NovelToon NovelToon
The Brides Of Alves (Menikahi Tuan Arogan)

The Brides Of Alves (Menikahi Tuan Arogan)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Badboy / Tamat
Popularitas:198.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Cewen

Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.

Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.

Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.

Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.

Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?


***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.

Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.

by Senja Cewen...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 Cinta Perih...

"Mikaila dan Selena akan tinggal di sini untuk beberapa waktu," kata Raavero. Satu kalimat berita yang sungguh mengejutkan bagi Rania.

Rania terpaku di tempatnya duduk. Dia begitu bersemangat saat Raavero kembali. Dia memakai pakaian terbaik, berdandan dan menyemprotkan sedikit parfum. Suaminya kembali. Astaga. Rania tidak akan menyangka suaminya kembali bersama wanita lain. Bahwasan tamu istimewa itu adalah Mikaila dan Selena. Lebih istimewa lagi karena ada ayah Rania duduk di sana. Dunia seakan runtuh di kepalanya.

"Ayah, bisakah Ayah pergi sekarang?" ujar Rania pelan pada Pieter Alexander. Pria itu terlihat lebih tua dari umurnya yang seharusnya . "Ayah tidak harus berada di sini! Septi, minta Don Huan mengantar Ayahku pulang, sekarang!"

"Kita baru mulai makan," cegah Margareth. "Di mana sopan santunmu?"

"Aku mohon, Ayah," gumamnya lirih.

"Ayah tak apa, Rania. Aku menghargai undangan ibu mertuamu."

Pieter mengawasi Rania. Mencoba memberitahu Rania bahwa dia tak sendirian. Raavero menatap lurus pada Rania.

"Kamu tidak keberatan kan? Mikaila dan Selena akan tinggal di sini beberapa waktu?"

Rania berhenti mengunyah, mengangkat kepala perlahan, memandangi Raavero kebingungan sebelum kembali menekuri mangkuk sup di hadapannya. Rania tak mampu mengunyah sepotong makanan pun sejak tadi. Sejak menuruni tangga dan mengetahui bahwa Raavero membawa Mikaila pulang. Selera makannya telah musnah. Inikah maksud pernikahan mereka? Dia ingin segera ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Hatinya tercabik-cabik dan dia menderita di dasar sana.

"Rania?" panggil Raavero.

"Mengapa pendapatnya menjadi penting, Raav? Selena adalah putrimu. Dia tidak butuh ijin siapapun untuk berada dekat ayahnya," potong Margareth tajam.

Rania mengambil gelas minuman dengan hati-hati dan meneguknya pelan. Rania mendesis dalam hati. Frustasi.

"Puteri?"

"Mika, kamu bisa tidur di kamar samping kamarku. Aku ingin selalu dekat dengan cucuku yang cantik," ujar Margareth antusias.

Ekor mata Rania melirik Raavero dan menemukan pria itu makan dengan lahap. Ekspresinya datar seperti biasa. Seolah-olah tak terpengaruh pada segala hal yang berkecamuk dalam diri Rania. Bukankah pria itu pandai membaca diri Rania?

"Terima kasih banyak, Mommy. I love you so much," balas Mikaila bahagia.

Suara ringannya terdengar renyah, tetapi menyakitkan di telinga Rania. Tubuh Rania mati rasa. Dia bahkan tak mampu memegangi sendok- garfunya.

"Jangan hilang kewarasanmu! Kamu hanya menikahinya untuk utangmu. Ingat? Mengapa kamu cemburu? Mengapa kamu sakit hati? Mommy? Oh astaga...." rutuk Rania dalam hati.

Rania menelan makannya dengan susah payah.

"Tolong bantu aku, membereskan meja makan, Rania! Besok sediakan sarapan! Aku telah melakukannya untukmu selama suamimu tak ada, besok kamu harus membuatkan sarapan," perintah Margareth tak ingin dibantah.

"Baiklah." Rania mengangguk pelan lalu berkata pada ayahnya. "Mari Ayah, aku antar ke depan!" Rania bangkit berdiri, memutari meja makan dan membantu ayahnya berdiri.

"Aku akan pamit sekarang," kata Pieter dan berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban. Semburat kecewa terlukis di wajah tuanya.

"Rania, puteriku yang cantik. Maafkan aku karena mengirimmu ke dalam neraka ini. Aku bersalah padamu. Aih, puteriku yang malang," geramnya marah. "Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Nak?"

Pieter berhenti dan menggenggam tangan Rania kuat. Rania berikan Pelukkan hangat lalu membantunya masuk ke dalam mobil

"Ayah, lain kesempatan, jangan pernah datang tanpa mengabariku. Aku mohon."

"Hmmm ... Baiklah."

"Don, tolong antar ayah dan pastikan tiba di rumah dengan selamat yah," pesan Rania pada Don Huan.

"Baik, Nyonya."

Rania menunggu sampai mobil yang membawa ayahnya tak terlihat lagi. Dia kemudian masuk dan membereskan meja makan sementara ruangan makan telah kosong. Septi cekatan membantunya. Suara-suara Senda gurau terdengar dari ruang santai. Rania menghela napasnya. Hari ini sungguh buruk.

"Perlukah kita mencuci piring ini, Septi?" tanya Rania tanpa sadar.

"Istirahatlah, Nyonya. Aku akan melakukannya untukmu!"

"Tidak, perlukah kita?"

"Nyonya, aku akan mengantarkan anda ke kamar anda. Kamar anda telah selesai diperbaiki," jawab Septi dan menggiringnya menuju lantai dua.

Rania mengatur barang-barang ke dalam almari sementara Septi telah kembali untuk membereskan perkakas.

Tok ... Tok ... Tok ... Pintu dibuka.

"Kamu akan tidur di sini?" tanya Raav, berdiri di depan pintu.

Rania mengangguk. "Yah, ini sudah selesai diperbaiki. Lagipula, aku tidak perlu selalu waspada tentang Ibumu mencurigai kita? Beliau sepertinya menyukai kekasihmu."

Wajah Rania datar. Dia berhasil menyembunyikan kepahitan dalam nada suaranya.

"Hmmm, itu ... "

"Apakah urusanmu beres?" tanya Rania segera berpaling. Dia tak akan sanggup mendengar jawaban Raavero.

"Yah, tentu saja. Mikaila tersandung beberapa kasus dan butuh perlindungan. Jangan salah paham padaku!"

Rania tersenyum. "Apakah kamu bersenang-senang?" tanya Rania lagi. Pikirannya kacau mengingat tiga pasang sepatu.

"Apakah kamu berada di kamar yang sama? Apakah kamu menikmatinya?" ejek Rania dalam hati. Gadis itu menggigit bibirnya kuat ketika pertanyaan itu akan meloncat keluar dari bibirnya.

"Aku bekerja dan bukan bersenang-senang," jawab Raavero ketus.

"Maksudku apakah pekerjaanmu menyenangkan? Lupakan! Aku akan beristirahat. Di luar dugaan, aku ternyata harus memasak."

"Maafkan aku, tak menepati janji. Ini hanya sementara saja sampai Ibuku pergi," hibur Raavero. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Raav canggung.

"Baik. Seperti katamu, menikahimu adalah berkah. Kami menerima banyak klien, beberapa hari ini. Aku tak jadi dipecat selama seminggu, karena pekerjaanku menumpuk," candanya suram.

Bang Ivan akan segera pergi dan Rania telah bersedih sejak siang tadi.

"Aku mohon, baik-baiklah pada Selena."

Rania terperangah pada permintaan Raavero. Dia tak percaya pria itu memintanya baik-baik pada Selena, tanpa minta maaf karena telah membuat keputusan gagabah tanpa sepengetahuan Rania.

"Apa aku terlihat jahat?"

"Bukan itu maksudku ... "

"Apa kamu memberitahuku bahwa kamu akan membawa Selena pulang? Aku harap kamu dan Ibumu bahagia setelah menjadikanku dan ayahku sebagai lelucon. Bisakah kamu pergi?"

Rania berbalik dan mematung menatap potret besar pernikahan mereka yang terpampang di dinding.

"Kamu marah?" tanya Raavero.

"Siapa aku Raav? Marah padamu? Kamu menikahiku karena utangku, ingat? Aku adalah permohonan maaf dari ayahku, jadi apapun yang ingin kamu lakukan. Lakukan saja! Apa pendapatku penting?" desisnya marah. "Tolong pergilah!"

"Kita akan bicarakan ini, besok."

"Bisakah tidak melibatkan ayahku? Aku telah bersumpah padamu untuk menggantikan semua kesedihan yang pernah menimpamu. Lakukan padaku, jangan pada ayahku. Dia tidak sepenuhnya bersalah untuk semua penderitaanmu," seru Rania muak.

"Kita akan bicarakan ini, besok. Tenangkan dirimu!"

Raavero menutup pintu di belakangnya. Air mata Rania mengembang dan pecah di sudut-sudut matanya. Bahunya terguncang, dia terkejut dia menangis karena hatinya tiba-tiba perih.

Apa yang harus ku lakukan? Raavero bahkan baru mulai menyiksanya, tetapi Rania sudah tak mampu menghadapinya. Rania tak menduga akan jatuh dalam derita karena mulai cinta padanya. Dia mengucap sumpah di depan Tuhan akan setia dan mencintai suaminya. Dia tak pernah tahu bahwa, Tuhan menerima sumpah itu. Dia jatuh cinta padanya, secepat itu.

Ini sungguh perih...

1
✨Susanti✨
bagussss
widya widya
Baca ulang... Baca ulang
widya widya
Baca ulang karena kangen sama Author.. blm ada karya baru
widya widya
Baca ulang karena kangen sama Author
Nurlaela
selalu terpukau dengan karya2 senja cewen..mengaduk2 perasaan..bikin terharu, sedih, bahagia dan cinta..lengkap rasanya
Nurlaela
paling benci dg karakter laki2 yg plin plan...
bunga cinta
dan tamat
bunga cinta
tapi boong
bunga cinta
cieeee
bunga cinta
balik ke sini lg
bunga cinta
miris
bunga cinta
Luar biasa
bunga cinta
Lumayan
bunga cinta
suka
bunga cinta
alurnya keren
iwndoareoxk
lanjutt
widya widya
ceritanya bagus ..
Yang
kereeeeeeen
Suezie Anggel
i love u karya mu thor
Mooie Jkt
Selalu kagum dengan gaya bahasa Author Senja... Gaya ceritanya hidup.. ga bertele2.. dan ga lambat temponya... 🌻🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!