TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Sementara (Gio)
"Ck! Kenapa dokter itu lama sekali?!" keluh Gio kesal.
Menunggu tanpa kepastian adalah hal yang paling menyebalkan. Apalagi di saat menegangkan seperti ini. Khawatir terlalu mendominasi Gio saat ini.
Gino bergerak melintas tanpa henti di depan ruang di mana Kinara diperiksa. Berulang kali ia mengamati pergerakan 2 jarum dari benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu berjalan lambat. Satu menit terasa begitu lama.
"Kinara … bertahanlah Kinara. Ya Allah lindungi dia, kumohon."
Kalimat itu ia rapalkan dalam benaknya, berharap Kinara baik–baik saja.
Ceklek
Seorang pria berbalut jas putih keluar dari ruangan tempat ia memeriksa Kinara. Sedikit rasa lega menyeruak dari dalam benak Gio. Gio segera bergegas menghampiri pria itu.
"Bagaimana dengannya Dok?"
"Di mana anggota keluarganya?"
"Saya sendiri Dok."
"Ikuti saya ke ruangan saya. Akan saya jelaskan di sana."
Gio mengikuti langkah sang dokter ke ruangan dokter itu. Hatinya was–was akan hasil pemeriksaan Kinara. Terselip ketakutan akan hal buruk yang bisa saja menimpa Kinara.
"Semoga dia tak apa–apa. Semoga... Semoga"
Gio berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk berharap hal baik akan Kinara.
"Bagaimana dengannya Dok?" tanya Gio lagi.
Dokter itu membuang napas perlahan.
"Pasien terkena demam. Tubuhnya tidak kuat menahan rasa dingin yang melandanya. Pasien juga kelelahan. Dia membutuhkan istirahat total untuk memulihkan kesehatannya."
"Syukurlah." Rasa lega menjalar dalam diri Gio. Setidaknya Gio tahu bahwa saat ini Kinara masih dalam taraf baik–baik saja, walau tak dapat dipungkiri rasa khawatir masih tetap ada.
"Pasien harus di rawat inap dahulu sampai keadaannya membaik," ucap dokter itu lagi.
"Baik Dok."
Gio ingin segera menemui Kinara. Namun langkahnya terhenti. Lantaran sang dokter menahannya untuk tetap tinggal.
"Tunggu sebentar Tuan!"
"Ya?"
"Masih ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda."
Pria berjas putih itu menjeda ucapannya. Gio menatap dokter itu penuh tanya.
Dokter itu menatap Gio dengan tatapan menyelidik, penuh curiga. Seorang perawat yang membantunya mengganti pakaian Kinara dengan baju pasien, memberitahunya bahwa terdapat banyak tanda kemerahan di sekujur tubuh Kinara. Dan bekas–bekas itu bukanlah bekas biasa. Ada hal janggal yang terjadi pada Kinara. Terlebih gadis itu tak sadarkan diri dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
"Anda siapanya pasien?" selidik dokter itu. Ia curiga dengan hal yang ia ketahui dan juga berdasarkan umur pasien yang masih belia.
Deg
Gio bergeming. Ia terdiam sesaat, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk ia ucapkan. Ia sadar bahwa tanda kepemilikan yang tersebar di sekujur tubuh Kinara akan dipertanyakan. Namun ia harus bisa menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia istri saya." jawab Gio lugas.
Dokter itu terkaget. Ia merasa heran dengan jawaban Gio. Ia mengingat jawaban Gio tatkala Gio mengatakan bahwa gadis itu adalah adiknya. Namun ia sadar bahwa bukanlah tugasnya untuk menanyakan hal–hal yang privasi seperti itu.
"Ada apa Dok?" tanya Gio yang ingin memperjelas apa yang dimaksudkan oleh sang dokter.
"Ah mungkin aku tadi salah dengar," gumam dokter itu dalam hati. Ia menepis pernyataan–pernyataan itu dalam pikirannya.
"Anda pengantin baru ya?" tanya Dokter itu tiba–tiba.
"I–iya." Kali ini Gio menjawabnya dengan ragu. Kelugasan ucapannya tadi seolah sirna. Namun bukan itu yang dipahami oleh sang dokter. Dokter itu menggeleng ringan dengan tawa geli.
"Begini Tuan. Istri Anda kelelahan. Ada baiknya jangan melakukan hubungan suami istri terlalu sering. Lakukanlah sewajarnya," ucap Dokter itu tersenyum geli.
Gio hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan lagi.
**********
Di ruangan itu, Kinara terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di tangannya dengan mata terpejam. Deru nafasnya terdengar teratur seirama. Gio menatap sendu tubuh mungil yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Gio mengambil tangan mungil Kinara, menyentuhnya dengan lembut agar tak menyakiti Kinara.
"Hei, kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti tadi?"
"Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri, Kina? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu?" omel Gio padanya yang tak akan pernah bisa mendengar omelannya.
Rasa bersalah itu semakin dalam merongrong dirinya tatkala melihat Kinara terbaring lemah. Dan ia akan semakin merasa bersalah jika seandainya Kinara tak baik–baik saja karena ia gagal menjaga orang yang dia sayang.
Tbc