Siapa sangka, jika pesona dingin seorang dosen mampu memikat hati dua perempuan kakak beradik.
****
Bryan Atmaja, dosen muda yang tampan selalu ketus dan dingin terhadap orang asing. Namun begitu lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Andin Mulia Pratiwi gadis polos sederhana yang tidak pernah mengenal cinta. Ia dijadikan asdos oleh dosen ganteng bernama Bryan Atmaja, yang pernah mencintai sahabatnya. Andin tidak percaya ketika cinta itu telah berlabuh untuknya.
Dewi Permata Putri, kakak kandung Andin juga jatuh cinta dengan Bryan sejak pandangan pertama. Bagaimana kisah segitiga itu berlangsung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah
"Ndin," panggil Bryan turut bersandar pada sandaran ranjang.
"Hemm," sahut Andin pelan memejamkan mata, masih merasakan sakit pada perutnya yang berangsur membaik. Selain itu, ia juga sedang mengatur degub jantung yang masih berantakan.
Bryan menyamankan posisi duduknya, ia melipat kedua lengannya, kepalanya menunduk memperhatikan Andin. Gurat iba sekaligus khawatir terlihat jelas di wajahnya.
"Sakit banget ya? Apa kamu selalu merasakannya setiap saat?" tanya Bryan pelan.
"Iya, setiap bulan aku selalu seperti ini kalau datang bulan," balas Andin lirih.
"Kamu mau apa, biar cepet sembuh? Mau dipijit?" celetuk Bryan spontan.
Andin membuka kedua matanya cepat, mau tidak mau ia menatap pria di sampingnya. Sorotan tajam terpancar untuk sang mata elang.
"Saya mau pulang!" seru Andin dengan ketus menyibak selimut.
Bryan dengan sigap menahan tangan mungil Andin. "Hei, jangan marah. Itu tadi cuma saran dokter. Aku ... aku cuma menawarkan, tanpa izinmu juga nggak berani, Ndin," ujar Bryan gugup mengangkat kedua tangannya.
Bryan takut jika Andin berpikir macam-macam. Padahal, Bryan hanya tidak tega saja melihat Andin yang terus kesakitan. "Besok saja pulangnya, udah hampir tengah malam ini. Tenang aja, aku tidur di luar. Panggil aja kalau ada apa-apa, okay?" ujar Bryan beranjak dari duduknya lalu membantu Andin merebahkan tubuh dan menyelimutinya.
Seolah terhipnotis, Andin menurut hingga kedua bola matanya tidak berkedip. Ia terus memandang pria di depannya. Yang dengan lembut memperlakukannya dan mau merawatnya.
"Jangan salah paham, aku hanya bertanggung jawab pada asistenku. Kalau kamu sakit, nanti siapa yang akan membantuku," tutur Bryan mengusap kepala Andin lalu melenggang pergi.
Mendengar seperti itu sontak darah Andin serasa mendidih. Andin kembali duduk dan melempar bantal pada pintu.
"Aaargh! Dosen sialan! Pergi kau dari otakku!" gerutunya penuh penekanan.
Tiba-tiba, pintu kembali terbuka. Andin terkejut, ia melempar tubuhnya seketika dan menarik selimut menutupi hingga ujung kepala.
Bryan melangkah masuk, hendak mengambil selimut baru di lemari. Saat keluar, ketika akan membuka pintu lagi, Bryan melihat bantal di lantai.
"Kok?" ucapnya bingung lalu memungut bantal tersebut.
Bryan menutup pintu perlahan dengan memeluk selimut dan bantal yang jatuh tadi. Ia tidur dengan nyaman di sofa panjang.
"Pak Dosen kampret! Kamu sudah mengorak-arik hatiku. Hiks, Tuhan jangan biarkan aku jatuh terlalu dalam," gerutu Andin dengan resah.
Sepanjang malam, Andin tidak dapat tidur. Meski sudah tidak merasakan nyeri seperti siang tadi, namun ia terus merasa nyeri pada dadanya. Semua sikap manis dan perhatian Bryan ternyata hanya sebatas tanggung jawab pada bawahannya.
"Haah! Ini berat. Mana kuat aku kalau setiap hari terus bersamanya. Andin please, nyadar diri!" geramnya pada dirinya sendiri.
Andin terus bergelut antara hati dan kenyataan. Kegelisahannya membuat Andin sulit memejamkan mata. Lama kelamaan, Andin tertidur menjelang pagi.
Bryan pun merasakan hal yang sama. Dia tidak dapat memejamkan mata, terus kepikiran dengan gadis polos itu.
Bryan masih terus meyakinkan hatinya. Kini ia sedang berperang dengan batinnya. Dia sendiri bingung apa dan bagaimana sebenarnya perasaannya. Sekedar kasihan? Khawatir? Tanggung jawab, atau ....
"Cha, apakah kamu telah terganti?" gumam Bryan menutup mata dengan lengan kanannya.
...----------------...
Di sisi lain, Dewi juga dalam kegalauan. Dia terus menunggu telepon dari pria yang telah mencuri hatinya. Sempat ia tertidur sebentar, namun terbangun saat lewat tengah malam. Buru-buru Dewi mengecek ponselnya.
Gadis itu kecewa karena ketika terbangun tidak ada satu pun panggilan dari Bryan. Saat mencoba menghubunginya lagi, ponselnya sudah tidak aktif.
"Sial! Apa ARTnya tadi nggak sampein ke Bryan," geramnya membanting ponsel di kasurnya.
Bersambung~