NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin Yang Pas Dang Kedatangan Fara

Sesampainya di depan gedung itu, langsung terlihat jelas kalau ini pusat perbelanjaan terbesar, termewah, dan paling terkenal di seluruh kota. Begitu melangkah masuk bersamanya, mataku terbelalak melihat betapa luas dan bersihnya tempat itu, dipenuhi cahaya lembut yang membuat suasana mewah terasa menyelimuti setiap sudut. Aku hanya mengikuti langkah Adrian dari belakang, sampai akhirnya kami naik eskalator dan berhenti tepat di depan sebuah toko perhiasan yang terlihat sangat bergengsi—di atas pintunya terukir jelas nama mereknya: Romanov.

Dalam hati aku bergumam heran: “Romanov… Ini…”

Belum sempat pikiranku melanjutkan, Adrian sudah meraih pergelangan tanganku dengan lembut dan mengajakku masuk. Begitu melihat sosoknya, semua staf, pelayan, bahkan manajer toko langsung berhenti bekerja, berbaris rapi sekenanya, lalu membungkuk serempak penuh hormat: “Selamat datang, Tuan Adrian!”

Di sisi lain, ada seorang wanita yang sedang melihat-lihat perhiasan, ia seolah tidak peduli dan tetap melanjutkan urusannya sendiri, tak terganggu sedikit pun oleh kedatangan kami.

Adrian segera melepas cincin yang melingkar di jarinya, lalu menyerahkannya ke tangan manajer dengan nada tegas tapi tenang: “Saya ingin buat cincin yang persis sama dengan ini, sebagai pasangan untuk istri saya.”

Manajer menerimanya dengan sangat hati-hati, lalu mengamatinya dari dekat sebelum menjawab dengan wajah penuh rasa hormat sekaligus menyesal: “Mohon maafkan saya, Tuan Adrian, dan… Nyonya…” Ia terdiam sebentar bingung, sampai Adrian menyebutkan namaku: “Zara.”

Ia pun melanjutkan: “Nyonya Zara, model ini termasuk edisi khusus yang jumlahnya sangat terbatas, sudah lama terjual habis di semua cabang kami dan tidak akan diproduksi ulang lagi. Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin mencarikan satu set yang masih tersimpan khusus untuk Anda berdua.”

Setelah memeriksa seluruh lemari pajangan dan menghubungi gudang pusat jauh-jauh, manajer akhirnya kembali menghampiri kami sambil membawa sebuah kotak perhiasan besar. Ia meletakkannya perlahan di atas meja kaca, membukanya, lalu menjelaskan dengan suara lembut tapi percaya diri:

“Syukurlah, akhirnya ketemu juga. Mohon lihat sendiri—terbuat dari logam putih terbaik, tidak akan luntur atau kusam meski dipakai bertahun-tahun. Di tengahnya ada satu berlian utama yang jernih sekali, tak ada cacat sedikitpun, berkilau bagaikan bintang paling terang. Di sekelilingnya juga dihiasi butiran berlian asli yang dipasang rapi, menyatu sempurna dan terlihat sangat indah. Benar-benar cocok sebagai pasangan cincin Tuan, melambangkan ikatan yang kuat dan abadi.”

Adrian mengambil cincin itu dengan lembut, lalu menggenggam tanganku. Jari-jariku yang panjang dan ramping, kulitnya seputih susu, halus seperti porselen yang dipoles, terlihat makin bersih saat terkena cahaya lampu. Dengan hati-hati, ia memasangkannya tepat di jari manis tangan kananku—dan ternyata ukurannya pas sekali, seolah sudah diukur khusus untuk tanganku sendiri.

Melihat itu, manajer menghela napas lega sambil tersenyum: “Syukurlah, terlihat sangat anggun menghiasi jari Nyonya. Sungguh keberuntungan bisa menemukannya. Sekali lagi saya ucapkan selamat semoga rumah tangga kalian selalu diberkahi dan bahagia.”

Kami pun keluar dari toko itu. Sepanjang jalan, mataku tak lepas menatap cincin di jariku—semakin terlihat berkilau indah saat terkena cahaya lampu mall, membuat hatiku terasa hangat tapi sekaligus dipenuhi rasa tanya yang tak terjawab.

Belum melangkah jauh, Adrian tiba-tiba berbelok arah menuju sebuah toko busana mewah yang terkenal dengan koleksi pakaiannya yang langka. Begitu masuk, mataku langsung terpesona melihat deretan baju yang tergantung rapi, semuanya terbuat dari bahan lembut dan berdesain anggun. Adrian duduk santai di kursi empuk di sudut ruangan, lalu berkata singkat: “Pilihlah apa saja yang kamu suka.”

Segera manajer dan pelayan datang melayani dengan sangat sopan, mengajakku berkeliling dan menunjukkan koleksi terbaik mereka. Saat ditawari mencoba satu per satu, aku melirik ke arah Adrian—ia sedang sibuk berbicara lewat telepon dengan nada tegas, seolah punya banyak urusan penting yang menunggu. Karena tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama, aku hanya memilih beberapa model yang sekilas terlihat pas dan enak dipandang, tanpa sempat mencobanya satu per satu.

Setelah semua barang dibungkus rapi, Adrian langsung mengantarku pulang. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan gerbang utama rumah, tidak masuk ke dalam halaman. Saat aku turun dan melihat mobil itu segera melaju pergi, aku hanya bergumam pelan dalam hati: “Sepertinya dia memang selalu terburu-buru…”

Begitu gerbang terbuka, penjaga segera menghampiri dan menawarkan bantuan membawa tas belanjaanku. Tapi baru saja aku melangkah masuk, mataku menangkap sebuah mobil lain yang melaju masuk ke halaman dan berhenti tepat di depan pintu utama. Dari kursi pengemudi turun Yamal, sekretaris Adrian, lalu ia membukakan pintu penumpang dengan sangat hormat.

Wanita yang turun dari dalam mobil itu langsung menarik seluruh perhatianku: tingginya pas, tubuhnya ramping dan tegap, wajahnya tirus sempurna dengan garis rahang yang lembut. Matanya besar dan bening, memancarkan pandangan yang percaya diri sekaligus lembut. Kulitnya sawo matang halus, berkilau alami seolah terkena sinar matahari. Rambutnya panjang berwarna coklat keemasan, lurus jatuh rapi menutupi bahu dan punggung, bergerak anggun saat tertiup angin.

Ia mengenakan atasan hitam elegan dengan bahu terbuka, yang memeluk tubuhnya pas tanpa terasa ketat, dipadukan rok panjang berwarna krem keemasan yang jatuh mengalir lembut sampai ke pergelangan kaki. Semua yang ia pakai membuatnya terlihat begitu anggun, berwibawa, dan sulit dipalingkan pandangan orang lain.

Yamal segera mengambil koper besar dari bagasi dan berjalan mendampinginya menuju pintu masuk. Saat kami berpapasan, pandangan kami bertemu dan diam saling menatap sejenak, sampai suara Yamal memecah keheningan itu:

“Nyonya Zara, izinkan saya memperkenalkan. Ini Nyonya Fara, istri kedua Tuan Adrian.”

Lalu ia menoleh ke arah wanita itu dan melanjutkan: “Dan Nyonya Fara, ini Nyonya Zara, istri pertama Tuan Adrian.”

Sekilas mataku melirik ke jari manis tangan kanan wanita itu—dan jantungku seolah berhenti berdetak sebentar. Di sana terpasang cincin yang persis sama dengan yang sempat aku lihat di kotak tadi pagi. Dalam hatiku bergema keras: “Jadi begini nyatanya… Cincin itu memang awalnya diperuntukkan untuk dia…”

Di sisi lain, Fara juga menatapku dengan pandangan menyelidik, pikirannya berputar cepat: “Dia terlihat lembut, cantik, dan anggun… tapi kelihatannya masih sangat muda, seperti belum cukup dewasa. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?”

“Permisi, Nyonya Zara,” kata Yamal sopan, “Saya akan mengantar Nyonya Fara ke kamarnya.”

Aku hanya mengangguk pelan, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Yamal lalu berjalan di depan sambil berkata: “Mari, Nyonya Fara, kamar Anda ada di sini.”

Sesampainya di lantai dua, Yamal membukakan sebuah pintu dan menjelaskan: “Ini kamar khusus untuk Nyonya Fara. Dan di sebelah kanan itu adalah kamar Nyonya Zara. Mohon dimaklumi, para pelayan sedang diberikan cuti panjang untuk sementara waktu, jadi kalian berdua bisa mengatur kebutuhan masing-masing sendiri. Jika tidak ada lagi yang diperlukan, saya permisi kembali ke kantor.”

Setelah Yamal pergi, ia sempat kembali menghampiriku yang masih berdiri termenung, lalu mengambil tas belanjaan itu dengan sopan: “Nyonya, biarkan saya bawa masuk ke kamar.”

Ia mengantar semua barang sampai ke dalam kamarku, lalu berpamitan dan pergi. Aku berdiri sejenak di ambang pintu, menatap ke arah pintu kamar di sebelah kiriku, lalu bergumam lirih: “Jadi itu kamar Fara…”

Dengan perasaan campur aduk antara kaget, bingung,aku akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu kamarku perlahan.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!