NovelToon NovelToon
Kau Tak Tahu Siapa Aku

Kau Tak Tahu Siapa Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir
Popularitas:123.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naraaulia

Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.


Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Emosi Ratih

"Kurang ajar! berani sekali kau menyakitiku!" Ratih menatap tajam mantan suaminya, yang tersungkur di lantai karena tendangan darinya. 

"Berani sekali kau berbuat kasar kepadaku. Kau pikir kau siapa, yang berani memaksaku untuk rujuk. Ingat! kau yang membuangku dan menghinaku wanita murahan. Dan sekarang dengan tidak tahu malunya kau datang memintaku rujuk bahkan dengan cara kasar. Aku tidak akan pernah kembali denganmu,  meski saat ini aku tengah mengandung Anakmu." Ingin sekali Ratih meluapkan segala amarahnya, namun ia tengah berada di rumah sakit. 

"Maafkan aku Ratih. Aku kalut dan tidak tahu lagi, bagaimana caranya membujuk agar kamu mau rujuk denganku." Bagas menunduk penuh penyesalan. 

"Simpan maafmu untuk dirimu sendiri. Aku tidak butuh maaf dan penyesalan darimu, dari seseorang yang tidak punya pendirian tegas. Tidak bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, selalu berada di bawah ketiak Ibu tercintanya." Ratih tersenyum mengejek. 

"Ayo kita pulang!" Ratih menggandeng tangan Rayden. 

"Tunggu, Ratih. Apa kamu sudah baikan?" tanya Rayden. 

"Iya. Aku sudah baikan,  bantu aku membawa infus itu aku ingin cepat pulang." Tegas Ratih tak bisa di bantah. 

"Tapi…," Rayden terlihat Ragu. 

"Ayo tunggu apa lagi? kita temui perawat, dan minta lepaskan jarum infus ini." Ratih segera mengambil bag yang ada di atas nakas. 

Sedangkan Bagas. Ia hanya bisa diam tertunduk lesu, menyesali perbuatanya yang spontan kasar kepada Ratih. Saat Ratih dan Rayden berjalan di lorong rumah sakit, mereka tak sengaja berpapasan dengan mantan Ibu mertua Ratih. 

"Ratih! apa yang terjadi denganmu?" tanya Bu Mira yang tiba-tiba  bersikap lembut. 

"Kenapa?aku rasa Anda tidak perlu tau, aku kenapa."Ratih melanjutkan langkahnya. 

"Tunggu, Ratih. Apa kamu melihat Bagas?" tanya Bu Mira. 

"Dia berada di ruangan itu." Ratih menunjuk ruangan yang tadi. 

Tak menunggu lama,  Bu Mira segera menyusul Bagas ke ruangan itu. Dalam benaknya banyak pertanyaan yang muncul yang berkaitan dengan Ratih. 

"Apa yang terjadi, Gas?" tanya Bu Mira setelah berada di dalam ruangan itu. 

"Ratih mengandung anak aku, Bu. Dokter sendiri yang mengatakan kepadaku."Bagas terlihat sangat lesu. 

"Lantas,  kenapa kamu seperti ini? ini berita bagus. Anak dalam kandungan Ratih bisa menjadi alasan kuat  kalian agar bisa rujuk kembali." Bu Mira tersenyum senang. 

"Ratih nggak mau, Bu. Aku sudah membujuknya untuk rujuk, dengan alasan janin dalam kandungannya. Tapi,  dia kekeh tidak ingin rujuk." Bagas tampak begitu putus asa. 

"Jangan putus asa seperti itu,  Gas. Biar kita beri waktu kepada Ratih dulu, biar pikirannya tenang. Wanita hamil seperti itu,  memang mudah sensitif." Bu Mira memberi semangat agar rencananya berjalan mulus.

"Ibu benar juga, aku akan tetap berusaha mendekatinya." Semangat Bagas kembali membara. Dan itu membuat Bu Mira tersenyum simpul. 

Sedangkan di dalam mobil. Ratih dan Rayden hanya terdiam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, hingga akhirnya Ratih memberanikan diri menatap Rayden yang tengah fokus mengemudi. 

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Rayden. 

"Apapun yang kamu ketahui tentangku,  simpan untukmu sendiri. Jangan sekali-kali menceritakan masalahku kepada siapapun. Dan satu  hal lagi, jangan memberikan tatapan iba kepadaku. Aku tidak menyukainya!" Ratih kembali menutup matanya setelah mengatakan  itu. 

"Ya ampun. Apa kamu berpikir aku ini emak-emak rumpi,  yang suka menggunjingkan masalah orang lain kepada Ibu-ibu komplek." Rayden tak habis pikir. 

"Siapa tau aja,  kamu suka ngerumpi." Ratih masih terpejam. 

"Terserah…,susah ngomong sama emak-emak  yang lagi sensi." Rayden kembali fokus menatap jalanan. 

"Hmmm…bangunin aku kalau udah nyampe, rumah." Ratih merubah sandaran kursinya agar bisa berbaring. 

"Iya, istirahatlah."

Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Rayden  sudah tiba di depan gerbang Ratih. Di depan rumah sudah ada Bi Sumi yang menunggu kedatangan majikannya. 

"Ratih. Ayo bangun kita sudah sampai." Rayden mencoba membangunkan Ratih yang tampak begitu lelap. 

"Ada apa Mas?" tanya Bi Sumi.

"Ratih, susah di bangunin,  Bu." Rayden menunjuk Ratih yang terlelap. 

"Tolong gendong saja Mbak Ratih masuk kedalam, Mas. Bisakan?" tanya Bi Sumi. 

"Baiklah,  Bu. Saya akan menggendong Ratih." Rayden segera turun dari dalam mobil dan menggendong Ratih yang tidak terganggu sama sekali. 

"Bawa langsung ke dalam kamarnya aja, Mas." Bi Sumi membuka pintu kamar Ratih. 

"Terimakasih,  Mas. Sudah mau menolong majikan saya. Mas tinggal di komplek ini juga?" tanya Bi Sumi lebih lanjut. 

"Iya, Bu. Saya tinggal tepat di depan rumah ini." Rayden menunjuk ke arah depan.

"Baiklah, terimakasih sekali lagi,  Mas…," 

"Rayden, Bu. Nama saya Rayden." Rayden memperkenalkan diri. 

"Ah…ya, Saya Bi Sumi,  asisten Mbak Ratih." 

"Kalau begitu saya permisi pulang, Bu. Jika ada sesuatu  yang mendesak jangan sungkan meminta tolong kepada saya." Rayden melangkah keluar setelah 

mengucapkan salam. 

Bi Sumi yang mengantar Rayden sampai depan pintu, tersenyum penuh arti seraya menatap punggung kokoh pemuda tersebut. 

"Semoga,  dada dan punggung itu menjadi sandaran ternyaman bagi istrinya kelak. Dan aku berharap Ratih lah yang berjodoh dengannya." Monolog Bi Sumi seraya menutup kembali pintu rumah. 

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali tampak seorang lelaki tengah duduk di kursi depan butik milik Ratih. Lelaki tersebut tampak menunggu seseorang yang tak lain adalah Bagas. Ia sengaja datang terlalu pagi,  sebab ingin bertemu dengan Ratih, di samping lelaki itu ada kantong plastik berisikan buah dan susu Ibu hamil. 

"Semoga Ratih bisa luluh dengan perhatian yang ku berikan." Monolog Bagas seraya memandangi kantong plastik yang di bawanya. 

Setelah hampir 2 jam lamanya,  akhirnya satu persatu karyawan butik Ratih berdatangan. Bagas segera beranjak ke arah Ranum yang tengah membuka pintu butik. 

"Apakah Bos kalian akan datang cepat hari ini?" tanya Bagas penuh harap. 

"Maaf, Pak. Saya kurang tau,  karena kedatangan Mbak Ratih kebutik tidak pernah mengabari kami terlebih dulu," Terang Ranum. 

"Baiklah kalau seperti itu, aku akan menemuinya di rumahnya saja.  Boleh saya minta alamat rumah Ratih?" tanya Bagas.

"Maaf sekali lagi,  Pak. Saya tidak berani memberikan alamat Mbak Ratih kepada siapapun. Dan beliau sudah berpesan kepada saya." Ranum melangkah masuk tanpa mempersilahkan Bagas.

"Tunggu…tolong beritahu kepadaku, Mbak.  Sebab saya akan mengantar susu Ibu hamil ini. Karena saat ini Bos kamu itu tengah hamil muda." Bagas berharap bujukannya bisa membuahkan hasil. 

"Tapi…," Ratih tampak begitu ragu. 

"Tolonglah…jika kamu tidak memberitahuku,  itu sama saja kamu tidak mengizinkan seorang Ayah bertanggung jawab kepada janinnya sendiri." Bagas melancarkan bujukan yang jitu. 

"Baiklah, saya akan memberikan alamat Mbak Ratih kepada Anda." Ranum lalu menuliskan sebuah alamat pada secarik kertas. 

Senyuman tampak terukir di bibir Bagas saat berhasil mendapatkan alamat Ratih, "Terimakasih atas bantuannya, Mbak."

Pergilah, aku tidak membutuhkan semua ini....

1
Ayla Anindiyafarisa
aku mampir y thor
Aether
goblok malah balikan
Munawati Dewi
mn trusan ny
Munawati Dewi
man nh klanjutany
Kaniya Jaenes
masih penasaran, ada kaitannya sama novel kemarin - kemarin nggk ya
Anis Handayani
ntah kenapa aq sgt tdk suka karakter bagas yg lemot,bodoh,gak bs diandalkan plin plan.krg tehas dn krg greget
Ibuk'e Denia
aq suka MC wanita yang kuat dan tidak mudah di tindas
Munawati Dewi
yah kok begin sh kn lg seru2 ny ini
Nur Halisah
p
amalia gati subagio
bajingur tengik vs jalang songong, same munafiknya!!
Amalia Khaer
hy, Thor. aq reader barumu. bru part awal sdh bkin menggebu2.
Naraaulia: terimakasih kk, sudah berkenan mampir di buku aku🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Risy Risyda
suka ngan Ratih jadi perempuan jangan mau ditindas
good Author
AGOES TIE NAE 1
eh, tengah asyik baca habis pula
Aisyah
Bantai smua yg mmbuatmu sakit ratih
Aisyah
Snewen snewen dah km rayden, Ratih itu gk akn brtindak selagi tdk d usik, jd km diem aja deh rayden jngn bkin gedeg
d2h_verluthver
preman gadungan, langsung keok di tonjok Ratih🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AGOES TIE NAE 1
aku kasih 2 bunga dek bontot
Aisyah
Apaan sih rayden ganggu aja deh,
Aisyah
Klo bs 2 part dong sehari
Naraaulia: Terimakasih kk sudah mampir di cerita saya. komen kk bisa membuatku tambah semangat lagi.
total 1 replies
Aisyah
Lanjut thor mkin seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!