Hidup sebagai single parent tidaklah mudah, banyak tantangan dan ujian di dalamnya. Namun, semua itu harus dilalui Riana Aisyah Humairah, yang membesarkan anak seorang anak diri, Kaila Humairah, sepenih jiwa raga untuk kebahagiaannya.
Riana adalah korban kekerasan rumah tangga dan keegoisan sang suami, Arsyid. Hingga ia tidak peduli lagi akan cinta seolah kata itu hilang dalam kamus hidupnya.
Riana pun memutuskan membawa sang buah hati ke Negara Ginseng, Korea Selatan. Di sana ia berhasil menjadi seorang arsitek dan bertemu CEO muda sekaligus pelukis ternama, Kim YeonJin.
Kim YeonJin hadir di antara banyak perbedaan, salah satunya kepercayaan. Ia yang juga menjadi korban broken home memahami kepelikkan dan kesusahan Riana, sampai rasa kagum itu hadir.
Mampukah kisah mereka berkembang ke hal lebih baik di balik perbedaan melingkupi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 14
...Bersama kehadirannya membawa harapan baru yang tidak mungkin berjua. Bagaikan senja, keindahannya hanya sesaat dan berganti gelapnya malam....
.......
Selepas dari hari itu, setiap ahad ataupun hari libur lainnya, YeonJin sering mengajak Kaila main bersama. Riana sempat menolak, tetapi rengekan sang anak tidak bisa membuatnya terbantahkan.
Terkadang ia pun membiarkan mereka hanya pergi berdua saja. Bak seorang ayah kandung, YeonJin sering membelikannya bermacam-macam permainan dan juga pakaian.
Riana terkejut anaknya selalu membawa oleh-oleh ketika pergi bersama sang atasan. Ia merasa tidak enak, sudah merepotkan rekan kerjanya. Berkali-kali ia berbicara agar YeonJin tidak membelikan apa pun untuk Kaila. Namun, pria itu tetap saja melakukan hal yang sama seolah tidak menggubris perkataannya.
Seperti waktu yang sudah-sudah, hari ahad keempatnya ini pun Kaila pulang membawa mainan baru lagi.
“Mamah lihat! Appa membelikan ku boneka baru. Maa syaa Allah, bagus banget kan, Mah.” Dengan polos anak itu mengeluarkan boneka beruang dalam kantung belanjaan.
“Ah, iya Alhamdulillah.” Riana tidak yakin dengan itu. Senyum lebar terpendar di bibir mungil kemerahan Kaila. Anak semata wayangnya ini selalu bahagia setiap kali pergi bersama YeonJin.
“YeonJin Appa itu baik sekali. Bahkan aku dibawa ke restoran paling mahal. Makanannya enak sekali.” Kaila kembali berceloteh seraya menerawang ke langit-langit ruangan.
“Apa? Makan di restoran? Apa itu halal?” Riana memandanginya takut-takut.
“Tadi YeonJin Appa bilang restoran itu halal, Mah. Ah~ Kaila seperti mempunyai seorang ayah sekarang. Mah, Kaila sayang~ sekali sama YeonJin Appa,” ungkapnya seraya memeluk boneka pemberian pria itu.
Riana tidak percaya. Hanya dalam kurung waktu satu bulan lebih Kaila dan YeonJin sudah akrab layaknya keluarga. Ia tidak bisa membantah. Bagaimanapun juga kebahagiaan yang nampak di wajah mungilnya membuat ia ikut merasakan.
Lima tahun bukan waktu sebentar. Selama itu pula Kaila belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah.
Kehadiran Kim YeonJin seperti deburan ombak menyapu keresahan. Kaila tidak lagi mempertanyakan siapa ayah kandungnya. Mungkinkah ia menganggap YeonJin layaknya ayah kandung? Sungguh sangat disayangkan, sepertinya sang putri merasakan hal itu. Kedekatan mereka sudah tidak bisa dilepaskan.
“Aku ingin punya ayah seperti YeonJin Appa. Kalau begitu Kaila tidur dulu yah Mah, ngantuk.” Sambil menguap kecil Kaila melangkah menuju kamar dengan menarik barang-barang bawaan.
Riana kembali tidak percaya melihatnya. Gadis kecil itu sudah berubah, tidak se-manja dulu lagi, dan lebih mandiri serta tegar.
“Entahlah, apa aku harus senang atau tidak,” lirih Riana.
Di Timur Kota Seoul, YeonJin tengah menikmati makan malam seorang diri. Kursi-kursi kosong itu hanya ditempati oleh angin. Ia tersenyum kecil keadaan seperti itu sudah dialami bertahun-tahun. Namun, entah kenapa sekarang ia merasa hampa.
Bayangan Kaila hinggap begitu saja dalam kepala bersurai hitamnya. YeonJin merasakan kebahagiaan saat bersama putri kandung sang arsitek.
Ia seolah melihat sosoknya dari masa lalu. Kehilangan kasih sayang dari seorang ayah memang tidaklah mudah. Terlebih Kaila belum pernah merasakannya sejak awal.
“Apa aku merindukan kehadiran keluarga? Hei, bukankah usiaku juga sudah cukup untuk menikah?"
Sedetik kemudian suara tawa menggelegar di sana. "Apa yang aku pikirkan? Ya ampun, sadarlah Kim YeonJin."
"Aku sudah menyayangi Kaila seperti putri kandung sendiri. Sshh, tetapi masih ada yang mengganggu pikiranku. Alasan apa yang Riana sembunyikan?” celotehnya pada kekosongan.
Harapan terlihat nyata, tetapi ia belum bisa memastikan untuk menggapainya.
...***...
Malam berganti dengan cerahnya langit pagi ini. Selesai sarapan lalu mengantarkan Kaila ke sekolah, Riana bergegas pergi menuju tempat kerja.
Tidak seperti hari-hari lalu, ia sudah tidak merasa canggung lagi. Kedekatannya dengan sang pemilik perusahaan membuatnya seperti berada di rumah sendiri. Ia bukan karyawan yang istimewa, tetapi perlakuan baik sang bos membuat orang lain di sekitarnya memandang seperti itu.
Hingga saat ini Riana maupun YeonJin belum menyadari tentang perbincangan rahasia karyawan yang lain.
Setibanya di ruangan, ia langsung melihat dokumen yang tersebar di meja kerja. Wajah bulat terbungkus hijab mocca itu celingak-celinguk melihat kertas demi kertas.
“Alhamdulillah, sepertinya berjalan dengan lancar.” Senyum manis terbit di bibir ranumnya.
YeonJin yang baru saja tiba, menghentikan langkahnya terpesona. Tanpa sadar kedua kaki membawa ia masuk ke ruangan.
“Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?”
Pertanyaan barusan sontak membuat Riana terlonjak kaget dan seketika mendongak.
“Eh? Kim YeonJin-ssi? Saya sedang melihat laporan dari pekerja di lokasi, katanya pekerjaan mereka berjalan lancar,” ucap Riana menjabarkan.
YeonJin mengangguk-anggukan kepala mengerti. “Syukurlah.”
“Oh yah YeonJin-ssi, terima kasih sudah mengajak Kaila jalan-jalan kemarin, dan saya mohon jangan pernah belikan lagi dia mainan. Em, saya bukan bermaksud menolak hanya saja barang-barang itu tidak cukup di apartemen kecil kami," kata Riana lagi diakhiri kekehan, mencairkan suasana agar tidak menyinggungnya.
“Kalau begitu kalian pindah saja ke apartemen yang lebih besar. Ah, kalau tidak kalian bisa pindah ke rumahku." Entah sadar atau tidak YeonJin berkata demikian seraya menunjuk tepat ke wajah Riana.
“Eh?” Sang arsitek sampai bangkit dari duduk.
Mereka pun saling tatap tidak sadar dengan ucapan yang baru saja YeonJin lontarkan. Seketika menjadi hening dan keduanya melepaskan kontak mata masing-masing.
Canggung begitu kentara. Riana terkejut kenapa YeonJin bisa berkata seperti tadi. Pun dengan dirinya sendiri. Ucapan spontan nya membuat keadaan tidak sinkron.
“A-ah, sepertinya aku hanya asal bicara saja." YeonJin tertawa gugup, "kalau begitu lanjutkan pekerjaannya, a-aku ke ruangan dulu.” Ia pun melarikan diri dari sana, tanpa menyadari rona merah tipis menghiasi pipi.
Raina pun kembali duduk di kursi kebesarannya seraya memandang tempat yang baru saja ditinggalkan YeonJin. Rasa terkejut barusan masih membuat ia bungkam. Kepalanya kosong tidak bisa memikirkan apa-apa.
Buru-buru YeonJin membuka pintu ruangannya kasar, bergegas menuju kursi kerja dan mendaratkan diri di sana. Ia memutarkan nya membelakangi pintu masih memikirkan tentang ucapannya beberapa saat lalu. Ia tidak tahu kenapa bibirnya begitu lincah berkata seperti tadi terlebih kepada wanita itu.
“Argh~ bagaimana ini? Apa aku sudah keterlaluan? Kenapa aku selalu berkata seenaknya? Ya Tuhan," celotehnya.
“Hyung, ini ada dokumen yang harus ditanda tangani.”
Kedatangan Jimin menyadarkan. YeonJin pun kembali memutar kursi dan menatapnya serius. Sekertaris tampan itu mengerutkan dahi tidak mengerti.
“Apa Hyung sakit? Kenapa wajah Hyung merah seperti itu?” tunjuk nya, heran.
YeonJin menautkan jari jemari dan mendaratkan dagu di sana berusaha mempertahankan wajah tegasnya. Tetap saja bagi Jimin itu terlihat mencurigakan.
“Ani. Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.
Jimin pun mendekatinya perlahan. Kedua mata kecil itu semakin menyipit. Mendapatkan tatapan curiga, bola mata kecil YeonJin bergulir ke tempat lain.
“Apa Hyung sedang jatuh cinta?” Seketika itu juga ia kembali menatapnya tidak percaya.
Dokumen yang berada di depannya seketika mendarat di kepala bersurai coklat lembut Jimin.
“Yak! Sakit Hyung kejamnya," keluh Jimin sambil mengusap-usap puncak kepalanya.
“Pabbo! Mana dokumen yang harus aku tanda tangani?” Pintanya.
Dengan kembali mengaduh Jimin menyodorkan berkas yang dibawanya.
Selagi menandatangani kertas-kertas itu pikiran YeinJin terus mengingat ucapan Jimin tadi. Mati-matian ia berusaha mempertahankan ketegasan.
Jika saja Jimin lebih memperhatikannya ia pasti melihat keringat dingin bermunculan di pelipis itu. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba saja menyapa. YeonJin ingin tersenyum, tetapi diurungkan tidak mau membuat dirinya malu sendiri.
Keren kamu Thor...
Karyamu sungguh luar biasa...
Semoga sukses selalu untuk author...
Sama2 bandot tua bau tanah nan serakah menyebalkan..
narasi2nya bener2 nyesek...
Rasa mau ngulek jntungnya
Bener2 ngehempas mental anak kecil, ga ad hati😡😡😡
Walau fiksi...Mak merinding bacanya ..
Terharu..
Walau sekedar membaca narasi..
Luar biasa authornya
Pandai ngacak2 perasaan reader
Ga usah ditutupi
Agar BS sama2 menghadapi si tua bangka itu
Mbo ya eliiiing kamu tuuuh...
Hhhh tak sentil jantungmu Syiiiid
Geram rasanya..
Dr bab awal sj, ni air mata rasanya ngalir tanpa diminta
Rasanya sakit banget Thor..