Hidup tanpa orangtua memang sulit. Adea adalah gadis yatim piatum yang di tinggal mati oleh kedua orang tuanya. Hingga membuat Dea menjadi hidup bebas.
Suatu hari, paman dan bibinya datang ke kota untuk menjemput Dea. Mereka mengajak Dea tinggal bersama.
Dea terpaksa tinggal bersama paman dan bibinya. Yang ada di lingkungan pesantren. Gaya hidup Dea sangatlah bertentangan dengan masyarakat sekitar.
Walau demikian, Dea di lamar oleh seorang ustadz. Yang mencintai Dea.
Bagaimana perilaku Dea setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA_TMYHU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
“Dek, maafkan mas karena sudah meninggalkan Adek. Adek mau kan maafin mas?” tanya ustadz Azmi, menghampiri Dea.
Dea hanya diam, ia masih tetap menatap wajah Yuli berdiri di balik pintu dan juga menatapnya.
“Dek? Pake jilbab dulu.” Ustadz Azmi menyerahkan jilbab ke arah Dea.
Dea menarik jilbab itu dengan kasar, lalu memakainnya asal. Hingga rambut panjangnya tidak tertutup dengan benar. Kemudian ia keluar ruangan tanpa berpamitan pada ustadz Azmi.
“Ayo kita pulang,” sahut Dea.
Yuli tersenyum getir, namun sebelum ia melangkah ustadz Azmi menghampirinya.
“Ada apa kak?” tanya Yuli.
“Tolong di benarin jilbab Adek ya. Kakak membereskan ruangan sebentar,” jawab ustadz Azmi.
“Iya, jangan lupa kakak pulang ke rumah hari ini. Aku pamit Assalamu'alaikum,”
“Walaikum'salam,” balas ustadz Azmi.
Yuli mempercepat langkahnya mengikuti Dea,
“Adea, tunggu sebentar.” Panggil Yuli.
Dea menghentikan langkahnya, ia menatap Yuli. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku benarin jilbab kamu dulu,” Yuli mendekati Dea, ia memperbaiki jilbab dan juga rambut Dea yang berantakan. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan langkah menuju rumah.
Tiba di rumah, Dea langsung masuk ke dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, ia menghampiri Yuli yang sedang duduk di ruang tamu.
“Yuli aku mau ke rumah Paman dan Bibi dulu ya, aku rindu sama Paman dan Bibi.” Pamit Dea.
“Tunggu kak Azmi dulu, sebentar kak pulang. Setelah merapikan ruangannya,” cegah Yuli.
“Gak bisa kegitu Yuli, ia udah ninggalin aku di rumah. Kenapa aku gak bisa ninggalin ia,” ucap Dea menunduk.
“Adea, aku tau kau marah sama kakak. Tapi setidaknya kau harus menyelesaikan dengan baik-baik. Kalian berdua harus bicara empat mata.”
Dea menggeleng. “Gak, aku harus ke rumah Paman dan Bibi. Aku pamit,” Dea langsung melangkah pergi.
Tak beberapa lama kemudian, usadz pulang ke rumah. Ia tak menemukan istrinya, hanya ada Yuli yang sedang menyapu di ruang tamu.
Dan Yuli memberi tahu bahwa Dea pergi ke rumah pamannya, ustadz Azmi hanya mengangguk.
Malam hari, selepas sholat isya ustadz Azmi menjemput Dea di rumah pamannya. Ia tau Dea masih marah, dan akan membalasnya.
“Assalamu'alaikum,” ucap ustadz Azmi setelah di sampai di rumah Paman Zaki.
“Walaikum'salam, nak Azmi ayo mari masuk.” Balas Paman Zaki.
“Iya paman, di mana Adea?” tanya ustadz Azmi.
“Dea, ada di kamarnya. Dari tadi belum keluar,” jawab Paman Zaki.
“Adek gak sholat?”
“Katanya gak bisa.”
“Kalau begitu saya ke kamar Adek dulu.” Paman Zaki mengangguk.
Ustadz Azmi menaiki satu persatu anak tangga dengan pikiran tak tenang. Kenapa Dea berbohong berhalangan saat di ajak sholat? Jika karena masalah tadi pagi, tidak seharusnya Dea bersikap demikian.
Ustadz Azmi hendak masuk, kebetulan pintu tidak di kunci. Tapi ia melihat istri sedang melakukan panggilan vidio call dengan seorang pria. Yang parahnya lagi, Dea hanya menggunakan baju tanpa lengan dengan rambut di kucir ke atas.
“Kamu makin cantik aja, Dey. Mana tambah sexy lagi,” puji pria itu.
“Kamu bisa aja, Dion aku mau nanya.”
“Apa?”
“Ulma masih sering ke tempat kamu?”
Pria di seberang telpon menggeleng.
“Ia udah gak datang ke sini lagi. Club aku udah sunyi gara-gara kalian udah gak datang-datang ke sini lagi.”
“Udah dulu ya, Dey!!” lanjutnya.
“Ok!!” balas Dea seraya menutup laptopnya.
Hati ustadz Azmi bertambah sakit, sakit hati dan kekecewaan kemarin masih membekas di hatinya. Kini sudah di tambah dengan luka yang baru lagi. Tapi ia masih berpikir positif pada istrinya, ia butuh penjelasan.
Seketika Dea berbalik, ia menatap ustadz Azmi yang masih mematung di depan pintu.
“Mas?” panggil Dea takut.
Ustadz Azmi tersenyum, lalu ia menghampiri Dea yang sedang duduk di atas ranjang.
“Gak usah takut Dek, ayo jelaskan, mas mau dengar siapa pria itu.” tutur ustadz Azmi lembut.
Dea menghembuskan napas lega, “Namanya Dion, ia pemilik club malam yang selalu aku datangi dengan Ulma. Tapi mas tenang aja itu dulu, aku gak bakal ulangin lagi. Dion hanya teman aku, ia mencintai Ulma sejak lama.”
“Mas paham soal itu Dek, tapi mas gak bisa terimah Adek membuka aurat di depan pria lain. Adek sudah punya suami, seharusnya Adek mengerti maksud mas. Selain itu, Adek juga mendapat dosa.”
“Mas, tadi itu aku mau tidur. Aku malas banget sampai aku gak mau keluar kamar dan membohongi bibi, saat di ajak sholat. Tapi tiba-tiba Dion menghubungiku.”
“Jangan ulangin lagi ya, Adek bisa berpakaian seperti ini hanya di depan mas.”
“Huyy, pengertian banget. Ada untungnya juga menikah dengannya.” Batin Dea tersenyum senang.
“Makasih mas,” Dea memeluk tubuh ustadz Azmi. Ia juga mengecup lembut di bibir sang suami.