🏆 JUARA FAVORIT PEMBACA LOMBA "PENGKHIANATAN" SEASON 2 🏆
Qiana dan Emir sudah menjalin hubungan selama 12 tahun dan rencana mereka akan menikah tahun depan. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendatangi pernikahan Zeline, sahabat baiknya. Ternyata yang menjadi mempelai laki-laki adalah Emir.
Dunia Qiana terasa hancur saat tahu kalau dirinya sedang hamil anak Emir. Sementara laki-laki itu tidak mau mengakuinya. Akibat kejadian itu sang ibu meninggal karena gagal jantung.
Di tengah keterpurukan itu datang penolong yang selalu memberikan penyemangat, yaitu Keenan seorang office boy. Pemuda ini sering membantu Qinan secara diam-diam. Apalagi saat Emir ingin kembali merebut hati Qiana dan Zeline ingin selalu berusaha menghancurkan kehidupannya.
Siapakah Keenan itu?
Apakah Qiana akan mendapatkan kebahagiaan setelah datang banyak cobaan yang menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pindah Ke Apartemen
Bab 14
"Qiana, kamu harus cepat sembuh. Kamu adalah wanita yang kuat dan hebat," lirih Emir sambil mengelus lembut wajah Qiana yang sedang tidur.
"Sedang apa kamu di sini? Pergi!" teriak Bara sambil menatap tajam kepada Emir.
Keenan yang masuk belakangan terkejut melihat kehadiran Emir di sana. Namun, Qiana masih dalam keadaan baik-baik saja dan tidur pulas.
"Yah, aku ingin melihat keadaan Qiana," kata Emir dengan tatapan sendu.
"Dia akan baik-baik saja jika kamu menjauhi dirinya. Apa kamu tahu apa yang sudah dilakukan oleh istrimu itu kepada putriku!" teriak Bara dengan penuh emosi.
Laki-laki paruh baya itu baru saja kembali dari kantor polisi. Bara melaporkan perbuatan Zeline yang menurutnya sudah keterlaluan. Ditambah dengan dukungan dan kesaksian dari Keenan.
"Maksud Ayah kalau Qiana jadu seperti ini ulah Zeline?" tanya Emir. Laki-laki itu tadi tidak mendapatkan kabar orang yang sudah mencelakai Qiana.
"Memangnya siapa lagi. Sudah mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat lagi dengan Qiana," balas Bara sambil mendorong tubuh Emir agar ke luar dari ruang rawat itu.
***
Zeline terkejut saat ada dua orang polisi mendatangi rumahnya sambil membawa surat penangkapan. Bahkan Emir sendiri pun membiarkan saja saat istrinya dibawa. Menurutnya itu memang pantas didapatkan oleh perempuan yang sudah mencelakai Qiana.
"Emir, telepon papa aku!" titah Zeline saat polisi menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Zeline bukannya sadar atas kejahatan yang sudah dia lakukan kepada Qiana. Wanita itu malah semakin benci kepada mantan sahabatnya.
Emir pun menghubungi orang tua Zeline. Tentu saja dia harus siap mental akan diamuk oleh ayah mertuanya. Namun, dia tidak akan diam jika disalahkan atas apa yang menimpa wanita itu.
Berita mengejutkan ini membuat keluarga Zeline sangat shock. Mereka pun langsung mendatangi kantor polisi saat itu juga.
"Pa, bagaimanapun juga keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau kalau harus sampai menginap di dalam penjara," kata Zeline sambil terisak.
"Tenang saja, papa akan mengeluarkan kamu, Sayang. Berapa pun biaya yang diperlukan akan papa bayar," ucap Baron dengan penuh keyakinan.
"Kenapa kamu melakukan hal seperti itu, Sayang?" tanya Marlin sambil menghapus air matanya.
"Ini karena Qiana masih saja menggoda Emir. Wanita itu tidak tahu malu sudah dibuang oleh Emir, tapi terus saja mendekati dirinya. Sebagai seorang istri tentu saja aku tidak terima. Makanya aku datangi dia ke rumahnya, tetapi terjadi kecelakaan yang tidak disengaja," jawab Zeline dengan terisak.
Pengacara keluarga Zeline pun datang dan mengajukan penahanan luar. Kliennya juga tidak berencana untuk melakukan perbuatan tersebut alias tanpa direncanakan. Selian itu pengacara juga menuduh Qiana adalah dalang dari semua masalah ini, karena sudah menggoda Emir. Akhirnya, Zeline pun menjadi tahanan kota yang wajib lapor.
***
Waktu terus berlalu, kondisi tubuh Qiana sudah sehat dan mulai bekerja lagi. Namun, kali ini dia dipindah tugaskan menjadi manajer keuangan.
Betapa bahagianya wanita ini karena tidak perlu ketemu dengan Emir setiap hari. Selain itu lantai tempat mereka bekerja juga berbeda. Qiana juga jarang ke kantin karena membawa bekal dari rumah.
Sampai saat ini Keenan dan Qiana belum resmi pacaran, meski hubungan keduanya sudah sangat dekat. Perhatian yang diberikan pemuda itu sudah lebih dari sekedar seorang kekasih. Bahkan orang-orang yang bekerja di sekitar mereka pun menduga keduanya punya hubungan spesial.
"Bu Qiana, ini ada bonus dari perusahaan dan Anda juga berhak untuk tinggal di sebuah apartemen mewah dekat dengan kantor ini," kata Direktur Li saat menyerahkan amplop tebal berwarna kopi.
"Terima kasih, Pak," balas Qiana dengan senang.
Perjuangan dia yang melakukan pekerjaan sebaik mungkin membuahkan hasil. Qiana memang orangnya pekerjaan keras dan bertanggung jawab. Jadi, dia pasti melakukan segala sesuatu itu dengan baik.
Dengan perasaan bahagia Qiana menemui Keenan saat istirahat makan siang. Wanita itu ingin membagi kebahagiaan kepada orang-orang terdekatnya.
"Bagus, secepatnya kamu pindah ke apartemen yang terjamin keamanannya," kata Keenan dengan senyum tipisnya.
"Iya, sampai sekarang pun aku masih merasa sering diawasi oleh seseorang," ucap Qiana.
"Kalau begitu hari ini juga kamu segera pindah. Bawa barang-barang yang penting saja, karena di apartemen itu semua sudah tersedia," tutur Keenan dengan semangat.
"Dari mana kamu tahu kalau semuanya sudah tersedia di apartemen itu?" tanya Qiana heran.
Keenan gelagapan ditanya seperti ini. Tentu saja dia tahu apa yang ada di apartemen itu. Sebab, masih satu tempat dengan apartemen miliknya, hanya beda lantai saja.
"Eh, bukannya tadi kamu bilang kalau itu apartemen mewah. Pastinya sudah ada isinya, 'kan?" Keenan tertawa kaku.
Qiana pun manggut-manggut membenarkan. Wanita ini sudah tidak sabar ingin memberi tahu ayahnya tentang hal ini.
***
Kini hidup Qiana dengan Bara lebih terasa tenang setelah pindah ke apartemen. Sebelumnya mereka merasa selalu ada yang mengintai. Bukan hanya mereka yang merasa curiga, para tetangga pun merasakan hal itu. Namun, orang itu pandai melarikan diri jika hendak ditangkap oleh warga.
Meski jarak kerja Bara menjadi lebih jauh, tetapi laki-laki paruh baya itu tidak mempersalahkan hal ini. Baginya keselamatan dan kebahagiaan putrinya adalah yang utama.
Qiana pergi berbelanja untuk kebutuhan bulanan bersama Bara ke sebuah supermarket terdekat. Ayah dan anak itu selalu kompak jika mengerjakan sesuatu. Bara mendorong troli dan mengambil barang-barang yang diperlukan. Sementara Qiana, hanya menyebutkan atau menunjuk barang yang harus mereka beli.
"Qiana?" panggil seseorang.
Qiana dan Bara pun membalikan badan mereka ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kedua orang tua Emir yang kini berdiri di dekat rak pajangan susu ibu hamil.
***
Apa yang akan terjadi dipertemuan antara Qiana dengan kedua orang tua Emir? Siapakah penguntit yang selalu berkeliaran di dekat Qiana? Ikuti terus kisah mereka, ya!
knapa yg musuhin Qiana jd 2 gini?
Qiana, kuat ya...
tggu saja