NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Setelah perjalanan

sekitar 30 menit dengan rute yang menanjak, sampailah mereka di tempat tujuan.

Sebuah lokasi di daerah perbukitan dengan pemandangan ke arah kota Bandung dengan

lampu yang kerlap kerlip di kejauhan. Setelah turun dari mobil, Renata baru

menyadari udara yang cukup dingin. Pantes Bram pakai jaket. Kata Rena dalam

hati.

Bram mengambil sesuatu

dari jok belakang mobilnya. Rupanya baju hangat.

“Pakailah, udara sangat dingin.

Ini aku sengaja bawa untuk kamu pakai, mudah-mudahan cocok.” Bram mengulurkan

pada Renata, yang kemudian dipakai untuk menahan udara dingin.

“Yuuk...masuk....” Bram

berjalan dan menggandeng tangan Renata. Entah kenapa Renata tidak menolak dan

mengikuti langkah Bram.

“Mbak booking atas nama

Bram sudah siap..?” Tanya Bram di reception.

“Sudah pak, silakan ikuti

petugas kami..”

“Oke, trims. Yuk Ren..”

“Mari pak ikut saya...” Kata

petugas yang disebutkan tadi.

Mereka berjalan menyusuri

jalan setapak yang agak berbelok. Beberapa saat sampai di sebuah gazebo di ujung

dengan view ke arah kota. Tempat agak terpencil karena di ujung, dan ini memang

yang dipilih Bram. Karena dia ingin tempat yang sangat privacy dengan suasana alam

yang sejuk tanpa ada lalu lalang tamu yang lain.

“Silakan pak. Untuk makanan

mau sekarang atau nanti saja pak..?”

“Makanan ringan dulu mas,

sama minum panas..”

“Baik. Silakan dipilih

menunya..” Setelah memilih menu dengan persetujuan Renata, Bram duduk di gazebo,

sedangkan Renata masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, sambil memandang

di kejauhan dengan posisi kira-kira lima langkah dari gazebo. Bram memandangi

Renata dari belakang. Hatinya berdebar-debar. Inilah saatnya ia akan mengungkapkan

isi hatinya. Mengungkapkan rasa cintanya dan kesungguhannya untuk melangkah lebih

jauh lagi. Bram membayangkan mata kucing Renata yang terluka. Tatapan sendu

dengan guratan kesedihan di wajahnya.

“Apa yang kamu pandangi....?”

Tiba-tiba Bram sudah berdiri di samping Renata dengan satu tangan mengusap bahu

Renata dan membuat Renata terkejut, apalagi dengan sentuhan lembut di bahunya,

dan Renata membiarkan saja tangan Bram diam di bahunya.

“Eeehh...mas...” Renata

menoleh ke samping.

“Kamu melamun...? Sory kalau

bikin terkejut. Gimana tempatnya, kamu suka..?’

“Eeee... suka mas. Dari

mana mas Bram tahu tempat ini..?’

“Kamu lupa kalau aku

pernah kuliah di sini..? Dulu memang belum sebagus ini. Sebenernya ada lagi

tempat yang lebih bagus, tapi agak jauh. Besok aja kapan-kapan kita kesana.”

Keduanya lalu diam dengan

pikiran masing-masing. Tidak lama datang pesanan minuman dan makanan kecil.

Bram lalu mengajak duduk.

“Pak kalau ada perlu lagi

silakan dipencet bel ini. Petugas akan datang.” Kata pelayan yang mengantarkan

minuman.

“Oke, terimakasih. Pesen

makannya nanti saja ya,daftar menu ditinggal aja dulu.”

“Baik pak, silakan

dinikmati..” Kata pelayan itu dengan sopan, lalu pergi meninggalkan keduanya.

“Ayo Ren diminum, ntar

keburu dingin...” Bram mengajak Renata duduk, dan keduanya menikmati minuman

hangat dengan masih saling diam. Duduk lesehan berhadapan hanya dipisahkan

meja. Tak lama saling diam, Bram menghela nafas panjang dan bicara.

“Ren.... aku mau ngomong

sesuatu, semoga kamu gak marah ya...” Renata melihat ke wajah Bram, ada keseriusan

di situ. Renata berpikir, apa ini saatnya Bram akan bicara?

“Apa mas...?” Tanya Renata

dengan sangat pelan. Kembali Bram menghela nafas berat. Kemudian duduknya

bergeser sedikit lebih dekat ke Renata.

“Rennn.. aku... aku ingin

hubungan kita lebih jauh lagi dan bukan hanya sekedar teman. Sudah lama aku

ingin mengungkapkan ini. Aku......”

“Maksud mas Bram...?”

“Rennn... aku

mencintaimu....” Kata Bram pelan sambil menggenggam ke dua tangan Renata. Sementara

Renata diam dengan kepala menunduk, tidak berani melihat wajah Bram. Ada

perasaan sedih mendengar ungkapan Bram. Tiba-tiba bayangan wajah Aditya muncul

dalam pikirannya. Luka itu kembali sakit. Ada rasa nyeri di hatinya

“Perasaan ini muncul

sejak pertama aku melihatmu makan siang dengan Tia. Aku melihatmu dari jauh.

Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Apalagi saat melihat kamu mengusap air

mata. Yang kedua, saat di gereja, kembali aku melihat air mata menetes dari

sudut matamu. Hatiku merasa sakit melihatnya. Mungkin kamu tidak menyadari aku

berada tidak jauh darimu, aku melihat semuanya...”

Renata

mengangkat mukanya, melihat ke arah Bram dengan pandangan heran, dan masih tetap

diam.

“Ya....

aku melihatnya Ren... kamu nampak begitu terluka. Sejak itu aku tidak bisa

menghilangkan bayanganmu. Aku tadinya menyangkal perasaanku sendiri. Aku seperti

tidak yakin. Tapi semakin aku berusaha menghilangkan bayanganmu, semakin kuat

pula perasaanku..”

“Tapi

mas... ini terlalu .......”

“Aku

tahu Ren... itu terlalu cepat untukmu, kita kenal baru sebentar, dan mungkin

menurutmu masih butuh waktu. Tapi buat aku tidak. Aku tidak butuh waktu yang lama

untuk lebih mengenal siapa dirimu dan memastikan perasaanku padamu. Aku juga

awalnya tidak tahu, kemana cinta ini akan berlabuh. Aku sudah memantapkan hatiku,

bukan hanya sekedar teman, tapi aku ingin lebih jauh dari itu, bahkan sampai ke

jenjang pernikahan...”

Renata

kaget, dia kembali memandang wajah Bram. Dan lagi-lagi ada kesungguhan di situ.

Renata tidak menemukan kebohongan dalam mata Bram.

“Mas..

Aku belum....” Kata Renata yang langsung dipotong Bram

“Ren...., kamu pernah

disakiti, dikhianati, dan itu yang membuat kamu tertutup kan. Maaf... aku sudah

tahu banyak tentang kamu, dan aku sangat paham. Mungkin kamu juga sudah tahu

tentang masa laluku dari Tia. Kita sama-sama pernah disakiti, dikhianati oleh orang

yang kita cintai... dan itu sangat menyakitkan...” Bram membuang nafasnya

dengan berat.

Tiba-tiba Renata

terisak... air matanya turun dengan deras. Bram makin erat menggenggam tangan

Renata, kemudian mengulurkan tisue. Suasana kembali sunyi, Renata terlihat menghapus

air matanya yang terus mengalir. Bram merasa sakit melihat Renata terisak lirih,

hatinya ikut terluka. Kemudian dia menarik Renata untuk memeluknya dari samping

dengan satu tangan, sedang tangan satunya tetap menggenggam tangan Renata. Seolah-olah

memberi kekuatan pada Renata. Bram membiarkan Renata tetap terisak. Mungkin

dengan begitu Renata bisa lebih lega. Tak lama kemudian...

“Ren... aku berpikir,

dengan pengalaman masa lalu yang sama-sama menyakitkan, kita bisa saling

menguatkan. Kita bisa saling menopang. Aku tidak meminta kamu menjawab sekarang.

Aku akan menunggu, tapi paling tidak kamu sudah tahu, kalau aku benar-benar

mencintaimu. Aku ingin kita bersatu selamanya, sampai tua....”

Renata melepaskan diri

dari pelukan Bram dan melihat wajah Bram. Air matanya masih terus mengalir, kepalanya

menggeleng-geleng tapi mulutnya tidak bisa berkata-kata. Bram makin iba. Dia

melihat Renata benar-benar terpuruk dengan kondisi seperti ini. Bahunya masih bergoncang

karena menahan isaknya.

“Tidak usah bicarapun aku

tahu Ren, kamu belum bisa membuka hatimu. Karena lukamu itu terlalu dalam,

seperti yang juga pernah aku rasakan. Tidak usah dijawab sekarang... Aku akan

menunggu...”

Tiba-tiba Bram menarik tangan

kanan Renata dan menciumnya. “Aku mencintaimu Ren... aku ingin selamanya bersamamu...”

Setelah agak tenang,

Renata mencoba bicara pelan.

“Mas... maaf... aku tidak

tahu mesti jawab apa. Ini semua terlalu tiba-tiba mas...”

“Jangan dijawab sekarang

Ren, aku akan menunggu....” Renata diam, kemudian menghela nafasnya. Hatinya

benar-benar merasa bimbang. Bram memang baik, bahkan terlalu baik. Dia

memperlakukan dirinya dengan lembut, tapi...kenapa hatinya belum bisa menerima

kehadirannya. Apalagi membalas cintanya. Ah...Aditya... kenapa luka yang kamu

tinggalkan begitu dalam? Air mata Renata kembali menetes. Renata buru-buru

menghapusnya.

“Ren maaf kalau omonganku

membuatmu mengingat luka lama...”

“Gak mas... aku aja yang

terlalu cengeng... beri aku waktu mas...” Kata Renata pelan.

“Itu pasti Ren... berapa

lama kamu butuh waktu..? Tapi selama itu aku mohon, ijinkan aku untuk tetap

dekat denganmu, dan kamu jangan menghindar dariku seperti yang sudah-sudah kamu

lakukan terhadap orang lain.”

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!