NovelToon NovelToon
Akupun Menyerah

Akupun Menyerah

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:501.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: parida hakim

Nayara syila, aku adalah seorang istri dari laki-laki yang bernama Sebastian Aydan. Tiga bulan yang lalu kami menikah karena perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tua kami.

Selama tiga bulan pernikahan kami berlangsung, Mas Tian tidak pernah menganggap aku sebagai istrinya sama sekali.

Hingga suatu hari, aku begitu terkejut, jantungku seakan berhenti berdetak, dan hatiku hancur berkeping-keping saat mengetahui tentang sebuah kebenaran. Kebenaran kalau ternyata suamiku telah menikahi wanita lain selain aku.

Seorang wanita yang menjadi kekasihnya sebelum kami menikah.

Lalu, disisa kesabaranku yang tinggal sedikit, maka Akupun Menyerah dan memilih untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon parida hakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang ketiga

Meskipun ragu, tapi keputusanku sudah bulat.

Aku berdiri tepat di depan pintu yang terbuat dari kayu jati itu dengan perasaan tak menentu. Mataku berpendar melihat ke sekeliling yang tampak sepi dari luar itu. Ku yakin disini tidak banyak orang yang tinggal. Setelah cukup lama aku berdiri, maka akupun memutuskan untuk mengetuk pintunya sekarang.

Satu kali ku ketuk pintu itu namun tak ada jawaban. Hingga di ketukan yang ketiga, barulah aku mendengar suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut dan mendayu dari dalam rumah.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debaran jantungku yang berdebar tak beraturan. Hingga pintu di depanku itu terbuka, munculah seorang wanita yang sangat cantik. Baik aku dan wanita itu, kami berdua menunjukkan reaksi sama-sama saling terkejut.

Aku menatapnya sekarang, pun dengan wanita yang sekarang berdiri di hadapanku itu dengan wajah pucat dan tubuh yang menegang kaku.

"Ca-ri siapa ya?"

"Kamu Mentari, kan?" Meskipun di dalam poto dan pada saat bertemu di acara makan malam itu sangat berbeda, tapi aku yakin kalau wanita ini adalah Mentari.

"I - iya." Jawabnya terbata. "Kamu ... sendiri?" Akupun yakin kalau sebenarnya dia sudah tahu siapa aku.

"Boleh aku masuk?" Lagi, aku mengabaikan pertanyaannya.

"Oh ..." Aku melihat wanita itu sedikit gelisah. "Boleh, silahkan masuk." Titahnya kemudian yang membuat aku tak tinggal diam lagi.

Begitu masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup besar itu, aku berdecak penuh kagum. Semuanya nampak bersih dan barang-barang yang aku yakini mempunyai harga fantastis itu tersusun begitu rapi di atas meja maupun dalam lemari. Tapi bukan itu yang sekarang menjadi pusat perhatianku, di antara beberapa poto yang tertata rapi disana, ada satu poto yang membuat mataku membulat sempurna, akupun membelalak tak percaya. Aku semakin mendekat, ingin melihat dengan jelas apa yang sekarang sedang aku lihat itu. Jangan tanyakan dengan dadaku yang berdebar kencang melebihi batasnya sekarang.

"Ya Tuhan ..." Ku tutup mulutku dengan kedua tangan. Bahuku merosot lemah. Jantungku seakan berhenti berdetak, dan hatiku seperti di remas kuat dari dalam sana saat aku mengetahui kalau ternyata suamiku telah menikahi wanita lain selain aku.

Tubuhku lemas, dan aku seperti tak memiliki kekuatan lagi sekarang.

"Mbak ... Aku bisa jelasin semuanya." Aku mendengar suara wanita itu bergetar.

"Sejak kapan?" Tanyaku masih tak percaya, pandangan ku tak lepas dari dua insan manusia yang sedang tersenyum bahagia di dalam poto itu. "Sejak kapan kalian menikah?" Ku tutup mataku rapat-rapat seraya mengepalkan kedua tanganku erat.

"Mbak ..."

"Jawab aku?" Bolehkah aku berteriak? Bolehkah aku mencaci? Bolehkah aku marah? Karena bagaimana pun aku juga istrinya - Istri yang tak pernah di anggap.

Ku putar badanku, lalu pandangan kami berdua pun bertemu.

"Jawab aku, sejak kapan kalian berdua menikah?" Ulangku lagi, tapi kali ini dengan suara yang melirih.

"Dua bulan yang lalu, Mbak." Jawabnya sembari menunduk.

Dua bulan yang lalu?

Satu bulan setelah menikah denganku, Tian sudah menikahi wanita lain selain aku?

Ya Tuhan ... Ku remat dadaku yang terasa sesak, meski aku tahu pernikahan kami bukanlah atas dasar cinta, tapi setidaknya Tian menghargai aku yang masih berstatus sebagai istrinya. Istri yang sah dimata agama maupun hukum.

Belum hilang rasa sesak di dadaku, aku harus kembali mendengar kenyataan pahit tentang alasan mereka berdua memutuskan untuk menikah.

"Kami berdua saling mencintai, jauh sebelum Mbak Naya hadir."

"Dari pada kami berbuat dosa, maka menikah adalah keputusan kami."

"Maafkan aku dan Mas Tian, Mbak."

"Maafkan kami yang masih saling mencintai."

Aku tersenyum meski hati ini sedikit berdenyut nyeri. Aku iri pada wanita cantik yang sekarang sedang berhadapan denganku saat ini. Tian menikahi ku karena terpaksa, sedangkan Mentari, lelaki itu menikahinya atas nama cinta. Mungkin, disini lah aku yang menjadi orang ketiga. Akulah yang membuat mereka berdua berpisah, Akulah yang telah menghancurkan hubungan yang sudah bertahun-tahun lamanya itu terjalin. Dan akupun hadir di kehidupan Tian, di saat laki-laki itu mencintai wanita lain.

Ya, akulah orang ketiga itu.

******

"Ada apa, Pak?" Tanya Rama begitu ia melihat Tian menyimpan ponselnya di atas meja dengan sentakan kasar.

"Pak ...?" Melihat dari raut wajah Tian yang berubah, ia sudah bisa menebak ada sesuatu yang tidak beres saat ini.

"Dia sudah tahu." Ujar Tian tiba-tiba seraya mengusap wajahnya kasar. Lelaki itu memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing.

Rama mengernyit, menatap Tian penuh tanya. "Maksud, Pak Tian?"

"Naya tahu kalo saya sudah menikah dengan, Tari." Jawabnya frustrasi. Lelaki itu berdecak seraya tersenyum miris. "Semuanya sudah terbongkar."

Rama hanya terdiam membisu saat Tian menceritakan tentang kedatangan Naya ke rumah Mentari tanpa sepengetahuannya. Tian pun mengatakan kalau Nayara, gadis itu sepertinya sangat kecewa dan terluka, gadis itu pun sempat menangis sebelum pergi dari rumah Tari, istri keduanya.

Tian yang merasa keberengsekannya itu sudah mulai terbongkar, ia pun pasrah dengan apa yang akan Naya lakukan. Tian juga harus menanggung semua akibatnya. Ia pun harus bersiap-siap menerima amukan dari sang Papa nantinya.

Tian yakin jika saat ini juga Nayara akan meminta berpisah darinya. Lalu, jika itu benar-benar terjadi, bagaimana nanti pernikahannya bersama Tari. Tian takut Papanya itu akan benar-benar memisahkan Tari darinya, atau mencoret namanya dari keluarga Aydan.

"Ram ..."

"Iya, Pak?"

"Batalkan semua meeting kita hari ini." Perintah Tian yang langsung di sanggupi oleh Rama. "Saya harus pergi sekarang."

Setelah itu, Tian pun merampas ponsel serta kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya sebelum kemudian ia keluar dari dalam ruang kerjanya itu. Tian membatalkan semua pertemuannya hari ini karena ada sesuatu yang di anggapnya lebih penting daripada pekerjaan.

Nayara,

Ya, gadis itulah yang kini membuat isi kepalanya terasa hampir mau meledak. Tian tahu cepat atau lambat, Naya pasti akan mengetahuinya. Meskipun tak ada cinta untuk gadis itu, tapi Tian tetap saja merasa bersalah karena ia telah menikahi Mentari tanpa ijin dan sepengetahuannya.

Lalu, kenapa Tian harus meminta izin pada Naya jika pernikahan mereka pun tak berarti apa-apa untuknya?

Bukankah menikah itu lebih baik daripada berselingkuh atau berbuat dosa nantinya.

******

"Mbok ... lihat Naya dimana?" Tanya Tian pada wanita paruh baya itu saat ia sudah masuk ke dalam rumahnya. Lelaki itu terlihat sedikit kusut tak seperti biasanya.

Setelah memutuskan pulang dari kantor lebih awal, Tian lebih dulu menemui Tari. Lelaki itu ingin bertanya dan mendengar secara langsung tentang kedatangan Nayara yang secara tiba-tiba ke rumahnya itu. Ada banyak hal yang Tian tanyakan pada Tari, dan yang membuat Tian tak percaya adalah dengan apa yang di katakan Nayara pada Tari.

"Kamu beruntung karena menjadi satu-satunya wanita yang di cintai oleh suamiku. Dan kamu harus bersyukur, karena Mas Tian adalah laki-laki setia. Meskipun ada aku, tapi di hatinya cuma ada kamu."

"Maaf, Pak. Sepertinya ... Bu Naya belum kembali." Jelas Mbok Iyam. Wanita paruh baya itu merasa aneh dengan kedatangan Tian yang langsung menanyakan tentang istrinya. Padahal, Tian tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.

"Memangnya, ada apa, Pak?" Kemudian rasa cemas pun menghampiri wanita paruh baya itu.

Tian menatap wanita paruh baya itu sekilas sebelum kemudian ia mengusap wajahnya gusar saat panggilannya yang kelima tak kunjung mendapatkan jawaban. Lelaki itu pun mendesah frustrasi sebelum kemudian ia melihat pada jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Sudah hampir jam sembilan malam, dan Nayara belum juga kembali.

Apa jangan-jangan gadis itu sudah pergi dari rumah ini?

Di saat ia sedang bertarung dengan pikirannya, di saat itu pula Tian mendengar suara derap langkah kaki seseorang memasuki ruangan. Tian hanya memandang dalam diam ketika melihat Naya sudah ada di hadapannya saat ini, berbeda dengan Mbok Iyam, wanita paruh baya itu merasa lega ketika melihat majikannya itu baik-baik saja.

...****************...

1
Heryta Herman
masih bnyknpria baik yg bisa terima naya apa adanya...
Heryta Herman
peraaanmu pun masih abu abu,labil...untuk apa mengejar nayara lagi,tian...biarkan nayara bahagia dgn pilihannya sendiri...
Heryta Herman
masih bnyk pria yg lbh baik di kuar sana...kenapa harus tian yg kembali...
Heryta Herman
ha ngaruh tian..
jngn percaya omongan tian,naya...
naya berhak bahagia dgn orang lain..siapapun itu...kecuali dgn tian..
Heryta Herman
jngn GR tian..itu semua masa lalu...naya juga jngn malu...masa lalu biar berlalu..skrng cari kebahagiaanmu sendiri...yg penting bukan dgn tian
Heryta Herman
bsdh baca pun tdk apa...tdk ada pengaruhnya..semua sdh berlalu...
Heryta Herman
karma di bayar tunai,tian..
Heryta Herman
hahaha..suka suka naya lah..mau dia seksi mau kerja club mlm...ga ada hubungannya ama kamu tian...kamu cuma masa lalu...rasain lu tian...emang enak di cuekin...
karma tian,karma...
Heryta Herman
kenapa tdk kem ali saja dgn arga...lelaki itu lbh baik dari tian...dan dia juga mencintai nayara..tdk sprti bastian.. dia tdk mencintai nayara dari awal...
seharusnya nayar untuk arga...apalagi arga juga cinta pertama nya nayara...aneh aja,kenapa jadi bastian yg dptkan nayara...
tapi balik lagi...ini kan dunia halu..terserah authornya mau bikin cerita kayak gini juga
Heryta Herman
baca dari awal sekilas,slps bnykkan skip...perasaan nyesek...wanita baik" kenapa harus di bikin sprti wanita murahan...
lelaki egois dan mau menang sendiri itu ga ada tmpt di hati wanita baik"...yg ada dgn wanita br****ek...ga ada akhlak...
kenapa juga akhirnya mau balikan sama mantan...
Ika
untung bacanya lngsung lompat ending jd gak nyesel baca krn endingya gak sesuai mlhn balikan lagi
Ika
apapun alasannya yang namanya nikah diam2 tetap saja salah. semoga maya gak kembali sama tian
Mira Nio
kenapa sih thor cinta itu kembali lagi apa tidak ada cinta yg lain saja
Sefri Purnamasari Manan
endingnya nggak enak,kok jd ma tian,bodoh banget mau balikkan,kasian raffi
Susanna Nancy Macpal
thor,aku kok kecewa ya kalau Nara jadian lg ama Tian
Berlin Pasalli
Ais
Berlin Pasalli
Thor janganlah di jodohkan sama Tian lagi ! kasi ke' laki yg lebih baik biarlah TDK kaya yg penting lebih baik dari tian
Niken Lestari
aku gak rela tian am naya
Yunerty Blessa
Makasih kak thor buat karya yang indah ini.. sungguh mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu
Yunerty Blessa: Sama juga kak thor..
Okey 👍👍
total 2 replies
Yunerty Blessa
sudah tamat.. sungguh terharu,,tapi apa pun Tian kembali bersama Naya..makasih kak thor 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!