Mikhayla gadis berusia 19 tahun, tiba-tiba harus mengalami kejadian yang tak terlupakan. Dia yang datang ke Bali dengan niat berlibur setelah menang undian. Harus menerima kenyataan saat tak sengaja dia melakukan hubungan terlarang dengan Azka. One standing night yang tanpa sengaja mereka lakukan membuat Mika hamil. Apa yang Azka dan Mika harus lakukan? bagaiman dengan Sheryl kekasih Azka? Bagaimana juga dengan Fariz orang yang diam-diam Mika suka? Penasaran? yuk baca, cekidoooooot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzwa Chazanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_14
Azka makan malam bersama keluarga Mika. Azka senang karena masakan Mika enak banget. Waktu makan juga sangat menyenangkan karena sambil ngobrol dan sesekali diselingi tawa. Beda banget kalo di rumah. Yang ada Oma Diana dan Mami Niar yang mendominasi dengan cletukan mereka.
Seperti biasa setelah makan. Mika, Raka dan Bu Tia nonton TV bersama.
"Mika, suami kamu mana?" tanya Bu Tia.
"Tau, kecapean kali," jawab Mika cuek.
"Ibu tau, gak. Pas tadi Ibu telepon Kakak gak di angkat. Ternyata Kakak lagi ekhem ... ekhem sama Bang Azka. Terus di dapur juga. Tapi, Kak Mika galak banget, Bu. Masa Bang Azka diinjek kakinya," adu Raka.
"Dasar! Kunyit, lu ngintip gue? Bintitan tau rasa lu!" umpat Mika sambil memukul Raka pake bantal.
"Mika, udah malu kalo Azka lihat. Masa udah jadi istri kelakuan masih kaya gini," ucap Bu Tia.
"Kamu juga, kurangin galaknya siapa tau, Azka lagi belajar buat mencintai kamu. Harusnya kamu respon," imbuh Bu Tia.
"Iya, Bu. Mika cuma belum yakin aja," lirih Mika.
Tiba-tiba Azka muncul dan tidur di pangkuan Mika yang duduk ngedeprok di karpet.
"Ih, apaan berat tau," ketus Mika.
"Gak boleh tau nolak. Namanya dzolim sama suami. Ini, tuh salah satu mencari pahala dalam berumah tangga. Betul gak, Bu." Azka mendadak jadi ustad dan nyari dukungan sama Bu Tia. Raka tersenyum, apa yang barusan dia bilang sekarang kejadian.
"Azka benar. Mika kamu gak boleh kaya gitu sama suami. Nanti, dikira Ibu gak pernah ajarin kamu buat berbakti sama suami. Jangan bikin malu," tegas Bu Tia. Azka tersenyum bahagia. Mika tau ini cuma akal-akalan Azka buat ngerjain Mika.
"Iya, Bu." Mika malas berdebat dan cuma bilang iya doang.
Malam semakin larut, Raka dan Bu Tia kembali ke kamarnya. Tinggal Azka yang terlelap di pangkuan Mika. Mika mengamati wajah Azka sambil tersenyum. Dia mulai membelai wajah Azka.
"Ganteng," ucap Mika.
"Makasih. Baru tau kalo kegantengan Abang bakal naik kalo lagi tidur," ujar Azka sambil tersenyum.
Mika malu karena ketahuan ngeliatin muka Azka. Mika mendorong kepala Azka lalu bergegas berdiri namun sial, kelamaan ngedeprok ditambah beban kepala Azka bikin kaki Mika susah di gerakin.
"Aduh ...," pekik Mika.
"Kenapa, Dek?" tanya Azka.
"Kaki Mika pegel, Bang. Kelamaan duduk," jawab Mika.
Dan tanpa aba-aba Azka langsung menggendong Mika ala bridal style ke kamar. Mika cuma melongo mau protes gak mungkin juga.
Azka meletakan tubuh Mika dengan lembut di kasur.
"Abang, pijitin kakinya, ya," ujar Azka sambil memegang kaki Mika namun Mika menghindar.
"Kenapa?" tanya Azka.
"Nggak apa-apa. Besok juga sembuh. Mika, mau bobok aja," ucap Mika sambil menutupi tubuhnya pake selimut.
Azka membuka paksa selimut bagian bawah hingga ke perut.
"Abang, mau apa?" tanya Mika kaget
"Abang, mau bobok sama dedek bayi," jawab Azka sambil melingkarkan tangan di perut Mika dan menciumi perutnya.
"Mika geli, Bang," protes Mika.
"Diem, biar anak kita tau, papanya sayang sama dia," ucap Azka.
Mika tersenyum, dan gak mampu nolak Azka kali ini. Akhirnya malam ini Azka bobok sama dedek bayi.
Paginya Mika bangun sepuluh menit sebelum adzan subuh. Posisi Azka masih sama seperti semalam tidur dengan memeluk perut Mika. Mika beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
"Bang, bangun mau sholat, gak?" Mika menggoyangkan tubuh Azka.
"Jam berapa?"
"Sekarang udah hampir jam lima. Buru bangun, ntar telat subuh loh."
Azka terpaksa bangun, selama ini di rumah mau Azka Sholat apa tidak gak ada yang ngurusin. Sekarang setelah punya istri dia selalu di ingetin bahkan sampai hal kecil.
Azka bangun dengan malas. Dan menuju kamar mandi. Setelah yakin Azka beneran bangun Mika menyiapkan peralatan sholat dan baju buat Azka.
"Wah ... ternyata gini, ya punya bini. Enak apa-apa udah ada yang nyiapin," ujar Azka sambil mengganti baju Koko dan sarung.
"Udah, buruan ini pertama kali kita jamaah, loh. Abang yang jadi Imam," ucap Mika. Azka sedikit terkejut karena dia jarang Sholat takut salah.
"Emm ... sebenarnya, abang jarang Sholat. Abang, takut salah," kata Azka jujur.
"Bismillah aja, Bang. Abang pasti bisa." Mika ngasih semangat. Walaupun ragu, Azka mencoba menjadi Imam.
Haru, untuk pertama kalinya Azka merasa dirinya Sholat dengan benar. Mika mencium tangan Azka.
"Makasih, ya, Dek. Bantu abang, ya. Biar abang jadi suami dan papa yang soleh," ucap Azka.
"Aamiin."
Setelah selesai Sholat. Mika beranjak ke dapur, dia membuat kopi dan pisang goreng buat Azka.
"Ekhm ... istri yang baik," ledek Raka.
Mika cuek, males pagi-pagi harus ngeluarin jurus buat ngadepin Raka. Setelah selesai, Mika kembali ke kamar. Di sana Azka sedang sibuk dengan laptopnya.
"Kopi, Bang," ucap Mika sambil meletakannya di atas meja.
"Makasih ya, Dek," balas Azka.
"Hari ini, Mika udah mulai kuliah, Bang. Mika minta izin, ya." Azka menghentikan aktivitasnya.
"Adek, kuliah? Gak boleh," ketus Azka.
"Kenapa?" Mika bingung.
"Adek, di rumah aja. Kasian dedek bayi kalo di bawa kuliah. Entar pusing lagi ikutan mikir," balas Azka.
"Ih, Abang. Emang Abang mau Anaknya punya Mama yang gak pinter," bela Mika.
"Nanti aja, deh abis kamu lahiran. Lanjut lagi," usul Azka.
"Gak mau. Pokoknya Mika hari ini kuliah titik." Mika ngambek. Pergi ninggalin Azka yang masih bengong di depan laptopnya.
Sarapan Mika dan Azka hanya diam. Bu Tia dan Raka yang menyadari atmosfer aneh ini hanya saling pandang.
Raka berangkat sekolah dan Bu Tia pergi ke toko kue.
"Masih tetep mau kuliah?" tanya Azka sambil merapikan kemejanya. Mika membantu mengancingkan kemeja Azka. Ya, walaupun lagi marah tetep ngurus suami.
"Iya. Abang ngerti dong, Mika itu di sana juga buat belajar. Abis pulang kuliah langsung pulang janji." Mika menunjukan jari kelingkingnya. Azka membalasnya dan menarik tubuh Mika dalam dekapannya. Mika kaget dan berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Bang, lepasin," lirih Mika masih dalam pelukan Azka.
"Kamu mau gak pacaran sama Abang?"
Mika mendongkan kepalanya. Dia gak ngerti apa maksud omongan Azka. Tapi, jujur kata-kata Azka membuat hati Mika gak karuan.
"Ternyata pacaran setelah menikah itu menyenangkan. Kita pacaran, ya. Mulai sekarang!" ucap Azka sambil mengecup kening Mika.
Mika yang masih bingung cuma melongo. Azka melepaskan pelukannya.
"Abang, kerja dulu, ya, Sayang. Kurang-kurangi ngelamunya entar kesambet," ujar Azka mengacak rambut Mika dan pergi.
"Bang ...," panggil Mika. Azka menoleh.
"Cium tangan dulu," ucap Mika sambil tersenyum. Azka menyerahkan tangannya.
"Di kampus gak boleh ganjen. Adek, pacar abang sekarang!" Mika cuma mengulum senyum. Entahlah, kaya ada yang mekar di dalam hati.
Bersambung.