Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
“Tidak, kamu sudah mabuk.”
“Sekali lagi, ini yang terakhir. Janji.” sahutnya dengan cepat sambil memohon. Sepertinya jika dicegah lagi, gadis itu akan segera menangis. Dengan terpaksa pria itu memberikan segelas lagi, yang langsung diteguk Tirta hingga tandas.
“Mau dengar nasihat dariku tidak?” ucapnya dengan berbisik.
Marchel mendekat hingga telinganya dapat mendengar embusan napas teratur gadis di depannya. Seketika pikiran pria itu buyar. Telinganya memanas dalam sekejap.
“Jika kamu hanya diam di masa lalu, maka kamu akan menyia-nyiakan hidupmu. Mencintai itu boleh, tapi terkadang orang yang kita cintai juga akan senang jika melihat kita mampu menjalani hidup dengan baik.” Gadis itu terdiam sambil menutup matanya. Marchel sedikit memiringkan wajah hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa inci.
“Jadi aku harus mencari pengganti kekasihku?” Pertanyaan itu membuat Tirta membuka matanya seketika.
“Gadis lain bukan pengganti siapa pun. Kamu hanya perlu jatuh cinta lagi dan menjalani hidupmu dengan lebih baik. Jadikan kekasihmu itu sebagai kenangan yang indah, bukan kenangan yang menyakitkan. Itu hanya akan membuatnya semakin menderita di sana.” Jelas gadis itu sambil berusaha duduk dengan benar. Tirta meraih ponselnya lagi, lalu memutar musik DJ yang sedang populer dengan volume sangat keras.
“Lalu sekarang kita party!” Teriaknya penuh semangat. Bahkan ia berdiri meski tubuhnya sudah sempoyongan.
“Jangan lari-lari kalau ingin menari!”
Peringatan pria itu tidak digubris oleh Tirta. Gadis itu masih saja menari sambil menggeleng-gelengkan pinggulnya. Marchel tidak masalah dengan tingkah random Tirta yang mengacaukan kamarnya. Namun yang ia khawatirkan adalah gadis itu menendang botol dan melukai kakinya.
“Awas, jangan sampai menyenggol meja!” Sembari terus mengawasi, pria itu menelepon Arga yang langsung menjawab panggilannya, seolah memang sedang menunggu telepon tersebut.
“Ke kamarku sekarang! Tirta, awas!” Titahnya tanpa basa-basi. Bahkan tanpa menunggu jawaban, telepon itu sudah lebih dulu dimatikannya.
Prang!!
Suara pecahan botol yang tertendang oleh Tirta akhirnya terdengar. Wajah Marchel berubah drastis. Ia ingin menghampiri gadis itu, tetapi tubuhnya tidak mampu bergerak.
“Kakimu luka tidak? Coba lihat!” Panggilnya sambil mengulurkan tangan agar diraih oleh Tirta. Sedangkan Tirta mengerjapkan matanya perlahan hingga pandangannya kembali jelas. Ia menatap kakinya yang kini mulai berdarah.
“Sedikit...” sahutnya. Gadis itu mendekat kepada pria yang masih mengulurkan tangannya. Tirta meraih tangan tersebut, lalu ditarik oleh Marchel hingga duduk di atas pangkuannya. Dengan segera pria itu memeriksa luka di kaki gadis tersebut.
“Ini berdarah. Kita panggil dokter.” Ucapnya sambil segera meraih ponsel. Namun Tirta menepis ponsel itu dan menggeleng.
“Ini hanya luka kecil. Luka yang besar itu ada di sini.” Celotehnya sambil memegang dadanya dan tersenyum. Setelah itu, ia juga menyentuh dada bidang pria tersebut.
“Luka yang ada di sini sering kali menghambat jalan hidup kita.” Kini gadis itu beralih memegang kepalanya.
“Dan kepala ini adalah perekam yang sangat baik. Bukan karena dendam, hanya saja kita selalu mengingat hal-hal yang terasa tidak adil.”
“Berhentilah bicara. Sekarang kita obati kakimu dulu.” Marchel mengambil tisu yang ada di sebelahnya, lalu menekan luka itu agar darahnya tidak keluar semakin banyak. Tirta memperhatikan sikap pria itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Jangan baik padaku. Aku takut jatuh cinta.” Ucapnya sambil menatap mata pria yang juga sedang menatapnya. Seseorang yang terbiasa melakukan segalanya sendiri, dengan hati yang begitu haus akan perhatian, akan sangat mudah jatuh cinta hanya karena perhatian kecil.
“Apa kamu akan bersikap begini kepada pria lain juga?” Pertanyaan itu dipenuhi aura ancaman. Seakan jika gadis itu salah menjawab, maka habislah dirinya.
“Bisa jadi...” Sahutnya dengan mata yang perlahan mulai terpejam. Marchel meraih pinggang gadis itu agar semakin dekat. Hal itu membuat Tirta yang hampir tertidur kembali membuka matanya.
“Kalau begitu, kaki ini akan kupatahkan.” Aura pria itu berubah mencekam. Tidak lagi selembut dan seteduh saat menatapnya beberapa saat yang lalu. Tirta hanya tersenyum kecil, lalu terkekeh pelan. Tanpa sadar, ia menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan pria tersebut.
Gadis itu tertidur dengan pulas, tanpa sempat menjelaskan apa pun ataupun kembali berdebat dengan pria yang kini memeluknya erat.
Ceklek...
“Tirta—” Suara Lala tercekat saat melihat seorang pria memangku sahabatnya dengan pelukan posesif, sementara satu tangannya memegang kaki Tirta yang terluka.
“Arga, bersihkan tempat tidurku.” Perintah itu keluar tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk bertanya. Lala membeku seketika. Aura pria itu seakan menolak kehadirannya di kamar tersebut. Tentu saja, karena ia masuk tanpa izin dari pria yang ditemuinya tadi di depan rumah.
Tanpa bertanya lebih banyak, Arga melakukan apa yang diperintahkan, walaupun kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Lala baru saja mengetahui dari ibunya bahwa pemilik rumah ini membayar sangat mahal untuk setiap makanan yang mereka antar, tetapi dengan syarat yang mengantarkan haruslah Tirta.
Awalnya Bu Niki sangat keberatan karena syarat itu terdengar janggal. Tirta sudah dianggap seperti putrinya sendiri, sehingga sebagai seorang ibu tentu ia merasa ada yang tidak beres. Namun, pemesan itu terus memaksa dengan mengatakan bahwa semua ini demi putra mereka. Katanya, syarat itu hanya berlaku kali ini saja. Lala pun segera datang ke rumah tersebut ketika Tirta tak kunjung memberi kabar hingga larut malam.
Saat mengetuk pintu rumah, ternyata seorang pria baru saja datang menggunakan mobil sportnya. Mereka bertemu tepat di depan rumah. Lala sangat yakin bahwa pria itulah pemilik rumah ini. Lala dan Arga sempat beradu argumen di depan pintu karena pria itu melarangnya masuk. Namun Lala tidak mau menunggu seperti yang disarankan Arga. Ia berpikir pria-pria ini pasti melakukan sesuatu kepada gadis polos seperti Tirta.
Dengan keras kepala, Lala menerobos masuk ketika Arga menerima telepon dan berlari menuju rumah belakang.
“Ka-kamu... apakah temanku baik-baik saja?” Tanya Lala memberanikan diri. Meski keberaniannya hampir habis, demi Tirta ia tetap memaksakan dirinya maju.
“Arga, panggil dokter.” Marchel sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan gadis yang perlahan mendekat meski tampak sangat ketakutan.
“Aku akan memindahkannya.” Ucap Arga sambil mengambil alih Tirta untuk dibopong ke atas kasur. Marchel menatap tajam setiap gerakan sepupunya itu.
Huh! Aku cuma memindahkannya, bukan menidurinya! Tatapan itu seolah sedang mengulitiku hidup-hidup.
Batin Arga sambil membaringkan tubuh Tirta yang masih terlelap.
Setelah itu, Arga membantu Marchel kembali duduk di kursi rodanya sambil menunggu dokter datang. Lala masih kesal. Namun sepertinya seluruh keberaniannya telah menguap, karena lututnya saja kini bergetar menahan takut. Keheningan menyelimuti ruangan hingga seorang dokter datang memeriksa kaki Tirta, memastikan tidak ada serpihan beling yang tertinggal di sana.
Setelah itu, luka di kaki gadis tersebut dibersihkan, diobati, lalu dibalut dengan sedikit perban sesuai permintaan Baginda Marchel.
“Nona, Anda pulang saja. Tirta akan tidur di sini malam ini. Lagi pula, sepertinya Anda juga tidak akan sanggup membawanya pulang.” Ujar Arga dengan sopan. Lala menggeleng cepat.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan hal buruk padanya. Kalau dia menginap, maka aku juga akan menemaninya. Lagi pula aku bisa meminta pacarku untuk menjemput kami.” Sahut Lala dengan keras kepala. Marchel tetap duduk di kursi rodanya sambil memandangi wajah teduh Tirta yang sedang tertidur.
“Ekhem.” Deheman pria itu membuat Arga panik. Dengan kedua tangan memohon, ia berkata,
“Aku mohon, Nona. Kami tidak akan melakukan apa pun pada Tirta. Nona juga bisa tidur di rumah depan jika ingin memastikan. Sekarang, mari ikut saya keluar terlebih dahulu.”
“Tapi—” Arga perlahan mendorong Lala keluar kamar karena macan di dalam sana mulai kehilangan kesabarannya. Sebelum benar-benar pergi, Lala sempat menatap Marchel yang sedang membelai wajah sahabatnya dengan begitu lembut.
Aneh, bukan?
Mereka bahkan bukan orang yang saling mengenal.
Lalu, suasana apa yang sebenarnya sedang tercipta di antara keduanya?
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜