Haii Readers...
Ini karya Ku yang ke empat semoga kalian suka...
"Dasar wanita ja**ng, aku menyesal menikahimu." Abbas menarik rambutku.
Ppllaakk.
Abbas menampar ku hingga bibir ku mengeluarkan darah segar.
"Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku memegangi lutut suami ku.
"Cepat kamu ceraikan dia, Mommy ngga sudi mempunyai menantu miskin, ja**ng dan mandul seperti dia." Usir Mommy mertua ku.
Air mata ku mengalir deras, Daddy mertua ku hanya diam saja.
Bagaimana kelanjutannya kisahnya?
Kisah ini diambil dari seorang sahabat, bukan plagiat ini kisah nyata. Semoga kalian menyukainya...
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bengkak
"Perjuangan ku selama ini tidak sia-sia, akhirnya kamu jadi istriku, walau dulu kamu selalu menolak ku. Aku tidak akan pernah menyakiti mu atau melepaskanmu, karena mendapatkan butuh perjuangan yang sangat melelahkan." Abbas merapihkan anak rambut Alsava.
"Aku sangat mencintaimu my wife. Mmuuaacchh." Abbas menciumi seluruh bagian di wajahnya dan memeluk Alsava, hingga akhirnya ia pun ikut terlelap.
🌸🌸🌸🌸🌸
Jam 4.30 Alsava terbangun, karena ia merasa perutnya tertindih sesuatu yang berat.
"I-ini tangan siapa?." Alsava ketakutan, melihat tangan kekar berada di atas perutnya.
"Kamu udah bangun, Yank." Suara Abbas serak.
"Hah!!." Alsava kaget mendengar suara Abbas, lalu ia membalikan badannya menghadap Abbas.
"Pagi, sayang." Abbas mengecup kilas bibir Alsava.
"Loh! kamu bisa di tempat tidur sih..." Alsava sewot dan mengelap bibirnya.
"Kamu lupa, kita udah menikah."
"Hehehe... Maaf aku lupa." Alsava baru mengingat bahwa ia telah menikah dengan Abbas.
"Kamu ya, dari semalam aku bikin aku kesel." Abbas menarik gemas hidung Alsava.
"Ish! Sakit, Yank. Mang aku semalam kenapa?."
"Kamu tidur duluan, padahal kita mau ML."
"Maaf abis aku kemarin lelah banget, Yank."
"Soal semalam aku sudah maafkan, tapi hari ini tidak akan memaafkanmu. Bila kita tidak melakukan hari ini." Abbas sudah berada di atas Alsava.
"Tu-tunggu, kita sholat subuh dulu." Alsava mendorong Abbas pelan.
"Astaghfirullah, aku lupa. Ayo, kita sholat subuh berjamaah." Abbas membantu Alsava bangun.
Mereka berjalan bersama menuju kamar mandi, untuk ambil air wudhu. Kemudian mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Aku bersyukur Engkau telah kirimkan seorang Imam yang akan menuntun hamba ke jalan menuju surga Mu, Ya Allah." Doa Alsava di dalam hati
Ketika Alsava melipat mukena dan sajadah, Abbas memeluknya dari belakang. Membuat jantung Alsava berdetak kencang.
"Kamu tambah cantik, Yank. Abis sholat." Abbas mencium pipi kanan Alsava. Wajah Alsava merona.
"Kamu udah siap kan?." Abbas membalikan tubuh Alsava, tanpa ragu Alsava mengangguk kepalanya. Abbas mendapat lampu hijau dari Alsava, lalu ia menggendong Alsava sambil menaruh mukena dan sajadah di meja.
Tiba di ranjang, Abbas mencium rakus bibir kenyal Alsava yang ia nantikan.
"Bibir kamu sangat manis, Yank. Membuat aku kecanduan."
Abbas mencium leher dan tangannya bermain di gunung kembar yang sangat padat.
"Aku akan melakukan pelan dan lembut." Bisik Abbas.
"La-lakukanlah."
Sang naga mencoba masuk goa, tapi goa itu sangatlah sempit. Membuat sang naga kewalahan untuk menobros masuk kedalam goa, tak lama kemudian sang naga akhirnya bisa menobros masuk ke dalam Goa sepenuhnya. Ada cair merah keluar dari dalam goa.
"Sa-sakit, Yank. Hiks... Hiks..." Alsava menangis.
"Maaf, Yank. Kita akan melakukan sesering mungkin, biar ngga sakit lagi. Yank."
"Ahhh... Nikmat sekali, kenapa ngga dari dulu kita menikah. Yank.
Sang naga beberapa kali menyeburkan liurnya kedalam goa. Hingga goa yang tadi terasa sempit, sekarang terasa ronggar. Walau agak sempit sedikit.
"Udah, Yank. Aku sudah ngga kuat." Alsava lemas.
"Bentar lagi, ini yang terakhir." Abbas mempercepat gerakan dan akhirnya tumbang di atas tubuh Alsava.
"Terimakasih, Yank. I Love you." Abbas mencium kening Alsava. Lalu berbaring di samping Alsava.
"Iya, Yank." Alsava memeluk Abbas.
"Mulai sekarang, kamu panggil aku Mas. Biar enak di dengar."
"Iya, mas Abbas ku sayang." Alsava mencium pipi Abbas.
"Kamu menggoda ku, apa kamu mau lakukan lagi?."
"Ngga, ini aja sakit banget mas. Rasanya kaya mau copot."
"Hahaha... ada-ada aja kamu, Yank. Coba sini aku lihat."
"Jangan nanti, kamu melakukannya lagi." Alsava mencegah Abbas dan menutup dengan kedua tangannya.
"Ngga, sayang." Abbas memegang tangan Alsava dan melihat daerah intim Alsava.
"Astaghfirullah, ini bengkak banget. Yank, maafkan aku ya." Abbas kaget dan merasa bersalah, karena akibat kelakuan Abbas daerah intimnya Alsava bengkak.
"Ngga apa-apa mas, ini sudah kewajiban aku sebagai istri kamu." Alsava tersenyum.
"Terimakasih, Yank. Kamu sudah mau menerima aku menjadi suami mu." Abbas memegang pipi Abbas.
"Sama-sama, Yank." Alsava melingkar tangannya ke leher Abbas.
.
.
.
.
.
.