Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VONIS
Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terasa pengap. AC menyala maksimal, tapi keringat dingin tetap membasahi kemeja para hadirin. Di bangku terdakwa, Nia duduk dengan wajah pucat, matanya cekung, dan tubuhnya yang mulai membesar karena kehamilan terlihat kontras dengan baju tahanan oranye yang longgar.
Di barisan belakang, Fadli duduk di kursi roda. Kakinya dibalut perban tebal—efek samping dari upaya bunuh diri gagal minggu lalu yang merusak saraf kakinya sementara. Wajahnya kusam, jenggotnya tidak terurus, dan matanya kosong menatap lantai.
Hakim mengetuk palu. Dug!
Suara itu menggema, membungkam semua bisikan di ruangan.
"Hakim Majelis telah memutuskan," ucap Hakim tua itu, suaranya berat dan berwibawa.
"Menyatakan terdakwa Nia Tanjung BERSALAH secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan korporasi dan akses ilegal sistem komputer."
Nia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Tangisan tertahan lolos dari sela jarinya.
"Dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun," lanjut Hakim.
"Dan denda sebesar dua miliar rupiah. Serta wajib mengembalikan aset perusahaan PT Mitra Sejahtera yang telah digelapkan."
Pengacara Nia hanya menunduk. Tidak ada bantahan. Bukti-bukti digital yang kami sajikan terlalu kuat untuk dipatahkan.
Fadli mengangkat kepalanya perlahan. Matanya mencari sosokku di barisan saksi. Saat pandangannya bertemu denganku, ada kilatan rasa sakit yang dalam. Bukan sakit fisik. Tapi sakit harga diri yang hancur total.
Setelah sidang selesai, kerumunan wartawan menyerbu keluar. Aku dan Arya berjalan tenang menuju pintu samping, menghindari sorotan kamera. Tapi tiba-tiba, suara roda kursi berdecit keras terdengar dari belakang.
"Siren! Tunggu!"
Itu suara Fadli. Serak, lemah, tapi penuh keputusasaan.
Arya berhenti, melindungiku dengan tubuhnya. "Jangan dekati dia, Tuan Fadli. Petugas keamanan sudah siap."
"Tidak apa-apa, Arya," kataku pelan, menepuk lengan Arya agar ia mundur selangkah. Aku berbalik menghadap mantan suamiku.
Fadli mendorong roda kursinya sendiri, napasnya tersengal-sengal karena usaha kecil itu membuatnya lelah. Ia berhenti tiga meter dariku.
"Kamu puas sekarang?" tanyanya, suaranya pecah. Air mata mengalir di pipinya yang kotor.
"Lihat aku, Ren. Lihat apa yang kamu lakukan padaku."
Aku menatapnya tanpa emosi. "Saya tidak melakukan apa-apa pada Anda, Fadli. Anda melakukan ini pada diri sendiri. Pilihan Anda untuk berselingkuh. Pilihan Anda untuk korupsi. Pilihan Anda untuk mencoba bunuh diri sebagai sandera emosional."
"Bukan sandera!" teriak Fadli, suaranya meninggi hingga beberapa kepala peninjau menoleh.
"Aku cinta padamu! Aku masih cinta! Kenapa kamu tidak bisa melihat itu? Nia sudah dihukum! Ibuku sudah malu! Aku sudah lumpuh! Apa lagi yang kamu mau?! Darahku?!"
"Aku tidak mau darahmu, Fadli," jawabku tenang, suaraku justru lebih rendah dari teriakannya, membuat orang-orang di sekitar kami harus diam untuk mendengar.
"Aku mau keadilan. Dan keadilan bukan tentang balas dendam. Keadilan adalah tentang konsekuensi."
"Konsekuensi?" Fadli tertawa histeris, tawa yang terdengar seperti tangisan.
"Ini bukan konsekuensi, Ren. Ini penyiksaan! Kamu menghancurkan hidupku pelan-pelan! Kamu mengambil hartaku, namaku, martabatku, dan sekarang... wanita yang aku pilih pun dipenjara. Apakah kamu bahagia? Apakah hatimu senang melihat bekas suami mu merangkak seperti cacing?"
Arya melangkah maju, wajahnya dingin. "Cukup, Tuan Fadli. Nyonya Siren tidak bertanggung jawab atas kehancuran moral Anda. Jika Anda merasa tersiksa, itu karena hati nurani Anda akhirnya bangun setelah lima tahun tertidur pulas oleh ego."
Fadli menatap Arya dengan kebencian murni. "Dan kamu... kamu pikir kamu pahlawan? Kamu cuma memanfaatkan kelemahannya! Begitu dia bosan, dia akan membuangmu sama seperti aku!"
Aku tersenyum tipis. Senyum yang paling menyakitkan bagi Fadli karena penuh dengan belas kasihan, bukan kemarahan.
"Fadli," ucapku lembut. "Perbedaan antara kamu dan Arya sangat sederhana. Kamu mencintaiku karena aku melayani egomu. Arya mencintaiku karena aku menjadi diriku sendiri. Kamu ingin aku kembali menjadi boneka. Arya ingin aku menjadi ratu. Jadi, jangan samakan kalian. Itu penghinaan baginya, dan penghiburan bagiku."
Wajah Fadli memerah, lalu pucat seketika. Ia terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang bisa keluar. Argumennya hancur lebur di hadapan kebenaran yang tak terbantahkan.
"Aku... aku menyesal, Ren," bisiknya akhirnya, air matanya mengalir deras.
"Aku benar-benar menyesal. Tolong... jangan tinggalkan aku sendirian di neraka ini."
Jantungku berdegup sekali. Rasa iba sesaat muncul. Tapi aku ingat lantai kamar mandi yang dingin. Ingat rasa sakit saat dipukul. Ingat hinaan Ibu Ratna. Ingat kesepian selama lima tahun.
Rasa iba itu mati seketika.
"Kamu tidak sendirian, Fadli," jawabku dingin.
"Kamu memiliki pilihan. Bertobat. Bekerja. Membayar utangmu pada negara dan pada masyarakat. Atau terus meratapi nasib dan tenggelam lebih dalam. Itu hakmu. Tapi jangan harap simpatiku. Simpatiku mati lima tahun lalu."
Aku berbalik, meninggalkan Fadli yang terpaku di kursi rodanya, menangis di tengah lorong pengadilan yang ramai.
Arya segera menyusulku, menggandeng lenganku erat.
"Kamu kuat, Siren. Sangat kuat."
"Aku lelah, Arya," akuku jujur, suaraku bergetar sedikit.
"Melihatnya begitu hancur... itu tidak memberikan kepuasan seperti yang kubayangkan. Hanya rasa kosong."
"Kosong itu baik," kata Arya sambil membuka pintu mobil untukku.
"Kosong berarti siap diisi dengan hal baru. Dengan kebahagiaan. Dengan cinta yang sehat."
Aku masuk ke dalam mobil, menghela napas panjang. "Ke mana kita sekarang?"
"Ke tanah BSD milikmu," jawab Arya, masuk ke sisi pengemudi.
"Kita perlu merancang masa depan. Karena masa lalu... akhirnya sudah resmi berakhir hari ini."
Mesin mobil menderu halus. Saat kami melaju meninggalkan gedung pengadilan, aku melihat ke kaca spion. Gedung itu semakin menjauh, membawa serta sisa-sisa mimpi burukku.
Di depan, jalan raya terbuka lebar. Langit biru cerah. Dan di sampingku, ada pria yang siap menempuh jalan itu bersamaku, langkah demi langkah.
"Terima kasih, Arya," bisikku.
"Untuk apa?" tanyanya, menoleh sekilas dengan senyum hangat.
"Karena tidak pernah membiarkanku jatuh. Bahkan saat aku berpikir aku sudah hancur berkeping-keping."
Arya meraih tanganku di atas konsol tengah, menggenggamnya erat.
"Selamanya, Siren," janjinya.