Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: ORANG KETIGA YANG MASUK KE ANTARA KITA
Hening kembali menyelimuti hubungan mereka, namun kali ini bukan karena jarak atau ketidaktahuan, melainkan karena ada rasa segan yang mulai tumbuh di antara keduanya. Rian berusaha sebaik mungkin menjaga sikap, tidak lagi melontarkan kata-kata yang menyiratkan harapan berlebihan, namun tetap hadir setiap kali Nadia membutuhkan dukungan—baik dalam urusan pekerjaan maupun hal-hal kecil yang tak disadari orang lain.
Namun kedamaian itu kembali terganggu saat seseorang muncul dari masa lalu. Namanya adalah Ardi, seorang pengusaha muda yang juga putra mitra lama keluarga Arka. Ia baru saja pulang dari luar negeri dan langsung diarahkan untuk bekerja sama lebih erat dengan Grup Arka. Ardi bukan saja tampan, sopan, dan berwawasan luas, tetapi juga dikenal orang yang tulus dan dihormati di lingkungan bisnis.
Sejak pertama kali bertemu, Ardi memperlakukan Nadia dengan perhatian yang istimewa. Ia selalu menyempatkan waktu untuk menyapa, membawa buku referensi yang Nadia butuhkan, atau sekadar menemani berdiskusi hingga larut tanpa pernah terlihat berlebihan. Semua orang yang melihat mereka sepakat: mereka serasi, setara, dan saling melengkapi. Bahkan banyak yang berbisik bahwa Ardi adalah pasangan yang tepat untuk CEO hebat seperti Nadia—seseorang yang tidak akan pernah meremehkannya, seseorang yang berdiri di sampingnya dengan kedudukan yang sama.
Berita itu lambat laun sampai ke telinga Rian. Setiap kali melihat Ardi berdiri di samping Nadia, berbicara dengan penuh penghargaan dan tatapan yang jelas menyimpan kekaguman, dada Rian terasa seperti dihimpit benda berat. Ia sadar betul: Ardi adalah pria yang pantas untuk Nadia—berbeda dengannya yang hanya datang membawa penyesalan dan luka lama.
Suatu sore, di ruang rapat setelah semua orang pulang, hanya tersisa Nadia, Ardi, dan Rian yang masih merapikan berkas di sudut ruangan. Ardi menyodorkan sebuah amplop kecil berisi tiket undangan ke pesta peringatan kerja sama perusahaan besar di kota ini.
"Saya harap Bapak Nadia berkenan hadir sebagai pasangan saya," ucap Ardi dengan senyum tulus. "Saya ingin memperkenalkan seseorang yang saya kagumi dan hormati kepada semua rekan bisnis saya dari luar kota. Dan tidak ada orang lain yang lebih pantas mendampingi saya selain Anda."
Nadia terdiam sejenak, tersenyum sopan namun belum menjawab. Di sudut ruangan, tangan Rian berhenti bergerak. Napasnya tertahan di kerongkongan, menunggu jawaban yang ia takutkan sekaligus sadar mungkin memang seharusnya begitu. Nadia berhak bahagia dengan pria yang jauh lebih baik darinya—pria yang tidak pernah menyakiti hatinya, pria yang bisa berdiri sejajar tanpa merasa kecil atau terbebani.
"Saya terima kasih atas undangannya, Ardi," jawab Nadia pelan namun tegas. "Saya sangat menghargai niat baikmu. Namun untuk saat ini, saya ingin fokus sepenuhnya pada pekerjaan dan penyelesaian proyek yang sedang berjalan. Saya belum siap untuk didampingi siapa pun dalam acara semacam itu."
Ardi tidak kecewa, ia justru tersenyum penuh pengertian. "Saya mengerti sepenuhnya. Dan saya akan menunggu, selama yang dibutuhkan. Karena saya tahu, wanita sehebat dan sebaik Anda memang pantas diperjuangkan dengan kesabaran."
Setelah Ardi berpamitan dan pergi, ruangan kembali hening. Rian masih berdiri di tempatnya, menatap kosong ke arah berkas di tangannya. Ia tahu seharusnya ia merasa lega karena Nadia menolaknya, namun di saat yang sama ia sadar: penolakan itu bukan berarti untuknya. Itu berarti untuk dirinya sendiri—Nadia sedang berusaha berdiri sendiri, tanpa bersandar pada siapa pun.
"Kau belum pulang?" tanya Nadia yang berbalik dan melihat Rian masih di sana.
Rian mengangguk pelan, menurunkan pandangannya. "Saya... saya hanya ingin mengatakan satu hal. Ardi pria yang baik, Nad. Dia setara denganmu, dia bisa memberimu masa depan yang cerah tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam. Kalau suatu saat kau memilih dia... aku akan mengerti sepenuhnya. Aku tidak akan menghalangi kebahagiaanmu sedikit pun."
Nadia menatapnya lekat, ada rasa haru sekaligus sedih yang menyelimuti wajahnya. "Terima kasih. Tapi ketahuilah... keputusanku bukan karena aku memilih siapa atau menolak siapa. Aku hanya belum selesai dengan diriku sendiri. Dan sebelum aku bisa utuh kembali, aku tidak ingin mendampingi siapa pun atau didampingi siapa pun."
Rian mengangguk perlahan, berusaha menelan rasa sakit yang menyelinap di dadanya. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan berdiri di sini saja—di tempat yang seharusnya: sebagai orang yang berusaha memperbaiki diri, tanpa mengharap tempat di sampingmu. Dan jika suatu hari kau berbalik dan melihat aku sudah tidak ada di sini... ketahuilah, aku pergi bukan karena berhenti peduli, tapi karena aku sadar aku harus memberimu jalan untuk berjalan lebih jauh dan lebih tinggi dari yang pernah kau bayangkan."
Malam itu, Rian pulang dengan perasaan yang campur aduk. Kehadiran Ardi seperti cermin yang memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara dirinya dan Nadia—bukan dalam hal harta atau jabatan, melainkan dalam hal waktu dan kesempatan yang sudah terlanjur ia buang. Namun di sisi lain, hal itu juga menyadarkannya satu hal: ia tidak bisa terus hidup hanya dengan penyesalan. Ia harus benar-benar menjadi pria yang layak dihargai, meskipun pada akhirnya ia tidak berhak lagi dimiliki oleh wanita yang paling berharga ini.
(Lanjut ke Bab 33?)