NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — Salah paham

Malam di kamar Diara terasa lebih tenang dari biasanya, namun bukan berarti lebih nyaman.

Diara duduk di lantai dekat ranjang, membuka koper besar yang sudah setengah terisi. Pakaian rapi ia lipat satu per satu: abaya kerja, jilbab syar’i, beberapa pakaian santai, dan perlengkapan pribadi untuk dua hari di Bali.

Gerakannya pelan, teratur, tapi pikirannya tidak ikut tenang.

Bali.

Dua hari.

Satu proyek.

Dan satu kamar hotel dengan Jifan.

Kalimat itu masih berputar di kepalanya sejak tadi sore.

Ia menarik napas pelan, lalu memasukkan satu set pakaian lagi ke dalam koper.

Suara ponsel bergetar di atas meja.

Diara menoleh.

Ummi Kinnas

Ia segera mengangkat panggilan itu.

“Assalamualaikum, Ummi.”

Suara lembut di seberang langsung terdengar hangat.

“Waalaikumsalam, Nak Diara. Kamu apa kabar?”

Diara tersenyum kecil.

“Alhamdulillah baik, Ummi.”

Ada jeda sebentar sebelum Kinnas berbicara lagi.

“Kamu sudah lama tidak ke rumah. Ummi kangen.”

Diara berhenti melipat pakaian.

Ada rasa bersalah kecil muncul di dadanya.

“Maaf, Ummi… akhir-akhir ini kerjaan agak padat.”

Kinnas tertawa pelan.

“Kerja boleh sibuk, tapi jangan sampai lupa pulang sebentar ya.”

Diara mengangguk meski tahu Kinnas tidak bisa melihatnya.

“Iya, Ummi.”

Kinnas melanjutkan dengan nada lebih lembut.

“Jifan bagaimana? Dia tidak terlalu sibuk, kan?”

Diara melirik sekilas ke pintu kamar.

“Mas Jifan… seperti biasa, Ummi. Sibuk.”

Kinnas menghela napas kecil.

“Dia memang begitu dari dulu. Tapi kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya.”

Diara tersenyum kecil.

“Baik, Ummi.”

Percakapan itu berlanjut beberapa menit, membahas hal ringan. Sampai akhirnya Kinnas menutup dengan doa dan pesan agar Diara menjaga diri.

Saat panggilan berakhir, kamar kembali sunyi.

Diara menatap koper yang hampir selesai.

Namun pikirannya justru melayang ke percakapan tadi.

“Jangan lupa pulang…”

Kalimat sederhana.

Tapi entah kenapa terasa hangat.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pintu membuat Diara tersentak kecil.

Pintu terbuka perlahan.

Jifan masuk.

Seperti biasa, ekspresinya tenang. Kemeja santai rumah, lengan sedikit dilipat, rambut masih rapi meski sudah malam.

“Sudah siap?” tanyanya singkat.

Diara mengangguk.

“Hampir selesai.”

Jifan melangkah masuk, matanya sekilas melihat koper di lantai.

Namun ia tidak langsung pergi.

Ia hanya berdiri di sana.

Diam.

Tidak bergerak.

Diara menatapnya sekilas.

“Mas ada perlu lain?” tanyanya pelan.

Jifan berhenti sepersekian detik.

“Tidak.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu sederhana.

Namun Jifan tidak bergerak juga.

Seolah ada alasan lain yang tidak ia ucapkan.

Beberapa detik berlalu.

“Kalau begitu…” Diara mengalihkan pandangan, kembali melipat pakaian. “Aku lanjut berkemas.”

“Ya.”

Jifan tetap berdiri.

Tidak pergi.

Tidak juga membantu.

Hanya ada.

Dan itu cukup membuat suasana kamar terasa berbeda.

Beberapa menit kemudian, Jifan akhirnya keluar kamar.

Tanpa tambahan kata.

Namun Diara sempat memperhatikan satu hal kecil:

ia tidak benar-benar ingin pergi cepat.

Malam itu mereka tidur di kamar masing-masing.

Tidak ada percakapan lagi.

Namun Diara merasa pikirannya tidak bisa benar-benar diam.

Pagi datang terlalu cepat.

Bandara Soekarno-Hatta sudah ramai saat mereka tiba.

Jifan datang lebih dulu, diikuti Diara, Hara, dan Arkan.

Semua bergerak dengan rapi.

Tanpa kekacauan.

Tanpa suara berlebihan.

Seperti tim profesional yang sudah terbiasa bekerja bersama.

Saat boarding, Diara baru menyadari sesuatu.

“Business class?” gumamnya pelan.

Hara di belakang hanya tersenyum kecil.

“Sudah diatur Pak Jifan.”

Diara menoleh sekilas ke arah Jifan.

Pria itu berjalan di depan tanpa menoleh.

Seperti biasa.

Di dalam pesawat, mereka duduk di kursi business class yang cukup luas.

Jifan di sebelah Diara.

Arkan dan Hara di kursi belakang mereka.

Suasana kabin tenang, hanya suara mesin pesawat dan pramugari yang sesekali lewat.

Diara menatap jendela.

Awan putih terlihat di luar.

Dan pikirannya kembali ke Bali.

Beberapa jam kemudian, mereka mendarat.

Bali menyambut dengan udara hangat dan langit cerah.

Setelah mengambil bagasi, mereka langsung menuju mobil yang sudah disiapkan.

Perjalanan menuju hotel dimulai.

Di dalam mobil, suasana tetap tenang.

Arkan sibuk dengan ponselnya.

Hara melihat dokumen kecil.

Jifan menatap jalan.

Diara menatap ke luar jendela.

Hingga akhirnya ia berbicara pelan.

“Mas…”

Jifan menoleh sedikit.

“Iya.”

Diara ragu sepersekian detik.

“Sepertinya… aku perlu pesan kamar hotel terpisah saja.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Dan udara di mobil berubah.

Jifan menatapnya.

Tidak langsung bicara.

Tapi tatapannya lebih tajam dari biasanya.

“Kenapa.”

Diara menelan napas kecil.

“Biar lebih nyaman. Kita kan di sini untuk kerja.”

Kalimat itu belum selesai membuat suasana menjadi lebih dingin.

Arkan dan Hara di kursi belakang diam.

Tidak berani ikut campur.

Jifan akhirnya berbicara.

“Tidak perlu.”

Nada suaranya datar.

Namun ada sesuatu di dalamnya yang lebih keras dari biasanya.

Diara menoleh.

“Mas, aku hanya berpikir—”

“Tidak perlu.”

Kali ini lebih tegas.

Diara terdiam.

Ia merasa sedikit salah.

Bukan karena maksudnya buruk.

Tapi karena cara Jifan merespons terasa seperti ia telah mengatakan sesuatu yang salah besar.

“Aku tidak bermaksud—”

“Tidak usah dibahas.”

Suara Jifan memotong.

Pendek.

Dingin.

Hening.

Mobil terus melaju.

Diara menunduk pelan.

Tangannya meremas ujung tasnya.

Ia mulai menyesal.

Di dalam dirinya, Jifan justru tidak lebih tenang.

Justru sebaliknya.

Kata-kata Diara tadi berputar di kepalanya.

“kamar terpisah”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa…

terasa seperti jarak yang sengaja dibuat.

Dan itu membuatnya tidak nyaman.

Mobil tiba di hotel.

Hotel bintang lima dengan desain modern tropis khas Bali.

Semua turun.

Arkan mengurus check-in.

Hara membawa barang.

Diara berjalan sedikit di belakang Jifan.

Dan sepanjang jalan itu, tidak ada yang berbicara.

Saat mereka masuk kamar masing-masing, suasana tetap dingin.

Jifan masuk lebih dulu.

Tidak menoleh.

Tidak bicara.

Diara berdiri di kamar hotelnya.

Melihat interior elegan yang seharusnya membuatnya nyaman.

Tapi yang terasa justru sebaliknya.

Kosong.

Beberapa jam kemudian, pekerjaan dimulai.

Meeting proyek villa berjalan di ruang konferensi hotel.

Semua profesional.

Semua fokus.

Namun Diara bisa merasakan satu hal:

Jifan tidak berbicara kepadanya lebih dari yang diperlukan.

Malam tiba.

Setelah meeting selesai, semua kembali ke kamar masing-masing.

Diara duduk di ranjang hotel.

Menatap ponselnya.

Tidak ada pesan dari Jifan.

Karena Jifan belum juga kembali ke kamar hotel.

Hanya sunyi.

Disalah satu cafe dekat pantai, Jifan duduk disalah satu kursi, ia memesan secangkir kopi hangat untuk menenangkan pikirannya.

Menatap lampu kota Bali dari kejauhan.

Wajahnya tetap tenang.

Namun pikirannya tidak.

Kata-kata Diara tadi masih ada di kepalanya.

“kamar terpisah”

Dan itu, tanpa ia sadari…

lebih mengganggu daripada yang ingin ia akui.

Di dua kamar berbeda, dua orang yang sama-sama tidak mengerti situasi mereka sendiri…

akhirnya memilih diam.

Namun diam itu kali ini tidak lagi terasa netral.

Tapi dingin.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!