Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 ~ Pertama Kali
Sinar matahari pagi mulai menyelinap lembut melalui celah tirai tebal, menyentuh permukaan ranjang besar itu. Evelyn perlahan mulai sadar, namun rasa nyeri di sekujur tubuhnya membuatnya mengerang pelan saat mencoba bergerak. Kepalanya masih terasa berat dan pening sisa mabuk semalam.
Ia membuka matanya perlahan, namun seketika tubuhnya menegang kaku.
Di sebelahnya, terbaring Damian Foster. Tanpa busana, tidur pulas dengan napas teratur. Ingatan semalam yang kabur namun membara seketika menyerbu masuk ke benaknya, sentuhan panas, ciuman liar, dan keintiman yang tak seharusnya terjadi.
Wajah Evelyn seketika memucat lalu memerah padam karena malu dan ngeri. Ia menunduk menatap dirinya sendiri; tubuhnya telanjang bulat, penuh bekas sentuhan dan ciuman yang nyata. Semua pertahanan, semua kebohongan yang ia bangun selama tiga tahun, seolah runtuh dalam satu malam kelam itu.
"Tidak..." bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca ketakutan. Jantungnya berdegup kencang luar biasa.
Ia segera bergerak perlahan, berusaha tak menimbulkan suara sedikitpun agar tidak membangunkan pria di sampingnya. Dengan tangan gemetar hebat, ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu mulai mencari-cari pakaiannya yang berserakan berantakan di lantai dan sudut kamar.
Evelyn melirik Damian sekali lagi. Pria itu masih terlelap dalam tidurnya yang pulas, wajahnya tampak tenang tanpa ekspresi dingin yang biasa ia tunjukkan. Evelyn tahu, ia harus pergi dari sini sekarang juga sebelum Damian sadar dan mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Dengan napas tertahan, ia merangkum pakaiannya, lalu melangkah berjinjit secepat mungkin menuju pintu keluar, berharap bisa lolos tanpa ketahuan.
Evelyn kembali ke kabinnya sendiri dengan langkah terhuyung dan hati yang berdegup kencang. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia pun bersandar lemas sejenak, baru kemudian bergegas masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan keran air dengan deras, membiarkan butiran bening itu membasuh seluruh tubuhnya, namun bayangan kejadian semalam terus berputar tak henti di kepalanya.
Setiap sentuhan, setiap ciuman, dan kehangatan tubuh Damian terasa begitu nyata dan membekas. Di balik rasa takut dan panik, ada rasa getir yang menghujam dadanya: ia telah melepaskan keperawanannya, hal paling berharga dalam hidupnya, kepada pria yang selama ini ia kagumi dalam diam dan samaran.
Sambil membiarkan air mengalir di wajahnya, pikiran Evelyn melayang pada satu pertanyaan besar yang tak kunjung usai.
"Apakah... apakah itu juga pertama kalinya untuk Damian?"
Ia teringat bagaimana pria itu begitu haus, penuh kerinduan, dan seolah tak menguasai situasi sama sekali semalam. Sikapnya yang biasanya dingin, terkendali, dan berwibawa seolah hilang tak berbekas. Apakah itu murni karena pengaruh obat? Atau mungkin... ada sesuatu yang lain? Bahwa Damian tak pernah benar-benar menyentuh wanita lain sebelumnya?
Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak dan bingung. Ia mengusap tubuhnya sendiri perlahan, merasakan sisa nyeri yang masih tertinggal, bukti nyata dari malam tak terlupakan yang mengubah seluruh nasibnya selamanya.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian kerjanya kembali, menyempurnakan penyamarannya sebagai Evan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang tegas.
Tok.
Tok.
Tok.
Jantung Evelyn seolah berhenti berdetak seketika. Tubuhnya menegang kaku di tempat. Siapa yang datang? Apakah Damian sudah bangun? Apakah dia tahu keberadaannya di sini? Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya, rasa takut tertangkap basah membuatnya nyaris tak sanggup melangkah.
Dengan tangan gemetar hebat, ia mendekatkan bibirnya ke pintu.
"I-iya... sebentar," jawabnya berusaha mengeraskan nada suaranya agar terdengar seperti biasa, meski suaranya masih terdengar sedikit tercekat.
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mengamuk, lalu perlahan membuka pintu itu sedikit demi sedikit.
Pintu terbuka perlahan, dan seketika darah Evelyn serasa berhenti mengalir. Damian berdiri tegak di sana, wajahnya masih tampak sedikit pucat namun sorot matanya tajam, menyelidik, dan penuh ketegangan yang tak bisa dijelaskan.
"Evan, ada yang ingin aku bicarakan. Penting!" ucapnya tegas, tanpa memberikan ruang untuk penolakan.
Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Damian melangkah masuk melewati samping Evelyn, lalu menutup pintu kabin itu rapat di belakangnya. Suasana seketika menjadi hening dan sesak napas. Evelyn berdiri terpaku di dekat pintu, jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak, tubuhnya kaku menahan rasa takut akan hal terburuk yang mungkin akan segera terungkap.
Damian berdiri mematung di tengah ruangan, matanya menelusuri setiap sudut seolah mencari jawaban atas kegelisahan yang menghantui benaknya sejak terbangun tadi. Ia berbalik perlahan menatap Evelyn yang masih berdiri kaku di dekat pintu, wajahnya tertutup topeng kacamata namun ketakutan di baliknya begitu terasa.
"Aku tidak tau apa yang terjadi semalam. Tapi aku bangun pagi ini dengan perasaan yang sangat aneh..." ucap Damian pelan namun berat, suaranya bergema di ruangan yang hening. "Ingatanku semalam kabur, namun ada potongan kejadian yang terasa begitu nyata. Perasaan itu... sentuhan itu..."
Damian melangkah mendekat perlahan, membuat napas Evelyn tercekat di kerongkongan.
"Di kamarku, aku menemukan jejak-jejak yang membuktikan aku tidak sendirian. Dan anehnya, tubuhku terasa ringan seolah telah melepaskan sesuatu yang berat, namun sekaligus terasa asing," lanjutnya, matanya tak lepas dari wajah Evelyn. "Kau tahu sesuatu tentang hal ini, bukan? Kau tau siapa wanita yang semalam tidur bersamaku?"
Evelyn sontak membulatkan mata, terkejut mendengar pertanyaan lugas itu. Namun seketika itu juga, rasa lega yang luar biasa menyusup cepat di tengah ketakutannya. Damian tidak ingat. Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa sosok yang bersamanya semalam adalah dirinya—sekretaris yang ia anggap laki-laki.
Evelyn menarik napas pelan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih mengamuk, lalu menyusun rapi topengnya kembali. Ia menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik kacamata tebal itu.
"Saya... saya tidak tahu, Tuan," jawabnya dengan nada suara yang ia usahakan tetap datar dan berat, berusaha sebaik mungkin tak terlihat gugup. "Saya hanya mengantar Tuan masuk ke kamar karena kondisi Tuan yang tidak sadarkan diri, lalu saya segera pergi. Saya tidak melihat ada siapa-siapa, dan tidak tahu kejadian selanjutnya."
Damian menatapnya lekat-lekat, seolah berusaha menembus kebohongan di balik tatapan itu. Namun wajah Evelyn terlihat tenang dan sopan, persis seperti biasanya.
"Benarkah?" gumam Damian ragu, namun sorot matanya perlahan melemah. "Sangat aneh... rasanya begitu nyata, namun bayangannya kabur seolah mimpi. Wanita itu... rasanya begitu dekat, namun tak bisa aku tangkap siapa rupa aslinya."
"Evan.... Kau sedang tidak berbohong padaku, bukan?" tanya Damian tajam, matanya menyelidik lekat-lekat.
Sudah tiga tahun Damian bekerja berdampingan dengan Evan, dan ia sangat hafal betul setiap perubahan kecil pada diri sekretarisnya ini. Ia bisa melihat dengan jelas, meski samar, bahwa Evan saat ini tampak gugup, berbeda dari biasanya yang tenang dan terkendali.
Evelyn menelan ludah dengan susah payah, jantungnya rasanya mau copot. Namun ia berusaha menegakkan wajah sebaik mungkin.
"Saya tidak berbohong, Tuan," jawabnya, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar.
Damian menatapnya sejenak lagi, lalu tiba-tiba tangannya mencengkeram lengan Evelyn dan menariknya mendekat.
"Kalau begitu, ikut aku sekarang," perintahnya tegas dan tak terbantahkan. "Kita ke ruang CCTV. Kita lihat bersama, siapa sebenarnya sosok yang masuk ke dalam kabinku semalam."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya