Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terasa spesial : 10
“Mommy janji kan mau buruan balik ke Indonesia?” tanyanya lirih, sangat berharap ibunya segera kembali.
Jawaban diujung sana mampu menerbitkan senyum lebar di wajah sendu.
“Aku juga sayang sama Mommy. Jangan lama-lama pulangnya, aku gak suka sama dia, mana kakinya buntung lagi. Buat malu saja kalau sampai para sahabatku tau,” adunya tidak menutupi rasa kesal.
Tatiana melepaskan headset, melempar benda tanpa kabel itu hingga terjatuh ke lantai. Hal biasa baginya, tentu enggan memungut karena itu tugas pelayan.
“Tunggu sampai mommyku pulang, kamu bakalan diusir dari sini!” Tangan kanannya menumbuk telapak kiri.
Gadis bersurai panjang itu menarik selimut sampai batas pundak. Sekarang hatinya sudah tenang karena ibunya telah berjanji akan segera pulang.
***
Pagi datang menjemput, di kamar bercahayakan temaram lampu tidur, yang lebih dulu terbangun adalah sang kepala keluarga.
Yarash merasakan badannya ringan, tidak seperti hari-hari telah terlewati ketika tidur bersama putranya.
“Kemana Ardan?” gumamnya dengan suara serak dan mulai membuka mata. Diliriknya bagian perut dari posisi berbaring memakai dua bantal.
Biasanya saat menjelang pagi, Ardan terlelap berbantalkan perut atau dada ayahnya. Terkadang kakinya naik ke wajah maupun anggota badan papinya.
Muka bantal baru saja terjaga itu menoleh ke samping kanan. Yarash sampai mengerjapkan mata guna memperjelas apa yang baru saja dilihatnya.
Kaki gempal Ardan memeluk paha bercelana panjang tak tertutup oleh selimut. Tangannya melingkari perut ramping dibalik baju yang terlihat menggembung dari luar. Sementara kepala balita gengsian bersandar di atas belahan dada Saniya.
Diam-diam Yarash mengambil ponsel pintar modern yang bisa merekam video di tempat gelap tanpa menyalakan lampu kilat (flash).
Selang beberapa menit, terlihat tanda-tanda Ardan mau bangun, Yarash pura-pura tertidur seraya mengintip apa yang akan dilakukan putranya itu.
Kaki dan tangannya mulai turun dari atas badan sang ibu tiri, sedangkan kepala menekan benda kenyal yang membuat balita tersebut seperti merasa heran.
Sepasang mata bulat terpejam, langsung terbuka. “Ini apa?” Ditepuk-tepuknya dada kiri terasa membal.
Lutut Ardan menekan kasur, dia pun duduk seraya mengusap-usap mata.
“Huwwaaa … aku ndak suka dipeluk Ibu tili,” tangisnya melengking dengan suara serak.
Saniya Syamira tersentak, ia terjaga mendengar suara tangisan balita duduk berlutut sambil mencungkil kerak bekas air liur di sekitar mulutnya.
“Kenapa, Ardan?” Ditahannya bobot badan menggunakan siku, lalu dia duduk.
“Jangan pegang-pegang!” larangnya ketus, enggan diusap kepalanya oleh tangan berjari lentik.
“Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?” tanya Saniya bertutur lembut sarat rasa cemas.
“Ibu tili kenapa peluk aku, hah?!” Ia bersedekap tangan di atas dada.
Saniya berusaha menerka, diperhatikannya posisi tempatnya berbaring tadi. ‘Aku gak melewati batas, malah tidur dekat tepian. Kenapa dia nangis dan menuduhku?’
Yarash tidak tahan lagi pura-pura tidur, apa yang tampak di depan mata sangat lucu baginya. Ekspresi kebingungan Saniya dengan wajah natural baru bangun tidur, lalu drama putranya, semua ini terasa spesial, hidup.
“Selamat pagi anak Papi. Pagi mami Saniya,” sapanya hangat, lalu menekan saklar lampu di samping kasur.
“Pagi, Mas,” sahut Saniya.
Ardan merangkak mendekati ayahnya, berniat mengadu. Enggan membalas sapaan.
“Ibu tili suka aku, dia peluk telus gak mau lepasin,” adunya dengan kalimat berantakan.
Dipangkunya sang jagoan pintar bersilat lidah. “Yakin kalau yang meluk mami Saniya, bukannya Ardan?”
“Iya.” Angguknya penuh percaya diri.
“Baiklah. Ayo kita dekati mami Saniya,” ia telah memutuskan mulai sekarang akan membiasakan memanggil istrinya dengan sebutan mami jika didepan anak-anak.
Yarash bergeser sampai ke tempat tidur sebelahnya dengan masih memangku Ardan. “Sini, Mi. Kita tonton tayangan seru ini.”
Ragu-ragu Saniya menggenggam tangan yang terulur, tarikan kencang namun tidak menyakiti itu membantunya bergerak lebih cepat.
Mereka duduk sangat dekat, tak berjarak. Lengan saling bersentuhan.
Saniya memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di depan matanya. Dari Yarash menekan angka pengunci ponsel tanpa ditutupi, sampai wallpaper foto Tatiana sewaktu kecil memeluk bayi Ardan.
Video pun diputar, dan Ardan enggan mengakui, masih menyangkal dengan suara melengking lalu pecah (cempreng).
“Ini tu palsu. Gak kawan ah sama Papi. Aku mau sus Suci dalam debu saja,” tidak sanggup menanggung malu, diapun berdiri lalu melangkah cepat turun dari kasur.
Saniya membekap mulutnya, jangan sampai tertawa dan terdengar oleh Ardan, bisa-bisa langsung tantrum balita itu.
“Ihh. Pintunya nakal.” Ia berbalik, menggunakan bokong menabrak pintu yang belum dibuka kuncinya.
Tanpa sadar, Yarash memberikan ponselnya ke Saniya, lalu bergegas mendekati sang putra demi menghentikan drama berkepanjangan di pagi hari.
“Belhenti! Aku ndak kawan sama Papi!” jeritnya kesal, dia paham makna tersebut dari tukang kebun.
“Papi cuma mau ngambil air minum di luar. Tenggorokan Papi gatal.”
“Buluan bukain pintunya ini!” Dia maju seraya bersedekap tangan, bergaya bossy.
“Baik Ardan tampan,” goda pria yang rambutnya kusut, bahkan ada beberapa helai berdiri pada pucuk kepala.
Dipuji tampan, Ardan senyum-senyum tidak jelas. Begitu bertatap muka dengan Saniya, langsung memalingkan wajahnya.
Ketika pintu sudah terbuka, jeritan Ardan membahana.
“Sus Suci dalam debu! Aku mau eek!” Larinya menyerupai seekor anak Penguin.
Tinggallah Saniya seorang diri. Ponsel Yarash ditaruh di atas kasur, dia sendiri mengambil handphonenya di atas meja, lalu mematikan mode pesawat.
Baru saja menyala, notifikasi pesan beruntun terdengar.
Saniya membaca pesan dari sahabatnya yang juga rekan kerja, menanyakan apa hari ini dirinya masih cuti atau pergi mengajar.
Niatnya mau langsung meletakkan ponsel, tetapi barisan kalimat terdepan dari pria yang dia tinggal nikah, mengurungkan niatnya.
Mas Fahmi; Kenapa kamu setega ini Saniya? Salahku apa?
Mas Fahmi; Mas usahakan cepat pulang. Kita harus bicara. Gak peduli kamu udah nikah, yang jelas kita masih sepasang kekasih.
Pelupuk mata Saniya berair, didekapnya ponsel sambil memejamkan mata dan langsung saja air matanya terjun bebas.
‘Gapapa, nanti juga terbiasa. Kembali asing seperti dulu saat belum saling mengenal,’ batinnya menghibur diri, ternyata tidak mudah belajar melupakan terlebih ikhlas.
Tidak ingin sampai ketahuan tengah bersedih, Saniya beranjak tanpa menggunakan kaki palsu, dia memakai kruk berjalan ke lemari pakaian.
Mengambil pakaian ganti. Hari ini dirinya sudah masuk kerja, cutinya cuma diperbolehkan tiga hari saja.
***
“Papi, cucu Opa katanya mau makan sate Kambing!” Ardan berlari sambil memeluk toples dari bahan kaca plastik.
Saniya yang baru saja keluar dari dalam kamar dan sudah berpenampilan rapi, sejenak memperhatikan isi toples.
“Ardan, itu hewan apa?”
“Lahasia,” jawabnya tanpa mau berhenti.
“Kecoa, Bu,” Suci yang menjawab, lalu dia tergesa-gesa menyusul balita enggan dipakaikan baju.
“Kenapa bukan Kelinci, Hamster, malah Kecoa,” Saniya bergidik, dia tidak takut sama hewan berwarna coklat tua tersebut, cuma terkadang geli saja.
Saniya pun melangkah menuju meja makan, bersiap sarapan pagi pukul setengah tujuh, dan setengah jam lagi bus jemputan sekolah sudah tiba di hunian barunya.
Tatiana baru saja menjejakkan kaki di lantai satu, dan dia berpapasan dengan Saniya. Tiba-tiba perkataan ibu kandungnya semalam terngiang-ngiang dikepala.
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...