Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Setelah perjalanan
sekitar 30 menit dengan rute yang menanjak, sampailah mereka di tempat tujuan.
Sebuah lokasi di daerah perbukitan dengan pemandangan ke arah kota Bandung dengan
lampu yang kerlap kerlip di kejauhan. Setelah turun dari mobil, Renata baru
menyadari udara yang cukup dingin. Pantes Bram pakai jaket. Kata Rena dalam
hati.
Bram mengambil sesuatu
dari jok belakang mobilnya. Rupanya baju hangat.
“Pakailah, udara sangat dingin.
Ini aku sengaja bawa untuk kamu pakai, mudah-mudahan cocok.” Bram mengulurkan
pada Renata, yang kemudian dipakai untuk menahan udara dingin.
“Yuuk...masuk....” Bram
berjalan dan menggandeng tangan Renata. Entah kenapa Renata tidak menolak dan
mengikuti langkah Bram.
“Mbak booking atas nama
Bram sudah siap..?” Tanya Bram di reception.
“Sudah pak, silakan ikuti
petugas kami..”
“Oke, trims. Yuk Ren..”
“Mari pak ikut saya...” Kata
petugas yang disebutkan tadi.
Mereka berjalan menyusuri
jalan setapak yang agak berbelok. Beberapa saat sampai di sebuah gazebo di ujung
dengan view ke arah kota. Tempat agak terpencil karena di ujung, dan ini memang
yang dipilih Bram. Karena dia ingin tempat yang sangat privacy dengan suasana alam
yang sejuk tanpa ada lalu lalang tamu yang lain.
“Silakan pak. Untuk makanan
mau sekarang atau nanti saja pak..?”
“Makanan ringan dulu mas,
sama minum panas..”
“Baik. Silakan dipilih
menunya..” Setelah memilih menu dengan persetujuan Renata, Bram duduk di gazebo,
sedangkan Renata masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, sambil memandang
di kejauhan dengan posisi kira-kira lima langkah dari gazebo. Bram memandangi
Renata dari belakang. Hatinya berdebar-debar. Inilah saatnya ia akan mengungkapkan
isi hatinya. Mengungkapkan rasa cintanya dan kesungguhannya untuk melangkah lebih
jauh lagi. Bram membayangkan mata kucing Renata yang terluka. Tatapan sendu
dengan guratan kesedihan di wajahnya.
“Apa yang kamu pandangi....?”
Tiba-tiba Bram sudah berdiri di samping Renata dengan satu tangan mengusap bahu
Renata dan membuat Renata terkejut, apalagi dengan sentuhan lembut di bahunya,
dan Renata membiarkan saja tangan Bram diam di bahunya.
“Eeehh...mas...” Renata
menoleh ke samping.
“Kamu melamun...? Sory kalau
bikin terkejut. Gimana tempatnya, kamu suka..?’
“Eeee... suka mas. Dari
mana mas Bram tahu tempat ini..?’
“Kamu lupa kalau aku
pernah kuliah di sini..? Dulu memang belum sebagus ini. Sebenernya ada lagi
tempat yang lebih bagus, tapi agak jauh. Besok aja kapan-kapan kita kesana.”
Keduanya lalu diam dengan
pikiran masing-masing. Tidak lama datang pesanan minuman dan makanan kecil.
Bram lalu mengajak duduk.
“Pak kalau ada perlu lagi
silakan dipencet bel ini. Petugas akan datang.” Kata pelayan yang mengantarkan
minuman.
“Oke, terimakasih. Pesen
makannya nanti saja ya,daftar menu ditinggal aja dulu.”
“Baik pak, silakan
dinikmati..” Kata pelayan itu dengan sopan, lalu pergi meninggalkan keduanya.
“Ayo Ren diminum, ntar
keburu dingin...” Bram mengajak Renata duduk, dan keduanya menikmati minuman
hangat dengan masih saling diam. Duduk lesehan berhadapan hanya dipisahkan
meja. Tak lama saling diam, Bram menghela nafas panjang dan bicara.
“Ren.... aku mau ngomong
sesuatu, semoga kamu gak marah ya...” Renata melihat ke wajah Bram, ada keseriusan
di situ. Renata berpikir, apa ini saatnya Bram akan bicara?
“Apa mas...?” Tanya Renata
dengan sangat pelan. Kembali Bram menghela nafas berat. Kemudian duduknya
bergeser sedikit lebih dekat ke Renata.
“Rennn.. aku... aku ingin
hubungan kita lebih jauh lagi dan bukan hanya sekedar teman. Sudah lama aku
ingin mengungkapkan ini. Aku......”
“Maksud mas Bram...?”
“Rennn... aku
mencintaimu....” Kata Bram pelan sambil menggenggam ke dua tangan Renata. Sementara
Renata diam dengan kepala menunduk, tidak berani melihat wajah Bram. Ada
perasaan sedih mendengar ungkapan Bram. Tiba-tiba bayangan wajah Aditya muncul
dalam pikirannya. Luka itu kembali sakit. Ada rasa nyeri di hatinya
“Perasaan ini muncul
sejak pertama aku melihatmu makan siang dengan Tia. Aku melihatmu dari jauh.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Apalagi saat melihat kamu mengusap air
mata. Yang kedua, saat di gereja, kembali aku melihat air mata menetes dari
sudut matamu. Hatiku merasa sakit melihatnya. Mungkin kamu tidak menyadari aku
berada tidak jauh darimu, aku melihat semuanya...”
Renata
mengangkat mukanya, melihat ke arah Bram dengan pandangan heran, dan masih tetap
diam.
“Ya....
aku melihatnya Ren... kamu nampak begitu terluka. Sejak itu aku tidak bisa
menghilangkan bayanganmu. Aku tadinya menyangkal perasaanku sendiri. Aku seperti
tidak yakin. Tapi semakin aku berusaha menghilangkan bayanganmu, semakin kuat
pula perasaanku..”
“Tapi
mas... ini terlalu .......”
“Aku
tahu Ren... itu terlalu cepat untukmu, kita kenal baru sebentar, dan mungkin
menurutmu masih butuh waktu. Tapi buat aku tidak. Aku tidak butuh waktu yang lama
untuk lebih mengenal siapa dirimu dan memastikan perasaanku padamu. Aku juga
awalnya tidak tahu, kemana cinta ini akan berlabuh. Aku sudah memantapkan hatiku,
bukan hanya sekedar teman, tapi aku ingin lebih jauh dari itu, bahkan sampai ke
jenjang pernikahan...”
Renata
kaget, dia kembali memandang wajah Bram. Dan lagi-lagi ada kesungguhan di situ.
Renata tidak menemukan kebohongan dalam mata Bram.
“Mas..
Aku belum....” Kata Renata yang langsung dipotong Bram
“Ren...., kamu pernah
disakiti, dikhianati, dan itu yang membuat kamu tertutup kan. Maaf... aku sudah
tahu banyak tentang kamu, dan aku sangat paham. Mungkin kamu juga sudah tahu
tentang masa laluku dari Tia. Kita sama-sama pernah disakiti, dikhianati oleh orang
yang kita cintai... dan itu sangat menyakitkan...” Bram membuang nafasnya
dengan berat.
Tiba-tiba Renata
terisak... air matanya turun dengan deras. Bram makin erat menggenggam tangan
Renata, kemudian mengulurkan tisue. Suasana kembali sunyi, Renata terlihat menghapus
air matanya yang terus mengalir. Bram merasa sakit melihat Renata terisak lirih,
hatinya ikut terluka. Kemudian dia menarik Renata untuk memeluknya dari samping
dengan satu tangan, sedang tangan satunya tetap menggenggam tangan Renata. Seolah-olah
memberi kekuatan pada Renata. Bram membiarkan Renata tetap terisak. Mungkin
dengan begitu Renata bisa lebih lega. Tak lama kemudian...
“Ren... aku berpikir,
dengan pengalaman masa lalu yang sama-sama menyakitkan, kita bisa saling
menguatkan. Kita bisa saling menopang. Aku tidak meminta kamu menjawab sekarang.
Aku akan menunggu, tapi paling tidak kamu sudah tahu, kalau aku benar-benar
mencintaimu. Aku ingin kita bersatu selamanya, sampai tua....”
Renata melepaskan diri
dari pelukan Bram dan melihat wajah Bram. Air matanya masih terus mengalir, kepalanya
menggeleng-geleng tapi mulutnya tidak bisa berkata-kata. Bram makin iba. Dia
melihat Renata benar-benar terpuruk dengan kondisi seperti ini. Bahunya masih bergoncang
karena menahan isaknya.
“Tidak usah bicarapun aku
tahu Ren, kamu belum bisa membuka hatimu. Karena lukamu itu terlalu dalam,
seperti yang juga pernah aku rasakan. Tidak usah dijawab sekarang... Aku akan
menunggu...”
Tiba-tiba Bram menarik tangan
kanan Renata dan menciumnya. “Aku mencintaimu Ren... aku ingin selamanya bersamamu...”
Setelah agak tenang,
Renata mencoba bicara pelan.
“Mas... maaf... aku tidak
tahu mesti jawab apa. Ini semua terlalu tiba-tiba mas...”
“Jangan dijawab sekarang
Ren, aku akan menunggu....” Renata diam, kemudian menghela nafasnya. Hatinya
benar-benar merasa bimbang. Bram memang baik, bahkan terlalu baik. Dia
memperlakukan dirinya dengan lembut, tapi...kenapa hatinya belum bisa menerima
kehadirannya. Apalagi membalas cintanya. Ah...Aditya... kenapa luka yang kamu
tinggalkan begitu dalam? Air mata Renata kembali menetes. Renata buru-buru
menghapusnya.
“Ren maaf kalau omonganku
membuatmu mengingat luka lama...”
“Gak mas... aku aja yang
terlalu cengeng... beri aku waktu mas...” Kata Renata pelan.
“Itu pasti Ren... berapa
lama kamu butuh waktu..? Tapi selama itu aku mohon, ijinkan aku untuk tetap
dekat denganmu, dan kamu jangan menghindar dariku seperti yang sudah-sudah kamu
lakukan terhadap orang lain.”
next