Arjuna. Dia menikahi seseorang lalu mengabaikannya, tanpa peduli dengan perasaan wanita itu karena hatinya masih tertinggal pada masa lalunya.
_____
“Kenapa, kenapa lama sekali aku menunggu kamu untuk melihat ke arahku, Mas?”
Arjuna seakan tertampar mendengar ucapan Danita.
_____________
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDT 14
...***...
(POV Juna)
Dia bilang kepadaku untuk mengizinkannya melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Lucu sekali, mana ada wanita yang repot-repot melakukan itu semua. Masa bodo, lagi pula aku tidak peduli.
Selagi dia tidak mencampuri urusanku, maka aku akan tetap membiarkannya. Toh, dia juga tahu. Kami menikah bukan karena saling mencintai.
Aku terbangun pagi ini, saat aku bangun, wanita itu sudah tidak ada di sampingku. Entah ke mana perginya. Aku berjalan menuju kamar mandi. Begitu selesai mandi, aku melihat kemeja, jas dan dasiku sudah tersedia di atas sofa.
Baru kuingat. Mungkin ini dia yang menyiapkannya. Selesai mengenakan pakaian, aku turun ke bawah. Dapat ku cium aroma masakan yang menguar, sepertinya dia memaksa makanan untuk sarapan. Kakiku melangkah ke arah ruang makan. Aku melihatnya tersenyum dan menyiapkan makanan di atas meja.
“Mas, sarapan dulu ya sebelum berangkat,” ujarnya.
Aku hanya diam tanpa berniat membalas ucapannya ataupun senyumannya.
Begitu aku duduk dia mengambilkan piring, menyendokkan nasi dan lauk ke dalam sana. Setelah itu dia memberikannya padaku. Begitu selesai makan, dia juga mengantarkan kepergianku. Tidak lupa kebiasaannya mencium tanganku sebelum aku memasuki mobil.
Dan selalu mengatakan, “Mas, hati-hati.” disertai senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.
Aku masuk ke dalam mobil acuh, tanpa berniat untuk melakukan hal yang sama kepadanya.
Memangnya apa yang diharapkan dari pernikahan ini? Meskipun orang lain mengatakan kami adalah pengantin baru, tapi itu tidak berlaku untuk kami berdua. Aku dan dia tidak menjalani pernikahan normal seperti kebanyakan pasangan yang baru menikah. Kami memiliki batasan untuk masing-masing.
Terserah dia mau melakukan apapun, asalkan keluarga kami tidak ada yang mengetahui hal yang sesungguhnya tentang pernikahan kami.
Dan kebiasaan itu terus dia lakukan setiap harinya mulai dari menyiapkan segala kebutuhanku, seperti pakaian, makanan, membuatkan aku kopi jika aku sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang tak ada habisnya di ruang kerjaku.
Hari ini begitu aku pulang dia menyambutku lagi, kemudian menyiapkan pakaian ketika aku mandi dan jaga makan malam.
“Mas, makan malam sudah siap.” ujarnya
Aku berlalu ke luar kamar diikuti olehnya di belakangku. Setelah aku duduk, dengan sigap menyiapkan makanan ke dalam piring dan memberikan padaku lebih dulu.
Kami makan seperti biasa, tanpa berniat untuk memulai obrolan.
Begitu selesai makan, dia kemudian meminta izin pada ku.
“Mas, besok aku mau izin untuk pulang agak larut. Kebetulan akhir bulan jadi harus membuat laporan dulu dan ada rapat bulanan juga.” ujarnya.
“Terserah, saya tidak peduli” jawabku.
Untuk apa dia meminta izin, memangnya apa peduliku? Bukankah kamu sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Setelah mengatakan hal itu, aku pergi meninggalkannya seorang diri di sana. Berjalan ke ruang kerjaku.
Aku membuka laci meja dan mengambil sebuah bingkai foto dari sana. Foto seorang wanita yang kucintai sedang tersenyum bahagia. Aku merindukannya, bagaimana kabarnya sekarang? Aku ingin sekali mendengar suaranya. Melihat senyumannya lagi.
Betapa sulitnya melupakannya, terkadang aku ingin sekali pergi menemuinya. Namun untuk alasan apa? Aku memeluk bingkai foto itu. Reni. Aku benar-benar merindukanmu. Sangat.
...***...
Aku terbangun dari tidurku, rupanya aku tertidur. Entah berapa lama, aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Saat aku mengusap wajah, selimut yang menutup tubuhku tersingkap.
Aku sempat mengingat, apakah sebelum masuk ke sini aku membawa dan menggunakan selimut? Sepertinya tidak, apakah mungkin Danita? Kemungkinan memang dia.
Aku baru ingat, tadi sebelum tertidur aku sedang memeluk bingkai foto ku dan Reni. Di mana foto itu sekarang, aku mencarinya, mungkin tak sengaja tertutup selimut. Namun tidak ada, dan ketika memalingkan wajahku ke atas meja. Aku melihat bingkai itu di sana bersama dengan secangkir kopi, sepertinya Danita yang memindahkannya dan juga menyiapkan kopi itu di sana.
Kalau begitu, berarti dia sudah melihat foto kami. Apakah nanti dia akan bertanya kepadaku tentang foto ini, aku harus jawab apa? Tunggu sebentar, bukankah aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak mencampuri segala urusanku. Jadi untuk apa aku memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan ketika dia bertanya, dia tahu atau tidak, toh hal itu tidaklah penting untukku. Dan dengan begitu dia seharusnya sadar, bahwa sudah ada wanita yang lebih aku cintai dan tidak akan pernah mencintainya.
...****...
...Halo teman-teman, jangan lupa untuk klik LIKE, LOVE dan komentar kalian....