NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 - Wajah yang Seharusnya Sudah Tiada

"**Raka...**"

Gerakan bibir perempuan itu begitu pelan.

Namun cukup membuat dunia Raka seakan berhenti berputar.

Tangannya yang memegang buku harian langsung gemetar.

"Itu..."

Suaranya tercekat.

"Itu tidak mungkin."

Alea ikut mengintip dari balik jendela.

Perempuan itu berusia sekitar empat puluh lima tahun. Wajahnya anggun, dengan rambut hitam yang disanggul sederhana.

Yang membuat Alea ikut terkejut bukan hanya kemiripannya dengan foto lama.

Melainkan mata perempuan itu.

Tatapan lembut yang sama.

Senyum yang sama.

Bahkan lesung pipi di pipi kirinya pun sama persis dengan perempuan dalam foto tahun 1998.

"Raka..."

bisik Alea.

"Jangan gegabah."

---

Perempuan itu melangkah mendekati pintu vila.

Empat pria yang mengawalnya tetap berjaga di halaman.

Anehnya...

Mereka tidak membawa senjata secara terang-terangan.

Tidak terlihat seperti hendak menyerang.

Tok...

Tok...

Tok...

Ketukan terdengar pelan.

Tidak tergesa.

Tidak memaksa.

"Raka."

Suara perempuan itu terdengar jelas dari balik pintu.

"Aku tahu kamu ada di dalam."

Alea menoleh ke arah Raka.

Wajah suaminya kini dipenuhi kebingungan.

Selama lebih dari dua puluh tahun...

Ia percaya ibunya telah meninggal.

Lalu siapa perempuan di luar itu?

"Pintu belakang," bisik Adrian.

"Kalau ini jebakan, kita masih bisa keluar."

Namun Raka menggeleng.

"Tidak."

"Aku harus melihat wajahnya dari dekat."

---

Raka menuruni tangga perlahan.

Setiap langkah terasa semakin berat.

Begitu sampai di depan pintu...

Ia berhenti beberapa detik.

Tangannya menggenggam gagang pintu.

Lalu...

**Klik.**

Pintu terbuka.

Perempuan itu berdiri hanya dua meter di depannya.

Mata mereka bertemu.

Tak ada yang berbicara.

Air mata perempuan itu lebih dulu jatuh.

"Maafkan Mama..."

Kalimat itu membuat napas Raka tersendat.

Ia mundur selangkah.

"Tidak..."

"Ibuku sudah meninggal."

Perempuan itu menggeleng sambil menangis.

"Mereka memaksaku menghilang."

"Mereka bilang kalau aku kembali..."

"...mereka akan membunuhmu."

Raka mengepalkan kedua tangannya.

"Aku tidak percaya."

"Aku tahu."

Perempuan itu mengusap air matanya.

"Kalau aku di posisimu..."

"...aku juga tidak akan percaya."

---

Adrian memperhatikan situasi dengan penuh waspada.

Ia tidak menurunkan kewaspadaan sedikit pun.

"Kalau Ibu benar Melati..."

"Tunjukkan sesuatu yang hanya diketahui keluarga."

Perempuan itu menarik napas panjang.

"Lengan kanan Raka."

"Ada bekas luka sepanjang tiga sentimeter."

"Karena jatuh dari pohon mangga saat berumur enam tahun."

Raka membeku.

Bekas luka itu memang ada.

Namun hanya sedikit orang yang mengetahuinya.

Perempuan itu melanjutkan.

"Setiap kali menangis..."

"...kamu selalu menggigit ujung bantal."

"Dan sebelum tidur..."

"...kamu selalu minta dinyanyikan lagu 'Nina Bobo' meski usiamu sudah tujuh tahun."

Air mata Raka jatuh tanpa bisa ditahan.

Kenangan-kenangan kecil yang bahkan sudah ia lupakan...

Perlahan muncul kembali.

---

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Suara Raka bergetar.

Perempuan itu menghela napas panjang.

"Dua puluh tahun lalu..."

"...rumah ini memang dibakar."

"Tapi target mereka bukan aku."

"Mereka ingin membunuh ayahmu."

"Ayahku?"

"Iya."

"Karena ayahmu menolak ikut dalam proyek pencucian uang."

Alea dan Adrian saling berpandangan.

Potongan-potongan teka-teki mulai tersambung.

"Setelah kebakaran..."

"Orang-orang itu menyebarkan kabar bahwa aku meninggal."

"Padahal aku dibawa pergi."

"Selama bertahun-tahun aku hidup dengan identitas baru."

"Lalu kenapa baru sekarang kembali?"

tanya Alea.

Tatapan Melati berubah sendu.

"Karena..."

"...orang yang selama ini melindungiku sudah meninggal."

---

Tiba-tiba...

Salah satu pria yang berjaga di halaman berlari mendekat.

"Nyonya!"

"Waktu kita habis!"

Melati langsung menoleh.

Wajahnya berubah tegang.

"Mereka sudah datang."

"Siapa?"

Belum sempat menjawab...

Suara tembakan terdengar dari arah gerbang.

**Dor!**

Kaca depan vila langsung pecah.

"Awas!"

Raka spontan menarik Alea ke balik dinding.

Adrian mengeluarkan pistolnya.

Dua pria berpakaian hitam menerobos masuk dari halaman belakang.

Mereka bukan orang-orang yang mengawal Melati.

Mereka kelompok lain.

Kelompok yang datang untuk membungkam semua saksi.

Melati memeluk buku harian yang tadi sempat diambil Raka.

Wajahnya pucat.

"Mereka tidak boleh mendapatkan buku ini."

"Kenapa?"

"Karena..."

"...di halaman terakhir ada nama orang yang memerintahkan pembunuhan ayahmu."

Semua membeku.

Nama dalang utama...

Ternyata selama ini tersimpan di dalam buku harian Melati.

Dan kini...

Mereka harus mempertahankan buku itu dengan nyawa mereka.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!