daging mama dan ayah, zee sangat berterimakasih mah."
"Sayang kamu tidak boleh berbicara seperti itu, kamu adalah malaikat mama yang dititipkan oleh tuhan untuk keluarga kecil kami."
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar, dan ternyata karin sahabat zee.
"Assalamualaikum.. tante apa kabar hari ini, apa tante sudah merasa baikan." tanya karin setelah memasukin ruang perawatan mama rini dan menaruh parsel buah buahan yang telah di belinya tadi.
"Alhamdulillah, sudah semakin membaik sayang, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menjenguk tante." Sahut mama rini dan di anggukin oleh karin.
Ketiganya terlibat obrolan ringan sambil bercanda ria. ketiganya terlihat bahagia sengaja karin dan zee mengeluarkan candaan agar mama rini tidak terlarut dalam suasana sedih jika mengingat sosok ayah Dimas.
★
★
★
★
Bersambung...
Terimakasih sudah Setia menunggu kelanjutannya, semoga tidak membosankan,, jangan lupa like, koment untuk memberi saran dan semangat,, juga jangan lupa beri vote se ikhlasnya ya para readers setiaku 😊🙏🙏🙏