Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Dia menuntun sepeda ontel tua milik kakeknya ke luar halaman dan menaruh keranjang bambu ajaibnya di atas boncengan besi belakang.
"Bismillah saja lah, semoga hari ini ada orang kaya nyasar dari kota atau orang gila yang mau beli tomat ajaibku ini."
Arga mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga membelah kabut tipis pagi hari menuju pasar tradisional desa.
Pasar itu letaknya sekitar tiga kilometer dari rumahnya dan memang selalu ramai oleh warga desa mulai dari jam enam pagi.
Setibanya di depan gerbang pasar suasana sudah sangat hiruk pikuk dengan suara tawar menawar keras khas ibu-ibu pedesaan.
Aroma sayuran segar berpadu dengan bau anyir ikan mentah dan lumpur pasar langsung menyapa hidung penciuman Arga.
Arga mencari lapak kosong beralaskan tanah di bagian paling depan pasar yang banyak dilewati oleh hilir mudik para pembeli.
Dia menggelar selembar karung beras bekas yang dibawanya dari gudang di atas tanah becek sebagai alas meja jualannya.
"Permisi ya Bu, saya numpang ikut jualan sayur di sini sebentar saja." Arga meminta izin dengan ramah kepada ibu penjual tempe di sebelahnya.
"Silakan saja Mas, gelar barangmu di situ mumpung lapak Pak Bejo ini lagi kosong ditinggal orangnya sakit." Ibu itu tersenyum ramah melihat penampilan Arga yang sangat rapi.
Arga meletakkan keranjang bambu ajaibnya di atas karung lalu merogoh ke dalam untuk mengeluarkan sepuluh buah tomat kristal sebagai barang pajangan.
Dia menyusun perlahan tomat-tomat merah bercahaya itu menjadi bentuk piramida kecil yang terlihat sangat cantik.
Sinar matahari pagi yang mulai muncul mengintip menyinari tomat-tomat itu membuatnya terlihat semakin menggiurkan dan menyilaukan mata.
Ibu penjual tempe di sebelahnya sampai menghentikan kipasan daun pisangnya dan menatap tomat pajangan Arga dengan raut wajah takjub.
"Ya ampun Mas yang ganteng, itu buah apa kok warnanya merah bening bagus banget mengkilap kayak batu akik kecubung begini."
"Ini tomat mutasi kristal Bu, bibit buah impor super yang asli dibawa langsung dari luar negeri." Arga mulai melancarkan jurus tipu-tipunya dengan lancar.
Beberapa ibu-ibu yang sedang berjalan lewat dengan tas belanja langsung berhenti seketika karena sangat tertarik melihat warna merah tomat yang mencolok mata itu.
"Bagus banget tomatnya Mas, kayaknya cocok nih buat dibikin sambal terasi pedas atau dibikin jus tomat segar di rumah."
Seorang ibu berdaster motif bunga matahari melangkah maju paling depan dan mengambil satu buah tomat kristal Arga tanpa izin terlebih dulu.
"Wah ternyata berat dan padat juga ya tomatnya beda jauh sama tomat lokal kita yang biasanya lembek-lembek gampang busuk."
"Berapa harganya sekilo ini Mas penjual tampan, kalau murah ibu mau beli dua kilo langsung buat hajatan nanti sore." Ibu itu bertanya sambil tersenyum menggoda.
Arga menelan ludahnya dengan susah payah karena dia sadar bahwa ini adalah momen penentuan hidup dan matinya di dunia ini.
Dia menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya lalu memasang wajah paling serius dan meyakinkan yang pernah dia bisa buat.
"Maaf Bu saya tidak melayani pembelian secara kiloan, saya hanya menjual tomat khusus ini per biji saja."
"Oh sistem eceran rupanya ya, ya sudah tidak apa-apa saya beli lima biji saja kalau begitu berapa total harganya Mas?"
Arga menatap ibu berdaster bunga itu tepat di kedua matanya lalu mengucapkan nominal harga gila tersebut dengan suara yang sangat lantang.
"Satu biji buah tomat ini harganya seratus ribu rupiah pas Bu, jadi kalau ibu mau beli lima biji totalnya adalah setengah juta rupiah."
Hening mendadak. Suasana di sekitar lapak Arga tiba-tiba menjadi senyap seperti kuburan di tengah malam.
Ibu berdaster bunga itu menaruh kembali tomat di tangannya ke atas karung dengan gerakan lambat seolah takut tangannya akan melepuh.
"Berapa Mas harganya coba tolong diulangi sekali lagi pelan-pelan, ibu takut telinga ibu yang salah dengar gara-gara belum minum kopi pagi ini."
"Seratus ribu per bijinya Bu, harga pas asli dari pusat dan tidak bisa ditawar lagi sepeser pun." Arga menjawab mantap meski jantungnya berdegup gila di dalam dadanya.
"Mas ini sebenarnya mau jualan sayur apa niat mau jualan emas batangan, mana ada di dunia ini tomat sebiji harganya seratus ribu perak."
Ibu itu langsung melotot marah dengan urat leher yang menyembul merasa sedang dipermainkan oleh pemuda gila di depannya ini.
"Orang gila darimana ini pagi-pagi buta sudah ngajak ribut jualan tomat harganya selangit bikin emosi orang saja."
Beberapa ibu-ibu lain yang ikut mengerumuni lapak Arga sejak tadi juga mulai ikut mengomel dan mencibir dengan sangat sinis.
"Dasar pemuda pengangguran tidak waras, mending uang seratus ribu buat beli beras karungan yang bisa kasih makan sekampung daripada buat beli tomat satu biji."
Kerumunan ibu-ibu itu langsung bubar seketika meninggalkan lapaknya dengan memberikan tatapan jijik dan marah ke arah Arga.
Ibu penjual tempe di sebelahnya pun kini juga ikut menggeser karung duduknya menjauhi Arga seolah takut akan tertular penyakit gila yang dibawanya.
"Aduh hancur berantakan sudah semua rencanaku, bagaimana caranya aku bisa menjual habis lima puluh buah ini kalau begini kenyataan pahitnya."
Arga mengusap wajahnya dengan kedua tangan penuh rasa frustrasi melihat lapaknya yang kini sepi dan dijauhi oleh semua orang pasar.
Waktu terus berjalan tanpa ampun dan ancaman saldo hangus menjadi nol dari sistem kini terasa semakin nyata menari-nari di depan matanya.