Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Belum Berakhir
Amanda yang sudah sampai dikosan, dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
"Tadi, kamu makan bareng siapa direstaurant?" orang itu adalah Denis, mantannya.
"Ngapain kamu ada disini? Bukannya aku sudah bilang jangan datang lagi?" Amanda menatap tak suka pada kehadiran Denis.
"Aku tanya kamu tadi makan dengan siapa direstaurant?" ternyata Denis melihat Amanda direstaurant karena dia juga datang kesana bersama tunangan dan keluarganya. Sebuah kebetulan yang tak terduga mereka bisa bertemu di restaurant yang sama. Walau restaurant itu dipilih olehnya karena memang lebih dekat dengan rumahnya.
Denis tak tahu bahwa Amanda datang bersama Aqila dan juga Raisa, saat itu ia hanya melihat Amanda sedang mengobrol dengan Reihan ketika Amanda sedang berusaha untuk mengganti makanannya yang sudah dibayar oleh Reihan sebelumnya.
"Kamu ngikutin aku?" Amanda menatap curiga.
"Aku juga makan disana bareng keluargaku, karena itu aku jadi bisa tahu kalau kamu ada disana." jawab Denis.
Amanda akhirnya tersadar bahwa itu memang daerah dekat rumah mantannya. Ia baru ingat, dulu juga pernah makan disana bersama Denis. Tapi, saat bersama Raisa dan yang lainnya ia justru tak memperhatikan nama restaurannya, karena tertutup oleh rasa canggung dan perasaan tak nyaman karena mendadak ikut makan bersama mereka.
"Jadi kamu datang jauh-jauh kesini cuma mau bertanya soal ini doang?" Amanda menatap tak percaya.
"Aku perlu tahu siapa laki-laki yang bersama kamu tadi?" Denis masih penasaran soal Reihan.
"Itu tidak ada hubungannya sama kamu Denis, jadi lebih baik kamu pergi dari sini." usir Amanda yang hendak masuk kedalam rumah.
Tapi, Denis langsung menghentikan langkah Amanda. Tak ingin obrolan mereka berakhir begitu saja.
"Ini sangat ada hubungannya denganku, karena aku masih mencintaimu." ucap Denis kembali mengakui perasaanya yang masih mencintai Amanda.
"Cukup!" Amanda menghentikan ucapan Denis dengan ekspresi marah. "Kita sudah selesai! Jadi, please kamu berhenti untuk terus mendekatiku!" pinta Amanda dengan sedikit frustasi menghadapi sikap Denis yang masih terus berusaha mendekati dirinya.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Denis memasang wajah sendu.
"Tidak ada lagi yang perlu aku jelaskan soal ini, karena bagiku kita sudah selesai. Begitupun dengan perasaanku." jawaban Amanda cukup tegas.
"Aku berjanji akan meyakinkan mama agar kamu bisa diterima lagi. Jadi, aku mohon kembalilah padaku. " Denis masih terus berusaha membujuk Amanda.
"Tidak perlu! Penghinaan dan penolakan yang mamamu lakukan padaku sudah sangat membuatku sadar, bahwa kita tidak bisa terus bersama." mata Amanda membulat penuh ketegasan. Ekspresinya tenang seolah sudah berdamai dengan masalahnya.
Lima tahun bersama harus berakhir dengan luka yang tak bisa disembuhkan begitu saja. Kenangan yang dulu manis, kini hanyalah sebuah memori masa lalu yang harus segera dilupakan.
"Aku mau kita bicara berdua saja." Denis masih berusaha.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, jadi untuk apa lagi kita harus bicara?" Amanda semakin murka.
"Karena kita perlu membicarakan masalah kita yang belum selesai." ucap Denis, masih tak mau mengakui.
"Masalah kita sudah selesai, Denis!" Amanda kembali menekankan status mereka.
"Masih belum." Denis menolak menerima.
Amanda kehilangan kesabaran dengan sikap Denis yang keras kepala. Ia sampai kehilangan kata-kata saking kesalnya.
"Kamu sadar tidak sih? Sikap kamu yang begini justru membuat dirimu terlihat jahat pada tunanganmu sendiri? Apa kamu tidak memikirkan perasaanya?" Teriak Amanda menyadarkan Denis pada tanggung jawabnya yang baru.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku? Aku begini juga karena masih mencintaimu." ujarnya, seperti orang yang putus asa.
"Aku tidak mau menyakiti siapapun Denis, aku juga tidak mau berurusan dengan mama kamu lagi. Jadi, sudah saatnya kamu belajar untuk merelakan aku dan berdamai pada situasi dimana kita sudah tidak bisa bersama lagi." ucap Amanda meminta Denis bisa belajar untuk berdamai dengan status mereka yang sudah tidak bisa bersama lagi.
Denis terpaku mendengar jawaban Amanda. Ekspresinya tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ditengah hari yang semakin petang, akibat matahari telah meninggalkan posisinya. Mereka terlarut dalam perdebatan yang menyakitkan satu sama lain.
"Apa benar-benar tidak ada kesempatan untuk kita bisa bersama lagi?" Denis masih mencoba berusaha.
"Cukup Denis, sebaiknya kamu kembali kerumah kamu, selagi aku masih berbicara dengan baik-baik sama kamu." Amanda tetap kekeh pada pendiriannya.
Bukan hari yang mudah bagi Amanda. Setiap hari selalu ada badai yang menghampiri hidupnya. Entah harus yang mana dulu untuk bisa diselesaikan. Dunia seolah tak memberikannya istirahat. Memaksanya untuk terus bersabar dan terus saja bersabar tiada henti.