Disclaimer: No plagiat, no boom like❗
Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Ghost Motor Alliance vs Black Venom
Malam telah mengambil alih jalanan kota. Di sebuah jalur lurus yang jauh dari permukiman, deretan lampu jalan berdiri berjajar, memancarkan cahaya kekuningan yang memantul di atas aspal. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma khas mesin dan sisa knalpot yang masih menggantung di udara.
Tempat itu bukan sekedar jalan biasa. Bagi mereka yang hidup di dunia balap liar, tempat itu adalah arena pembuktian.
Beberapa motor sport dengan berbagai modifikasi telah berjajar di sisi jalan. Sekelompok anak muda berdiri sambil berbincang pelan, sebagian lainnya hanya menunggu dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket.
Di antara kerumunan itu, empat motor sport berwarna gelap terparkir berdampingan. Empat pemiliknya berdiri tak jauh dari sana, mereka adalah Ghost Motor Alliance.
Nama yang cukup dikenal di jalur-jalur balap malam. Bukan karena jumlah anggotanya yang banyak, melainkan karena reputasi ketuanya yang hampir tak pernah kalah dalam duel satu lawan satu.
Faris bersandar santai pada motor hitam kesayangannya. Jaket kulit berwarna gelap masih melekat di tubuhnya. Di sela jemarinya, sebatang rokok menyala mengeluarkan kepulan asap tipis yang langsung larut bersama angin malam. Sorot matanya tetap tenang, lurus menatap ujung jalan. Tak sedikit pun ia terlihat gugup.
Di sampingnya, Dhyo juga bersandar di motornya sambil memainkan korek api tangannya. Lex melipat kedua tangan di dada, tatapannya sesekali menyapu jalanan yang masih lengang. Sementara Andre hanya berdiri diam dengan kedua tangan di saku jaket, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.
"Mereka telat lima menit," gumam Lex pelan.
Dhyo mendengus kecil. "Gaya banget. Nantangin duluan, datang belakangan."
Faris tetap diam. Ia menghembuskan perlahan asap rokok dari bibirnya, lalu menjatuhkan puntung rokok ke tanah sebelum menginjaknya hingga padam. Tatapannya belum bergeser sedikit pun dari ujung jalan yang masih gelap. Ia tahu, tak lama lagi, tamu yang mereka tunggu akan datang.
Tak berselang lama, keheningan malam dipecahkan oleh deru beberapa mesin motor yang terdengar semakin mendekat. Sorot lampu motor mulai terlihat dari kejauhan, lalu satu per satu memasuki area jalur. Suara knalpot yang menggelegar menggema, membuat beberapa orang yang sejak tadi menunggu langsung menoleh.
Faris dan tiga anggota GMA mengalihkan pandangan ke arah rombongan itu. Lima motor sport berhenti tak jauh di hadapan mereka. Mesinnya perlahan dimatikan.
Salah satu pengendara yang berada paling depan turun lebih dulu. Dengan santai ia melepas helm full-facenya, lalu merapikan rambutnya dengan jemarinya. Cowok itu bernama Nino, ketua Black Venom. Tatapannya langsung bertemu dengan Faris. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis, penuh percaya diri.
Faris tetap berdiri di tempatnya. Ekspresinya tak berubah sedikit pun. "Lo telat," ujarnya datar, dingin, dan tanpa emosi.
Nino hanya terkekeh pelan, "Namanya juga bintang utama," ujarnya santai. "Wajar kalau datang belakangan."
Dhyo langsung berdecak pelan. "Ck! Pede amat."
Nino melirik sekilas ke arah Dhyo, lalu kembali memusatkan perhatian pada Faris. "Malam ini," ujarnya pelan sambil melangkah mendekat beberapa langkah. "Nama Ghost Motor Alliance bakal turun dari jalur ini."
Faris menatapnya tanpa berkedip. Tak ada rasa tersinggung dan kemarahan. Hanya tatapan tajam yang sulit ditebak.
Nino menyeringai semakin lebar. "Siap-siap aja nerima kenyataan, Faris," ujarnya penuh keyakinan. "Mulai malam ini, yang pegang jalur ini bukan GMA lagi."
Dhyo menatap tajam ke arah Nino. "Sok nantangin. Nanti kalah nangis!"
"Ck, belagu banget," timpal Lex. "Belum juga mulai, udah sombong."
Andre hanya mengangguk singkat, menyetujui perkataan Dhyo dan Lex. Sementara Faris menghela nafas pelan. "Buktiin," ujarnya dingin.
Satu kata dari Faris membuat suasana di antara kedua geng itu berubah semakin tegang. Tidak ada lagi senyum bercanda. Yang tersisa hanyalah dua ketua geng dengan harga diri yang sama-sama dipertaruhkan malam itu.
Nino akhirnya terkekeh pelan. Beberapa anggota Black Venom di belakangnya ikut tersenyum penuh percaya diri, seolah kemenangan malam itu sudah berada di tangan mereka.
"Masih sempat sok tenang," sindir salah seorang anggota Black Venom.
"Gapapa," sahut yang lain sambil menyeringai. "Bentar lagi juga turun tahta."
Tak satu pun kalimat mereka mendapat tanggapan dari Faris. Ia hanya menatap mereka beberapa saat, lalu meraih helm full face hitam yang tergantung di stang motornya. Helm itu terpasang menutupi wajahnya. Kini, yang terlihat hanyalah visor gelap dengan sorot mata tajam di baliknya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Faris menaiki motor sport hitamnya dan menyalakan mesin. Suara mesin yang berat langsung memecah keheningan malam.
Di sisi lain, Nino juga melakukan hal yang sama. Ia menghidupkan mesin motornya sambil sesekali memainkan putaran gas.
Kedua motor kemudian bergerak perlahan menuju garis start. Suasana yang semula dipenuhi obrolan kini berubah sunyi. Semua mata tertuju ke arah mereka berdua.
Dhyo, Lex, dan Andre hanya memperhatikan dari belakang dengan wajah serius. Tak ada lagi candaan, tak ada lagi candaan khas Geng Minus Akhlak. Yang ada hanyalah keheningan, seolah semua orang menunggu siapa orang yang akan membuktikan ucapannya malam itu.
Di garis start, seorang gadis berjaket hitam telah berdiri sambil menggenggam bendera kotak-kotak hitam putih di tangannya. Tatapannya bergantian mengarah pada Faris dan Nino.
Kedua mesin terus meraung pelan. Udara malam terasa semakin menegang. Semua orang menahan nafas, menunggu aba-aba dimulainya duel antara Ghost Motor Alliance dan Black Venom.
Gadis di garis start mengangkat bendera itu setinggi bahu. Suasana mendadak hening. Yang terdengar hanyalah suara dua mesin motor yang saling bersahutan.
Faris menggenggam erat stang motornya, sorot matanya tetap lurus ke depan. Nino juga melakukan hal yang sama. Bahunya sedikit merunduk, siap melesat kapan saja.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga!"
Bendera hitam putih langsung diayunkan ke bawah. Dalam sekejap, kedua motor langsung melesat meninggalkan garis start hampir bersamaan.
"WOOOAAHH!"
"AYO, KETUA!"
"JANGAN KASIH KENDOR!"
Sorak sorai langsung pecah dari kedua kubu. Dhyo mengepalkan tangan, "AYO, RIS!"
Lex menyeringai tipis, tatapannya tak lepas mengikuti laju motor Faris. "TUNJUKIN KENAPA GMA MASIH BERDIRI SAMPAI SEKARANG!"
Andre hanya menatap lurus ke depan dengan wajah tenang, tetapi sorot matanya penuh keyakinan.
Sementara dari kubu Black Venom, teriakan demi teriakan terus menggema, menyemangati ketua mereka. Di bawah langit malam, dua motor itu terus melesat berdampingan, seolah saling menolak untuk memberi ruang sedikit pun.
Motor Faris dan Nino melaju nyaris sejajar, tak ada yang benar-benar unggul sejak beberapa saat setelah garis start ditinggalkan. Sesekali, motor Nino berada sedikit lebih depan. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama, beberapa saat kemudian, Faris kembali menyamai posisinya.
Dua motor itu terus bergantian memimpin. Selisih mereka begitu tipis hingga para penonton yang menyaksikan dari kejauhan hampir tak bisa memastikan siapa yang benar-benar unggul.
Di balik visor helmnya, tatapan Faris tetap dingin. Ekspresinya setenang biasanya, seolah duel sengit di hadapannya hanyalah sesuatu yang sudah sangat ia kenal.
Sementara Nino mulai melirik sekilas ke samping, sudut bibirnya terangkat tipis meski tidak ada yang memperhatikan.
Faris tak menoleh sedikit pun, pandangannya tetap menatap lurus ke depan. Malam itu, tak ada satu pun dari mereka berniat mengalah. Keduanya sama-sama berusaha membuktikan siapa yang paling pantas mempertahankan harga diri gengnya. Sementara sorak-sorai penonton terus menggema di sepanjang jalur.
Perlahan, keadaan mulai berubah. Motor Faris mulai menjauh dari posisi sejajar. Jarak di antara keduanya sedikit demi sedikit mulai terlihat.
Nino yang semula mampu terus mengimbangi, kini mulai tertinggal. "Sial!" Decaknya.
Wajah Dhyo perlahan berubah menjadi seringai puas. "Gue bilang juga apa."
Lex menyilangkan tangan di depan dada sambil tersenyum tipis. "Kalau Faris udah serius," ujarnya.
"Susah dikejar," sambung Andre singkat.
Sementara Faris tak sedikit pun menoleh ke belakang. Baginya, yang terpenting adalah tetap fokus pada jalur di depannya. Sedangkan Nino mengeraskan rahangnya, tatapannya tertuju pada lampu belakang motor Faris yang kini tampak semakin jauh.
Suara deru mesin perlahan mereda di sepanjang jalur malam itu. Aroma aspal yang masih hangat bercampur dengan asap knalpot memenuhi udara. Sorakan penonton menggema dari berbagai sudut setelah motor Faris lebih dulu melewati garis finis.
"WOOOAAHH!!"
"GMA! GMA!"
Di tengah riuh tepuk tangan dan sorakan, Faris turun dari motornya dengan tenang. Ia melepas helm full-facenya. Nafasnya masih sedikit memburu, namun raut wajahnya tetap datar seolah kemenangan itu bukan sesuatu yang perlu dirayakan berlebihan.
"Lumayan," gumam Faris singkat.
Tak jauh dari sana, Nino menghentakkan kakinya ke ban motornya sendiri. Rahangnya mengeras, tatapannya tak lepas dari sosok Faris yang berdiri santai di dekat motornya. "Sialan," umpatnya sambil berjalan menghampiri.
Faris menoleh sekilas. "Ada urusan?"
Nino berhenti tepat di hadapan Faris, sorot matanya penuh amarah. "Lo curang!"
Faris hanya mendengus pelan. "Kalau kalah, ya kalah."
Satu kalimat singkat itu justru menyulut emosi Nino. "Kurang ajar!" Tangannya terangkat, bersiap melayangkan pukulan.
Namun, pergelangan tangan Nino tertahan di udara. Nino spontan menoleh, Dhyo berdiri tepat di samping Faris. Jemarinya mencengkram erat pergelangan tangan Nino. Tak ada lagi seringai jahil yang biasa menghiasi wajahnya. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin.
"Tangan lo," suara Dhyo terdengar rendah. "Turunin."
Belum sempat Nino bereaksi, langkah lain terdengar di sisi kiri. Lex maju satu langkah. Kedua tangannya masih berada di saku jaket, tatapannya lurus dan dingin. "Main tangan?" Sudut bibirnya terangkat tipis. "Nyali lo lumayan juga."
Di belakang Faris, Andre ikut melangkah maju. "Maju satu langkah lagi kalau berani."
Perlahan, sorakan para penonton menghilang. Beberapa orang tanpa sadar mundur beberapa langkah. Mereka mengenali empat orang itu. Di luar balapan, mereka memang terkenal sebagai kumpulan biang rusuh yang tak pernah berhenti saling mengejek.
Malam ini, mereka bukan lagi Geng Minus Akhlak. Mereka adalah Ghost Motor Alliance. Empat orang yang berdiri dalam satu barisan, tak peduli siapa yang berada di depan mereka.
Faris sendiri masih berdiri tanpa sedikit pun mengubah ekspresi. Sebelah tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya berpindah ke arah Nino. Ia melangkah pelan, kini jarak mereka hanya beberapa senti. Ia menatap lurus ke mata Nino.
"Kalau masih gak terima kalah," suara Faris tetap datar. "Balapan lagi minggu depan. Lawan gue lagi."
Faris mengambil jeda sejenak. "Sampai kapan pun, hasilnya bakal tetap sama."
Keheningan langsung menyelimuti jalur malam itu. Nino mengepalkan kedua tangannya. Namun saat melihat Dhyo, Lex, Andre, dan Faris yang berdiri tanpa gentar sedikit pun, amarahnya berubah menjadi rasa enggan.
Nino berdecak kesal. Dengan kasar ia menarik tangannya dari genggaman tangan Dhyo. "Lain kali gue bakal balas." Ujarnya.
Tanpa menunggu jawaban, Nino berbalik pergi. "Cabut."
Anggota Black Venom ikut meninggalkan arena satu per satu. Suara motor mereka perlahan menghilang di kejauhan.
Setelah mereka benar-benar pergi, Lex menghela nafas panjang. "Hampir aja gue tonjok."
Seketika, suasana mencair. Dhyo melirik ketiganya sambil menaik-naikkan alisnya. "Ketua kan udah menang, nih." Ujarnya. "Traktir, kek."
Faris langsung berdecak pelan. "Ck! Baru juga lima menit menang."
Dhyo menyeringai lebar. "Nah, justru itu. Menangnya masih anget."
Lex langsung mengangguk setuju. "Bener, masa ketua GMA pelit sama anggotanya sendiri?"
Andre yang sejak tadi diam ikut mengangguk kecil. "Setuju."
Faris memejamkan mata sesaat sambil mengusap tengkuknya pelan. "Kenapa sih," gerutunya pelan. "Otak kalian isinya makan semua?"
"Lah, emang salah?" Balas Dhyo tanpa rasa bersalah.
"Menang duel itu wajib dirayain," timpal Lex.
Andre ikut menimpali singkat. "Tradisi."
Faris hanya menatap ketiganya bergantian. Tatapan itu sudah cukup membuatnya paham ke mana arah pembicaraan mereka. "Dompet gue bukan dana bansos."
Dhyo terkekeh, "Bro, masa iya ketua GMA kalah sama isi dompet."
"Sekali-kali, bahagiain anggota," tambah Lex.
"Sekali-kali pala lo," sahut Faris. "Dasar, temen gak ada akhlak!"
Dhyo, Lex, dan Andre justru tertawa puas. "Nah, itu baru ketua kita!" Ujar mereka serempak.
Faris menatap langit malam, sambil menghela nafas panjang. Kadang, ia benar-benar heran bagaimana bisa berteman dengan tiga manusia yang pikirannya kompak. Bahkan, ketiganya tertawa memecah dinginnya malam, seolah duel sengit yang baru saja terjadi beberapa menit lalu hanyalah bagian dari keseharian mereka.
^^^Bersambung...^^^