Nyai sekar ayu hanindia dikenal sebagai dukun manten yang cerdas, cantik dan berhati suci di desa terpencil yang masih menganut budaya jawa kejawen yang kental.
Ilmu dukun manten merupakan ilmu ma'rifat yang turun temurun didapat sejak zaman kerajaan terdahulu. Tidak sembarang orang mampu mewarisi ilmu ma'rifat tersebut.
Dalam lingkungan masyarakat kerajaan terdahulu dukun manten memiliki tujuan membangun kerukunan sesama manusia melalui budaya, adat, wuku dan tahun.
Apa jadinya kalau keempat sahabat. Leo Radin Syah, Elang rahardika, intan champa dan Sundari harus mengalami hal supranatural sehingga melibatkan sang DUKUN MANTEN, Nyai sekar ayu hanindia harus turun tangan membantu konflik mereka??
Dapatkah mereka terbebas dari segala konflik BLACK MAGIC atau supranatural lainnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laura Hussein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara misterius (alur masa lalu)
Tik...tik...tik..
Musibah tambahan menimpa Ratna dan Bima. Langit mulai sedikit menumpahkan isinya.
"Hujan, lebih baik kita cari tempat untuk berteduh!!" Ujar Ratna panik. Melihat langit yang sudah gelap, dengan awan menggumpal-gumpal.
"Aku tahu, tempat berteduh yang aman.." seru Bima seraya menggandeng istrinya berlari menuju gubuk, tepat beberapa puluh meter lagi.
Drrttsssss!!
Pakaian Bima dan Ratna langsung basah kuyup, ketika gerimis berubah menjadi hujan deras. Beruntung mereka sampai di gubuk tepat waktu. Jika tidak, mungkin mereka pasti kehujanan sepanjang jalan.
"Brrrrrr.." Ratna menggigil kedinginan. Apa boleh dikata, kain yang melilit tubuhnya adalah kain tipis yang langsung menyeplak, tembus pandang terkena air. Tubuhnya yang sintal dan seksi seakan basah kuyup tanpa mengenakan apapun.
Melihat istrinya yang kedinginan, Bima memeluk istrinya erat sekedar memberi kehangatan.
Ratna mulai merasakan sensasi kehangatan karena berpelukan dengan tubuh suaminya. Setelah kondisi tubuhnya normal, ratna memperhatikan gubuk di tengah hutan bingung.
"Ini gubuk siapa, Aneh?! Mengapa letaknya ada di tengah hutan begini.." sahut Ratna bingung.
"Oo, gubuk ini memang sudah ada sejak lama. Polisi perhutani yang membuatnya, untuk mengontrol warga, barang kali ada pembalakkan dan penebangan liar di hutan.." terang Bima jelas.
Ratna menganggukkan kepala dan membulatkan bibirnya. Hujan semakin deras, dan saat ini mulai tempias ke arah mereka.
Tubuh ratna memang sudah tak menggigil karena suaminya terus memeluk Ratna erat. Namun pemandangan langit makin gelap dan angin makin kencang berhembus. Jika tetap di luar gubuk. Mereka bisa masuk angin.
"Lebih baik mas coba masuk kedalam. Sebentar, mas periksa dulu. Barangkali ada orang.." tutur bima seraya melepaskan pelukannya dan menuju daun pintu yang terbuat dari pohon kelapa.
"Permisi..."
Ujar bima sambil mengetok pintu. Berkali-kali mengetuk, tapi tak ada suara yang menyahut.
Rasa penasaran pun membuat Bima mulai mengintip ke lubang yang ada di antara bambu-bambu yang menjadi dinding gubuk.
Langit yang gelap terhalang awan membuat Bima tidak bisa melihat terlalu jelas kedalam.
"Sepertinya, tak berpenghuni.." gumam Bima yang melihat sekilas tak ada siapapun disana. Bima perlahan mencoba mendorong pintu.
KREKKKKK... Beruntung. Tampaknya hari ini, Ratna dan Bima tidak sepenuhnya sial ternyata pintu gubuk itu tidak terkunci.
Bima merangkul istrinya yang menggigil kedinginan menuju ke dalam gubuk.
Ketika masuk kedalam, tak ada apapun di gubuk tersebut. Hanya ada ranjang yang terbuat dari bambu beralaskan daun pohon kelapa.
"Sepertinya memang benar gubuk ini buatan polisi perhutani untuk sekedar istirahat patroli kehutanan.." batin Ratna.
Gelap!! Kebetulan terdapat lampu ceplik yang masih banyak terisi minyak tanah. Bahkan terdapat korek api kayu juga didekatnya.
Setelah lampu ceplik itu menyala, bima dan Ratna dapat tenang berteduh di gubuk tengah hutan sampai menunggu hujan reda.
Karena pakaiannya yang basah. Ratna duduk di ranjang bambu sambil memeluk diri. Tubuhnya masih menggigil kedinginan. Ratna sampai menggosok-gosok tangan ke tubuhnya agar merasa hangat.
Bima perlahan mendekati istrinya yang kedinginan. Bima duduk berhadapan dengan sang istri seraya memandangi bibir ratna yang berwarna biru karena kedinginan. Bima memeluk istrinya erat memberi kehangatan.
"Tenanglah, ada aku disini!!" Bisik suaminya menenangkan. Oh tidak, suara bima membuat ratna kegerahan.
Waktu berlalu hingga sore, namun hujan masih belum reda.
"Hmmm..mas.." tutur Ratna sedikit ragu.
DUAAARRRR!!!
Suara nyaring petir menyambar diikuti kilat cahaya kebiruan ke bumi.
Ratna, sontak memeluk suaminya dan bersembunyi di balik dekapan bima, erat.
"A-aku, takut mas.." ujar Ratna mulai gemetar.
"Tenanglah, ada aku disini!!" jawab bima sambil menepuk punggung istrinya lembut, menenangkan.
KRESEK..KRESEKK..
Ratna mendengar suara itu lagi, suara yang sama saat di talang air hutan hingga membuatnya jatuh tersungkur. Suara seperti gesekan dedaunan diikuti suara aneh misterius, seperti erangan yang menakutkan.
"Mas, suara itu lagi!!" Teriak Ratna seraya mencengkram lengan suaminya erat.
"Suara apa?? Aku bahkan tidak mendengar suara apapun, selain percikan hujan dan kilat yang menyambar.." tutur Bima bingung.
Herrrggggggg!!!
Suara erangan menakutkan itu kembali terdengar, bahkan saat ini terasa nyaring di telinga Ratna.
"Dengar itu, mas. Erangan suara menakutkan itu semakin kencang terdengar!!" seru Ratna lagi seraya menggoyang-goyangkan tubuh bima.
Bima berusaha mendengarkan secara seksama. Namun tetap saja Bima tak mendengar suara erangan sedikitpun.
"Mas, tidak mendengar suara erangan seseorang.." ujar Bima memastikan lagi bahwa indra pendengarannya normal.
Herrrggggggg... Herrrggggggg...
Suara erangan misterius itu kembali memekakkan telinga Ratna, ratna mulai merasa terganggu dengan suara misterius yang ternyata hanya didengar oleh Ratna saja.
Ratna menutup kedua telinganya dengan kedua tangan, berharap suara tersebut berhenti. Namun semakin ratna menutup daun telinganya, suara misterius tersebut bahkan semakin nyaring.
"Argghhhh,, berhenti!! tolong berhenti mengerang!!" teriak Ratna mulai jengah terus dihantui oleh suara erangan misterius itu.
Bima yang panik, menyaksikan Ratna berteriak histeris tak terkontrol. Mendekap tubuh istrinya yang semakin menggigil ketakutan.
SSreeettt...
Pandangan Ratna tiba-tiba fokus daun pintu gubug yang memang sengaja dibuka. Tiba-tiba terdapat bayangan hitam besar sekelebat lalu menghilang entah kemana.
"I-itu, mas. A-ada bayangan hitam di pintu.." teriak Ratna seraya menuding ke arah pintu.
"Tenanglah, ada aku disini.." bima terus berusaha menenangkan.
Herrrggggggg...
Erangan misterius itu kembali terdengar untuk kesekian kalinya.
Ratna semakin ketakutan hebat, bahkan tubuhnya sudah berkeringat dingin dan tanpa diduga, dari hidung dan telinganya mengalir darah segar.
Menyaksikan Ratna yang mimisan dan semakin ketakutan. Bima terus mendekap tubuh istrinya yang terus berontak tak beraturan seraya berteriak.
"Hentikan, tolong hentikan!!" tutur ratna sudah tak tahan.
Bima membersihkan aliran darah segar di hidung dan telinga istrinya dengan sobekan kain.
"Sebenarnya ada apa ini?? Mengapa istriku seolah diteror seseorang. Suara erang misterius seperti apa?? Aku bahkan tidak mendengar suara aneh misterius yang Ratna maksud.." gumam Bima dalam hati seraya membaringkan tubuh Ratna yang saat ini pingsan.
kalau buah kutilayu mungkin d tempat ku namanya buah klayu x ya. jd penasaran gambarnya kekmana
kasian ibunya elang.
burung gagak petanda akan meninggalnya ibu elang.
kasian Ratnya jiwanya d bawa pergi sm s luman d jd kan ratunya.
mari saling dukung
Salken ya...
Mampir yuk di novelku
GADIS TIGA KARAKTER