Permainan hidup mengoyak semua orang yang datang ke desa Sambayang untuk tinggal disana.
Darah, Tumbal, Keserakahan bahkan intrik manusia menghalalkan segala cara demi kesenangan sementara.
Waktu bukanlah teman melainkan lawan, hidup di desa Sambayang tidak seperti yang terlihat oleh mata.
Dasa mengetahui bahwa untuk bisa bertahan lebih lama di desa Sambayang haruslah berkompromi dengan cepat demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Iapun menyerahkan nyawanya demi semua warga desa dan keluarganya keluar dari desa. Namun, aura mistis desa Sambayang tidak puas maka tangan-tangan tak terlihat mulai menarik pulang satu persatu warga desa termasuk keluarganya.
Apa yang akan dilakukan oleh Dasa, saat tahu ia tahu? Bagaimana caranya melawan ganasnya aura mistis desa Sambayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wish0430, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
"Ibu..."
Gani terus berlari menuju rumah sambil berteriak memanggil ibunya, dasa berdiri mendadak membuat semua orang disekitarnya kaget. Mereka semua berpandangan lalu berusaha untuk mencegah dasa untuk bertindak aneh-aneh tapi Dasa bergegas menuju pintu depan, ia tertegun melihat Gani putranya berlari kearahnya seakan terbang.
"Gani..Gani...anak ibu"
Begitu didekatnya, cepat didekapnya erat Gani, air mata keduanya tumpah bersamaan.
"Jangan tinggalkan ibu, ibu cuma punya Gani"
"maaf Gani, Bu"
Dasa mengendong Gani untuk masuk kedalam rumah, melihat itu semua bersyukur akhirnya Gani pulang, tak kekurangan apapun. Gani menceritakan tentang seorang wanita yang menolongnya keluar dari hutan keramat. Banyak pertanyaan dilontarkan tapi dijawab Gani layaknya anak kecil yang takjub dengan hutan keramat.
Keringat dingin mulai menusuk tulang belakang dasa mendengarkan cerita Gani, wajahnya memucat, tangannya gemetaran tetapi ia tidak memperlihatkan hingga semua orang kembali ke rumah masing-masing.
Gani tertidur pulas di tempat tidur dasa, dielusnya rambut Gani yang kecoklatan mirip bapaknya.
"Suteja, apa yang terjadi?"bisiknya pelan sambil mengamati wajah Gani yang polos dalam tidurnya. Matanya tertegun melihat sebuah tanda berwarna hitam menyerupai cincin melingkar di jari putranya.
"Ini apa?"
Berulangkali dasa berusaha menghapus tanda itu tapi putranya merasa terganggu oleh gerakannya, terpaksa dasa berhenti, ia tidak ingin putranya terbangun.
Kaki dasa mondar-mandir di karpet sebentar duduk di samping Gani, sebentar lagi mondar-mandir. Hatinya resah dengan dugaan-dugaan yang terlintas di kepalanya.
Perasaan takut akan kehilangan Gani bertambah kuat, cepat dipeluknya erat-erat sambil berusaha untuk tidur.
Angin berhembus kencang dari arah luar, rasa lelah menguasai setiap orang untuk segera tidur.
Juragan Suteja gugup saat dasa yang berusaha menghapus tanda itu tapi untungnya Gani bergerak, kalau tidak ia tidak tahu apa yang akan dilakukan dasa.
"Apa kamu kecewa?"
Juragan Suteja menoleh ke samping kanannya yang sudah berdiri wanita penjelmaan goa. wajah cantiknya sungguh menggoda untuk disentuh dan dimiliki siapapun.
"A.."
"Apa kamu menyalahkan aku?"
"Tidak..tidak.."
"Aku menyukai putramu, dia milikku"
"Itu..."
"Apa kamu keberatan?"
Juragan Suteja menggeleng kepala, takut wanita ini bertindak diluar batas.
"Aku lelah, ayo pulang, temani aku"
Juragan Suteja pasrah mengikuti langkah wanita itu yang cepat menghilang. Sorot matanya sedih menatap rumah itu, ia hanya makhluk jadi-jadian.
***
Suara tangis memecahkan keheningan malam ini, Cahaya berlari kencang mendekat putri kecilnya yang berjongkok dekat pintu masuk rumah
"Ada apa sayang"
"Kaki Ama luka, sakit"
"Coba bunda lihat"
Digendong putri kesayangannya cahaya marlot yang biasa dipanggil Ama. Tampak darah keluar dari telapak kaki Ama, cahaya buru-buru membersihkan. Marlot yang keluar dari kamar mandi, kaget melihat keduanya sibuk di dapur.
"Kaki Ama sakit, ayah"
"Mana"
Kaki kecil Ama disodorkan kepada marlot, marlot terkejut darah yang keluar tidak juga berhenti. Belum selesai keterkejutan yang dirasakannya tiba-tiba Ama ambruk di pelukan cahaya.
"Bawa kerumah sakit saja mas"
"Ayo"
Mereka berdua cepat membawa Ama kerumah sakit. Wajah Ama memucat, darah di kaki terus menerus keluar membasahi pakaian Cahaya.
Sesampainya di ruang UGD, Ama diberikan pertolongan pertama kemudian disarankan untuk menginap sehari untuk pengecekan lanjutan. Marlot menyanggupi permintaan dokter UGD, ia ketakutan melihat Ama yang tidak pernah sakit sejak kecil, mendadak seperti ini.
Sorot mata marlot dan cahaya kosong melihat putrinya berkali kali bergerak mengubah posisi tidurnya seperti mimpi buruk.
"Sayang"
Cahaya bergerak ingin membangunkan Ama tapi dicegah marlot, cahaya terlihat bingung.
"Tidak apa hanya mimpi buruk"
"Sebenarnya ada apa ini"
Marlot menggeleng kepala tidak tahu harus berkata apa. Cahaya menunduk lesu, tangannya digenggam marlot.
"Kita tunggu dokter besok, tidurlah, aku tidak ingin kamu sakit, kasihan Ama"
Cahaya mengangguk sambil menyenderkan kepalanya di bahu marlot. Tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua, hanya terdengar dengkuran tanda terlelap.
Mata Ama terbuka perlahan dan duduk di ranjang rumah sakit. Sosok bayangan masuk kedalam kamar ini. Ama diam memperhatikan gerakan bayangan yang terbentuk menjadi sosok manusia, kepalanya dimiringkan untuk melihat lebih jelas.
"Paman"
Bayangan itu berangsur-angsur memperlihatkan wujudnya kepada Ama. Mata Ama melebar mengetahui bahwa itu juragan Suteja.
"Halo Ama"
"Paman"
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Kaki Ama luka"
"Coba paman lihat ya"
Ama mengangguk lemah, tangan Suteja mengusap pelan kaki Ama, ajaib tiba-tiba menghilang begitu saja. Ama menatap takjub nyaris bertepuk tangan kalau tidak dicegah Suteja, diberikan kode untuk menutup mulut agar tidak menganggu ayah dan bunda.
"Paman keren"
Suteja mengusap rambut Ama dengan sayang, perlahan-lahan Ama tertidur kembali. Helaan nafas panjang ketika melihat Ama sebelum pergi meninggalkan kamar rumah sakit. Marlot membuka matanya perlahan dan tertegun, ia tidak tidur, ia tahu siapa yang datang. ia bangun memperhatikan kondisi Ama dan bersyukur dalam keadaan baik-baik saja.
Marlot keluar dari kamar rumah sakit, sebentar ia menyalakan rokok favoritnya. Pikirannya kacau, ia sudah lama tidak berhubungan dengan makhluk itu sejak kelahiran Ama.
"Aku butuh bantuan darimu"
Marlot kaget mendengarnya kemudian ia menoleh kearah asal suara. Makhluk itu menampakkan diri kehadapan marlot.
"Apa yang kamu inginkan"
"Pulang ke desa Sambayang"
"Tidak...tidak"
"Apa hidup yang kuberikan, membuatmu lupa darimana?"
"Ini.."
"Hasil kerjamu? tanpa campur tangan perjanjian gaib tidak mungkin kamu mendapatkan apa yang kamu miliki sekarang"
"Tapi..aku melakukan semuanya"
"Anakmu bagian perjanjian gaib, seharusnya mati"
Wajah marlot seketika pucat mendengar nama anaknya disebut.
"Apa kamu pikir perjanjian gaib sudah selesai?"
Gemetar kaki marlot bahkan tangannya tak mampu memegang rokok ditangan hingga jatuh di lantai. Makhluk itu menyeringai lalu berubah wujud menjadi Suteja. Mata marlot terbelalak melihat perubahan wajah didepannya.
"Pikirkan baik-baik sebelum bertindak Marlot, pulang ke desa Sambayang dan bantu aku"
"Apa yang kamu butuhkan"
"Selamatkan putraku dan dasa"
"Putra?"
"Yah, aku menikahi dasa, anakku bernama Ganindra Suteja"
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
"Perjanjian gaib seharusnya tetap berjalan seperti biasa, karena kebodohan dan cinta mengubah jalannya perjanjian"
"Dan aku harus membayar?"
"Tidak hanya kamu, istrimu cahaya juga"
Marlot kaget mendengar nama istrinya disebut, setahu ia, istrinya tidak ada sangkut pautnya dengan perjanjian gaib.
"Istrimu sudah jatuh tempo"
"Maksudnya?"
"Tanyalah kepada istrimu, aku pergi dulu, jangan terlalu lama kalau tidak ingin anakmu menjadi penebusan tumbal syarat perjanjian gaib"
Setelah mengatakan itu, Suteja pergi meninggalkan marlot yang terdiam mendengar peringatan Suteja.
Marlot masuk kedalam kamar inap Ama. Diam. Ia memperhatikan kaki Ama yang tidak lagi mengeluarkan darah, perbannya bersih. Dipandanginya wajah cahaya kemudian Ama putrinya, kepalanya mau pecah memikirkan apa yang baru saja didengarnya.
Iapun duduk disebelah Cahaya, Cahaya yang merasakan tubuh suaminya segera memindahkan posisi tidur lebih nyaman kearah Marlot.
jangan lupa like nanti ku feedback
biar lebih nyambung lagi
...
jadi gak banyak tipo ..biar gak susah juga pemahaman ceritanya
mampir ya kak di tulisanku Putih Abu-Abu 2010 kasih like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
Jangan lupa baca juga cerita aku judulnya 'BUTTERFLY EFFECT'