Kisah dimulai dari Aylin yang dari SMP jatuh cinta kepada Jayden, teman mainnya saat kecil.
Tapi Jayden selalu menghindari dan menjauhinya.
Aylin yang selalu percaya dan berharap suatu saat Jayden akan membalas cintanya.
Sampai suatu hari saat perjalanan hidup dan takdir merubah Aylin, yang hilang rasa percaya dan harapannya untuk mendapatkan cinta Jayden lagi.
Perjalanan yang telah merubah kehidupan Aylin, juga akhirnya merubah banyak sifat Aylin saat dewasa.
Akankah cinta Aylin berubah dan berpindah ke yang lain?
Buat yang penasaran, ayo dibaca cerita cinta yang romantis dan dibumbui komedi ini.
Selamat membaca dan semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang merasa beruntung dan menyusun rencana
Memang buat Jayden mencari Aylin sulit, tapi tidak begitu dengan Denny. Denny merasa beruntung sekali sekarang, karena rumah dia dekat dengan Aylin.
Dia merasa Aylin benar-benar adalah jodohnya, karena tiba-tiba muncul di depannya. Sejak bertemu Aylin, dia merasa dia harus mulai menyusun rencana untuk mendekati Aylin. Dia tidak mau membuang kesempatan yang ada.
Apalagi sekarang idolanya Aylin (Jayden) sudah tidak ada di antara mereka.
Denny merasa sekarang harapannya semakin besar untuk mendapatkan Aylin.Dia sudah tidak mau menunggu lagi.
"Ah lebih baik gue gak usah menunggu Aylin lebih dewasa, nanti keburu diambil yang lain" pikir Denny dengan semangat.
Dan perburuanpun dimulai sejak saat itu. Denny bukanlah orang yang bodoh, dia sabar dalam rencananya.
Dia juga tidak mau membuat Aylin kaget dan takut, karena Aylin masih termasuk muda, nanti bukannya bisa dekat malah menjauh.
Akhirnya dia menyusun rencana secara bertahap untuk mendekati Aylin, seperti biasanya kalau dia menyusun program. Dari tahap pertama dulu, habis itu baru lanjut ke tahap berikutnya.
Dan dia juga merasa beruntung sesudah memata-matai Aylin, dia tahu Aylin belum punya pacar, walaupun dia yakin pasti banyak yang mau mendekati Aylin di sekolah.
Diapun merasa sifat Aylin sudah berubah, dulu Aylin ceria, suaranya sampai kemana-mana, sering tertawa , tapi sekarang sudah berubah 180 derajat, Aylin menjadi pendiam, dan sepertinya agak pemalu, mungkin karena perubahan yang terjadi dalam hidupnya yang membuatnya berubah.
Apalagi Aylin usianya masih termasuk belia, jadi sungguh tidak mudah menerima kenyataan itu.
Tapi dengan sifat Aylin yang sekarang malah membuat Denny semakin ingin melindungi Aylin.
Memang wajah cantik dan imut Aylin mudah membuat cowok manapun ingin menjadi pelindungnya.
Sesudah tahu Aylin tidak pernah mau diantar teman sekolahnya dan Aylin lebih suka pulang sendiri dari sekolah, Dennypun mulai dengan rencana berikutnya.
Saat ada waktu, Denny sudah menunggu Aylin di depan sekolah, dia beralasan pas lewat sesudah beli barang, jadi sekalian lewat mengantar Aylin.
Sedangkan Aylin yang sekarang juga sudah belajar menabung, dia cukup bersyukur mendapatkan transportasi gratis.
Dia tidak berprasangka apa-apa pada Denny, karena dia pikir mungkin Denny temannya Jayden, jadi bersikap baik padanya.
Memang Denny sering membantu mamanya untuk membeli bahan-bahan konveksi setahu Aylin, jadi Aylin yang polos sama sekali tidak curiga, karena Denny memang pintar membuat suasana menjadi santai.
Ayah Denny sudah meninggal lama, sejak dia berumur 10 tahun. Sedangkan kedua kakak perempuannya sudah menikah, dan ikut dengan suami mereka. Jadi Denny tinggal berdua dengan ibunya.Tempat kuliah Denny juga tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Denny memilih kuliah malam, dengan alasan mau membantu usaha ibunya.
Padahal dia memilih kuliah malam sesudah bertemu Aylin, untung saja masih ada bangku kosong untuk kuliah malam.
Memang kepala Denny penuh ide yang cemerlang untuk mendapatkan buruannya. Sedangkan mamanya selalu membebaskannya untuk mengambil keputusan, karena menurut mamanya anak laki-laki harus bisa mengambil keputusan sendiri, karena sesudah menikah nanti, akan menjadi pemimpin di keluarganya.
Denny memang sangat pandai mengatur rencana, juga pintar mengambil hati orang, sehingga orang mudah suka padanya.
Pelan-pelan diapun mulai sering mengantar bahan jahitan ke rumah Aylin, sampai Bu Hutomo merasa tidak enak hati awal-awalnya.
Tapi alasannya ada-ada saja, sekalian lewat, ada yg penting minta duluan, pokoknya Denny paling pandai membuat alasan dan pintar mengambil hati.
Sampai-sampai ibu Aylin akhirnya terbiasa dengan kedatangannya tersebut dan tidak mengajukan protes lagi, bahkan Ibu Aylin menjadi terbiasa dengan kedatangan Denny.
Seperti hari ini Denny tidak datang sama sekali, malah ibunya bertanya pada Aylin ,
"Koq tumben si Denny gak kelihatan ya?"
" Ibu lucu, emang kak Denny harus absen hahaha", tawa Aylin mencandain ibunya. Ibupun ikut tertawa.
Sebenarnya Aylin pada dasarnya orangnya ceria, jadi dia masih suka bercanda dengan ibunya. Hanya saja sekarang dia membatasi sikapnya di luar, dia menjadi lebih serius dan diam entah karena dia sudah bertambah dewasa, atau karena perubahan yang terjadi dalam keluarganya.
Dia juga tertutup pada temannya di sekolahnya yang baru.
Kebetulan hari itu Ibunya tidak punya benang merah, meminta Aylin ke rumah Bu Denny untuk mengambilnya. Aylin pun segera ke rumah Bu Denny untuk mengambilnya. Aylin berjalan dengan cepat, karena dia masih mau mengerjakan tugas sekolahnya.
Sekarang hubungan Aylin dan Denny juga sudah mulai akrab, Aylin sudah terbiasa dengan kehadiran Denny, jadi Aylin pun sudah tidak risih lagi kalau ke rumah Denny untuk mengambil atau mengantar barang, tidak seperti pertama kali, suasananya sangat canggung saat mereka bertemu.
Denny memang pintar membaca situasi, dia sama sekali tidak pernah lagi menanyakan masalah keluarga dan masalah Jayden kepada Aylin.
Dia tahu Aylin menghindari pertanyaan itu.
Tapi Aylin sudah jarang datang ke rumah Denny, karena lebih banyak Denny yang ke rumah mereka untuk mengambil barang atau mengantarkan barang, kecuali keadaan darurat seperti saat ini.
Sampai di sana Aylin tertegun melihat mobil silver yang parkir di depan pagar Rumah Denny. Dia mengenali kalau itu mobilnya Jayden, Jayden memang pecinta warna silver.
Aylin benar-benar kaget dan tidak menyangka kalau Jayden akan datang ke tempat Denny.
Jantung Aylin semakin berdetak kencang, tangannya pun berkeringat. Dia berbalik dan cepat-cepat melangkah pergi. Dia benar-benar tidak siap bertemu Jayden, walaupun dalam hati kecilnya juga ada keinginan melihat bagaimana penampilan Jayden sekarang. Mungkin sudah hampir 1 tahun, dia tidak pernah bertemu Jayden lagi.
Dia sudah tidak perduli harus mengeluarkan uang untuk membeli benang merah, lebih baik begitu daripada harus ketemu Jayden, putusnya sambil menghela nafas untuk menenangkan hatinya.
Sesudah mendapatkan benang merah, diapun menyerahkan kepada ibunya, sambil dia meminta ijin pada ibunya untuk ke Gramedia mencari buku.
Ibunya mengiyakan dan berpesan pdanya jangan pulang malam-malam. Ibunya sedang sibuk, jadi tidak begitu memperhatikan perubahan wajah Aylin.
Aylin segera pergi ke Gramedia. Sebenarnya tujuannya bukan untuk membaca, tapi melainkan untuk menghindari Jayden. Sebenarnya dia masih ada tugas sekolah yang harus dikerjakan, terpaksa dia tinggalkan dulu, padahal cukup banyak tugasnya itu. Dia takut Denny akan mengajak Jayden ke rumahnya, dia belum siap bertemu, maka itu sebaiknya dia menghindar saja.
Aylin tidak pernah tahu kalau bukan hanya dia saja yang takut bertemu Jayden, Denny pun takut Aylin bertemu Jayden, bila sampai bertemu dia takut usahanya untuk mendekati Aylin selama ini hanya akan sia-sia saja.
Hari ini tumben tumben Jayden mengantar sample kain ke konveksi mamanya, ternyata Jayden sedang pulang Jakarta dari kemaren. Denny pun bertanya kabar Jayden seadanya saja, sekedar basa basi.
Hatinya sedang tidak tenang, dia takut kalau Aylin akan ke rumah dia, karena pagi sampai siang tadi dia belum sempat ke rumah Aylin.
Jayden masih seperti biasa, jarang bicara, hanya menerangkan sampel kainnya saja. Dan bicara hanya perlu dan jika ditanya Denny.
Denny juga hanya menanyakan yang umum saja, bagaimana kuliahnya, bagaimana kostnya, hanya sebatas itu, dia sama sekali tidak menyebutkan nama Aylin .
Akhirnya Jayden pamitan pulang, Denny pun mengantar sampai pagar, dan menarik nafas lega sesudah Jayden pergi.
Tidak lama kemudian Denny segera ke tempat Aylin, tapi dia hanya bertemu ibu Aylin yang menatapnya bingung waktu dia menanyakan apakah memerlukan sesuatu.
"Tadi Tante memerlukan benang merah, tapi kan Aylin belum lama ini sudah ke sana untuk mengambilnya, malah sekarang Aylin sedang ke Gramedia", jawab Bu Hutomo.
"Oo,saya sekalian lewat Tante, jadi sekalian mampir ", sahut Denny agar ibu Aylin tidak curiga, Dia yakin tadi Aylin tidak ke tempatnya untuk meminta benang merah, karena dari tadi dia di ruang tamu bersama Jayden.
Akhirnya diapun tahu kalau Aylin juga menghindari Jayden entah karena alasan apa dia tidak tahu dan dia tidak ingin tahu. Sebaiknya dia berlagak tidak tahu apa-apa putusnya dalam hati.
Jadi untuk saat ini hati Denny menjadi tenang kembali.
Bersambung........