Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggi Melahirkan
Jesika benar-benar menjadi wanita paling bodoh terjun ke dunia yang hitam. Dia tidak peduli dengan dirinya yang penting hidup bisa bebas.
Ketiga pria itu tidak menyadari apa yang telah dilakukan oleh Jesika mereka sudah tidak sadar.
''Aku akan pastikan kalian mendapatkan hukuman dari ke dua orang tua tajir dan aku akan mendapatkan uang,'' tawanya.
Sementara itu anak buah Angga sudah beranjak untuk mencari keberadaan Jesika.
''Kami baru mendapatkan informasi kalau Jesika berada di hotel Tuan,'' lapor anak buah sekretaris Andika.
''Tangkap dia!'' perintahnya.
''Baik Tuan,'' jawab mereka serempak.
Suhu udara yang begitu dingin sampai tembus ke kulit, Anggi melihat keluar jendela.
Dia membayangkan Angga tadi sore baru dia usir karena tidak mau melihat wajah pria itu lagi.
''Dia kog cepat sekali mengetahui keberadaan ku ya?" kesal ya.
Anggi memilih langsung tidur karena tidak baik untuk kondisinya saat ini berbadan dua. Namun dia tidak bisa tidur karena merindukan belaian Angga.
Pergerakan Anggi dapat dirasakan wanita paruh baya itu karena tempat tidur bergoyang.
''Nak, kenapa belum tidur?" tanya ibu halus.
''Aku tidak bisa memejamkan kedua bola mataku Bu,'' lirih ya.
''Sudah minum obat belum?" tanya ibu halus.
Anggi geleng-geleng kepala dia memang tidak mau minum obat, ntah kenapa semenjak meninggalkan Agus dia merasa aneh.
''Belum Bu.'' Ibu langsung mengambil obat tersebut dia tahu bagaimana perasaan Anggi saat ini.
''Minum ya, kasihan anakmu tidak bisa istirahat dengan tenang,'' usap ibu.
''Maaf Bu,' lirihnya.
Setelah minum obat baru Anggi dapat tidur dengan tenang.
Keesokan harinya Agus tidak putus asa terus datang ke desa itu untuk membawa kembali Anggi bersama ya.
''Anda lagi?" cebik penjaga desa.
''Saya hanya ingin menemui istriku,'' ketus ya.
''Tuan, ada hal yang penting yang harus anda lewati sebelum menjemput istri di sini,'' tutur ya.
''Peraturan apa itu?" tanya Agus kesal.
''Jangan menganggap remeh desa kami Tuan, anda harus lari mengelilingi desa ini sampai kepala desa menyatakan sudah.'' Agus memijit pelipisnya tiba-tiba tidak suka terhadap warga desa di sini.
''Kalian keterlaluan, saya hanya mau menjemput istriku di sini,'' kesalnya.
''Anda lebih baik pergi sebelum kami melakukan hal yang sama kemarin.'' Agus kali ini tidak mau menurut langsung main masuk ke dalam.
''Anggi suamimu datang lagi keluarlah!" teriaknya.
''Jangan ribut di sini Tuan?!" sentak warga.
''Anggi, aku benar-benar bersalah tapi setidaknya ayo kembali ke rumah,'' panggil Agus lagi.
''Siapa yang ribut di luar sana?" tanya ibu baru aja selesai memasak.
''Anggi coba lihat Bu.'' Anggi langsung bergegas keluar tiba-tiba langkahmu berhenti melihat Agus sudah ditahan para warga.
''Mas?" pekik Anggi.
''Sayang, kembalilah ke rumah aku menginginkanmu,'' pinta Agus.
''Pulanglah Mas, bukankah aku sudah menulis sesuatu untukmu,'' ucapnya.
''Aku tidak bisa Anggi, kau tahu kan aku sangat mencintaimu," pekik Agus.
Anggi menjadi merasa gusar ia tidak bohong kalau dirinya juga mencintai Agus.
"Berikan aku waktu mas, aku masih tidak mau satu atap dengan mu." Setelah mengatakan itu Anggi langsung masuk ke dalam.
"Anggi tunggu?!" teriak Agus namun usahanya untuk kedua kalinya gagal membawa sang istri kembali ke rumah.
"Pergi Tuan, nak Anggi sudah tidak mau bertemu dengan anda," usir warga.
"Diam! Kalian tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, bikin kesel aja," dengus Agus.
Agus tidak kembali dia memilih berada dalam mobil memantau Anggi.
"Mas Agus ngotot sekali tidak mau kembali," kesal Anggi karena ia harus mengantar nasi ke sawah bapak.
Agus tidak mau sedetik pun melewatkan Anggi karena dia khawatir akan wanita sedang berbadan dua itu.
"Anggi, walaupun kau sakit hati terhadap diriku, kalau soal anak tidak akan pernah kulepaskan karena momen ini sudah lama kutunggu," batin Agus.
Pintu terbuka kedua bola mata Agus terbuka lebar karena istri cantiknya keluar mengenakan dress yang pernah dia berikan sebagai hadiah pertama.
Senyuman Agus melebar karena Anggi masih mau mengenakan yang dia beri.
"Sayang?" panggil Agus.
Anggi hentikan langkah ya sudah tahu suara siapa yang memanggilnya.
"Kembalilah mas, aku butuh waktu," ucap Anggi kesal.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, terima kasih sudah mengenakan pakaian ini." Anggi merasakan sesuatu aneh terjadi pada dirinya.
Ia melihat manik mata Agus yang tulus tidak ada kebohongan di sana.
"Aku terpaksa mengenakannya." Anggi langsung tepiskan ia tidak mau terlena.
"Anggi, aku kembali ke kota kalau ada sesuatu hubungi nomer ini. Dokter sudah aku sediakan di sini kalau kamu mengalami kontraksi suatu saat. Sekali lagi aku minta maaf, secepatnya bukti di hotel itu akan aku berikan kepadamu." Agus langsung meninggalkan Anggi perasaannya masih belum terima meninggalkan sang istri di tempat ini.
"Mas?" panggil Anggi pelan.
"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Agus masih bisa mendengar panggilan Anggi.
"Hati-hati," ucap Anggi.
Agus senang bukan main langsung memeluk Anggi begitu erat. Walaupun istrinya memilih pisah sementara tapi perhatian itu tetap masih ada.
"Aku sangat mencintaimu sayang, kumohon kembalilah secepatnya karena aku tidak bisa melihatmu satu detik, perasaanku hancur," ucapnya sambil memberikan sentuhan hangat ke kening Anggi.
Anggi terkejut merasakan sentuhan itu tiap saat ia dapatkan dulu.
"Mas, aku mau antar ini, pergilah," alih Anggi.
"Boleh aku ikut setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Anggi melihat manik mata Agus yang tulus.
"Ya," jawabnya.
Agus menjalankan mobilnya pelan-pelan karena masih tetap tidak rela pisah sementara dengan Anggi.
Dia ingin berlama-lama dengan istrinya walaupun tugas kantor sedang menumpuk.
Anggi memilih menoleh ke samping tidak mau saling tatap dengan Agus.
"Sayang, di mana sawah bapak?" tanya Agus.
"Di depan sana," tunjuk Anggi.
Agus mengerti lalu hentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar.
"Terima kasih," ucap Anggi.
Agus tidak mengatakan apa-apa lagi dia hanya bisa melihat Anggi sudah mendekati sawah.
Anggi berbalik dan melihat mobil Agus sudah meninggalkan desa dia merasa ada yang aneh terhadap suami ya itu.
''Aku tidak janji mas mudah-mudahan bisa secepatnya kembali ke kota,'' gumam Anggi.
Sepanjang perjalanan Agus terlihat lebih baik daripada sebelumnya bahkan, senyuman di wajahnya mulai terlihat.
''Anggi, secepatnya kita akan kembali bersama,'' ucap Agus begitu senang dia membawa mobil mamahnya dengan kecepatan yang sedang.
Di perusahaan sekretaris Andika berusaha keras untuk memperbaiki perusahaan mereka yang sedang bermasalah.
Tidak maksudnya Agus membuat pekerjaan menumpuk sampai dia kewalahan menangani semua berkas yang harus mereka tinjau hari ini.
''Tuan, kembalilah aku tidak mungkin sanggup menjalankan ini semuanya sendirian,'' gerutu sekretaris Andika.
''Aku akan kembali mulai dari sekarang Dika, kau tidak perlu khawatir lagi.'' Sekretaris Andika terkejut bukan main mendengar suara yang tidak asing baginya.
''Tuan, maaf saya tidak bermaksud untuk mengatakan itu tadi,'' ralat sekretaris Andika.
''Apa semua berkas sudah siap Dika?" tanya Agus seperti biasanya tidak ada masalah bagi dirinya.
''Sudah Tuan, semuanya sudah ada di meja anda,'' balas sekretaris Andika sambil memperhatikan wajah Agus terlihat biasa saja berbeda dari pada sebelumnya.
''Kau boleh kembali bekerja Dika!" ujar Agus.
''Baik Tuan,'' jawabnya gugup.
Sebelum keluar dari ruangan ini sekretaris Andika memperhatikan Agus terlihat aneh.
''Semoga saja Tuan tidak kenapa-napa,'' batin ya.
Agus mencoba untuk mencari kesibukan daripada memikirkan masalahnya bersama dengan Anggi.
Untuk sementara ini dia merasa lebih baik karena istrinya itu sudah mulai menerima dia kembali walaupun secara tidak langsung.
Suara ponselnya berdering Agus nama sekali tidak melihat nama panggilan yang berada di sana.
''Ya,'' ucap Agus sambel fokus menatap layar monitor ya.
''Hai sayang, apa yang kau lakukan sekarang?" Agus langsung terbelalak melihat nama panggilan di ponsel ya itu tidak lain adalah Jesika.
''Kau? Beraninya kau menghubungi ku?" sentak Agus.
''Tenanglah sayang, aku tidak ada maksud lain menghubungi mu karena kangen,'' ucap Jesika manja.
''Di mana kau sekarang?" tanya Agus tidak suka.
''Agus, andaikan aku yang kau nikahi dulu mungkin kita berdua sudah bahagia sekarang,'' ujar Jesika.
''Aku tidak sudi menikahi wanita sepertimu Jesika, aku beruntung menikahi Anggi karena dia adalah wanita terbaik yang pernah kutemui,'' balas Agus.
''Kalau Anggi melihat foto kita berdua bagaimana, Agus?'' tantang Jesika.
''Kau mengira Anggi akan mempercayai foto itu? Bahkan kejadian di hotel jangan harap kalau istriku akan terhasut hanya karena foto yang tidak berguna itu,'' tawa Agus.
''Aku akan membuktikan kepada Anggi kalau foto itu adalah bukti yang sebenarnya.'' Jesika langsung mematikan ponsel tersebut.
''Jesika kau keterlaluan hanya demi mengambil keuntungan rela melakukan apapun,'' geram Agus.
Agus memanggil sekretaris Andika melacak nomor Jesika dengan ini mereka mudah menangkap wanita itu.
''Ya Tuan,'' ucap sekretaris Andika.
''Lacak nomor yang baru saja masuk di ponsel ku Dika, Jesika baru menghubungiku barusan.'' Agus memberikan ponsel tersebut.
''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Andika dengan cepat.
Kali ini sekretaris Andika tidak mau lagi kecolongan karena wanita seperti Jesika berbahaya kalau berkeliaran di luar sana.
Baru mau melacak nomor tersebut sekretaris Andika melihat foto yang beredar di jagat maya.
Jesika sama dengan ketiga pria kemarin telah viral membuat keluarga ya terkejut.
''Mereka kan pewaris keluarga?" Sekretaris Andika geleng-geleng kepala melihat aksi Jesika yang tergolong mengerikan.
''Tuan harus melihat ini kalau tidak dia akan marah,'' gumam sekretaris Andika.
Berita itu langsung masuk ke telinga Agus dia juga merasakan kasihan terhadap ketiga pria itu harus terjerumus ke tangan Jesika.
''Aku juga salah satu korban dari wanita ini, mengerikan sekali,'' kesal Agus.
Berita ini juga sampai di desa tempat tinggal Anggi, wanita yang berbadan dua itu terkejut melihat Jesika bersama dengan ketiga pria asing.
''Bukankah wanita ini yang bersama dengan mas Agus kemarin di hotel?'' batin ya.
''Betul Nyonya,'' jawab mbak dokter tiba-tiba muncul dari belakang ya.
''Astaga mbak, sejak kapan di sini?" tanya Anggi terkejut.
''Sudah lama hanya saja aku tadi langsung ke sawah untuk menemui ayah dan ibu. Setelah itu aku datang ke sini Nyonya sedang beristirahat,'' kekeh ya.
''Oh begitu,'' angguk Anggi.
"Nyonya tertarik melihat berita itu?" tanya mbak dokter belum tahu masalah yang dialami oleh Anggi dan Agus berhubungan dengan wanita yang saat ini sedang viral di jagat maya.
''Aku tidak mengenalnya hanya saja kasihan melihat ketiga pria ini harus terjebak dengan satu wanita.'' Dokter heran mendengar jawaban Anggi padahal komentar di luar sana banyak yang mendukung si wanita.
''Tapi di sana dikatakan kalau wanita adalah korban dari ketiga pria itu?" Anggi terdiam tidak mungkin wanita ini adalah korban dari ketiga pria tersebut.
''Apa benar seperti itu mbak?" tanya Anggi.
''Kita tunggu aja hari dari penyelidikan ya Nyonya semoga fakta yang sebenarnya keluar.'' Anggi diam-diam merasa ada yang aneh terhadap media yang satu ini sedang naik daun.
''Kalau mas Agus bagaimana ya?'' batin ya.
''Nyonya, saya membawa teman juga ke sini untuk memeriksa kandungan anda,'' potong dokter itu.
''Siapa mbak?" tanya Anggi terkejut.
''Nanti sore dia datang ke sini Nyonya karena masih tugas di luar kota,'' ucap ya.
''Mas Agus ya mengirim kalian ke sini?" tanya Anggi pelan.
''Maaf Nyonya kami tidak bisa berbohong karena Tuan cepat mendapatkan bukti kalau kami terlibat,'' ucapnya sedih.
''Tidak apa-apa karena aku juga tidak merasa terancam kalau ditemukan secepat ini. Mas Agus tidak mau menyakiti siapapun kalau masih terkait denganku,'' kekeh ya.
''Nyonya masih bisa tertawa sementara kami di sini sudah spot jantung.'' Anggi tertawa melihat wajah dokter itu pucat.
''Maaf ya, suatu saat kau akan mengerti kenapa aku dan mas Agus seperti ini,'' tambah Anggi.
''Ya Nyonya, kami semua adalah pelayanmu siap menerima perintah dari anda,'' candanya.
''Dasar.'' Mereka berdua kembali tertawa sambil menyusun pakaian karena waktu persalinan sebentar lagi akan tiba.
Anggi tetap beraktifitas seperti biasanya di rumah sederhana itu namun tiba-tiba ponselnya berdering.
''Nomer siapa ini?" tanya ya lalu menerima.
''Anggi?" Suara wanita membuatnya menaikkan alis ya karena tidak mengenali.
''Siapa kamu?" tanya Anggi.
''Jesika, bukankah mas Agus sudah menceritakan siapa aku?'' Anggi sama sekali tidak mengerti yang dimaksud wanita ini.
''Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, bahkan mengenalmu saja aku tidak.'' Jesika geram dia harus memberikan pelajaran kepada Anggi.
''Aku wanita yang bersama dengan suamimu kemarin di hotel. Aku sedang mengandung anaknya Anggi.'' Anggi terkejut bukan main mendengar ucapan Jesika dia bahkan tidak sanggup memegang ponsel ya.
''Tidak mungkin?!" pekik ya.
''Kami dulu adalah sepasang kekasih Anggi, kehadiranmu membuat Agus berpaling kepadaku. Dulu kali melakukan kehidupan yang bebas bahkan kami berdua sudah melakukan hubungan lebih.'' Anggi berteriak sampai dokter terkejut mendengar suara Anggi sampai ke depan.
''Tidak?!" teriaknya histeris.
''Nyonya, nak Anggi?!" Dokter dan pemilik rumah terkejut mendengar suara teriakan Anggi mereka bergegas masuk ke dalam kamar.
''Nyonya?!" Dokter tersebut berteriak melihat keadaan Anggi yang begitu memprihatinkan.
''Apa yang terjadi nak?" tanya ibu khawatir.
''Tolong aku, sepertinya aku akan melahirkan sekarang,'' jerit Anggi.
''Baik Nyonya!" Dokter langsung menghubungi temannya itu untuk segera datang ke desa.
Menuju ke kota sudah membuat nyawa Anggi dalam bahaya.
''Kau datang sekarang ke sini karena Nyonya akan melahirkan!" perintah ya.
''Aku masih belum bisa datang ke sana pasien di sini membludak.'' Dokter yang menangani Anggi terkejut bukan main.
''Bagaimana ini? Tuan Agus pasti akan marah besar kalau mengetahui dokter pribadi Nyonya tidak bisa hadir.