Kanaya Wulandari, sebelumnya berprofesi sebagai pengajar di pendidikan kanak-kanak kemudian sahabatnya memaksa Kanaya bekerja di bawah perusahaan yang sama dengan sahabatnya itu.
Setelah beberapa bulan bekerja di Diranta, Kanaya mendapat permintaan dari istri Presdirnya untuk menikah dengan suaminya tersebut.
Tapi sebelum itu, apakah Presdirnya menerima jika ia akan menikah dengan Kanaya Wulandari?
Dan apakah Kanaya juga akan menerima pinangan tersebut?
Istri Kedua Keluarga Diranta©YAKIYA
2021.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YAKIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima atau Menolak, Kanaya? - empat belas.
Kayana tengah duduk di kursi kerja kantornya, namun kali ini berbeda. Ia tidak seaktif seperti hari-hari sebelumnya, pikiran Naya masih terarah pada kejadian kemarin.
Semalam Naya sudah menghubungi Lavi untuk kembali bertemu membicarakan permintaan Lavi pada Naya. Agar hal ini jelas, apa alasan Lavi membiarkan wanita lain menikahi suaminya.
Ceklek.
“Kau tidak terlihat sibuk, tumben sekali.”
Stev berjalan ke sofa dan duduk di sana dengan kaki yang sudah ia topang di kaki satunya sambil menatap Naya.
“Ada sedikit yang mengganggu pikiranku,” ujar Naya.
Naya beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah sofa lalu duduk di samping Stev.
“Apa itu?”
Naya menghela napas. Sepertinya lebih baik Stev jangan tahu dulu perihal masalah ini, karena Naya juga belum pasti. Apakah ini akan selesai dengan mudah atau nanti akan memperpanjang tidak jelas.
“Tidak ada, sekarang lebih baik karena kau datang.” Naya tersenyum menatap Stev.
Stev juga membalas senyumannya dengan kekehan. “Kau nanti akan merindukanku yang sering datang ke ruanganmu.”
Naya mengerutkan kening. “Ha? untuk apa aku merindukanmu. Aku sering terganggu dan bosan malah melihatmu terus.”
“Benarkah? lihat saja besok. Pasti setiap menit sekali kau akan menghubungiku.”
“Besok? ada apa dengan besok dan kenapa aku akan menghubungimu? aku bisa bertemu denganmu karena kau pasti akan datang ke ruanganku.”
Stev menggeleng. “Tidak, besok aku tidak bisa mengunjungimu.”
Naya menyatukan kedua alisnya. “Memangnya kenapa kau tidak bisa? tumben sekali.”
“Besok aku akan pergi ke Austin.”
Naya membenarkan duduknya dan menatap Stev antusias. “Austin? kau akan berlibur?”
“Yah... berlibur sambil bekerja. Lebih tepatnya aku akan ada perjalanan bisnis selama 3 bulan.”
“Kau pasti akan sangat merindukan ku kan,” pernyataan Stev percaya diri.
“3 bulan itu lumayan lama...” Naya menatap Stev jenaka, “... tapi aku tidak akan merindukanmu. Justru aku tidak akan terganggu lagi saat aku bekerja.”
“Kita lihat saja besok.”
Naya melipat tangannya di dadanya. “Tentu. Buktikan, besok aku tidak akan pernah sekali pun menelponmu.”
•••
Setelah Stev pergi dari ruangannya, Naya mencoba melanjutkan pekerjaannya yang belum ia sentuh sama sekali. Namun ia membuang napas saat ini ketika melihat berkas yang harus ia antar ke ruangan Presdir.
Apakah dia tahu kalau Lavi akan menjadikanku istri keduanya? batin Naya.
Namun ia kembali ke waktu sekarang, saatnya fokus pada pekerjaannya saja. Naya berdiri dari kursinya lalu tangannya mengambil berkas yang harus ia bawa dan mengambil tanda pengenal yang tergeletak di meja kemudian menggantungkannya di leher jenjangnya.
Naya keluar dari ruangan tim pengelola dan berjalan menuju lift, sampai di depan lift Naya memencet tombol yang mengarah ke atas. Kemudian lift terbuka dan Naya masuk.
Di dalam lift Naya berkaca di dinding lift tersebut. Tangannya meraih ikat rambut yang terpasang lalu menariknya dan rambut hitamnya ia rapikan.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Naya keluar dari lift kemudian kaki jenjangnya melangkah sampai di pintu besar milik Presdir itu.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar seruan yang mengizinkan Naya masuk lalu Naya mendorong pintunya dan berjalan tanpa memastikan pintu tertutup kembali karena otomatis tertutup dengan sendirinya.
Naya menampilkan senyumnya saat mata Presdir itu menatap dirinya. Kemudian Naya maju beberapa langkah dan menyerahkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Presdir.
“Laporan untuk bulan ini, tuan.” Naya kembali pada tempatnya.
Alordi membuka berkas itu dan mengecek segala sesuatu hal yang tercetak di sana. Lalu ia mengambil pulpen dan menanda tangani berkasnya. Setelah selesai, Alordi menyerahkan berkasnya kembali dan diterima oleh Naya.
Naya sedikit menunduk untuk berpamitan. “Terima kasih. Semoga hari Anda menyenangkan.”
Naya membalikkan tubuhnya dan kaki jenjangnya melangkah meja Presdirnya itu. Namun terhenti saat Alordi membuka suara.
“Tunggu.”
Alordi berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Naya.
Naya berbalik dan melihat ke arah Alordi.
“Ada hal lain yang perlu saya kerjakan?” ucap Naya sambil menampilkan senyumnya.
Alordi sudah berdiri tepat di depan Naya, menatap tanda pengenal Naya lalu jatuh ke wajah wanita itu.
“Kanaya Wulandari?” tanya Alordi dengan tatapan memidai.
Kenapa Alordi tidak ngeuh dengan wanita ini? padahal sebelumnya mereka pernah bertemu. Alordi hanya ingat wajahnya sedangkan nama wanita itu tidak ia ingat.
“Iya... saya.” Balasan Naya dengan perasaan semakin bertambah kacau dari yang sebelumnya.
Saat melihat nama Alordi di berkas tadi sudah membuat perasaan Naya gugup karena harus bertemu dengan pria ini, lalu di lift, Naya harus berusaha untuk menyiapkan dirinya agar bersikap biasa. Ditambah saat matanya menangkap sosok pria ini yang tengah duduk di kursinya, dada Naya semakin berdegup, Naya mencoba mengontrol agar jantungnya berdetak biasa tapi tidak bisa, walaupun wajah dan sikap Naya terlihat biasa namun dalam diri Naya sudah berantakan tak terkendali.
Naya sudah bernapas lega karena berjalan cepat dan ia akan kembali ke ruangannya dan segera pergi dari sini. Tapi pria ini malah menghentikan langkahnya dan menatapnya dengan mata tajamnya itu.
Tenanglah Kanaya. Batin Kanaya, pasalnya sudah hampir pada batasnya ia sanggup menahan gejolak dirinya saat ini.
“Kau wanita yang dibicarakan oleh Lavi itu?” tanya Alordi.
Alordi tidak langsung mengungkapkan intinya, takut-takut ia salah orang.
Namun berbeda dengan Naya, ia malah semakin tidak tertahan. Apalagi pria ini membahas perihal yang Naya hindari untuk dibicarakan padanya langsung.
Naya membasahkan bibirnya dan matanya ia alihkan sejenak dari pria ini ke objek yang lain. “I-iya... Lavi—”
Bagaimana ini. Aku sangat gugup.
Naya tidak bisa mengontrol nada bicaranya dan matanya bergerak dengan tidak tenang.
“Kenapa?”
Naya mengalihkan wajah dan menghirup udara yang banyak karena pasokannya seperti habis, ia butuh lebih banyak udara.
“Bicara dengan wajah yang dipalingkan apa itu baik, Kanaya?”
Perkataannya membuat Kanaya langsung kembali menghadapkan wajahnya lurus ke depan.
“Aku bertanya padamu. Kau menyetujuinya?”
Deg.
Naya bahkan belum memikirkannya. Apa ia akan menyetujui permintaan Lavi untuk menikah dengan suaminya ini atau Naya... menolak?
“S-saya belum...”
“Kau belum apa? apa kau takut padaku?”
Naya membelalakkan matanya. “Tidak.” Justru hal ini malah salah paham, ia tidak takut pada pria ini tapi dirinya gugup, menahan mati-matian.
“Lalu bagaimana? kau menerimanya atau tidak? aku ingin tau jawabannya langsung darimu.”
Apakah harus sekarang? batin Naya, ia semakin meremas berkas yang ia pegang.
Alordi memajukan tubuhnya, melihat wajah wanita di depannya ini yang berkeringat. “Jika kau tidak takut padaku. Kenapa kau berkeringat seperti ini...”
Tangan Alordi terulur lalu punggung tangannya menyentuh pipi Naya yang di banjiri keringat, mengusap sedikit bulir keringat yang mengalir di pipi Naya.
Naya terkejut akibat perlakuan pria ini dan tubuhnya hanya bisa menegang di tempat karena sentuhan asing seorang pria—ini pertama kalinya seorang pria menyentuh area wajah Naya, apalagi pria ini yang Naya sukai.
Alordi menarik tangannya dari wajah Naya, memasukkan kembali tangannya ke saku celananya dan kembali berdiri tegak.