Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
"Nadia, saya butuh jawabanmu. Benar kamu yang masuk ke kamar Axel untuk merayunya?"
Nadia memejamkan mata rapat-rapat. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Nyonya Sarah, dan pria yang menodainya bahkan tidak sudi melangkah maju untuk membelanya. Jika ia menceritakan kebenaran bahwa Axel yang memaksanya, apakah keluarga kaya ini akan mempercayainya? Ataukah mereka justru akan menganggapnya sebagai pembohong besar yang ingin menghancurkan pewaris mereka?
Dengan sisa-sisa kekuatan batinnya yang telah hancur, Nadia menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Tuan... Saya tidak pernah merayu Tuan Axel..." lirihnya, membiarkan kebenaran itu menggantung di udara tanpa berani menunjuk Axel sebagai pelakunya.
"Tuh, Pah! Dengar sendiri, kan? Dia tidak berani mengaku karena tahu dia bersalah!" potong Nyonya Sarah berapi-api. "Pah, tidak ada pilihan lain. Hari ini juga, detik ini juga, anak pelayan ini harus keluar dari rumah kita! Aku tidak sudi melihat mukanya lagi di sini!"
Tuan Pramoedya berdiri kembali, berbalik menatap istrinya dengan tatapan tajam. "Sarah! Menjaga nama baik itu perlu, tapi mengusir anak dari orang yang menyelamatkan nyawa anak kita tanpa kejelasan itu keterlaluan. Kita harus selidiki ini baik-baik!"
"Menyelidiki apa lagi, Pah?" Nyonya Sarah berteriak, air mata dramatis mulai mengalir di pipinya. "Kamu mau menunggu sampai dia berlagak mual-mual dan mengaku hamil anak Axel, lalu memeras seluruh harta kita? Kamu mau masa depan Axel hancur dan pertunangannya dengan anak rekan bisnismu batal? Pikirkan Axel, Pah! Jangan cuma memikirkan utang budi masa lalu!"
Mendengar kata 'pertunangan' dan 'masa depan bisnis', rahang Tuan Pramoedya tampak mengeras. Ego sebagai seorang pemimpin keluarga dan pengusaha besar seketika bergolak di dalam dadanya. Ia menoleh ke arah Axel yang masih bungkam seribu bahasa di ujung koridor.
"Axel," panggil Tuan Pramoedya, suaranya terdengar dingin dan berjarak. "Katakan pada Papa. Apa kau yang memaksanya?"
Jantung Axel berdegup kencang di balik jubah mandinya. Di depan ayahnya yang sangat tegas, Axel tidak pernah berani membangkang. Namun, membayangkan posisinya sebagai pewaris takhta Pramoedya Group di copot, dicoret dari silsilah keluarga, dan dicemooh oleh lingkaran sosialnya membuat nyali Axel menciut. Kepengecutannya menang telak.
Axel membuang muka, menghindari tatapan mata ayahnya dan tatapan hancur dari Nadia. "Aku... aku tidak ingat apa-apa, Pa. Semalam aku mabuk berat. Begitu bangun pagi, dia... dia sudah ada di atas ranjangku," dusta Axel, mengulangi tuduhan kejamnya yang seolah menyudutkan Nadia sebagai pihak yang menyelinap masuk.
Mendengar kesaksian dari putranya sendiri, runtuh sudah sisa-sisa pembelaan Tuan Pramoedya untuk Nadia. Pria paruh baya itu menghembuskan napas berat, menatap Nadia dengan pandangan kekecewaan yang teramat dalam.
Nadia yang mendengar kebohongan Axel hanya bisa tersenyum getir di tengah tangisnya yang tanpa suara. Jiwanya benar-benar telah mati malam tadi, dan pagi ini, manusia-manusia terhormat ini sedang memutilasi sisa-sisa harga dirinya.
Tuan Pramoedya berbalik membelakangi Nadia, pundaknya tampak merosot. "Sumi," panggilnya pada Bi Sumi yang menangis di sudut koridor. "Bantu Nadia mengemas barang-barangnya. Berikan dia uang pesangon secukupnya... dan antarkan dia keluar dari rumah ini."
"Pah! Tidak usah pakai pesangon segala!" protes Nyonya Sarah.
"Cukup, Sarah! Ini keputusan terakhirku!" bentak Tuan Pramoedya mutlak, sebelum melangkah pergi kembali ke ruang kerjanya dengan langkah berat, menutup pintu dengan dentuman keras.
Nyonya Sarah tersenyum puas, menatap Nadia yang masih terduduk lemas di lantai seolah melihat sampah yang siap dibuang ke tempatnya. "Dengar itu? Kemasi barang-barang kotormu dan angkat kaki dari sini! Jangan pernah berani menampakkan kakimu di tanah keluarga Pramoedya lagi, atau aku pastikan kuliahmu hancur dan hidupmu mendekam di penjara!" ancam Sarah keji, lalu berbalik pergi menyusul suaminya.
Di koridor belakang yang kini sunyi, tinggallah Nadia yang hancur berselimut noda, dan Bi Sumi yang langsung berlutut memeluk tubuh kurus gadis itu dengan tangisan pilu. Di kejauhan, Axel berbalik arah menuju kamarnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang, menutup rapat pintu hatinya dari dosa besar yang baru saja ia perbuat.
**
Pintu kamar paviliun belakang itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mencekam setelah badai amarah Nyonya Sarah berlalu. Di dalam ruangan kecil yang remang-remang itu, Bi Sumi dengan cekatan memasukkan pakaian-pakaian lusuh Nadia ke dalam sebuah tas ransel tua yang resletingnya sudah hampir rusak.
Tangan Bi Sumi gemetar, air matanya tak berhenti menetes membasahi kain-kain yang ia lipat. Sementara di sudut ranjang, Nadia duduk meringkuk, memeluk lututnya yang bengkak dan membiru dengan tatapan mata yang kosong. Jiwanya seolah telah terbang entah ke mana.
Bi Sumi menghentikan gerakannya. Ia berbalik, lalu berjalan mendekat dan berlutut di hadapan Nadia. Wanita paruh baya itu menggenggam kedua tangan Nadia yang teramat dingin, meremasnya dengan penuh kehangatan seorang ibu.
"Nadia... Tatap Bibi, Nak," bisik Bi Sumi dengan suara serak menahan tangis.
Nadia perlahan menggerakkan kepalanya, menatap wajah tua Bi Sumi yang dipenuhi rasa iba.
"Bibi percaya sama kamu, Nad. Bibi tahu kamu anak baik-baik," ucap Bi Sumi dengan nada yang teramat tulus dan mantap. "Kamu tidak mungkin merayu Tuan Axel. Bibi tahu bagaimana perjuanganmu setiap hari, belajar sampai malam, memeras keringat di rumah ini. Kamu tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu."
Mendengar kata-kata itu, pertahanan Nadia runtuh seketika. Di saat seluruh isi rumah mewah itu menuduh dan menghinanya sebagai wanita murahan, ternyata masih ada satu jiwa yang mempercayainya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Bahunya naik-turun tergugu.
Sambil menangis sesenggukan, Nadia menganggukkan kepalanya dengan lemah. Rasa sesak di dadanya membuat tenggorokannya luar biasa sakit.
"Saya... saya dipaksa, Bi..." bisik Nadia di sela tangisnya, suaranya nyaris tenggelam oleh rasa perih yang teramat sangat. "Saya dipaksa malam tadi... Tuan Axel mabuk... saya sudah memohon, tapi saya dipaksa..."
Bi Sumi langsung menarik tubuh kurus Nadia ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis yatim piatu itu dengan erat, ikut menangis sejadi-jadinya sambil mengusap punggung Nadia yang bergetar hebat.
"Iya, Nak... Bibi tahu. Bibi tahu," lirih Bi Sumi dengan hati yang ikut hancur bertekuk lutut. Tangan tuanya meremas kancing kemeja mahal milik Axel yang masih tersimpan di saku dasternya, sebuah bukti bisu yang tak akan pernah bisa membalikkan keadaan melawan penguasa rumah ini.
Bi Sumi melonggarkan pelukannya, lalu kedua tangannya beralih mengusap air mata di pipi Nadia yang pucat dan menyeka sudut bibirnya yang masih sedikit berdarah akibat tamparan Nyonya Sarah.
"Maka dari itu... pergilah, Nak. Pergilah dari rumah ini," ucap Bi Sumi, menatap dalam-dalam ke sepasang mata Nadia. "Rumah ini sudah menjadi racun untukmu. Tinggal di sini hanya akan membuat mereka terus menginjak-injak harga dirimu."
Bi Sumi mengambil tas ransel tua yang sudah penuh, lalu menyelipkan sebuah amplop tebal berisi uang pesangon dari Tuan Pramoedya, ditambah dengan beberapa lembar uang tabungan pribadi milik Bi Sumi sendiri ke dalam saku depan tas tersebut.
"Bibi yakin kamu bisa berjuang di luaran sana. Kamu anak yang pintar, kamu anak yang kuat. Gusti Allah tidak tidur, Nadia. Suatu hari nanti, kebenaran pasti akan mencari jalannya sendiri," ucap Bi Sumi menguatkan, mencoba melempar senyum ketabahan di tengah air matanya. "Pergilah dan bangun masa depanmu sendiri yang jauh lebih baik, tanpa bayang-bayang keluarga ini."
Nadia menerima tas itu dengan tangan gemetar. Di tengah kehancuran total hidupnya pagi ini, kata-kata Bi Sumi menjadi satu-satunya lentera kecil yang membakar sisa tekad di dalam dadanya. Ia harus bertahan hidup. Ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan sampah yang bisa dibuang begitu saja setelah dinodai.
****