Shasa Ernita, gadis Desa yang baru berusia 19 tahun yang hidupnya biasa-biasa saja, tidak populer. Bahkan sering dapat ejekan, karena ia memiliki tubuh yang gendut. Akan tetapi ia tetap percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang seperti itu. Bahkan ia memiliki tekad kuat kalau dirinya akan menjadi orang yang sukses.
Dengan hanya berbekal sebuah ijazah SMA saja. Shasa memberanikan diri untuk mengadu nasib ke kota. Dan tidak disangka-sangka, ia malah diterima kerja disebuah perusahaan yang cukup besar. Walaupun ia cuma hanya sebagai OB, namun ia tetap selalu bersyukur.
Akan tetapi semenjak Shasa bertemu dengan seorang pria tampan, yang ternyata adalah CEO. Membuat ia tak betah lagi untuk bekerja disana. Sebab ia selalu mendapatkan perlakukan yang aneh dari bosnya. Membuat ia jadi merasa kalau bos sedang mempermainkan dirinya. Akankah ia bisa keluar dari perusahaan bosnya itu?
Yuk, ikuti cerita Author Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya ya Guys...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SI BULAT YANG MENGGEMASKAN.
"Kyaakk! Lepaskan saya Pak! Saya mau pulang!" Teriak Shasa, sambil meronta-ronta agar terlepas dari jeratan tangannya Brian. Padahal tubuhnya lumayan besar, tapi tetap saja tenaganya tak sebanding dengan tenaganya Brian.
"Kamu mau pulangkan? Oke kita akan pulang, tapi sebelumnya kita harus selesaikan dulu, masalah di rumah sakit. Jangan main kabur aja tanpa membayar biaya perawatan kamu. Emangnya kamu mau masuk penjara, hm?" Balas Brian.
Dan seketika Shasa langsung terdiam setelah mendengar kata penjara. Dan ia pun langsung membalas perkataan Brian dengan gelengan kepalanya saja.
"Bagus! Sekarang jadilah anak penurut agar, kamu tidak dilaporkan oleh pihak rumah sakit, karena sudah kabur. Kamu pahamkan?" Sambung Brian lagi. Dan lagi-lagi Shasa membalasnya dengan bahasa isyaratnya saja. Dan kali ini ia membalasnya dengan anggukan kepalanya saja.
Brian pun tersenyum tipis, melihat wajah polosnya Shasa yang terlihat sedang ketakutan. Brian telah tahu, kalau sebenarnya Shasa adalah gadis desa, yang pemberani. Namun ia akan menjadi penakut, kalau sudah berurusan dengan pihak yang berwajib. Makanya ia sengaja menyebutkan kata penjara, agar ia menjadi gadis yang penurut.
Kini mereka sudah kembali lagi dirumah sakit. Dan Brian kembali membawa Shasa keruang rawatnya. Sesampainya di dalam ruangan, Brian menyuruh Shasa untuk naik kembali ke atas ranjangnya.
"Sekarang kamu Istirahatlah sebentar. Dan sarapanlah dulu ya? Setelah itu baru kita akan pulang," kata Brian terdengar lembut. Seraya ia memberikan sebuah kotak makanan pada Shasa, yang sudah duduk bersandar di bantalnya diatas tempat tidurnya.
"Benarankan Pak? Setelah saya sarapan, saya boleh pulang?" Tanya Shasa untuk memastikan lagi apa yang dikatakan oleh bosnya itu.
"Iya Shasa, setelah sarapan kita akan pulang. Tapi sebelum aku harus membayar administrasinya dulu. Jadi kamu jangan kemana-mana lagi ya? Pokoknya setelah sarapan kamu tunggu aku, mengerti?" Balas Brian masih dengan tuturan lembutnya.
"Mengerti Pak," balas Shasa dengan singkat.
"Bagus! Kalau begitu aku keluar sebentar ya? Ingat jangan kemana-mana, oke?!" Ujar Brian, terdengar tegas. Dan Shasa pun membalasnya dengan anggukan kepalanya saja. Setelah mendapatkan balasan dari Shasa, Brian pun langsung melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dan tinggallah Shasa seorang diri.
"Aah.. gimana ini? Aku jadi nggak bisa kabur deh. Padahal aku bermaksud pulang kampung. Hah! Kalau sudah menyinggung soal penjara, akukan jadi takut," gumam Shasa, terlihat ia langsung bergidik.
"Hih.. apalagi kalau Emak sampai tau coba? Pasti sakit jantung langsung kumat, dan akhirnya.. Aah.. amit-amit, aku nggak mau kehilangan Emak! Jadi sebaiknya aku jangan sampai membuat Pak CEO marah, biar aku aman. Nanti kalau sudah aman baru deh aku kabur," gumam Shasa, seraya ia membuka bungkusan yang tadi diberikan oleh Richard..
"Wah kayaknya enak nih!" Gumamnya lagi saat kotak makanannya telah terbuka, "Hmm.. kalau begitu aku makan dulu aja deh. Kebetulan aku juga sudah lapar, karena dari kemarin aku juga belum makan kan, dari kemarin" gumam Shasa lagi, yang akhirnya ia pun mulai melahap makanan yang terdapat di kota makanan tersebut.
Karena memang perut Shasa sudah amat lapar sekali. Maka tak heran kalau dalam waktu tiga menit ia mampu melahap semua makanannya. Bahkan ia sampai tak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Brian, yang ternyata ia sudah kembali lagi. Dan ia terlihat sedang berdiri didepan pintu sambil tersenyum, menatap wajah Shasa yang begitu menggemaskan saat sedang makan dengan lahapnya.
"Sepertinya kamu sangat lapar sekali ya? Sampai-sampai sendoknya kamu jilatin seperti itu," ujar Brian. Seraya ia berjalan menghampiri Shasa yang terlihat ia begitu terkejut saat melihat Brian yang ternyata sudah kembali.
"Eh! Sejak kapan Anda disitu Pak?" Tanya Shasa terlihat terkejut juga malu. Sebab ia tak menyangka kalau bosnya itu ternyata melihat ia yang begitu menikmati makanannya, sampai-sampai ketika ia juga menjilati sendok makannya.
"Sejak kau bilang enak makanan itu, aku sudah disini, Shasa," balas Brian yang kini ia sudah berdiri tepat di sisi ranjangnya Shasa. "Apakah kamu ingin memakannya lagi? Kalau ingin lagi, biar saya pesankan lagi pada pihak kantin rumah sakit ini," lanjut Brian, seraya ia mengambil kotak makanan yang telah kosong ditangannya Shasa.
"Eh! Tidak-tidak! Tidak usah pak, karena saya sudah kenyang," balas Shasa sedikit malu.
"Ah masa sih? Tapi aku lihat kamu kayaknya masih lapar tuh. Lagian wajarkan kamu masih lapar, bukankah lambung kamu lumayan besar?" Kata Brian, seraya ia menatap bagian perutbya Shasa.
"Eh! Apaan sih pak! Sudah akh, saya mau pulang! Bukankah Anda tadi bilang, bila saya menghabiskan makanannya, saya boleh pulang?" Ujar Shasa. Dan langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aah.. sudah kalau itu mau kamu. Baiklah tapi tunggulah Verri sebentar. Karena tidak mungkin jugakan kamu keluar dengan pakaian seperti itu?" Balas Brian, sambil menatap pakaian yang sedang kenakan oleh Shasa. Dan otomatis Shasa pun langsung melihat pakaiannya, yang ternyata saat ini ia sedang menggunakan pakaian rumah sakit.
"Eh! Siapa yang menggantikan pakaian saya?!" Tanyanya terlihat sedikit kaget. Dan ia pun langsung menatap wajah Brian dengan tatapan penuh kecurigaannya.
"Jangan melihat saya seperti itu! Karena bukan saya yang membukanya," ujar Brian, sebelum ia dituduh oleh Shasa.
"Lalu siapa yang membukanya?" Tanya Shasa terdengar ketus.
"Ya tentu saja suster yang ada disinilah Shasa! Kamu pikir saya sempat melakukan itu, hm?" Balas Brian, yang kali ini nada bicaranya di sedikit datar.
Mendengar perkataan Bosnya Shasa pun bernapas lega, "Huft syukurlah!" Katanya membuat Brian ingin protes lagi. Namun belum sempat ia mengeluarkan kata-katanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat ia langsung mengurungkan protesnya.
"Masuk!" Seru Brian. Dan tak berapa lama kemudian muncullah seorang pria berjas hitam masuk dengan membawa sebuah paper bag ditangannya.
"Permisi pak! Saya datang, membawa pesanan Anda!" Ujar pria itu, seraya ia menyerahkan paper bagnya pada Brian.
"Bagus! Sekarang kamu tunggulah di mobil, Verri. Karena sebentar lagi kami akan pulang!" Balas Brian, sambil menyambut paper bagnya.
"Baik Pak! Kalau begitu saya permisi!" Pamit Verri, dan ia pun langsung melangkah keluar dari ruang rawatnya Shasa. Setelah Verri tak terlihat lagi, Brian pun langsung mengalihkan pandangannya pada Shasa.
"Nih, gantilah pakaian mu di kamar mandi! Atau kamu ingin aku membantu kamu, hm?" Kata Brian seraya ia menyerahkan bag paper pada Shasa.
"Eh! Tidak perlu! Karena saya bisa memakainya sendiri!" Balas Shasa seraya ia mengambil bag tersebut. Lalu ia pun langsung bergegas menuju ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Membuat Brian langsung tersenyum lucu melihatnya.
"Heh, lucu banget sih, dia! Si bulat yang mengemaskan,"
...•••••••••••⊰❁❁❁❁⊱•••••••••••...
Dukung Ramanda terus ya guys 🙏 Jangan lupa berikan dukungannya, Lewat komentar, Like, Hadiah, serta VOTE, oke guys, Syukron 🙏
mau nanya nih tor... ada beberapa kosakata yg bisanya itu sering terdengar di Sumbar... apa dirimu dari sana y...semangat nulis y👍🫰
tetap menjadi sasha yang sederhana
kisah emaknya hanya pas dirawat di RS saja.selanjutnyq tidka pernah dikeluarkan lagi...
terus semangat berkarya thor 🥰🥰🥰
semangat💪