kebangkitan seorang wanita yang awalnya terkenal sebagai pembuat onar, pecundang yang tidak memiliki sihir dan juga memiliki hati yang sangat jahat. Ia mendapatkan hukuman penggal akibat dari perbuatannya selama ia hidup. Tidak hanya membuat onar dimana - mana, namun ia juga mencoba meracuni sepupunya karena dendam, melihat sepupunya telah mengambil pria yang ia cintai selama ini.Namun tepat ketika sebelum ia dieksekusi ia mengetahui sebuah rahasia besar, yang mana sebenarnya itu adalah sebuah permainan yang di rancang oleh sepupunnya sendiri untuk menjebak dirinya dan juga keluarganya. Namun, takdir pun berpihak padanya, ia kembali hidup ketika dirinya berusia 15 tahun. Dapatkah ia membalaskan dendamnya? dapatkah ia bangkit dari ketepurukkan yang ia alami? akankah ia dapat melawan takdir? akankah ia dapat merubah nasibnya di kehidupan ke dua ini, yang dari seorang sampah yang tidak memiliki sihir menjadi orang yang berguna dan hebat?. SELAMAT DATANG DI NOVEL "KEMATIAN SANG ANTAGONIS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiki Adysti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akademi Sihir
Ruangan Fiona sendiri terletak di sebelah ruangan Lucius. Meski tidak terlihat besar, namun ketika Fiona memasuki ruangan tersebut kembali Fiona dibuat kaget.
Ruangan tersebut besar dan juga mewah. Luasnya hampir sama dengan kamar tidur yang ada di rumahnya. Di sana terdapat rak yang telah di penuhi buku – buku yang berisi tentang sihir dari berbagai macam benua.
Di sisi lain ada juga bagian dimana terdapat barang – barang yang bertujuan untuk memperkuat mana dan memperkuat sihir.
Barang – barang tersebut bisa dikatakan atribut seorang penyihir.
Melihat barang – barang yang sangat berharga dan berkualitas tinggi itu, Fiona mau tidak mau hanya menelan ludah.
Lalu ada juga meja belajar yang panjang dengan beberapa kursi yang mengelilingnya yang mungkin cocok untuk menjadi meja diskusi.
Perpaduan ruangan tersebut adalah warna kuning dan emas, disana juga terlihat balkon yang sudah ada kursi dan sebuah meja. Dari sana kita bisa melihat pemandangan yang ada di bawah. Bahkan sinar matahari pun bisa masuk melalui pintu kaca yang terbuka lebar.
Di saat Fiona masih melihat – lihat ruangannya, suara Lucius pun terdengar, “Ini adalah ruanganmu. Kau dapat melakukan segala hal disini, dan juga semua barang yang ada disini kau bebas menggunakannya”, ucapnya yang telah duduk dan masih mengamati kemana Fiona pergi.
“Dan juga, jika masih ada yang ingin kau siapkan, aku sebagai gurumu akan memberikannya kepadamu”, ucap Lucius.
Fiona pun menatap gurunya dengan senyum, dan berkata, “Terimakasih Guru. Tentu saya akan menggunakan ruangan ini beserta isinya dengan baik”, ucap Fiona dengan senyuman. Tidak ada rasa terbebani, atau rasa rendah hati yang terlihat. Namun justru rasa percaya diri yang penuh dengan keyakinan.
Melihat sikap muridnya ini Lucius pun mengangguk puas. Dengan identitas sebagai muridnya tentu harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
“Bagus! Itu yang ku harapkan. Sebagai murid dari Kepala Menara Sihir kau harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kau tidak perlu takut dengan apapun, karena kau memiliki guru yang genius dan penyihir berbakat di benua ini. Namun ingatlah ini, kau perlu berhati – hati. Meski kau memiliki guru yang luar biasa, namun gurumu ini juga mempunyai banyak musuh di luar sana. Jadi kau sebagai muridku tentu tidak akan semudah seperti murid – murid yang lain. Jadi ,,, ku harap kau tidak cepat mati”.
“_”
Melihat wajah gurunya yang mengatakan itu dengan nada yang girang dan juga tersenyum manis di depan Fiona tentu Fiona sempat meragukan pendengarannya saat ini jika tidak melihat bahwa diruangan ini hanya ada mereka berdua.
Jadi, sudah dipastikan bahwa yang guru katakan memanglah benar adanya. Dan juga kalau di pikir – pikir tentu bukan hal yang aneh jika gurunya memiliki musuh yang banyak diluar sana. Entah karena untuk memperebutkan posisinya atau yang lain. Setidaknya untuk saat ini Fiona bisa mengerti dan berusaha untuk tidak gegabah kedepannya.
Seperti mengingat sesuatu, Fiona pun mengajukan pertanyaan, “Guru, apa alasan anda memilih saya?”.
Mendapat pertanyaan yang tiba – tiba itu, jari yang kini tengah memilah – milah buku pun terhenti.
Beberapa saat ia berbalik, dan menjawab, “Aku hanya ingin saja”, ucapnya datar.
Mendengar jawaban itu, tentu Fiona merasa ada yang aneh.
“Apa ada sesuatu yang guru sembunyikan?”, tanya Fiona curiga.
Lucius pun hanya tersenyum mencibir, “Jadi,,,, apakah kau juga menyembunyikan sesuatu dariku?”.
Pertanyaan yang diajukan Lucius kepada Fiona ini pun langsung membuat Fiona membeku. Entah mengapa, tiba – tiba jantung Fiona berdebar kencang. Ia menatap lekat ke mata gurunya yang saat ini juga tengah mengamati perubahan ekspresi wajahnya.
“Apakah guru mengetahui tentang kelahiranku kembali?”, tanyanya di dalam hati.
Tiba – tiba sebuah tangan mengelus kepala Fiona. Fiona melihat gurunya tengah tersenyum padanya dan berkata, “Tenanglah,,, kau tidak perlu merasa bersalah atau ketakutan. Bagaimanapun aku adalah gurumu, diantara kita tidak perlu adanya rahasia. Dan juga,, jika kau tidak ingin mengatakan aku juga tidak akan memaksa. “, lalu ia memberikan beberapa buku kepada Fiona dan berkata.
“Pelajarilah,, dan untuk hari ini kita sampai disini dulu. Albert akan mengantarkanmu mengelilingi Menara Sihir ini dan memperkenalkanmu kepada murid lainnya. Meski kau memang murid pribadiku, namun kau juga harus mengikuti kelas yang di adakan di akademi Menara Sihir. Dan lagi,, kau harus berhati – hati jika kau bertemu dengan para Tetua, tentu selama ada Albert kau akan aman, namun kau harus berusaha jika kau sendirian. Apa kau mengerti?”.
Fiona pun mengangguk tanda mengerti. Lalu ia menerima buku – buku tersebut.
“Baiklah, aku ada urusan lain. Sebentar lagi Albert akan datang. Kau bisa percaya pada Albert, ia adalah salah satu orangku”.
Fiona pun melihat gurunya pergi dan keluar dari ruangan. Ia melihat – lihat buku yang ada di dalam genggamannya. Buku- buku tersebut memang sangat pas untuk ia pelajari karena ia masih belajar sihir tingkat dasar.
“Tok... Tok... Tok..”
Tiba – tiba suara pintu ruangan pun terbuka. Lalu muncul seorang anak laki – laki yang mungkin seusia dengan Lucifer tengah memasuki ruangannya.
”Saya adalah Albert murid yang di tunjuk mengantarkan anda untuk memperkenalkan kastil Menara Sihir. Apakah anda sudah siapa Nona?”, tanyanya.
Perawakannya terlihat tegap, kulit sawo matang dengan tahi lalat di dekat bibir sebelah kanan. Matanya yang berwarna hazel itu senada dengan warna rambutnya yang agak bergelombang. Bulu matanya yang lentik menambah pesona di dalam tatapan mata yang berwarna hazel tersebut.
“Ayo”, ucap Fiona sembari mengangguk..
Mereka tengah berjalan, Albert menjelaskan dengan baik setiap inci dari ruangan Menara Sihir. Meski Fiona merasa kakinya benar – benar sakit karena mengitari kastil yang luasnya tidak terbayangkan, namun rasa penasarannya yang tinggi mengalahkan rasa sakit tersebut.
Mungkin karena mengerti bahwa gadis kecil disampingnya tengah mulai kelelahan Albert pun mengusulkan untuk beristirahat di sebuah paviliun yang disediakan disana.
Fiona pun duduk disana sembari melihat – lihat sekitar. Disekelilingnya dipenuhi dengan bunga, terlihat indah dan juga cantik.
“Albert,, dimana Akademi Sihir itu?”, tanya Fiona.
“Setelah kita selesai istirahat saya akan mengantarkan anda ke Akademi Sihir dan sekaligus untuk menutup tour kita mengelilingi menara sihir hari ini”, jawab Albert sembari tersenyum.
Fiona pun tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk. Setelah dirasa mereka cukup untuk beristirahat, mereka berdua pun kembali berjalan menuju Akademi Sihir.
Jika di Istana terdapat Akademi Kekaisaran, sama halnya di Menara Sihir. Disini terdapat Akademi Sihir. Sesuai namanya, Akademi Sihir adalah akademi yang dibuka untuk para penyihir, berbanding terbalik dengan Akademi Kekaisaran yang berfokus untuk melatih diri. Pelatihan yang ada di Akademi Kekaisaran biasanya tentang pelatihan pedang, tombak, bela diri , alkimia, dan lain sebagainya yang lebih membutuhkan tenaga, sedangkan untuk Akademi Sihir tentu berfokus dengan sihir meski memang ada jurusan yang lain seperti alkimia di Akademi Penyihir.
Setelah beberapa waktu, Fiona pun melihat sebuah gerbang yang menjulang dan terlihat dibelakangnya sebuah bangunan yang begitu luas dan juga kokoh.
Ketika Albert dan Fiona ingin memasuki tempat tersebut sebuah suara yang dalam pun terdengar dari arah belakang mereka berdua, “Siapa yang memberi keberanian dua ekor tikus memasuki Akademi Sihir?