Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 LIN YU
Bintang-bintang di atas Benteng Serigala Hitam tertutup oleh jelaga asap dari tungku-tungku besi yang terus membara sepanjang malam. Di dataran tinggi utara ini, angin tidak pernah berembus pelan. Angin menerjang seperti cambuk es yang siap merobek kulit siapa pun yang terlena.
Lin Yu berdiri di pinggir tembok benteng yang kasar, dibungkus jubah bulu serigala kelabu yang kusam. Di bawah sana, di dalam lembah berdinding batu cadas, ribuan tenda kain lusuh berdiri berdesakan. Cahaya obor temaram menerangi sosok-sosok manusia bertubuh kurus—para mantan budak, prajurit buangan, dan rakyat jelata yang melarikan diri dari keserakahan klan-klan besar utara.
Di tangannya, Lin Yu memegang selembar gulungan kertas lusuh. Itu bukan kitab jurus sakti, melainkan daftar catatan persediaan gandum yang makin menipis untuk menghadapi musim dingin bulan depan.
“Tiga ratus anak baru lahir di kamp bawah minggu ini,” suara lembut seorang wanita memecah desis angin malam.
Lin Yu tidak berpaling. Dia mengenali bau aroma minyak lavender liar yang samar itu. Su-In, putri tunggal mendiang tabib istana utara yang memilih membelot dan mengikutinya ke rawa-rawa pembantaian.
“Apakah gandum kita cukup untuk menyuap mereka semangkuk bubur hangat setiap pagi?” tanya Lin Yu. Suaranya serak, dingin, dan kaku.
“Hanya cukup sampai pertengahan bulan depan,” jawab Su-In pelan. Dia melangkah mendekat, berdiri di samping Lin Yu sambil memandangi hamparan tenda kumal di lembah. “Jika kau memaksakan menyerbu Benteng Merah minggu depan, kita akan kehilangan separuh dari pasukan pemanah.”
Lin Yu meremas gulungan kertas di tangannya hingga remuk. Matanya yang tajam menatap kegelapan horizon di mana wilayah milik klan-klan darah murni membentang makmur.
“Aku tidak menyerbu mereka demi kehormatan takhta, Su-In,” bisik Lin Yu. Ada getaran beban yang sangat berat tersembunyi di balik nadanya yang kaku. “Di dalam gudang-gudang emas para bangsawan itu, ada gandum yang cukup untuk membalaskan kelaparan seluruh anak-anak di lembah ini. Mereka menimbun makanan sampai membusuk, sementara bayi-bayi di kamp kita mati membeku di pelukan ibu mereka.”
Jari-jari Lin Yu mengepal rapat di atas pembatas batu. Cap sebagai anak haram tidak pernah membuatnya rapuh, namun derita ribuan jiwa yang menggantungkan hidup padanya adalah rantai besi yang mengikat lehernya setiap malam.
“Masyarakat Murim tidak dibangun untuk orang-orang seperti kita,” lanjut Lin Yu. “Mereka menciptakan hukum agar bangsawan tetap berkuasa dan rakyat kecil tetap berlutut. Bagi para pendekar suci di pusat, kehidupan rakyat jelata di utara ini tidak lebih berharga dari lalat yang mengganggu pesta makan malam mereka. Aku harus menyatukan tanah busuk ini, bukan untuk menjadi raja, tapi agar keadilan bagi seorang budak dan seorang bangsawan ditimbang dengan berat yang sama.”
Su-In menatap profil wajah Lin Yu dari samping. Dia melihat guratan kelelahan yang sangat dalam di balik ketegasan mata pria muda itu. Pria yang oleh dunia luar dijuluki sebagai “Iblis dari Utara” sebenarnya adalah satu-satunya manusia yang bersedia menampung sampah-sampah kehidupan yang dibuang oleh dunia.
“Kau mengambil beban yang terlalu besar, Lin Yu,” bisik Su-In, matanya bergetar menatap pria di sisinya.
“Dunia akan membencimu, Lin Yu. Mereka tidak akan melihat air mata anak-anak yang kau beri makan. Mereka hanya akan melihat tumpukan mayat dan darah bangsawan di sepanjang jalanmu.”
Lin Yu memejamkan matanya perlahan, membiarkan angin es membelai wajahnya yang dingin. Seringai tipis yang penuh ironi terukir di bibirnya.
“Biarkan mereka membenciku,” jawab Lin Yu datar saat membuka matanya kembali. “Aku tidak butuh sejarah mencatat namaku sebagai pahlawan suci seperti Lu Chen. Jika aku harus menjadi iblis yang membakar seluruh aturan dunia ini agar anak-anak di bawah sana bisa tidur dengan perut kenyang... maka aku akan menjadi iblis itu dengan senang hati.”
Dia membalikkan badan, menyapu jubah bulunya yang berat, lalu melangkah kembali menuju aula markasnya. Di balik kegelapan malam utara, langkah sang anak haram bergema mantap—sebuah janji berdarah yang perlahan siap merayap menuju seluruh penjuru Murim.