Ustadz Fadli Alfatah membuat keputusan menikahi Bella yang di tinggalkan sang adik 1 jam sebelum resepsi pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Sismala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Yang Tidak Terduga
Fadli melihat jam di dinding Bella belum juga pulang ke rumah ada rasa khawatir di dalam dirinya, tentu saja selama beberapa bulan tinggal berdua dengan Bella membuat dia terbiasa dengan kehadiran Bella. "Kemana Bella," batin Fadli membuka pintu rumah sepetak miliknya, tanpa sengaja tatapannya jatuh pada gadis yang membawa rantang menuju rumahnya.
"Assalamualaikum, Mas Fadli." Sapa Aisyah yang kini berdiri di halaman rumah Fadli, Fadli merasa tidak nyaman apalagi di rumah tidak ada Bella. Para tetangga pun sibuk dengan aktivitasnya masing- masing.
"Waalaikumsalam Aisyah ada apa?" Tanya Fadli menatap Aisyah dengan tidak nyaman. Semenjak dia menikah dengan pacar sang adik Rey, Fadli tidak pernah memandang gadis lain cantik. Baginya Bella sudah cukup, pada awalnya memang tidak ada perasaan tapi perlahan Fadli mulai menyukai Bella.
"Saya mengantar lauk untuk mas Fadli, dimana mbak Bella mas?" Tanya Aisyah sedikit mengintip ke dalam rumah. Kenapa Aisyah bersikap seperti ini, tidak seharusnya seorang gadis datang ke rumah laki- laki yang sudah menikah. Apalagi Bella istrinya belum pulang ke rumah.
"Dia_" ucapan Fadli terhenti saat melihat wanita cantik mengenakan gaun selutut berwarna kuning, itu Bella istrinya. Bahkan baru beberapa jam tidak bertemu Fadli sudah merindukannya.
"Sayang!" Panggil Fadli melambaikan tangan. Kening Bella berkerut bingung sejak kapan kakak Rey memanggil sayang. Ya Bella akui mereka sudah menikah, tapi sayang? Bukankah itu terdengar aneh.
"Ah iya," jawab Bella menggaruk kepalanya bingung. Tanpa di duga Fadli memeluk tubuh Bella di depan Aisyah. Bella bahkan belum menyadari kehadiran Aisyah.
"Mas, ada apa?" Tanya Bella bingung menatap Fadli.
"Ehemm ..." Aisyah berpura- pura batuk untuk menghilangkan suasana canggung dirinya.
"Eh, kamu gadis alim?" Tanya Bella tersenyum melepas pelukan Fadli dari pinggang rampingnya, Bella tidak tahu nama Aisyah dia hanya memanggil Aisyah si gadis alim karena selalu memakai kerudung juga gamis panjang.
"Nama saya Aisyah mbak." Ralat Aisyah dengan wajah sebal menatap Bella, ada rasa tidak rela melihat pria yang seharusnya melamarnya kini menikahi wanita terbuka seperti Bella.
"Ah santai saja, hehe ... Lagipula saya lebih muda dari mbak umur saya baru 21 tahun." Kalimat yang terdengar lembut tapi sedikit menohok Aisyah, apa tadi berarti Bella mengatainya tua? Tidak bisa di biarkan.
Fadli tersenyum menatap sang istri, jangan- jangan Bella cemburu.
"Apa itu?" Tanya Bella menatap rantang di tangan Aisyah.
"Lauk Bella, saya sengaja menyiapkan untuk mas Fa__" Bella langsung memotong ucapan Aisyah.
"Wah kebetulan sekali aku tidak masak tadi, makasih Aisyah." Bella mengambil rantang dari tangan Aisyah dengan cepat.
"Yuk mas masuk." Ajak Bella, Fadli mengangguk.
"Besok kalau sudah aku cuci rantang- nya aku kembalikan ya mbak Ais." Aisyah menghentakkan kakinya kesal, bahkan Bella menutup pintu begitu saja saat dirinya berada di luar. Dengan raut wajah masam Aisyah kembali ke rumahnya. "Nyebelin, mentang- mentang pamer betis sama rambut aja sok cantik!" Gerutu Aisyah sambil berjalan.
Bella meletakkan rantang di meja dengan wajah kesal, Fadli bingung menatap Bella. Mungkinkah memang benar Bella cemburu atas kehadiran Aisyah tadi. Kalau memang benar Fadli sangat senang.
"Dia ngapain ke rumah kita?" Gerutu Bella menatap ke arah lain. Apa tadi rumah kita, berarti Bella menganggap dirinya adalah bagian penting dalam hidupnya.
"Maafkan saya Bella," Fadli kini menyentuh tangan Bella. Tapi segera di tepis.
"Aku cemburu tau nggak sih." Teriak Bella dengan wajah kesal duduk di sopa.
"Kamu beneran cemburu?" Tanya Fadli menatap tidak percaya, apa wanita memang sejujur ini Fadli suka sifat berterus - terang Bella.
"Ini yang buat aku lebih suka pacaran sama cowok kayak Rey, cowok alim banyak istrinya pasti."
"Maafkan saya Bella, bagi saya kamu sudah cukup."
"Beneran?" Tanya Bella menatap Fadli penuh selidik.
"Iya Bella." Fadli bersemu malu.
"Sini," Bella menarik tangan Fadli sehingga Fadli jatuh ke dalam pelukannya.
"Saya juga kesal," ungkap Fadli menatap ke arah lain.
"Mas kesal kenapa?" Fadli masih menatap ke arah lain, dia belum bisa menjawab bahkan terlalu malu untuk jujur.
"Mas.," Panggil Bella kini duduk di pangkuan Fadli.
"Saya kesal," Fadli menarik napas dalam karena jarak Bella dengan dirinya sangat dekat dia jadi tidak bisa marah melihat wajah imut Bella.
"Bilang dong Mas kesal kenapa, Bella jadi bingung mau ngapain." Rengek Bella memeluk leher Fadli, membayangkan sikap manja Bella seperti sekarang dia jadi ingat sang adik. Jangan- jangan Bella selalu menunjukkan sikap manjanya ke Rey lagi.
"Kamu masih mikirin Rey?"
Fadli kembali membuang muka.
"Sedikit,," jawab Bella jujur, "Tapi sekarang aku sudah mencintai mas Fadli." Apa tadi? Bella mulai mencintainya, dia tidak salah dengarkan?
"Kamu serius?" Fadli menatap dengan mata berbinar.
"Iya mas," jawab Bella mencium tangan Fadli. Dengan wajah bahagia Fadli mulai menyentuh tengkuk Bella, jarak mereka cukup dekat hanya beberapa senti saja. Tapi saat mereka hampir berciuman.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN....,!!" Teriak Rey menatap tidak percaya saat baru membuka pintu rumah dengan kunci cadangan, sang kakak yang begitu dia andalkan dan sang kekasih yang sangat di cintainya hampir berciuman. Bella dan Fadli masing dalam posisinya yang sama menatap ke arah Rey. Mereka masih terkejut tiba- tiba Rey hadir setelah lama menghilang.
"Rey, Abang bisa jelaskan." Fadli kini bangkit dari duduknya menghampiri Rey.
"Lo bajingan berani banget lo tikung pacar gue!" Rey meninju wajah sang kakak.
"Rey lepas!" Teriak Bella berusaha melepaskan Rey dari Fadli.
"Gak usah ikut campur Bel!" Bentak Rey mendorong Bella, "Brukkkkhhh...," Bella terjatuh di lantai. Fadli dan Rey menatap ke arah Bella.
"Belllaaaa....," Teriak mereka berdua berlari ingin menolong Bella. Bella segera bangkit di bantu Rey dan Fadli untuk duduk di sopa. Mereka bertiga duduk dalam hening. Fadli duduk di sisi kanan Bella sedangkan Rey duduk di sisi kiri.
Rey mulai jengah dengan situasi canggung ini, "Baiklah Bang, karna lu udah biayai hidup gue. Gue maafin perbuatan buruk lo ke gue." Fadli mengangguk tersenyum menatap ke arah sang adik.
"Dan kamu Bella, ikut aku." Rey bangkit dari duduknya menarik tangan Bella, Fadli segera bangkit menghentikan Rey membawa Bella pergi.
"Rey lepaskan tangan kotormu!" Bentak Fadli kini menarik tangan Bella sehingga kembali ke pelukannya.
"Apaan sih, lancang banget lu peluk-, peluk cewek gue..,!" Bentak Rey tidak kalah sengit. Bella yang sebal dengan sikap mereka hanya menarik napas jengah.
"DIAM...!!" Teriak Bella nyaring sehingga menghentikan aksi saling bentak mereka.
"Bella," Fadli menatap sang istri.
"Bel," Rey heran.
"Kalian berhenti bertengkar dan Rey kami sudah menikah." Ungkap Bella jujur membuat Rey menatap tidak percaya, amarahnya semakin di memuncak. Bella adalah wanitanya, bahkan Rey sudah berjanji saat pertama berpacaran dengan Bella untuk menjadikan Bella miliknya seutuhnya. Rey tidak suka miliknya di sentuh orang lain, apalagi kakaknya.
"Kalian keterlaluan!" Teriak Rey menatap marah.
"Kita nikah waktu kamu pergi di hari pernikahan kita. Maafkan kami Rey," pinta Bella kini duduk di sopa.
Rey mengikuti Bella kini duduk di samping Bella. Tunggu-, tunggu bukankah Bella sudah jadi istrinya Fadli tidak suka membiarkan sang adik terlalu banyak kontak fisik dengan Bella. Meskipun saat itu Bella adalah pacar Rey sekarang Bella sudah jadi istrinya.
"Bella ceraikan Bang Fadli, aku bisa maafin perbuatan kamu. Bel aku nggak bisa biarin kamu sama dia." Rey berusaha meyakinkan Bella, Bella juga mulai goyah dan di landa kebingungan. Rey adalah cinta pertamanya dan Fadli Bella mulai mencintai Fadli. Tapi rasa cintanya terhadap Rey lebih besar.
"Aku butuh waktu Rey."
Rey tertawa heran, bisa- bisanya Bella ragu- ragu untuk menceraikan Fadli kakaknya. Apa cintanya sangat tidak berharga sehingga menjadikan Bella seperti ini.
"Bella apa maksudmu...,?!" Tanya Fadli tidak rela bila harus bercerai. Fadli tidak ingin kehilangan Bella.
"DIAMLAH LO BAJINGAN, UNTUNG LO KAKAK GUE. KALAU ENGGAK UDAH GUE BUNUH LO KALAU INGAT PERBUATAN BUSUK LO...,!!" Teriak Rey, air matanya sampai jatuh tidak rela mengetahui sang kakak sudah menikah. Inilah Rey dirinya yang sebenarnya. Bella adalah satu- satunya tempatnya bersandar dan sang kakak tega-, teganya menikahi Bella.
"Maafkan aku Rey," Bella mulai terisak menepuk- nepuk punggung Rey. Rey yang rapuh memeluk Bella erat. Fadli tidak bisa berbuat apapun kini duduk dengan menatap cemburu. Meskipun Rey lebih dulu mengenal Bella, Bahkan Rey adalah yang pertama untuk Bella tetap saja Fadli tidak suka melihat mereka seperti itu.
"Bell, ceraikan dia Bell. Aku nggak mau hidup kalau kamu masih mempertahankan dia. Aku udah berusaha keras supaya hidup bahagia sama kamu." pinta Rey di balik pelukan Bella. Bella hanya terisak tidak dapat berkata- kata jujur dia juga tidak bisa hidup tanpa Rey. Bahkan melihat Rey rapuh seperti sekarang dia tidak sanggup.
"Maafkan aku Rey.," hanya kalimat itu yang terus terlontar di dalam pikirannya.