Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Saat Lampu Padam
Yola belum sempat menjawab ketika suara kaca pecah terdengar dari luar ballroom.
Musik berhenti pada nada yang aneh. Beberapa tamu menoleh ke arah taman barat, sebagian tertawa kecil karena mengira ada gelas jatuh. Namun tawa itu mati ketika lampu di sisi kiri ballroom ikut berkedip.
Naomi menggenggam gelas jusnya lebih erat. "Itu bukan suara gelas biasa."
Yola merasakan kulit di lengannya meremang.
Di seberang ruangan, Rayhan sudah bergerak.
Ia tidak berlari. Justru itu yang membuatnya terlihat lebih menakutkan. Satu tangan memberi isyarat kepada Ardi, tangan lain mengeluarkan ponsel. Papa Hartono yang berdiri di dekatnya langsung ditarik mundur oleh pengawal keluarga Hartono.
"Semua tetap di dalam," suara Adrian terdengar dari pengeras kecil dekat panggung. "Mohon tidak panik."
Kalimat itu membuat orang-orang panik.
Para ibu merapat ke meja, beberapa pria menarik anak-anak mereka menjauh dari pintu kaca. Staf Hartono bergerak menutup tirai, tetapi sebelum tirai sisi barat tertutup seluruhnya, satu batu kecil melayang dari luar dan menghantam kaca kedua.
Pecahannya menyebar seperti hujan tipis.
Jeritan pertama meledak.
Naomi tersentak. "Papa!"
Ia bergerak maju, tetapi Yola cepat menahan lengan Naomi. "Jangan ke sana."
"Papa di dekat pintu!"
"Pengawalnya sudah bawa beliau mundur."
Naomi menoleh. Wajahnya yang tadi cerah berubah pucat. "Kak Yola, itu apa?"
Yola mengikuti arah pandangnya.
Di balik kerumunan, seorang pelayan laki-laki dengan seragam hitam putih berjalan berlawanan arah dari staf lain. Saat semua orang bergerak menjauh dari pintu, pria itu justru mendekati lorong samping. Tangannya memegang nampan kosong, tetapi cara ia menggenggamnya terlalu kaku.
Yola tidak tahu banyak soal ancaman. Ia bukan Ardi. Bukan Rayhan. Ia hanya perempuan yang selama bertahun-tahun belajar membaca perubahan napas orang sakit, kecemasan staf, dan tanda-tanda kecil sebelum sesuatu memburuk.
Pria itu tidak terlihat seperti pelayan yang panik.
Ia terlihat seperti orang yang menunggu aba-aba.
"Naomi," bisik Yola, "mundur pelan ke belakang pilar."
"Kenapa?"
"Sekarang."
Nada Yola membuat Naomi menurut.
Mereka baru bergerak dua langkah ketika pintu servis di sisi barat terbuka dari luar. Dua pria masuk cepat. Salah satunya memakai jaket staf katering, yang lain menutup wajah dengan masker hitam. Tidak ada senjata api. Hanya tongkat pendek dan benda logam kecil yang berkilat di tangan.
Ballroom berubah menjadi lautan suara.
Orang-orang berlari tanpa arah. Kursi jatuh. Gelas pecah. Seseorang memanggil nama anaknya. Stephanie berdiri di depan seorang anak kecil yang menangis, sementara Adrian berteriak memberi instruksi kepada pengawal.
Ardi menerjang pria pertama sebelum ia mencapai tengah ruangan.
Tubuh pria itu menghantam meja prasmanan. Piring-piring jatuh, saus merah tumpah ke taplak putih seperti darah, membuat beberapa tamu menjerit lebih keras.
"Keluar lewat pintu timur!" teriak salah satu pengawal Hartono.
Namun pintu timur justru dipenuhi tamu yang saling dorong.
Naomi menegang di samping Yola. "Mereka masuk ke rumahku."
"Dengarkan aku." Yola memegang pergelangan tangan Naomi, kali ini lupa menjaga jarak. "Kita ke balik pilar, lalu tunggu pengawal."
"Aku harus cari Papa."
"Kalau kamu keluar sekarang, pengawal Papa justru harus mencari kamu."
Kalimat itu menahan Naomi lebih kuat daripada pegangan Yola.
Mereka bergerak menyamping, melewati meja tinggi dengan rangkaian bunga besar. Yola berusaha menjaga Naomi di sisi dalam, menjauh dari kaca dan lorong. Jantungnya berdetak begitu keras sampai suara ballroom terdengar seperti datang dari bawah air.
Rayhan berada jauh di sisi lain.
Yola melihatnya sebentar di antara kerumunan. Ia sudah melepas jas, satu tangan menahan seorang tamu yang hampir jatuh, lalu mendorongnya ke arah pengawal. Wajahnya dingin. Matanya mencari sesuatu.
Mencari ancaman.
Atau mencari dirinya.
Yola tidak sempat memikirkan itu.
Seorang anak kecil jatuh tidak jauh dari meja dessert. Ibunya tertahan arus orang yang bergerak ke pintu timur, sementara anak itu duduk di lantai dengan wajah putih ketakutan. Stephanie berusaha menerobos dari sisi lain, tetapi dua tamu yang panik menghalangi jalannya.
"Anak itu," kata Naomi.
"Aku lihat."
Yola melepas pergelangan Naomi hanya untuk satu detik, lalu menyesalinya. Naomi sudah bergerak setengah langkah keluar dari balik pilar.
"Naomi, jangan!"
"Dia bisa terinjak!"
Yola menggigit bibir, lalu ikut keluar. Ia tidak bisa membiarkan Naomi maju sendirian. Mereka bergerak cepat, menunduk di antara kursi yang tumbang. Yola sampai lebih dulu di dekat anak itu, meraih bahunya, lalu mendorongnya lembut ke arah Stephanie.
"Pegang dia!" seru Yola.
Stephanie menangkap anak itu dan memeluknya erat. "Terima kasih!"
Naomi menarik napas lega, tetapi gerakan kecil itu membuat posisinya terlihat dari lorong samping. Gaun hijau zamrudnya terlalu terang di antara tamu-tamu berbusana gelap. Yola melihat dua mata pria berseragam pelayan itu langsung tertuju kepada Naomi.
Jantung Yola turun.
Ini bukan kepanikan acak.
Mereka mengenali Naomi.
"Balik ke pilar," kata Yola.
Naomi masih menatap Stephanie dan anak kecil itu. "Sebentar, Kak Stephanie harus ikut..."
"Sekarang, Naomi."
Suara Yola berubah cukup keras hingga Naomi menoleh. Namun terlambat. Di dekat pintu servis, pria lain melempar smoke flare kecil ke bawah meja. Asap putih tipis menyebar cepat, tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat orang-orang batuk dan mengacaukan arah pandang.
Yola menarik Naomi mundur. Selendang kremnya tersangkut ujung kursi. Kain itu tertahan. Untuk sesaat tubuh Yola ikut tertarik ke belakang.
"Kak Yola!"
"Jalan terus."
Yola menarik selendang itu sampai jahitannya robek. Suara kain sobek terdengar kecil di antara jeritan, tetapi bagi Yola suara itu seperti tanda bahwa malam ini tidak akan kembali rapi.
Pria berseragam pelayan yang tadi ia lihat tiba-tiba bergerak.
Ia tidak menuju Papa Hartono.
Ia menuju Naomi.
"Naomi, turun!"
Yola mendorong Naomi ke belakang pilar tepat ketika nampan logam itu terayun. Nampan menghantam rangkaian bunga di samping mereka. Vas kaca besar jatuh, pecah di lantai, air dan bunga putih berhamburan.
Naomi menjerit.
Yola merasakan serpihan kecil mengenai punggung tangannya, perih dan panas, tetapi ia tidak melepas Naomi.
Pria itu mengumpat, lalu menarik sesuatu dari balik nampan. Benda kecil, tajam, bukan pisau besar, tetapi cukup untuk membuat darah Yola berhenti mengalir di telinganya.
"Jangan bergerak," kata pria itu dengan suara tertahan.
Naomi gemetar di belakang Yola. "Kak..."
Yola berdiri di depan Naomi.
Tubuhnya sendiri juga gemetar. Ia tahu itu. Lututnya terasa kosong. Tangannya sakit. Tetapi jika ia mundur, Naomi yang akan terlihat. Naomi yang tadi membelanya di depan orang-orang. Naomi yang masih terlalu muda untuk memahami bahwa di dunia orang kaya, ancaman bisa masuk memakai seragam pelayan dan senyum kosong.
"Ambil apa pun yang kamu mau," kata Yola, suaranya lebih stabil daripada tubuhnya. "Jangan sentuh dia."
Pria itu tertawa pendek. "Minggir."
"Tidak."
Matanya bergerak cepat ke sekitar. Pengawal masih tertahan oleh kepanikan tamu. Ardi bergulat dengan pria lain di dekat pintu servis. Rayhan terlalu jauh, tertutup kerumunan.
Pria itu maju satu langkah.
Yola mundur setengah langkah, punggungnya menekan Naomi ke pilar. Ia bisa merasakan napas Naomi tersengal di belakang bahunya.
"Kak Yola, jangan," bisik Naomi.
"Diam," jawab Yola pelan. Bukan marah. Hanya memohon agar Naomi tidak menarik perhatian lebih banyak.
Pria itu mengangkat tangan.
Pada saat yang sama, seorang tamu menabrak meja di belakang Yola. Meja bergeser keras, membuat pilar dekorasi kecil di sisi mereka goyah. Di atasnya, rangkaian lampu dan besi penyangga bunga condong ke arah Naomi.
Yola melihat semuanya dalam satu detik yang terlalu lambat.
Naomi menoleh ke atas.
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Yola memutar tubuh, memeluk kepala Naomi, lalu menjatuhkan mereka berdua ke lantai.
Besi penyangga menghantam punggung kursi di samping mereka dengan suara keras. Pecahan dekorasi memantul ke lantai. Sakit tajam menyambar bahu Yola ketika ia menahan tubuh Naomi di bawahnya, tetapi ia tidak bergerak.
Yola baru sadar cincin nikah Kevin menggesek lantai marmer sampai buku jarinya perih. Suara logam kecil itu membuat dadanya tercekat, tetapi ia menekan telapak tangannya lebih kuat di sisi kepala Naomi, memastikan tidak ada pecahan kaca yang menyentuh wajah gadis itu.
"Kak Yola!" Naomi menangis.
"Kamu kena?" Napas Yola terputus-putus. "Naomi, jawab aku. Kamu kena?"
"Nggak... nggak, tapi Kak Yola..."
"Jangan bangun."
Yola menundukkan kepala lebih rendah ketika orang-orang berlari melewati mereka. Sepatu seorang tamu hampir mengenai tangannya. Naomi menangis di bawahnya, jari-jarinya mencengkeram selendang Yola.
Di sisi lain ballroom, Rayhan melihatnya.
Ia melihat Yola menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas Naomi.
Ia melihat besi penyangga jatuh begitu dekat dengan bahu Yola.
Ia melihat tangan Yola yang berdarah kecil tetap menahan kepala Naomi, seolah tubuhnya sendiri tidak penting selama gadis itu terlindungi.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Rayhan berubah.
"Yola."
Nama itu keluar dari mulutnya bukan sebagai perintah, tetapi sebagai sesuatu yang retak.
Pria berseragam pelayan tadi melihat Yola dan Naomi di lantai. Ia menggertakkan gigi, lalu mengangkat benda tajam itu lagi, kali ini lebih rendah, mengarah ke sisi Yola yang terbuka.
Rayhan menerjang kerumunan.
Yola hanya sempat melihat bayangan hitam bergerak ke arahnya sebelum Naomi menjerit memanggil namanya dengan suara pecah.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅