Berkisah seorang gadis yang terlahir buta dan yatim piatu. Menjadi Ibu Tunggal setelah melahirkan enam anak kembarnya yang tampan dan jenius. Hingga takdir mempertemukan mereka dengan seorang Presdir sombong dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 #Menawarkan Pernikahan
Arzen menyudahi panggilannya, belum memutuskan ajakan Davis. Presdir Neo tersebut keluar dari kamar, berjalan menuju ruang kerjanya. Mendudukkan dirinya di kursi, ia membuka laptop.
Deg!
Arzen kembali syok. Layar laptopnya penuh dengan kode asing. Arzen segera bertindak, menyadari seseorang sedang mengirim serangan virus ke dalam sistemnya.
"S-hiit, siapa lagi yang berani berbuat ini?" umpat Arzen.
Tak hanya menyingkirkan virus, Arzen yang punya IQ tinggi di bidang IT, tidak akan membiarkan sang penyerang meretasnya. Namun, tingkat kejeniusan sang penyerang benar-benar tak bisa diremehkan. Sebuah foto, yang hanya memakai sempak bergambar kodok, terpampang di layar Arzen. Membuat Presdir Neo tersebut geram dan emosi.
"Argh, siapa sih orang ini?" Arzen kesal, merasa dipermalukan atas kiriman fotonya yang diedit sembarangan. Bagaikan gigolo badut yang sedang menjual diri ke tempat hiburan malam.
"ARGHHHH!" Arzen menggebrak meja.
"Huff, tenang. Aku harus tenang. Jangan terpancing dulu." Arzen menarik dan menghembuskan napas, mengatur pernapasan agar kembali normal. Selang dua menit, Arzen berhasil terhubung.
"Heh, bodoh. Kau berani juga meretas sistemku, tapi jangan senang dulu, kau tak akan bisa lari dariku!" kata Arzen, tersenyum smirk. Sang penyerang pun tersenyum smirk dan membalas, "Percuma, Anda tak bisa menemukan saya."
"Dih, sombong sekali." Arzen membalasnya, melacak lokasi selagi mereka terhubung. Tetapi lokasinya benar-benar teracak acak. Sampai penyerang memakai lokasi di luar satelit bumi.
"Anda lebih sombong dan tidak berguna, dasar lemah."
Arzen tertampar membaca itu. "Heh, aku lemah? Oke, aku akui memang kemarin aku hampir ditipu, tapi kali ini aku yang akan menang darimu! Dasar penjahat amatiran!" umpat Arzen langsung mengirim balasan virus dengan tingkat kerusakan tinggi. "Lihat sendiri, kehebatanku!"
Duarr!
Terdengar ledakan yang membuat Arzen tak mendapat balasan lagi.
"Hahaha…. mam-pus, makanya kalau pilih lawan itu yang harus setara denganmu, sampah! Presdir Neo, dilawan? Hahaha, kocak!" Arzen terbahak-bahak, kemudian merapikan dasinya.
"Ehem, meski aku menang, aku tetap harus cool." Arzen berdiri, menghubungi Davis untuk memakai situs pendeteksinya, melacak lokasi sang peretas. Lima menit kemudian, Davis mengatakan lokasi berada di apartemen yang berdiri di timur kota.
"Hm, maksudnya apartemen kumuh, dekil, sempit dan jelek itu?" tanya Arzen dengan lagak sombongnya.
"Benar, Pak. Dan juga, apartemen itu adalah alamat si kembar yang akan saya kunjungi," jawab Davis.
"Woah, kebetulan! Kalau begitu, atur jadwal saya ke sana." Arzen kini berubah pikiran, tak hanya menemui calon bintang tamunya, ia akan menangkap sang peretas.
"Baik, Pak." Davis menjawab paham.
"Sebentar, Dav," tahan Arzen.
"Ada apa, Pak?" tanya Davis.
"Tak apa-apa, lupakan saja." Davis pun menyudahi panggilannya. Sedangkan Arzen duduk, menopang dagu, memikirkan sesuatu, lalu tersenyum smirk.
"Hahaha, mungkin lebih baik aku gusur apartemen itu supaya peretas sampah itu tak punya tempat tinggal. Dengan cara ini, aku yakin, dia akan keluar sendiri dan bertekuk lutut di hadapanku." Arzen tertawa, jahat, dan sifat kejamnya yang tidak berprikemanusiaan mulai keluar.
"Victor, bagaimana keadaan Arzen? Katanya, dia sakit?" tanya Nyonya Arita pada Victor yang sedang menyiapkan obat.
"Nyonya, dia baik-baik saja. Buktinya, dia sedang tertawa di ruang kerjanya." Victor menjawab sesuai apa yang dia dengar saat lewat di depan ruang kerja Arzen.
"Saya harap, dia menemukan pasangan. Melihat dia sudah menikah, saya tak perlu lagi mencemaskan masa depannya," ucap Nyonya Arita.
"Kira-kira, apakah anak kecil itu sudah kau pulangkan, Victor?" tanyanya.
"Sudah, Nyonya. Dia telah berkumpul dengan kelima saudara dan ibunya," ucap Victor, memberi suntik vitamin.
"Kalau begitu, apakah kau punya foto anak-anak itu? Saya cukup penasaran, bagaimana lima saudara Ara, apakah mereka punya mata unik atau tidak?"
"Nyonya, mereka anak-anak yang tampan dan normal. Hanya Ara dan ibunya saja yang sedikit memiliki kecacatan," ucap Victor agak grogi.
"Cacat? Ibunya cacat?" ulang Nyonya Arita.
"Benar, dia adalah wanita buta, dan yang saya dengar, buta sejak lahir." Victor menjawab, melirik Nyonya Arita yang menunduk, merasa iba.
"Oh ya, Nyonya. Sekarang saya punya jadwal operasi di rumah sakit, saya permisi dulu," pamit Victor, keluar, dan membiarkan Nyonya Arita di dalam, yang tampak merenung.
...----------------...
Sore harinya, pukul empat. Di apartemen susun, anak-anak para penghuni terlihat keluar bermain. Ara, yang berada di lantai tiga dan di depan apartemen ibunya, memandangi mereka begitu asyik bermain riang. Dari sorot matanya, Ara juga ingin turun ke sana. Namun, karena matanya, ia tidak percaya diri.
"Ara! Kenapa berdiri di sini, Dek?" tanya Zee di sampingnya.
"Kakak, Ala mau tullun ke situ." Ara menunjuk.
"Hm, sebentar, kakak masuk dulu." Zee masuk, pergi mengajak Aizhe dan empat saudaranya turun ke sana. Namun, tiba-tiba, ada ledakan di kamar.
Ara yang sedikit mendengarnya, masuk melihatnya. Begitupun Aizhe yang sedang merajut syal di dekat Nathan, terkejut mendengarnya.
"Chloe, apa yang terjadi?" Axel, Arzqa, Zee, Nathan, Ara, dan Aizhe masuk.
Lima anak di samping Aizhe terdiam, melihat rambut Chloe gosong dan juga berdiri kaku ke atas. "Huk, uhuk, kenapa ada bau asap? Apa yang meledak barusan, sayang?" tanya Aizhe. Meski tak melihat, penciumannya cukup tajam.
"Hehe, komputer Chloe, Mommy," jawab Chloe nyengir kuda.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Aizhe maju, tetap khawatir.
"Chloe tidak apa-apa, Mommy. Hanya komputernya saja yang tidak bisa dipakai lagi," ucap Chloe. Ia memang yang menyerang Arzen dan menerima serbuan virus darinya.
"Syukurlah, kalian semua baik-baik saja." Aizhe memegang wajah Chloe yang tidak mendapat luka.
"Mommy, ayo keluar dan lanjut merajutnya," ajak Nathan.
"Baiklah." Aizhe keluar, kecuali Ara, Axel, Zee, dan Arzqa yang masih diam dan menahan tawa.
"Sudah dibilang, jangan melawan kejahatan pakai kejahatan. Tuh, Chloe kena batunya deh," kata Zee menasihati.
"Hihihi, Kak Chloe, yang sabal," tawa Ara.
"Iya, maaf." Chloe cengengesan.
Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian baru, Chloe dan saudaranya keluar bersama Aizhe. Mereka bermain sepak bola sambil mengawasi Aizhe yang duduk di bangku sendirian. Tiba-tiba ada pasangan orang tua mendekati Aizhe dan menemaninya mengobrol.
Aizhe senang bisa bersosialisasi dengan penghuni lain, tetapi senyum manisnya sirna tatkala mereka menawarkan pernikahan untuk Aizhe.
"Tidak! Kami tidak setuju!" ujar anak kembar Aizhe menolak mereka menikahkan ibunya dengan putra dari orang tua itu.
"Sayang, jangan begitu, harus sopan sama mereka," tegur Aizhe. Axel dan Chloe menarik Aizhe berdiri, menjauh dari mereka.
"Mohon maaf, kami tidak butuh Papa baru." Tolak mereka, kecuali Ara yang diam. Dari lubuk hatinya paling dalam, Ara ingin Papa, tetapi melihat lima kakaknya menolak, Ara pun ikut saja.
"Iya, kan, Ara?" tanya Nathan.
"Iya, Ala ndak mau," jawab Ara. Semua itu karena mereka mewaspadai niat terselubung dari ajakan orang tua tersebut. Bisa saja, setelah ibunya menikah, mereka satu per satu dijual tanpa sepengetahuan Aizhe. Jika itu terjadi, Aizhe benar-benar akan merasa lebih hancur lagi.
"Maaf, Bu, Pak, saya tidak bisa." Aizhe membungkuk setengah badan. Meminta maaf setulusnya, demi anak-anaknya tidak dibenci oleh mereka.
"Hm, baiklah, kami bisa mengerti." Orang tua itu pun pergi.
"Mommy, ayo pulang," rengek Ara.
"Hm, kita pulang bersama." Aizhe pulang bersama enam anaknya dan tak sadar, di kejauhan sana, sang pemilik tanah apartemen susun meliriknya tanpa ekspresi, tangan yang memegang sekop.
Mereka sayang banget sama Aizhe, ya. Benar-benar keluarga yang kompak!